
Mereka berdua sampai di rumah sudah hampir jam 12 malam, untung saja kedua orang tua Arkan tidak berada di rumah dan sedang keluar kota. Mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Nada menutup pintu kamar dan melempar tasnya ke atas kasur lalu menghempaskan dirinya sembari menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
“Apa yang kau lakukan Nada?! Bodoh gimana besok ketemu Arkan! Akhh Nada kamu kerasukan apa tadi hah sampai ikut terbawa suasana?!” teriaknya tertahan dengan frustasi.
Tapi dia mengingat first kiss nya yang sudah hilang membuatnya mencak-mencak di tempat. “Bisa gila beneran aku!” ucapnya sembari menarik rambutnya dengan frustasi.
Berbeda dengan Nada, Arkan lelaki itu sedari tadi tidak pernah melunturkan senyum dari wajahnya. Dia sesekali memeganh bibirnya kemudian tertawa kecil lagi.
“Manis” gumamnya sembari mengingat apa yang dia lakukan tadi di pantai. Ia sudah sangat senang walau hubungan mereka masih tidak jelas tetapi dia tau Nada tidak menolak dirinya tadi.
Paginya Nada bangun sangat pagi dan berangkat ke sekolah tanpa memberitahu Arkan. Dia masih belum siap untuk bertemu lelaki itu pagi ini, jadi dia memilih untuk berangkat sendiri walau setelah sampai sekolah suasananya masih sepi karena masih pagi.
Ia menaruh tasnya di atas meja dan menelungkupkan kepalanya di atas tas. Sebenarnya saat ini ia sangat mengantuk, malam tadi dia tidak bisa tertidur sampai jam 2 pagi dan harus bangun lagi jam 5 untuk bersiap-siap. Ingatannya tidak bisa berhenti memutar kejadian malam tadi yang membuatnya mengutuk dirinya sendiri.
Perlahan dirinya memejamkan mata dan terlelap karena kesunyian kelas ini.
Sedang Arkan yang baru saja turun dari kamarnya yang berada di lantai tiga mengerutkan kening karena tidak menemukan Nada di meja makan. Dia mengedarkan matanya menelisik barang kali Nada berada di ruang keluarga atau ruang tamu. Tetapi nihil ia tidak melihat sosoknya, lelaki itu berjalan menuju dapur untuk menemui seorang pelayan.
“Bi ada melihat Nada?” tanyanya pada seorang perempuan paruh baya yang sedang memasak.
“Eh gak liat Den, mungkin masih di kamarnya” ucapnya seraya menggelang.
Arkan semakin mengerutkan kening, tanpa mengatakan apapun ia meninggalkan dapur dan naik lagi menuju lantai dua, kamar Nada. Ia memelankan langkahnya begitu mendekati kamar gadis itu. Mengetuk pelan tetapi tidak mendapatkan jawaban, dia mengangkat tangannya menuju kenop pintu dan menariknya. Dan ternyata kamarnya tidak di kunci.
Arkan mendorong pelan pintu itu dan melangkah lalu menilik kasur yang rapi dan ruangan yang sepi. Lelaki itu menghela nafas sebal karena tidak menemukan Nada.
Lalu lelaki itu berbalik keluar setelah menutu pintu kamar Nada dengan rapat dan bergegas turun kembali melangkah dengan cepat menuju pintu keluar lalu menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Baru saja dia hendak keluar dari gerbang tetapi dia menjulurkan kepalanya dan memanggil satpam.
“Pak ada liat Nada gak?” tanyanya.
“Oh iya tadi non Nada sudah berangkat dari pagi sekali den” jawabnya.
Arkan menyunggingkan senyumnya, dia sudah menduga kalau gadis itu pasti menghindarinya. Setelah itu lelaki itu mengemudikan mobil dengan cepat menuju sekolah.
Memasuki kelas yang sudah terlihat agak banyak siswa, dia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas dan tatapannya mengunci keberadaan seorang gadis yang masih menelungkupkan kepala di atas meja.
Melangkah dengan pasti seraya menyeringai kecil, dia duduk dengan pelan agar tidak mengganggu tidur gadis itu. Matanya tidak lepas mengawasi Nada yang masih terlelap.
Nada membuka matanya perlahan ketika telinganya menangkap suara ribut di kelas, dia berpikir sudah banyak siswa yang datang. Tetapi betapa terkejutnya dirinya ketika matanya jelas membuka dan menangkap wajah seseorang yang sedari tadi berlarian di kepalanya dan sekarang sedang menatapnya santainya.
Gadis itu dengan cepat menegakkan tubuhnya dan terlihat panik yang sialnya dapat dilihat oleh Arkan yang sekarang sedang menyeringai.
“Ingin menghindar” ucap Arkan dengan tenang sembari menyilangkan tangan di dada.
Nada mengangguk lalu menggeleng, otaknya masih belum sinkron sekarang.
“Gak usah dijadiin beban pernyataan aku semalam, aku masih mempunyai waktu untuk membuat kamu luluh” ucapnya dengan senyum tipis.
Setelah bel istirahat berbunyi, Nada memilih bergegas merapikan mejanya dan berkata pada Arkan yang bertanya padanya, dia menjawab kalau dia ingin ke toilet.
Memasuki toilet yang agak kosong dia memilih mencuci mukanya di wastafel. Setelah mengusapkan air ke wajahnya dia menatap cermin dengan frustasi.
Tak lama telinganya menangkap percakapan seorang perempuan yang suaranya sangat dia kenal, gadis itu menajamkan pendengarannya karena terlihat suara perempuan sedang berdebat.
“Kita emang gak bisa bersama Refan, bukannya aku nyerah gitu aja tapi hubungan kita gak punya akhir yang jelas lebih baik di akhiri sekarang aja” ucap si perempuan.
Nada mendengar perempuan itu terdiam, mungkin mendengarkan perkataan orang di balik handphone-nya.
“Dia gak ada hubungannya dengan keputusan aku, tapi aku hanya menyadari kita gak akan pernah bisa bersama jadi buat apa?” suara itu terdengar frustasi dan walau tersamarkan ada isakan pelan.
Suara bilik terbuka dan Nada bisa melihat seorang itu lewat cermin wastafel betapa terkejutnya dia melihat seseorang itu.
“Nada..”
“Putri..” ucap Nada nyaris tanpa suara.
Putri terlihat menormalkan ekspresi wajahnya dan berjalan pelan menuju wastafel di samping Nada. Ia membasuh mukanya yang terlihat kacau walau sudah coba di sembunyikan.
Nada juga ikut terdiam, dia tidak ingin bertanya karena itu privasi dari Putri. Gadis berambut sebahu itu menoleh sekilas pada Nada.
“Gue...boleh cerita?”
...***...
“Dari mana?” tanya Arkan dengan datar.
Nada tidak menjawab pertanyaan Arkan, ia lebih memilih mendudukkan tubuhnya di kursi. “Dari toilet”
“Selama itu” sahut Arkan mendelik tidak percaya.
“Tadi ketemu Putri” ucapnya menjelaskan. Nada mengerutkan kening kenapa juga dia harus menjelaskan pada lelaki itu.
“Ngapain aja sampai selama itu?” tanyanya masih penasaran.
“Shuut...tuh guru udah masuk” ucap Nada seraya menaruh telunjuknya di bibir mengisyaratkan untuk diam pada Arkan.
Arkan mendengus tidak terima, tetapi dia akhirnya pasrah dan tidak lanjut bertanya pada Nada. Gadis itu menghela nafas lega melihat Arkan yang sudah tidak bertanya lagi.
Saat guru sedang menjelaskan pikiran Nada tidak fokus dan malah berkelana. Ia kembali memikirkan tentang permasalahan Putri yang sebenarnya cukup pelik. Gadis itu menghela nafas pelan dan menghembuskannya secara berulang kali. Hal itu tentu saja membuat Arkan terusik dan melirik Nada yang terlihat berpikir keras.
‘Apalagi yang dia pikirkan?’ gumamnya dalam hati sambil sesekali melirik Nada.