
Enam tahun kemudian.
Seorang anak laki-laki kecil berjalan dengan tenang di sebuah butik besar. Dengan gayanya yang bossy ia tersenyum setiap bertemu dengan pramuniaga maupun pengunjung butik.
Setiap orang yang melihatnya tersenyum karena gemas melihat tampangnya yang lucu dan sangat tampan.
"Selamat siang tuan muda Park. Anda dicari nona CEO." Salah seorang pramuniaga mendekat dan berbicara padanya.
"Baik nona. Saya akan ke atas." Jawabnya sopan lalu segera menaiki lift ke kantor CEO di lantai empat.
Lift terbuka dan terdapat ruangan yang luas dengan sofa besar ditengahnya. Dipinggir ruangan itu juga terdapat manekin-manekin yang memakai babarapa model pakaian.
"Selamat siang nona CEO. Anda memanggil saya?"
Di belakang meja kerja yang besar terdapat sebuah kursi putar dengan sandaran yang tinggi melebihi kepala orang yang mendudukinya.
Kursi yang sebelumnya menghadap ke jendela di belakang meja perlahan berputar menghadap tamu kecilnya.
"Selamat datang tuan muda Park Tae Yang. Ada keperluan apa anda datang kesini?"
Senyum wanita cantik berambut panjang itu mengembang.
"Jika anda berkenan, saya ingin mengajak anda makan siang. Apakah anda bersedia nona?"
"Hmm.. Apakah anda mau mentraktir saya, tuan Park?"
"Tidak nona. Bukankah anda tahu saya belum bekerja." Jawab Tae Yang polos.
Tawa keras dari sang wanita menggema di ruangan.
"Kau terlalu banyak gaya, Tae Yang! Apakah kau bermain bos-bosan lagi di bawah tadi? Mommy mendapat laporan kau berkeliaran di sana."
"Mom.. Aku bosan dirumah sendirian. Aku juga mau menjadi CEO seperti Mommy."
"Kalau kau mau menjadi CEO kau harus bekerja keras. Sekolah yang pintar. Lalu buatlah bisnis yang kau sukai. Maka kau akan menjadi CEO."
"Baiklah kalau begitu aku mau sekolah. Kapan aku masuk sekolah, Mom?"
"Bulan depan kau akan masuk sekolah dasar."
"Keren!!!" Ujarnya sambil menunjukkan jari jempolnya.
"Tapi bukan di sini. Di Korea."
"Korea? Tempat ayah JJ?!" Serunya bersemangat.
"Iya. Mommy sedang membuat cabang di Korea. Tampaknya mommy akan tinggal lama di sana. Jadi sekalian kau sekolah disana saja."
"Apakah sekolahku bagus?"
"Ya! Ayah JJ yang memilihkan. Pasti dia memilih sekolah yang terbaik untuk Tae Yang."
"Asik! Aku sudah tidak sabar lagi! Aku juga ingin bertemu ayah JJ. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
"Wah suaramu terdengar sampai bawah tuan Park. Apa yang membuatmu sangat bersemangat hari ini?"
Seorang wanita masuk. Wajah dan tubuhnya masih tetap cantik diusia yang hampir kepala lima itu.
"Granny!!"
Tae Yang berlari dan memeluk nyonya Park.
"Pangeran tampannya granny. Granny kangen sekali."
"Tae Yang juga.."
Mereka berdua berpelukan erat.
"Jangan melawak ya kalian. Bukankah tadi pagi saja kalian berdua sarapan bersama?!!" Dengan sinis Ae Ri melirik mereka.
Tae Yang dan nyonya Park tertawa terkekeh.
"Ayolah! Katanya mau makan siang."
Ae Ri berjalan mendahului mereka ke arah lift.
Tae Yang dan nyonya Park tersenyum lebar lalu melakukan 'tos'. Keduanya lalu mengekor di belakang Ae Ri.
***
"Granny, kata mommy aku akan sekolah di Korea. Tempatnya ayah JJ!"
"O benarkah? Apakah kau suka?"
"Suka sekali. Granny juga ikut ke Korea kan?"
"Tidak bisa sayang. Kasihan para pegawai kita jika ditinggal. Granny juga harus mengurus bisnis yang di Amerika. Biar Mommy fokus mengurus yang di Asia."
Tae Yang cemberut.
"Kenapa bibirmu seperti itu?" Nyonya Park tertawa.
"Tidak asik!!"
"Jika pekerjaan Granny bisa ditinggal, Granny akan langsung terbang ke Korea. Oke?"
"Tapi kan lama.."
"Saat kau libur juga kau bisa ke sini. Asik kan?"
Tae Yang tampak berfikir.
"Sudah ayo sambil makan. Waktu istirahat cuma sebentar." Ujar Ae Ri.
"Okelah kalau begitu. Granny jangan sedih ya."
"Mm.. Bagaimana ini.. Granny pasti akan sedih."
Nyonya Park pura-pura akan menangis. Tae Yang kecil langsung melompat dari kursinya dan memeluk neneknya. Ia menepuk punggung nyonya Park dengan lembut.
"Granny jangan sedih. Aku akan menelpon setiap hari. Oke?"
Ae Ri tersenyum. Tampaknya ia berhasil mendidik putranya menjadi lelaki yang penuh kasih sayang. Jangan sampai ia bertumbuh menjadi seperti ayah kandungnya yang sangat jahat di mata Ae Ri.
Ada sedikit rasa takut jika ia pulang ke Korea. Berbagai pikiran memenuhi kepalanya.
'Apakah laki-laki itu masih mengenaliku? Ah tidak mungkin! Aku hanya mainan sesaat baginya. Pasti ia sudah melupakanku.'
'Lagi pula jika ia mengingatku aku akan pura-pura tidak mengenalnya. Beres!!'
'Atau justru aku akan membalas dendamku padanya. Ya! Ini bisa kujadikan kesempatan.'
***
"Tae Yang!!" Sebuah suara menggema di bandara Incheon.
"Ayah JJ!?" Seru Tae Yang.
Ahn Jae Hyun berlari mendekat dan menggendong Tae Yang. Pria tampan itu kini terlihat semakin tampan dalam kematangannya.
"Whoaa.. Kau sudah berat sekali sekarang. Baru dua bulan tidak bertemu kau sudah hampir setinggi ayah."
Tae Yang tampak bangga dan gembira karena di bilang tinggi.
"Bohong. Aku masih saja sepinggangnya ayah!" Ujarnya sambil cemberut.
"Anakmu susah sekali di rayu. Seperti Mommynya!"
Ae Ri tertawa.
"Mana barang-barangmu?"
"Ini!" Ae Ri hanya menunjuk dua koper besar.
"Hanya ini? Bukankah kau akan tinggal di sini?!"
"Iya.. Sudah ayo cepat aku sudah lapar sekali."
"Baik nyonya.."
Di dalam mobil, Tae Yang duduk di depan di samping Jae Hyun. Ae Ri duduk di belakang Tae Yang.
Kedua matanya menatap sendu kota yang tujuh tahun lamanya ia tinggalkan. Banyak perubahan di kota ini.
'Ya. Akupun berubah. Aku bukan Mi Cha lagi. Aku Ae Ri.'
"Ae Ri.. Kau sakit?"
Jae Hyun melirik Ae Ri dari spion.
"Tidak. Aku hanya sedikit teringat masa lalu."
"Tidak usah diingat!"
Ae Ri mengangguk.
"Mommy. Bukankah mommy bilang waktu kecil mommy juga tinggal disini?"
"Iya sayang."
"Apakah kita akan tinggal di rumah waktu Mommy kecil dulu?"
"Tidak sayang. Rumah itu sudah diambil orang. Tapi mommy sekarang ingin membelinya lagi."
"Apakah rumahnya bagus?"
"Bisakah kapan-kapan kita melihatnya Mom?"
"Bisa! Ayah akan antar nanti setelah kita makan. Kau suka?"
"Yee! Aku suka!! Lalu kita akan makan dimana?"
"Bagaimana jika kita makan di mall tempat ayah bekerja? Sekalian ada tamu yang ingin bertemu denganku. Hanya sebentar. Bisa kan?" Kini matanya melirik pada Ae Ri.
Ae Ri menoleh dan mengangguk.
***
"Nah.. Kita sampai, ayo turun Tae Yang!"
Mereka semua keluar dari mobil SUV mewah berwarna hitam itu. Mereka berada diparkiran basemen sebuah gedung tinggi berisi perkantoran dan pusat perbelanjaan besar.
Gedung ini milik keluarga Jae Hyun. Papa Jae Hyun telah berhasil memaksanya untuk meneruskan bisnisnya. Dan ditangan Jae Hyun bisnisnya semakin melebar seperti gurita. Bisnisnya kini tersebar dibeberapa kota besar di Korea.
Saat masuk ke dalam seorang penjaga lift menunduk hormat pada Jae Hyun.
"Selamat siang CEO Ahn."
Jae Hyun mengangguk. Ia selalu lebih senang masuk melalui basemen karena bisa menghindari banyak orang.
"Lantai 3." Jae Hyun bersikap sangat formal layaknya CEO besar. Ae Ri tersenyum geli melihatnya.
Jae Hyun yang sadar akan pandangan Ae Ri melotot ke arahnya dengan kesal.
Lift membawa mereka naik.
Saat pintu lift terbuka tampak keramaian khas pusat perbelanjaan menyambut mereka.
"Kita makan disini. Ayo!"
Mereka menuju sebuah restoran yang menyediakan masakan Korea. Jae Hyun tahu pasti Ae Ri sudah sangat merindukan masakan Korea asli.
"Whoaa.. Aku pesan yang mana? Semuanya tampak enak!" Bisik Ae Ri sambil membolak-balik menu.
Jae Hyun tertawa melihatnya. Di matanya Ae Ri benar-benar tidak berubah. Dan hanya di depan Ae Ri pula ia bisa bersikap apa adanya.
"Kita join saja seperti biasanya. Kau pesan saja yang kau inginkan. Nanti aku ikut makan itu."
Ae Ri tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk.
"Tae Yang mau yang mana?" Tanya Jae Hyun.
Tae Yang tampak bingung dengan pilihan menunya. Ia biasanya hanya makan masakan Korea jika mommy atau grannynya yang masak.
"Kimbab sama telur gulung saja. Karena hanya itu yang aku tahu." Ujarnya polos.
Ae Ri dan Jae Hyun tertawa.
"Kau harus mengenal makanan Korea sayang. Pasti mommy dan granny jarang masak kan? Dan jika makan diluar pasti kau hanya makan makanan barat, benar kan?"
"Iya. Soalnya waktu istirahat Mommy tidak lama. Jadi kami makan di sekitar butik Mommy saja."
Jae Hyun menoleh pada Ae Ri.
"Sudah saatnya kau menikmati hidup nyonya Park. Kasihan putramu."
"Baik CEO Ahn.." Jawab Ae Ri sambil menundukkan kepala.
"Kalian tunggulah makanannya datang. Jika sudah datang makanlah duluan. Aku akan menemui tamuku sebentar. Oke? Tidak akan lama."
"Oke!" Ae Ri menjawab.
Jae Hyun secepat kilat berjalan ke arah lift untuk naik ke kantornya.
Pintu Lift terbuka di lantai 9. Seluruh ruangan di lantai ini adalah berisi kantornya. Di depan lift terdapat tiga meja. Yaitu milik dua asisten dan satu orang sekretarisnya.
Melihat kedatangan bosnya, ketiga orang itu serentak berdiri dan membungkuk.
"Tamuku sudah datang?"
"Sudah pak. Baru saja."
"Baik."
Jae Hyun mendorong pintu besar dan masuk ke ruangannya.
"Selamat datang CEO Kim. Maaf terlambat. Apakah anda sudah menunggu lama?"
"Tidak. Baru saja." CEO Kim berdiri dari duduknya dan menyambut salaman tangan Jae Hyun.
Kim Yo Han tersenyum tipis dan duduk kembali dengan anggun. Dalam hati Jae Hyun memuji ketampanan pria yang duduk di hadapannya itu. Meskipun terkesan angkuh dan dingin.
"Whooa.. Saya benar-benar tidak mengira anda sendiri yang datang ke sini."
"Seperti yang anda dengar. Kami menawarkan kerjasama dengan artis-artis dibawah YH Manajemen. Kita akan berbisnis mutualisme. Saling menguntungkan. Artisku membutuhkan tempat, dan mall anda membutuhkan promosi."
Jae Hyun tertawa. Beberapa waktu yang lalu ia telah menolak direktur YH manajemen. Ternyata hari ini CEOnya sendiri yang datang. Mungkin karena keuletan CEOnyalah yang membuat perusahaannya itu cepat berkembang meski baru berdiri 5 tahun.
Kemudian ia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Baiklah. Aku bersedia bekerjasama dengan YH Manajemen tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Biarkan artis-artismu memakai pakaian dari disainer pilihanku."
Kim Yo Han mengerutkan dahinya.
"Disainer mana?"
"Liberty Park. Ia sangat terkenal di Amerika. Dan kini ia masuk ke Korea. Salah satunya ada di mall ini. Bagaimana?"
"Beberapa artis sudah memegang kontrak dengan desiner tertentu."
"Tidak masalah. Cari saja yang belum memiliki kontrak. Pakaian hasil rancangan nona Park pasti tetap akan menarik dan laku walau di peragakan oleh artis tidak terkenal sekalipun."
Kim Yo Han tampak tidak suka dengan tatapan bangga mata Jae Hyun.
"Baiklah. Kalau begitu bisakah kita bertemu dengan nona Park. Aku ingin melihat sendiri hasil karyanya."
Jae Hyun berpikir. Tidak bisa secepatnya karena Ae Ri pasti butuh waktu untuk mempersiapkan butik barunya.
"Selasa atau Rabu minggu depan. Karena besok sudah weekend."
"Baiklah kalau begitu. Ini kontrak yang kami ajukan. Silahkan dipelajari. Lalu saat bertemu sekalian kita bicarakan kelanjutannya kembali."
"Baik. Terimakasih CEO Kim."
"Baik. Saya pamit CEO Ahn."
***
"Maaf, apakah aku kelamaan?" Jae Hyun duduk kembali di kursinya tadi.
Tampak Ae Ri dan Tae Yang sedang asik menikmati makan siangnya.
"Tidak. Kami baru saja mulai. Ayo makanlah!"
"Oke. Selamat makan!"
"Selamat makan!" Tae Yang menjawab.
"Ae Ri. Selasa atau Rabu butikmu yang di Itaewon sudah siap kan?"
"Sudah. Hari senin malam aku berencana akan mengadakan grand opening. Akan ada gala dinner dan fashion show. Aku sudah mengundang beberapa manajemen artis dan pengusaha-pengusaha. Dari laporan yang ku terima hari ini persiapannya sudah 95%. Ada apa?"
"Whoaa ternyata gerakmu cepat juga ya. Tadi ada CEO manajemen artis yang menemuiku. Ia menawarkan kerja sama. Dan aku mengajukan syarat untuk memakai pakaianmu. Tampaknya ia akan setuju."
"Whoaa.. Secepat itu. Bagus sekali Jae Hyun!!" Ae Ri tersenyum lebar.
"Ia meminta bertemu di butikmu. Ia ingin melihat hasil rancanganmu. Aku tidak tahu kau akan mengadakan acara."
"Apakah perusahaannya belum menerima undanganku? Seharusnya semua manajemen artis sudah kuundang. Kalau begitu biar aku mengundangnya sendiri. Kau punya kartu namanya? Apa nama perusahaannya?"
"Nama perusahaannya YH Manajemen."
"Oke sudah kucatat. Akan ku cek apakah undangannya sudah dikirim atau belum."
Ae Ri mengambil ponselnya dan menelpon asistennya.
"Oke!"
Ae Ri menyimpan ponselnya.
"Sudah. Untuk YH Manajemen sudah memerimaan undangannya. Tapi mungkin CEOnya belum tahu."
"Mana nomer CEO Y.H aku akan mengundangnya secara langsung."
Jae Hyun mengambil kartu nama dan menyerahkannya pada Ae Ri.
"Oke sampai ketemu di grand opening CEO Kim."
Ae Ri menutup ponselnya.
"Done! CEO Kim sudah mengkonfirmasi kedatangannya."
Ae Ri tersenyum puas dan mengangkat jempolnya.
***