Dear Nada

Dear Nada
Masalah Putri Yang Rumit



Tidak lama setelah Nada berganti pakaian dan menuju dapur dia mendapatkan pemberitahuan agar semua pekerja di restoran berkumpul di ruang khusus sementara waktu.


“Nad kita ngapain sih di suruh kumpul gini, mana lagi banyak pengunjung lagi” keluh Vika sembari mengapit tangan Nada dan berjalan menuju ruangan yang kosong di ujung sana dan biasanya digunakan untuk pemberitahuan seperti ini.


“Nggak tau tapi tadi mas Abdi langsung memerintahkan kita katanya” jawab Nada mengendikan bahunya.


“Jangan-jangan...”


“Jangan-jangan apa?” tanya Nada cepat karena Vika mengantung kata-katanya


“Jangan-jangan dia bos kita lagi!” tebak Vika dengan suara agak nyaring membuat beberapa orang menoleh pada mereka.


Nada meringis melihatnya, “Kak pelanin suaranya” desis Nada berbisik pada Vika yang dibalas cengiran oleh gadis itu.


Sampai di tempat itu sudah banyak para pekerja yang ikut berdiri dan sembari bertanya-tanya kenapa gerangan mereka di suruh kumpul.


“Oke perhatian sebentar!” suara mas Abdi membuat pembicaraan di situ menjadi hening dan memfokuskan pandangan pada lelaki berkaca mata itu.


“Kalian mungkin bingung kenapa saya ngumpulin kalian disini bukan?” tanyanya menatap mengeliling.


Kerumunan hanya terdiam tetapi diam-diam mengangguk setuju.


“Nah mungkin kalian juga penasaran siapa sih bos kita selama ini. Di sini sudah hadir bos dari restoran ini. Silahkan masuk” persilahnya pada seseorang di balik pintu.


Untuk sekejab fokus semua orang tertuju pada seseorang yang mulai berjalan mendekati mas Abdi dengan wajah datarnya. Tatapan kagum mengarah pada lelaki itu, tetapi Nada malah membulatkan matanya seketika ketika melihat orang yang sedang berdiri di depan sana.


“Arkan..” lirih Nada nyaris berbisik.


“Apa? Kamu ngomong apa tadi Mas?” tanya Vika mendekatkan telinganya ke arah Nada.


“Gak ada kok” geleng Nada pada Vika.


Mata Nada tidak bisa lepas dari sosok yang sedang berbicara di depan sana, sungguh dia pun tidak menyangka kalau lelaki itu merupakan bosnya padahal usia mereka hampir sama. Selama sesi pengenalan Nada tidak bergeming dari tempatnya sampai satu persatu pekerja keluar dan hanya tersisa dirinya dengan Arkan.


Lelaki itu perlahan mendekati Nada yang masih terpaku di tempatnya.


“Ada apa?” tanya Arkan heran.


“Kamu pemilik restoran ini?” tanyanya dengan lidah kelu.


“Baru setahun belakangan ini” jawabnya ringan.


Nada sedikit termenung mendengar jawaban Arkan. “Kenapa kamu gak pernah bilang”


Nada mengerucutkan bibir kesal, “Saya permisi pak” ucap Nada dengan formal yang membuat Arkan berkedip tidak suka.


“Apaan formal gitu, ganti kaya tadi aja” protesnya tidak terima.


“Tidak bisa. Kita sedang di tempat kerja, saya sebagai bawahan dan anda sebagai atasan” ucap Nada tegas. Lalu setelah pamit lagi gadis itu bergegas keluar dari ruangan itu meninggalkan Arkan yang masih menggerutu.


Hari sudah semakin larut, terlihat Nada yang sedang mengelap setiap meja dan merapikannya lagi di bantu seorang lelaki yang seumuran dengannya. Restoran sudah tutup dan setiap pekerja bersiap untuk pulang, begitu juga dengan Nada. Setelah mengganti bajunya ia berjalan keluar dan duduk di sebuah kursi depan restoran untuk mengistirahatkan sejenak tubuhnya.


Tanpa sengaja netranya menangkap sosok familiar yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang. Ia ragu, jadi matanya semakin menelisik teliti mengenai siapa orang itu. Dua orang itu yang salah satunya familiar terlihat terlibat cekcok. Mereka di mata Nada sama-sama terbawa emosi dan tidak mau saling mengalah. Sampai sang lelaki meninggalkan perempuan itu sendiri duduk di kursi itu.


‘Kaya Putri’ gumam Nada dalam batinnya.


Nada yang merasa yakin tentang sosok yang akrab itu pun mendekatinya secara perlahan. Tadi itu sebenarnya dia sudah yakin tetapi ia tidak nyaman karena mereka sedang butuh waktu berdua, tidak pantas kalau ia menengahi pertengkaran mereka.


Ia duduk dengan pelan di samping gadis yang tertunduk itu. Ia hanya diam tidak berbicara sampai sang gadis itu mengangkat kepalanya, dan dapat Nada lihat matanya yang memerah tetapi tidak ada air mata.


“Lo di sini” lirihnya dengan suara serak.


“Butuh pelukan?” tawarnya disertai senyum menenangkan, membuat Putri menghamburkan dirinya ke pelukan Nada. Gadis itu mengelus pelan bahu sahabatnya itu. Ya mereka sudah bersahabat.


“Nangis aja gak apa-apa Put” ucap Nada dengan lembut.


“Gue diajarin buat gak pernah nangisin hal kaya gini” ucapnya.


“Tapi setiap manusia itu butuh mengeluarkan air mata, untuk membuat dirinya lega. Jadi seseorang gak akan terlihat lemah walau dia menangis. Menangis saat ada rasa sedih datang itu membuktikan kalau kita itu manusia” ucap Nada.


Akhirnya tangis Putri pecah juga, Nada mengelus lembut bahu gadis itu yang terlihat rapuh. Ia tidak biasa melihat gadis itu menjadi serapuh ini. Putri yang dia kenal merupakan orang yang ceria.


“Gak apa-apa, semua akan berlalu. Ini hanya bagian dari perjalanan hidup kamu kedepannya” hibur Nada.


Setelah cukup lama melampiaskan perasaan terpendamnya akhirnya Putri mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia menegakkan tubuhnya dan bersandar di sandaran kursi sembari memejamkan matanya. Nada hanya menunggu dan tidak berbicara, dia tahu saat ini Putri hanya ingin di dengar.


“Beberapa hari lalu gue melihat mama sedang bersama seorang lelaki dan seorang anak, mereka terlihat harmonis. Lo tau dia saat itu liat gue tapi dia menganggap seolah kami tidak saling kenal. Gue saat itu hanya bisa diam dan menyingkir dari situ perlahan. Tapi entah kenapa melihat mama yang kelihatan bahagia bersama keluarga kecilnya dan melupakan gue yang juga anaknya rasanya begitu sesak. Kadang gue berpikir dia menyayangi aku gak sebenarnya?


Seakan gak cukup hubunganku dengan Dave mulai goyan. Mamanya datang ke aku dan terang-terangan menentang hubunganku dengan anaknya. Yah memang hubungan kami tidak memiliki masa depan, orang tua mana yang mau anaknya punya hubungan dengan orang berbeda agama. Gue gak bisa apa-apa Nad, mengelak pun rasanya gak ada jalan keluarnya. Hubungan kami gak bisa kemana-mana, akhirnya aku memutuskan pisah tapi dia terus menolak. Aku juga gak mau gini tapi bukankah aku harus merelakanmya cepat atau lambat, ini hanya masalah waktu” ceritanya panjang.


Nada senantiasa mendengarkan cerita Putri dengan seksama, jujur ia juga tidak bisa berkata-kata. Masalah gadis itu terlihat menimpuk menjadi satu. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menepuk bahu Putri untuk memberitahu dia kali dirinya gak sendiri, ia akan selalu ada untuk gadis itu.


“Dunia itu luas, kamu bisa saja mendapatkan sosok lain yang lebih baik dari sekarang. Perihal sekarang kamu menangis, mungkin saja nantinya kamu malah mendapatkan seseorang yang gak pernah bikin kamu nangis” katanya sembari mengusap air mata di pipi Putri.


“Lampiasin semuanya untuk malam ini, sedihnya jangan dibawa sampai esok apalagi berhari-hari” ucapnya menyunggingkan senyum meyakinkan yang dibalas Putri dengan anggukan.