
Keesokan harinya di perusahaan C&K.
"Tuan, rumah tuan Cha dan sebuah vila di pulau Jeju miliknya sudah berhasil kita pindah tangan. Sekarang sudah menjadi milik anda."
"Bagus sekali."
"Apakah itu termasuk aset yang akan anda jual juga?"
"Ya akan kita jual semua. Termasuk rumah yang kutempati sekarang."
"Ya tuan?" Pak Lee bertanya karena merasa butuh kepastian.
"Jual semua yang aku miliki."
"Baik tuan."
"Urus semua orang-orang yang bekerja dirumahku. Carikan mereka pekerjaan yang baru. Secepat mungkin."
"Baik tuan. Anda tidak apa-apa tuan?" Tanya pak Lee dengan hati-hati.
"Tidak apa-apa pak Lee. Aku harus mundur sedikit agar bisa maju lebih pesat lagi." Jawabnya sambil tersenyum getir.
"Bagaimana dengan nona Cha?"
"Apa maksudmu? Aku tidak akan melepaskannya. Meski papanya sudah bunuh diri aku masih membencinya. Bahkan kebencianku pada putrinya kini semakin bertambah. Lagi pula papanya sudah menyerahkannya padaku untuk membayar hutang."
Pak Lee hanya bisa menghela nafas.
***
Jantung Mi Cha berdetak lebih kencang saat mendengar tuts kunci pintu berbunyi. Sesaat kemudian Kim Yo Han masuk. Kali ini ia memakai pakaian yang santai. Sebuah kaos oblong putih yang mencetak dada bidangnya dan sebuah celana pendek selutut berwarna coklat tua.
Tidak dapat dipungkiri selain memiliki wajah yang sangat tampan pria itu juga memiliki tubuh yang sangat bagus.
Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kali ini ia biarkan jatuh secara alami menutupi dahinya.
Meski kali ini ia terlihat lebih ramah, namun Mi Cha tetap takut melihat pria itu. Terbayang kelakuan kasarnya dua malam yang lalu. Membuatnya sangat trauma.
"Apakah aku sudah memberitahukan padamu tentang papamu?" Tanya pria itu.
Mi Cha yang menunduk menganggukkan kepalanya. Air matanya mulai jatuh lagi.
Kim Yo Han menghela nafas. Meskipun ia sangat membenci tuan Cha, namun melihat putrinya menangisi kematiannya membuatnya sedikit iba.
Ia duduk disamping Mi Cha. Dengan lembut ia menepuk bahu Mi Cha yang sedang terisak.
Mi Cha terkejut saat tiba-tiba pria itu menyandarkan kepala Mi Cha ke dadanya. Dengan lembut ia membelai rambut kusut Mi Cha.
Kim Yo Han teringat kembali saat ia mengalami kehilangan mamanya yang sakit tanpa bisa berobat karena kemiskinan mereka. Saat ia masih berusia 9 tahun ia harus menghadapi kematian mamanya sendirian. Tanpa ada orang lain yang mendampinginya.
Mi Cha berhenti menangis karena menjadi semakin takut dengan sentuhan Kim Yo Han.
Perlahan pria itu mengangkat dagu Mi Cha dan menghapus air matanya. Dan entah dorongan dari mana ia mendekatkan bibirnya dan mencium lembut bibir Mi Cha.
Mi Cha mendorong dada Kim Yo Han. Namun tenaganya tidak membuat pria itu bergeming. Malah ia semakin dalam mencium bibir Mi Cha.
Sekuat tenaga Mi Cha berusaha melepaskan dirinya. Kemudian dengan keras ia menggigit bibir pria itu.
"Argh!!" Kim Yo Han melepaskan bibirnya. Darah segar mengalir dari bibirnya. Ia menjilatnya dengan lidahnya.
Tiba-tiba Mi Cha ketakutan.
'Apa yang telah kulakukan? Bagaimana jika ia mengamuk dan berbuat lagi seperti kemarin?' Batinnya.
"Semua aset keluargamu sudah berpindah tangan padaku. Dan sebentar lagi aku akan menjualnya untuk menutup semua kerugian yang dibuat papamu."
Ia berkata sambil tersenyum sinis.
Mi Cha mendongak.
"Rumahku.. Rumah peninggalan mamaku.." Bisiknya.
"Tolong jangan jual rumahku. A..aku.. Hanya itu yang kumiliki sebagai peninggalan mama dan papaku.. Tolong jangan kau jual tuan.." Mi Cha memohon hampir menangis.
Dahi Kim Yo Han berkerut. Ada yang ingin ia tanyakan namun ia sendiri bingung.
Ia hanya tertawa sinis.
"Kalau begitu layani aku setiap kali aku minta. Maka rumahmu akan ku kembalikan padamu."
Mi Cha terbelalak. Ia memundurkan tubuhnya karena takut.
"Bagaimana?"
Mi Cha hanya menunduk.
Perlahan Kim Yo Han menyibakkan rambut Mi Cha ke samping telinganya. Dengan lembut ia mendorong tubuh gadis itu berbaring ke ranjang. Dan dengan cepat namun lembut ia menggagahi gadis itu lagi.
Mi Cha terbelalak saat tiba-tiba tersadar. Ia merasa seperti terhipnotis dengan segala yang dilakukan pria itu pada tubuhnya. Sangat berbeda dengan dua malam yang lalu.
Jika sebelumnya pria itu sangat kasar dan menyakitinya namun kali ini ia berlaku sangat lembut. Bahkan ia juga membuat Mi Cha merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
Mi Cha menggigit bibir bawahnya. Ia menangis menyesali sikapnya.
'Mengapa aku menerima perlakuannya? Mengapa aku diam saja?' Batinnya.
Ia berbaring menghadap ke tembok. Sedangkan Kim Yo Han berbaring dibelakangnya dan suara nafasnya mulai terdengar teratur menghangatkan punggung tel*njang Mi Cha.
Ranjang yang kecil membuat mereka harus tidur berhimpitan. Tangan kekar Kim Yo Han melingkar di pinggang Mi Cha sehingga membuatnya sulit bergerak.
Mi Cha berdiam diri namun kedua matanya tidak dapat menghentikan aliran air matanya. Hingga akhirnya ia kelelahan dan jatuh tertidur.
Saat menjelang pagi Kim Yo Han terbangung dengan tubuh yang sedikit terasa lelah. Tampaknya akibat tempat tidur yang terlalu kecil membuatnya tidak bebas bergerak.
Ia tersenyum melihat wajah polos Mi Cha yang masih terlelap di sampingnya.
Ingatannya mundur ke beberapa bulan sebelumnya. Saat ia datang ke rumah tuan Cha untuk membicarakan bisnis.
Saat itulah ia pertama kali melihat gadis itu. Gadis yang berusia 20 tahun itu meskipun sederhana namun ia tampak sangat cantik dalam kepolosannya. Dan ia tampak selalu ceria dan bersemangat.
Namun yang membuat Kim Yo Han penasaran meskipun ia tersenyum pada gadis itu namun si gadis tidak membalasnya. Ia hanya menatap dirinya dengan datar tanpa ekspresi.
Hal itu terus mengganggunya. Bagaimana bisa ada seorang gadis yang tidak tertarik padanya.
Jika boleh jujur, ia sempat senang bisa menyandera gadis itu dirumahnya. Dan saat ini ia lebih senang lagi karena bisa memilikinya.
Kim Yo Han tersadar dari lamunannya saat merasakan gerakan Mi Cha. Perlahan Mi Cha membuka matanya. Dan tampak ia sangat terkejut melihat Kim Yo Han berada di sampingnya dan sedang memandanginya.
Cepat-cepat Mi Cha memeluk selimutnya. Ia menjadi sangat gugup antara kesal, takut dan malu. Ia tak berani menatap mata elang pria itu.
"Sarapan nona!" Sebuah suara lantang terdengar. Seorang pelayan meletakkan baki berisi sarapan.
Letak tempat tidur yang di sudut ruangan tidak memungkinkan si pelayan melihat mereka berdua.
"Bawakan sarapan untukku juga!" Seru Kim Yo Han.
Tampaknya si pelayan terkejut sehingga beberapa saat ia tidak menjawab.
"Ba..baik tuan." Akhirnya ia menjawab dengan gugup.
Kim Yo Han bangun dan memakai pakaiannya. Kemudian ia masuk ke kamar mandi. Saat ia keluar Mi Cha tampak sudah mengenakan kimono tidur berwarna biru dongker yang sangat kontras dengan kulit putih bersihnya.
Kim Yo Han duduk di sofa. Ia melihat di meja ada satu baki berisi sarapan Mi Cha. Tampaknya pelayan belum mengirim sarapannya.
Ia melirik Mi Cha yang masuk ke kamar mandi. Sebuah senyum kembali terukir di wajah tampannya.
"Maaf tuan. Saya mengantar sarapan anda."
Kim Yo Han cepat-cepat berdiri dan berjalan kearah jendela. Ia terbelalak melihat isi bakinya yang terlihat lebih komplit dari milik Mi Cha.
"Ba..baik tuan." Jawab pelayan dengan gugup.
Kim Yo Han meletakkan baki miliknya didepan kursi yang kosong di sampingnya. Sedangkan baki Mi Cha ia tarik ke hadapannya.
Mi Cha keluar dari kamar mandi dengan kikuk. Ia bingung harus bagaimana.
"Duduklah sarapan! Cepat!" Perintah Kim Yo Han.
Perlahan Mi Cha duduk di sofa. Namun ia memilih duduk dengan jarak yang jauh dari pria itu.
"Duduk sini!" Bentaknya kesal. Mi Cha tampak terkejut dengan suara keras Kim Yo Han.
Mi Cha berpindah tempat. Perlahan ia mengambil sumpit namun saat ia melirik baki dihadapan pria itu ia terlihat bingung.
"Apakah baki kita tertukar?" Tanyanya pelan.
Kim Yo Han hanya diam tidak menjawab. Ia asik menikmati makanannya.
***
"Tuan.." Suara kepala pelayan memanggil. Tampaknya ia memang sudah menunggu tuannya turun.
"Ada apa?"
"Mm.. Begini tuan. Karena sudah dua kali ini tuan tidur dengan nona Cha apakah saya harus menyiapkan obat kontrasepsi?"
Kepala pelayan itu memang tampak selalu berekspresi datar. Saat membicarakan hal ini pun pria setengah baya itu terlihat sangat santai. Kim Yo Han sebenarnya merasa sedikit risih.
Namun tiba-tiba ia tersadar.
"Dua kali?! Tidak baru satu kali kok!" Serunya sedikit kesal.
"Dua kali tuan." Jawab kepala pelayan sambil mengangkat dua jari kanannya. Suaranya masih terdengar santai.
Kim Yo Han mengerutkan dahinya.
"Saat tuan sedang mabuk berat, tuan masuk ke kamarnya. Namun setelah selesai tuan langsung kembali ke kamar tuan sendiri."
"Jika tuan tidak percaya bagaimana jika kita tanyakan saja pada nona Cha? Ia menangis dan tidak makan apapun seharian setelahnya." Lanjutnya lagi.
Mata Kim Yo Han mendadak terbelalak.
"A..apa yang telah aku lakukan?!" Bisiknya. Jantungnya berdegup kencang. Perasaan bersalah mendadak menyergapnya.
Dengan langkah lunglai ia berjalan keluar rumah.
Di sepanjang perjalanan ia tak berhenti memikirkannya. Ia benar-benar terganggu.
"Pantas saja ia menangis terus."
"Ya tuan??"
Kim Yo Han hanya diam tidak menggubris kehadiran pak Lee yang sudah siap untuk mengantarnya ke kantor.
"Pantas saja ia terlihat takut saat melihatku."
"Argh!!" Ia memijit-mijit dahinya yang mendadak terasa sakit.
***
"Tuan.."
"Apalagi?!"
Kim Yo Han menjadi sedikit sensitif hari ini. Kali ini kepala pelayan sudah menunggunya di bawah tangga.
"Apakah benar tuan akan memecat kami semua?"
"Bukan dipecat. Hanya saja aku sudah tidak mampu membayar kalian. Jadi aku meminta pak Lee untuk mencarikan tempat kerja yang baru untuk kalian."
"Tuan.. Jika anda sudah bisa membayar saya kembali. Bolehkah saya bekerja untuk anda lagi?"
Kim Yo Han menoleh dan menatap wajah pria setengah baya itu.
Ia tersenyum.
"Baiklah. Namun aku tidak tahu kapan waktunya."
"Baik tuan. Saya akan menunggu." Jawab pria itu lalu berlalu meninggalkan Kim Yo Han.
Kim Yo Han tertawa melihat tingkah pria itu.
***
Kim Yo Han berjalan bolak-balik di teras samping rumah. Ia ragu apakah akan menemui Mi Cha atau tidak.
"Tuan.."
"Astagaa!" Kim Yo Han terkejut dengan suara kepala pelayan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Bisakah anda tidak berisik? Suara langkah kaki anda sangat menganggu."
"O..ba..baiklah." Kim Yo Han menjawab dengan gugup.
"Baik tuan. Permisi."
Kepala pelayan menundukkan kepala dan masuk kembali ke kamarnya.
Kim Yo Han tiba-tiba merasa kesal.
"Bukankah aku yang tuannya disini! Berani-beraninya dia menegurku. Dasar pria tua!" Bisiknya kesal.
Namun ia melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan takut mengganggu pria tua itu.
Kim Yo Han menekan tuts kunci dan membuka pintu kamar. Ia berjuang agar tidak terlihat gugup.
Tampak Mi Cha tengah duduk di sofa. Wajahnya sekali lagi masih terlihat ketakutan.
Kim Yo Han duduk disebelah gadis itu. Ia sangat ingin mengucapkan kata maaf. Namun bibirnya menolak. Akhirnya ia hanya diam. Begitu pula dengan Mi Cha.
"Apakah aku sudah memberikan surat pernyataan dari papamu?" Akhirnya Kim Yo Han membuka suara.
Mi Cha mengangguk. Ia masih memainkan ujung tali kimononya.
Dada Kim Yo Han mendadak berdesir saat membayangkan gadis itu tidak mamakai apapun dibalik kimono tidurnya.
"Tidurlah. Sudah malam." Bisik Kim Yo Han.
Mi Cha menoleh.
'Bagaimana aku tidur jika dia masih disini. Jangan-jangan..' Mi Cha sudah semakin gelisah karena membayangkan yang tidak-tidak.
"Bolehkan aku tidur disini lagi? Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur. Tapi tadi malam aku bisa tidur dengan nyenyak."
Kim Yo Han menunggu jawaban Mi Cha. Namun gadis itu diam tak bergeming.
Mi Cha sangat takut untuk menjawab tidak. Karena ia yakin pria itu tetap akan memaksakan kehendaknya meskipun ia menjawab tidak.
Tiba-tiba Kim Yo Han bangun dari duduknya dan menarik tangan Mi Cha dan membawanya ke ranjang.
Dengan perlahan ia membaringkan tubuh Mi Cha dan ia sendiri juga berbaring di sebelahnya.
Kim Yo Han diam sambil menatap langit-langit kamar. Saat ia menoleh tampak Mi Cha merapatkan kedua matanya pura-pura tidur.
Ia tersenyum lalu merapatkan tubuhnya pada tubuh Mi Cha. Ia memeluk tubuh gadis itu dengar erat seolah enggan untuk melepasnya lagi. Gadis itu terkejut dan membelalakkan matanya.
***