
Sepulang dari restoran, Nada melihat ada Arkan yang sedang berdiri di depan rumahnya dengan kaku. Ia bergegas mendekati lelaki itu, dan menanyakan kenapa ia berada di rumahnya.
“Arkan kamu ngapain disini?” tanyanya pada Arkan begitu tiba di depan lelaki itu.
Arkan hanya diam menatap dalam tepat di mata Nada. Dia merasa sangat buruk saat ini, sebagai kekasih dia malah tidak banyak tahu penderitaan Nada.
Nada terhenyak ketika merasakan badan Arkan menubruk tubuhnya dan memeluknya erat dengan menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Nada. Tubuhnya kaku dan kebingungan melanda benak terdalam Nada. Tapi ia merasa sangat bahagia merasakan pelukan erat dari Arkan.
Padahal mereka kemarin baru saja bertengkar, apa yang menyebabkan lelaki yang memeluknya ini menjadi sangat emosional.
Walau ragu akhirnya tangan Nada terangkat mengelus pelan bahu tegap Arkan. “Ada apa, Hem?” tanyanya lembut.
Lengan Arkan semakin mengeratkan dekapannya, dengan berbisik dia berkata pada Nada. “Maafin aku sayang, aku yang gak guna dan gak bisa menyadari kondisi kamu lebih awal. Harusnya aku lebih peka lagi, maaf, maaf Na”
Tubuh Nada kembali membeku, ia merasa mulutnya begitu sulit untuk mengatakan satu perkataan saja. dia sudah tahu. bisiknya dalam hati.
Setelah puas memeluk dalam diam, Arkan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nada yang mengerut. Ia mengelus lembut pelipis Nada membuat gadis itu menatapnya dengan tumit.
Akhirnya Nada memilih mengajak lelaki itu masuk dan duduk di ruang tamunya dengan Nada yang berada tepat di samping Arkan yang menyatukan jari-jarinya satu sama lain.
“Dari mana kamu tau?” tanya Nada dengan pandangan terarah pada bunga mawar di dalam vas yang terletak di atas meja.
Menghembuskan nafas sebelum menjelaskan semuanya pada Nada. “Bian. Dia yang memberitahu aku. Tidak sebenarnya ia tidak memberitahu secara langsung tapi memberikan aku beberapa petunjuk kecil. Awalnya aku agak tidak percaya, tapi setelah bertemu dengan Deril. Aku tau Na, bodoh banget jika aku terus menyalahkan kamu sedang aku menjadi orang yang paling bodoh” ucap Arkan semakin lirih saat kalimat terakhirnya.
Nada menghela nafas pelan sedikit tidak menyangka bahwa Arkan akan tahu secepat ini. “Aku gak apa-apa kok” ucapnya meyakinkan lelaki itu.
Dengan lembut Arkan mengambil telapak tangan Nada lalu mengelus pelan. “Aku mohon Na kalau ada apa-apa kamu bisa beritahu aku lebih dahulu jangan orang lain. Aku ini pacar kamu Na, masalah sebesar ini aku juga berhak tau. Gimana kalo ada masalah dan aku taunya belakangan apa gak bikin aku khawatir”
Kepala Nada menunduk dalam. Kali ini ia tahu seberapa besar kesalahannya, Arkan benar tidak seharusnya ia membiarkan orang lain tahu lebih dahulu sedang kekasihnya tidak tahu apa-apa.
“Maafin aku” lirihnya tidak berani menatap mata Arkan
Lengan Arkan mengangkat dagu Nada mengarahkan untuk menatapnya. “Hei, sayang sini tatap mata aku”
Dengan perlahan Nada menatap mata Arkan yang teduh. Tidak ada kemarahan seperti kemarin hanya ada kelembutan dan kesabaran di dalamnya. Hal ini semakin membuat Nada merasa bersalah.
“Apapun itu, akan selalu aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi ya, aku gak mau hubungan kita gak ada keterbukaan satu sama lain. Dan jangan dipikirkan lagi masalah ini anggap aja sebagai pelajaran. Saat ini yang lebih penting kesehatan kamu” ucap Arkan dengan bijak.
Memang sebuah hubungan ada saja hal yang membuatnya renggang salah satunya ketidakjujuran. Dalam sebuah hubungan itu diperlukan sebuah keterbukaan bukan saling menutupi. Dan yang paling penting itu kepercayaan.
Arkan membawa Nada ke dalam pelukannya dan sesekali mengecup pelan kening Nada dengan penuh kasih sayang. Kini salah satu ujian dalam hubungan mereka berakhir dengan baik. Mereka harus lebih kuat lagi untuk menghadapi ujian lain di depan sana.
....
Semua persiapan untuk camping sudah selesai dan kini Nada sudah berada di sekolah bersama Emma dan Putri. Sesekali ia tergelak melihat Emma yang kelewat excited untuk pergi camping.
“Aaaa pokoknya gue bahagia banget!! Akhirnya impian gue buat tidur di tenda kesampaian” ucap Emma dengan girang.
“Biasa aja” sahut Putri dengan malas.
“Ya iyalah biasa buat Lo. Kan camping kaya gini udah jadi makanan sehari-hari buat Lo Putri sayang” sinis Emma menjulurkan lidahnya pada Putri.
“Nanti disana kita ngapain aja?” tanya Nada yang penasaran dengan kegiatan yang dilakukan saat camping.
“Mungkin ada beberapa lomba nanti sama bakal ada api unggun malam nanti” jawab Putri memberitahu Nada.
“Api unggun?!!”
Emma menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan lalu mengangkat dua jari pada teman-temannya.
“Sorry kelepasan, hehe. Habisnya Putri bilang bakal ada api unggun nanti jelas gue kaget. Semakin seru aja acaranya nanti jadi gak sabar deh” Emma menggesek kedua tangannya didada dengan senyum bahagia.
“Yo Emma Lo kayanya siap banget buat camping”
Emma melirik sinis Kafa yang menarik topi dari kepalanya, sungguh sepupu Arkan itu benar-benar menjadi pengganggu dirinya.
“Udah semua siap peralatan kamu? Gak ada yang ketinggalan kan?” tanya Arkan begitu ia tiba di sebelah Nada.
“Gak ada udah siap semua” jawab Nada mengangguk pada Arkan.
Melihat itu Arkan mengangguk puas lalu berbisik pada Nada. “Obat kamu gak lupa kan?”
Nada melirik sembari tersenyum pada Arkan, “Tenang aja semua udah aku siapin. Lagian dari kemarin udah kamu ingatin terus”
“Khem khem kayanya dunia milik berdua yang lain cuma numpang. Ingat bung ada banyak jomblo disini, sudahi keromantisan kalian” sindir Kafa dengan sinis pada Arkan.
“Cowo gamon diam aja”
Jleb
Nusuk banget ke ulu hati Kafa membuat lelaki manis itu terdiam dengan menatap tidak percaya sepupunya.
“Kok Lo mainnya gitu. Jahat bener Ar”
Nada yang merasa tidak tega melihat Kafa yang terlihat menyedihkan mencubit lengan Arkan dan meminta lelaki itu meminta maaf pada Kafa.
“Kayanya keterlaluan banget gak kata-kata kamu buat Kafa. Liat aja dia terpukul banget tuh”
“Nanti dia baik sendiri liat aja” ucap Arkan
“Em Lo liat gak tuh manusia ngatain gue, ayo kita pergi aja” tangan Kafa segera menarik Emma pergi dari situ. Tentu saja membuat Emma kaget dan tidak siap.
“Eh apaan sih Lo main tarik aja. Sabar aja napa jalannya” protes Emma dengan kesal. Tapi ia tetap mengikuti Kafa yang membawanya pergi.
Arkan terkekeh melihat kelakuan Kafa yang seperti itu, “Tu anak emang dasar aneh”
“Bisa minta perhatian sebentar teman-teman! Ya perkenalkan saya Alfian Farenza kalian bisa panggil kak Alfi. Jadi disini saya sebagai ketua panitia yang beri kepercayaan oleh sekolah untuk mengelola kegiatan kita selama camping nanti. Dan sekolah sudah menyediakan tiga bus untuk mengantar ke daerah yang dituju. Bus yang warna hitam itu untuk kelas XII, bus warna putih untuk kelas XI dan bus warna biru untuk kelas X”
Terdengar diskusi banyak siswa yang merasa kecewa karena tidak satu bus dengan pasangannya apalagi yang berbeda angkatan.
“Mohon tenang dulu teman-teman. Pembedaan ini untuk memudahkan para panitia mengawasi peserta jadi jangan ada yang protes ya. Sebentar aja kok selama perjalanan aja kalian berpisah dengan pasangan nanti di sana ketemu lagi. Baik saya akhiri, kalau ada pertanyaan bisa langsung bertanya pada saya atau para panitia lainnya” ucap Alfi mengakhiri pemberitahuannya dengan tersenyum.
*****
Halo semuanya🤗
udah lama banget ya aku gak nongol disini niatnya mau istirahat bentar eh malah keterusan sampai sekarang😓
Tapi aku udah mutusin buat lanjutin cerita ini sampai tamat walau nanti up nya gak teratur dan banyak.
Sebelumnya terima kasih buat pembaca lama maupun pembaca baru karena udah meluangkan waktu untuk membaca cerita aku yang tentunya jauh dari sempurna🙏😊