
“Pagi” sapa Arkan seraya mendudukkan dirinya tepat di sebelah Nada. Nada melirik Arkan sebelum membalas sapaannya. “Pagi juga”
“Mommy gak di sapa nih?” tanya Mommy menggoda Arkan.
“Pagi Mom” sapa Arkan lagi pada Mommynya.
“Telat” dengusnya yang membuat Arkan terkekeh.
“Pagi semua” suara berat dan dewasa memenuhi pendengaran Nada membuatnya melirik seseorang yang menyapa tadi.
“Pagi Dad” balas Arkan.
“Kamu Nada kan?” tanyanya setelah duduk berseberangan dengan Nada. Nada dengan cepat mengangguki.
“Saya sudah mendengar cerita kamu dari istri saya, dan seperti yang dia bilang rumah ini terbuka untuk kamu jadi jangan sungkan” ucapnya dengan suara berat.
“Terima kasih om” ucap Nada bersyukur dengan adanya orang-orang baik yang menolong dia.
“Tidak masalah” ucapnya dengan senyum kecil.
“Ayo sarapan dulu hentikan obrolan kalian” perintah Tante Elen yang di turuti semuanya. Meja makan menjadi hening karena keluarga mereka menerapkan kalau sedang akan untuk tidak berbicara.
Setelah selesai sarapan Arkan mengajak Nada untuk berangkat bersama karena lebih mudah juga. Sampai di sekolah seperti bisa mereka menjadi pusat perhatian apalagi jika bukan kedekatan Nada dengan Arkan.
“Lo ngerasa gak nyaman?” tanya Arkan setelah melihat raut terganggu Nada.
“Sedikit” ucapnya melirik Arkan sekilas.
“Bisain aja nanti juga bakal terbiasa” sahut Arkan dengan ringan yang di sambut dengusan pelan Nada.
“Yo morning bro” ucap seseorang seraya merangkul erat bahu Arkan membuat sang empunya bahu mengelak berusaha melepas.
“Kafa lepasin gak!” sungut Arkan kesal.
“Gak bakal. Lo semenjak gue di sini bawaannys marah melulu” protes Kafa dengan raut sebal.
“Salah Lo nya” balas Arkan.
“Salah gue apa Bambang?” greget Kafa mendengar jawaban lempeng sepupunya itu. Arkan melengos saja dan menarik Nada menjauh dari Kafa.
“Lah gue di tinggal dong” ucap Kafa bengong.
“Awas Lo ntar kesurupan lagi ngelamun aja, masih pagi juga” ejek Emma yang entah dari mana sudah ada di samping Kafa dan menepuk kencang bahu lelaki itu.
“Kesurupan mbahmu!” ucap Kafa ngegas lalu merutuk sembari berjalan lagi.
“Awas-..!”
“Aduuh!!” jerit Kafa ketika keningnya menabrak tiang bendera.
“-Ada tiang” tambah Emma dengan menahan tawa
Emma sontak saja tertawa puas ketika melihat Kafa yang kesakitan. Emang dasar ya temannya kesakitan dia malah asik ketawa.
“Kan gue udah bilang” ucap Emma yang sudah tiba di sisi Kafa yang meringis sembari memegang keningnya
“Gue udah nabrak baru Lo bilang” sungut Kafa.
“Ye sorry deh, kuy ke kelas!” ajak Emma yang meninggalkan Kafa di belakangnya. Kafa bersungut lalu menyusul Emma yang sudah berada di depannya.
Di perjalanan ke kelas Nada dan Arkan bertemu Deril yang sedang membawa buku. Tatapan Nada bertemu sekilas dengan Deril. Dapat Nada lihat tatapan lelaki itu padanya yang mendingin dan tidak ada lagi senyuman di raut wajahnya saat bertemu dengannya.
Arkan yang melihat itu secara refleks merangkul erat bahu Nada dan memberikan tanda seolah Nada adalah miliknya. Dia memberikan tatapan tajamnya pada Deril yang melengos saat melihat adegan itu. Sedang Nada melirik tangan Arkan yang bertengger di bahunya aneh.
“Kenapa Lo diam dan natap gue gitu?” tanyanya dengan kening berkerut.
Nada menggeleng, “Gak, kamu aneh aja” celetuknya ringan.
“Aneh dimananya?” tanyanya tidak mengerti.
“Gak apa-apa, udah ayo jalan lagi” alihnya dengan melepas pelan rangkulan lelaki itu dan melangkah mendahuluinya.
Waktu istirahat telah tiba, entah siapa yang memulai tetapi setiap ke kantin mereka selalu duduk bersama. Tetapi kini hanya dengan tambahan seorang lelaki yang sedari tadi tidak henti-hentinya menyapa setiap perempuan yang lewat dengan senyum yang kata Arkan penuh tipu muslihat.
Arkan memasukkan sepotong pisang goreng ke dalam mulut Kafa agar berhenti tersenyum seperti itu.
“Kurang ajar Lo, kalo gue gak siap tadi terus ketelen semu gimana?” protes Kafa dengan bersungut-sungut.
Arkan tidak memperdulikannya dia lebih tertarik memperhatikan Nada yang sedang makan itu. Dia tersenyum tipis melihat Nada yang dengan lahap memakan makanannya.
“Liatin terus tapi gak ada kepastian. Diambil orang ntar nangis” sindir Kafa dengan pura-pura memakan makanannya dan bersiul pendek.
Arkan melirik tajam sepupunya itu, andai bukan sepupu udah dia jadikan makanan harimau di kebun binatang.
Nada tidak menghiraukan pembicaraan Arkan dan Kafa yang menurutnya unfaedah itu. Dia justru mengalihkan fokusnya ke arah Putri yang terlihat murung entah apa yang terjadi.
Nada menatap penuh tanya pada Emma yang di sambut gelengan kepala oleh perempuan itu. Ia menghela nafas sungguh dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Nada Lo dipanggil sama Bu Yeni ke kantor” ucap seorang teman sekelas Nada yang bernama Sasa.
“Ada apa?” tanya Nada dengan kening berkerut.
“Gak tau gue, gih sana ke kantor” Sasa mengendikan bahunya kemudian berlalu dari hadapan Nada.
“Aku ke kantor dulu” pamitnya pada teman-temannya yang diangguki oleh semua. Dalam hatinya Ia bertanya-tanya perihal apa dia dipanggil ke kantor.
Setelah sampai di sana Netra Nada menangkap seseorang lelaki yang di kenalnya juga berada di sana sedang berbicara dengan Bu Yeni.
“Nah akhirnya Nadanya datang, sini ada yang mau ibu bicarin sama kalian berdua” ucapnya menyuruh Nada untuk mendekat.
“Ibu manggil kalian karena ingin kalian mengikuti olimpiade fisika. Apa kalian tertarik?” tanya Ibu Sasa yang membuat mata Nada berbinar. Sudah lama dia ingin mengikuti olimpiade dan kali ini dia di tawarkan langsung.
“Mau banget bu” sahutnya dengan cepat.
“Kamu Deril bagaimana?” tanya Ibu Sasa mengalihkan tatapannya dari Nada ke arah Deril. Ya lelaki yang di liat Nada tadi adalah Deril.
“Saya mau aja bu” jawab Deril membuat ibu Sasa menghembuskan nafas lega.
“Yaudah nanti kalian cari buku referensi yang sudah ibu catatkan di perpustakaan” Bu Sasa memberikan sebuah kertas yang di sambut oleh Deril.
“Baik bu, yaudah kami pamit bu” ucapnya lalu menoleh menatap Nada sembari memberikan isyarat untuk keluar. Nada yang paham lalu berjalan keluar dari kantor belum jauh dia melangkah tetapi dia mendengar panggilan Deril kepadanya.
“Ayo cari bukunya” ajaknya lalu melangkah mendahului Nada menuju perpustakaan. Nada yang mendengar itu mengikuti dari belakang. Mereka berjalan dengan keheningan entah kenapa rasanya sangat canggung bagi Nada. Ia tahu sudah menyakiti hati lelaki itu, tapi dia bisa apa. Semuanya sudah terjadi dia hanya bisa berharap Deril mendapatkan perempuan yang lebih baik lagi.
Sampai di perpustakaan mereka bergegas mencari buku yang di catatkan, agak sulit sih karena sangat banyak buku di perpustakaan ini.