Dear Nada

Dear Nada
Om Glen Datang Lagi



Arkan sudah duduk dengan tenang di kursinya tetapi raut wajahnya masih muram dan dia terus menatap tajam Kafa. Sedang yang ditatap tidak memerdulikan dan tetap makan dengan lahapnya.


Nada melirik Arkan dan Kafa bergantian, dia menghela nafas tidak berdaya. Sepertinya Arkan merasa terganggu dengan kedatangan sepupunya itu. Ya Kafa merupakan sepupu Arkan, dia juga baru tau saat Kafa menyebutnya tadi.


“Makan Nada!” perintahnya tanpa melihat Nada.


Nada lekas memakan makanannya karena Arkan tau dia dari tadi hanya memperhatikan dirinya dan Kafa.


“Kalo Lo masih aja galak yang ada Nada kabur” cibir Kafa yang dihadiahi lemparan sendok ke arah lelaki itu. Kafa mencak-mencak di tempatnya karena kelakuan sepupu jahanamnya itu. Sedang Emma tertawa kecil melihat kesialan Kafa.


“Berisik lo”


“Jadi Kafa sekelas sama kalian?” tanya Nada pada Emma dan Putri.


“Yoi, gue kaget ngeliat ciptaan Tuhan yang begitu indahnya muncul di kelas gue” ucap Emma dengan dramatis yang di sambut gelak tawa oleh Putri dan ekspresi masam Kafa.


“Emma ketemu lawan yang cocok tuh” timpal Putri.


“Ada juga yang bisa nyaingin lo” celetuk Arkan menatap mengejek Kafa yang di balas gumaman tidak jelas dari lelaki itu.


Arkan melihat Nada yang sudah menyelesaikan makannya lalu dia menarik tangannya dan membawanya pergi dari situ.


“Eh Arkan Lo mau kemana?” teriak Kafa yang tidak dipedulikan oleh Arkan. Lelaki itu terus saja berjalan seraya menggandeng Nada. Gadis itu hanya menurut saja saat Arkan membawanya pergi.


Sampai di taman mereka menemukan sebuah kursi panjang lalu Arkan membawa Nada duduk di sampingnya.


“Lo jangan terlalu dekat sama Kafa” ucapnya membuat Nada mengernyit bingung.


“Kan aku baru kenal tadi” ucapnya.


“Nanti kalo dia ngajak Lo ngomong jangan di tanggapin” ucapnya dengan nada kesal.


“Kenapa?” tanya Nada tidak mengerti. “Kelihatannya Kafa baik deh”


Arkan mendelik mendengarnya, “Lo bilang bocah tadi itu baik?!” wajahnya sudah merenggut tidak suka.


Nada tidak menyangka reaksi Arkan akan sebesar itu, “I-iya kayanya” cicitnya pelan.


“Dengar Nada. Kafa itu playboy ulung jadi Lo jangan kemakan sama wajahnya yang polos itu” peringatnya dengan wajah serius.


“Apa hubungannya?”


“Lo masih nggak ngerti? Pokoknya Lo jauhin buaya darat itu deh” sahutnya kesal.


Nada memilih mengangguk dan diam tidak memperpanjang sepertinya mood Arkan sedang tidak baik makanya dia marah-marah terus. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing. Arkan dengan pikiran yang dipenuhi cara untuk menjauhkan Nadanya dari Kafa sepupunya itu. Sedang Nada memikirkan sikap Arkan yang tiba-tiba aneh.


***


Sejak bel pulang tadi Arkan selalu memaksa Nada untuk pulang bersamanya saja. Nada sudah berusaha menolaknya tetapi Arkan tetap memaksa, jadi di sinilah dia di dalam mobil Arkan yang melaju menuju rumahnya. Ia tidak bekerja hari ini karena memang restoran tutup hari ini.


“Arkan kenapa dari tadi melirik aku terus” protesnya juga pada akhirnya.


Arkan mengulas senyum tipis, “Hanya ingin” jawabnya singkat.


“Hanya ingin? Aku sungguh merasa sedikit terganggu Arkan” ucap Nada gereget.


“Nanti juga terbiasa” balasnya ringan.


Nada menyerah menggugat Arkan, ia membiarkan Arkan melakukan apa yang dia inginkan. Sampai di depan rumahnya Nada turun dari mobil setelah sebelumnya berterima kasih dengan lelaki itu.


Ia tetap berada di luar sampai mobil Arkan tidak terlihat lagi. Saat dia akan membuka pintu netranya menangkap sebuah mobil hitam yang memasuki pekarangan rumahnya. Nada memperhatikan dengan seksama siapa gerangan yang datang ke rumahnya.


Tangannya mengepal kuat dan wajahnya menjadi kaku ketika melihat seseorang yang sangat di bencinya keluar dari mobil itu dengan perlahan dan melangkah mendekatinya.


“Mau apa lagi anda?” tanyanya seraya berusaha menormalakan intonasinya agar tidak bergetar.


“Tidak masuk dulu?” tanyanya dengan senyum main-main. Nada menghembuskan nafas lalu membuka pintu mempersilahkan lelaki itu masuk. Dia hanya tidak ingin perakapannya di jadikan tontonan oleh tetangganya.


“Bukannya kamu sudah tahu untuk apa om ke sini?” pertanyaan Nada dibalas juga dengan pertanyaan yang lain.


Tentu saja Nada tau maksudnya, tapi dia berusaha untuk tidak terpengaruh. “Saya tidak akan menjualnya!” ucapnya dengan tegas dan raut wajah datar.


“Oh, kamu sudah yakin dengan keputusan ini?” tanyanya dengan ekspresi mengancam.


“Tentu saja” balasnya tetap dengan pendiriannya.


Glen berjalan mendekati tempat Nada dengan perlahan. Lalu setelah dekat dia mencekik leher Nada. Sontak saja gadis itu berusaha melepaskan cekikan di lehernya tapi apa daya kekuatan perempuan tentunya akan kalah dengan kekuatan laki-laki.


Pamannya itu menunjukkan raut wajah bengisnya yang pernah Nada lihat dua tahun lalu. Nafas Nada kian tersenggal karena kuatnya cengkraman di lehernya.


“Saya sudah memberikan pilihan yang harusnya bisa kamu pikirkan dengan bijak. Tapi kamu memilih jalan ini. Jangan salahkan om melakukan ini” desisnya.


“A-anda ti-tidak pernah be berubah sela-ma ini, huh An-da masih san-gat lic-ik” ucap Nada dengan terbata karena kesusahan mengeluarkan suarany. Air matanya kembali keluar dari kelopaknya tanpa dapat dia cegah.


“Harusnya kamu juga ikut mati bersama Papamu yang tidak berguna itu!” bentaknya.


Nada memberikan tatapan tidak percaya, apa lelaki di depannya ini menjadi penyebab kematian ayahnya. Bukankah mereka saudara kandung mengapa dia tega melakukan hal ini. Air mata Nada semakin deras keluar dia sangat terpukul mendengar kenyataan ini. Nafasnya yang kian menipis membuat pandangannya kabur.


“Apa yang kau lakukan?!!” teriak seseorang di balik pintu dengan marah. Nada menatap lega melihat kedatangan seseorang itu.


Glen dengan spontan melepaskan cekikannya dari leher Nada. Raut terkejut tidak bisa di sembunyikan dari wajahnya. Dia menoleh ke belakang yang terlihat seorang lelaki yang memberikan tatapan nyalang padanya. Lelaki itu adalah Arkan, dia kembali karena handphone Nada tertinggal di mobilnya tetapi ia tidak pernah menyangka akan melihat kejadian ini.


Dengan langkah lebar Arkan mendekati Glen yang masih tercengang. Dia tanpa basa-basi melayangkan pukulan ke wajahnya. Tanpa bisa menghindari lelaki itu tersungkur mendapat pukulan kuat dari Arkan yang kalap melihatnya menyakiti Nada. Dia terus mendaratkan pukulan sampai beberapa anak buah Glen datang dan membantu tuannya.


Tetapi siapa yang bisa melawani Arkan yang sedang di kuasai oleh amarah. Mereka sudah babak belur dapatnya. Sampai sebuah suara lirih membuatnya menghentikan pukulannya. Lelaki itu menoleh ke arah Nada yang sudah sangat tidak berdaya. Dia melupakan keadaan Nada yang terlihat mengenaskan. Melihat kelengahan Arkan mereka memanfaatkannya untuk kabur. Arkan membiarkannya saja karena memeriksa keadaan Nada lebih penting lagi.