Dear Nada

Dear Nada
Dihukum Karena Terlambat



Sudah Nada duga ketika mereka sampai di sekolah, mereka sudah terlambat dan akhirnya harus berdiri di sini bersama para murid yang terlambat juga. Ia meringis ketika melihat Deril menatapnya heran ketika ia ada di jajaran murid yang terlambat.


Lelaki yang menjabat sebagai ketua OSIS itu menanyai satu persatu siswa yang terlambat sampai ke tempat dimana Nada berada.


“Tumben terlambat?” tanyanya sedikit heran


“Em..anu...itu apasih” ucap Nada bingung sendiri dengan alasan keterlambatannya.


“Tadi jalanan macet” sahut Arkan datar berdiri di samping Nada karena dia merasa Nada kesulitan menjawab. Nada mengangguk mengiyakan ucapan Arkan. Dalam hati ia meringis karena berbohong mengenai alasannya.


Deril menatap mereka berdua aneh, tapi dia hanya mengangguk saja lalu mengalihkan pertanyaannya untuk Arkan yang terlihat tidak bersahabat itu ekspresinya.


“Gue sama kaya Nada, karena kami barengan” ucapnya bahkan sebelum Deril bertanya. Terlihat kilatan tidak suka di mata Deril ketika mendengar jawaban Arkan. Tentu saja Arkan bisa menangkap tatapan itu, ia menyeringai.


Deril mendengus lalu melangkah menjauh dari mereka menuju ke depan. “Karena kalian terlambat di hari Senin jadi hukuman yang diputuskan oleh guru BK, yaitu kalian harus hormat di depan bendera sampai jam istirahat” ucap Deril tegas yang membuat kegaduhan diantara para siswa yang terlambat.


Nada mengangkat tangannya di keningnya dengan posisi hormat pada bendera, keringat mulai bercucuran di keningnya ketika teriknya mentari menerpa wajahnya. Arkan melirik ke arah Nada yang semakin terlihat bersinar di matanya entah mungkin karena terkena sinar mentari membuatnya tidak bisa mengalihkan matanya dari Nada.


“Liat teroos Sampai mata keluar” cibir seorang di belakang Arkan yang membuat ia refleks menengok kebelakang. Arkan menatap tajam lelaki itu.


“Lo!” desisnya tertahan.


Nada yang mendengar bisik-bisik di samping dan belakangnya pun menoleh, “Eh Kafa, terlambat juga?” ucapnya terkejut.


Kafa yang ditanya Nada hanya menyengir lebar.


“Eh masa Kafa aja yang kamu tanya aku enggak” protes seseorang di samping Kafa yaitu tepat di belakang Nada.


“Emma..” luar biasa kata Nada dalam hati ketika melihat mereka berempat sama-sama dihukum pagi ini. Ia tertawa kecil diikuti Emma yang ikut tertawa.


“Tumben Lo telat Ar, biasanya Lo tuh anti telat-telatan” tanya Kafa dengan berbisik pelan.


“Berisik” gerutu Arkan.


“Itu yang dibelakang kenapa ribut!” tegur Pak Bagas sekali guru BK di sekolah.


Kafa yang ingin menyahuti Arkan lagi memilih menutup mulutnya dan hanya merutuk dalam hatinya. Emma yang melihat raut kesal Kafa tertawa tanpa suara yang membuat Kafa memelototi Emma.


Saat bel istirahat berbunyi semua siswa yang dihukum menghela nafas lega dan lekas berlari membubarkan barisan lalu bergegas menuju kantin karena tenggorokan udah seret minta kasih minum.


Begitu juga dengan Nada dan lainnya yang sudah duduk di meja kantin sedang Kafa disuruh Arkan memsankan minuman. Sungguh kasihan nasib Kafa yang selalu disuruh oleh sepupu laknatnya itu.


“Gila sih panas banget, rasanya kulit gue terbakar. Gak tau apa perawatan kulit itu mahal” gerutu Emma dengan raut masam karena kulitnya terlihat memerah terkena panas.


Nada hanya menggeleng mendengarnya sedang Arkan lelaki itu hanya menunjukkan raut datar saat sepeti ini. Entahlah Nada sendiri kadang bingung apa lelaki itu punya kepribadian ganda, saat di depan umum gini ia selalu memasang tampang datar tetapi kalau sudah bersamanya entah dibuang kemana muka datar kek temboknya itu.


“Nah gue cariin tau-tau udah ada di sini aja” ucap Putri yang baru datang sembari mengukung leher Emma membuat sang empunya meringis.


“Akh..lepas sakit njirr” teriak Emma menghentakkan tangan Putri yang disambut gelak tawa Putri.


Nada mengangguk mengiyakan sedang Emma masih saja bersungut-sungut kesal pada Putri, moodnya sudah buruk karena tadi harus panas-panasnya di lapangan ditambah lagi ia sedang pms, kalian tau sendiri kan kalo orang lagi pms itu rasanya pengen mukul orang aja.


“Minuman udah datang! Ayo ucapkan terima kasih yang baik dan benar pada tuan baik Kafa” ucapnya menaruh minuman di atas meja lalu mengusap rambutnya ke atas dengan ekspresi yang menurut Arkan menjijikan.


“Hueek” Emma membuat ekspresi seperti ingin muntah membuat Kafa meliriknya kesal.


“Sumpah gak cocok Lo gitu” ucap Putri disela tawanya yang pecah akibat kelakuan Kafa.


Kafa mendengus, melihat teman-temannya yang julidnya minta ampun itu padanya.


Nada melihat Putri yang sudah kembali ceria dan bisa tertawa lepas merasa lega karena hal itu membuat rasa sedih gadis itu berkurang. Putri yang melihat Nada menatapnya pun balas menatap juga dengan senyum tulusnya.


Mereka di meja itu saling melempar candaan, hanya Arkan yang diam melihat mereka semua tertawa. Netranya tidak pernah lepas dari Nada sedikit pun, mungkin dia sudah menjadi begitu bucin


“Ashh, mereka ganggu selera makan gue aja” gerutu Putri seraya menghentakkan sendoknya ke meja dengan kesal.


Yang lainnya menoleh ke arah yang tidak jauh dari tempat mereka duduk, di sana sudah ada geng pembully yang sedang mengusir siswa yang duduk di kursi itu. Mereka seolah menunjukkan kalau mereka itu berkuasa.


“Cih sok paling berkuasa, mereka kaya juga karena uang bokap nyokapnya aja bangga” cibir Emma yang diangguki Kafa.


“Kalo mereka ada bully lo lagi bilang ke kita Nad, biar muka sok cantik mereka ngerasain bogeman gue” ucap Putri dengan serius dan mengangkat kepalan tangannya keudara.


“Tenang aja mereka gak ada ganggu aku lagi kok” sahut Nada menenangkan mereka.


“Lo kan ikut olimpiade bareng Deril, kalo aja si Prissil itu nganggep kamu ngerebut Deril” ucap Emma.


“Barengan terus dong sama Deril, Lo gak ada niatan beneran suka sama tu cowo kan?” tanya Kafa dengan iseng membuat mata elang Arkan menyipit ke arah Kafa.


“Cuma temanan aja aku sama Deril gak lebih” ucap Nada menjelaskan.


“Biasanya pertemanan antar cowok dan cewek salah satunya pasti nyimpan perasaan” ucap Kafa dengan ekspresi sok serius dan bijak.


“Lo lebih berguna kalo diam aja enggak usah ngomong aneh-aneh!” ucap Arkan penuh penekanan menatap tajam Kafa.


Kafa yang merasa aura sepupunya mulai berubah menyeramkan pun nyalinya menjadi ciut, ia pura-pura memakan makannya. Lelaki manis itu tak sengaja melirik Emma yang cekikikan dengan Putri dan ia dapat menangkap gerakan mulutnya seolah berkata 'mampus!’. Kafa mendengus kasar.


Nada yang melihat aura tidak menyenangkan dari Arkan pun berdehem kecil, lalu tangannya menyentuh pelan tangan Arkan, membuat lelaki itu tertegun sembari menatap Nada.


...***...


Brakk...srekk


“Sialan kenapa tidak bisa membuat perusahaan ini menjadi milikku!” teriak seorang lelaki dan dengan marah menghamburkan barang-barang di atas mejanya.


“Kakak kau ternyata licik juga, ya” ucapnya dengan nada suara bergetar dan tertawa keras.


“Tapi kau pasti tidak menyangka kalau aku bisa sangat nekat, tunggu saja kau akan berkumpul kembali dengan anak kesayanganmu itu, haha” ia tertawa licik dengan seringai menakutkan.