
Bu Yoon terlihat sangat cemas. Ia sangat ingin memberi tahu Kim Yo Han, tetapi ia juga sangat ingin menyimpan rahasia Park Ae Ri.
"Maafkan saya tuan Kim. Saya tidak bisa mengatakannya. Saya hanya akan memberitahu ini. Begini. Tae Yang tidak memiliki ayah. Dulu mamanya hamil dan sepertinya kekasihnya seorang yang brengs*k jadi laki-laki itu tidak bertanggung jawab. Mamanya membesarkan anak itu seorang diri.
Sekarang mamanya sangat takut jika rahasianya terbongkar dan diketahui ayah anak itu. Ia takut pria itu akan mengambil putranya."
Kim Yo Han terdiam selama beberapa saat.
"Kasihan sekali Tae Yang. Saya tidak tega dengan mamanya, dan saya sudah berjanji untuk menyimpan rahasia ini, Tuan. Saya harap yang saya sampaikan ini sudah cukup. Maafkan saya, saya tidak bisa mengungkapkan yang lebih dari ini."
"Mungkin yang membuatku merasa dekat dengannya karena kisah kami sama." Bisik Yo Han.
"Bagaimana, Tuan?"
"Aku juga di campakkan oleh ayahku. Jadi kisah ku dan Tae Yang sama. Mungkin itu yang membuatku merasa dekat dengannya."
"O.. Benarkah, Tuan. Tapi Anda bertumbuh sangat baik. Anda hampir seusia putra saya, tapi Anda jauh lebih sukses."
Kim Yo Han tertawa.
"Putra Anda pasti merasa sangat beruntung karena memiliki Anda dan ayahnya. Sejak usia sembilan tahun saya sudah hidup sendirian." Kim Yo Han tersenyum.
"Baiklah bu Yoon, saya permisi sekarang. Oya, tolong jangan katakan pada mamanya Tae Yang tentang ini."
"Baik, Tuan Kim."
Kim Yo Han berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah. Saat itu sedang jam istirahat jadi banyak anak berlarian.
"Tuan Kim!!!" Sebuah suara anak kecil terdengar memanggilnya. Yo Han menoleh.
Tae Yang berlari menghampiri pria itu. Kim Yo Han merentangkan tangannya dan memeluk pria kecil itu.
"Hei jangan lari, kau bisa jatuh nanti."
"Aku senang bisa bertemu tuan Kim."
"Mengapa kau memanggilku tuan Kim?"
"Disuruh mommy. Kata mommy aku tidak boleh lagi memanggil paman daddy. Nanti paman daddy di marah pacarnya."
Kim Yo Han tertawa.
"Tapi paman daddy senang kau memanggilku paman daddy. Lagi pula aku tidak punya pacar."
"Waktu itu paman daddy bilang tidak mau menikah dengan mommyku karena sudah menyukai orang lain. Bukankah itu pacar paman?"
"Dia belum mau menjadi pacar paman daddy."
"Kalau begitu menikah saja dengan mommyku."
"Apakah kau mau mengenalkan paman dengan mommymu?"
Tae Yang hanya diam. Ia menjadi sedikit cemas.
"Kenapa? Kau dilarang sama mommymu?"
Tae Yang mengangguk. Kim Yo Han tertawa.
"Ya sudah kalau begitu. Kau tidak makan siang?"
"Sudah tadi, baru saja selesai."
Kim Yo Han tersenyum sambil membelai rambut Tae Yang.
"Bolehkah malam ini aku tidur di rumah paman?"
"Hah?!"
"Mommyku sedang keluar kota. Aku tidak mau tidur sendirian."
"Apakah kau sudah mendapat ijin dari mommymu?"
"Aku akan bilang padanya nanti. Kata mommy aku boleh menemui paman daddy dua kali sebulan."
"Hah? Dua kali?"
Tae Yang mengangguk.
"Hanya dua kali?"
Tae Yang mengangguk lagi.
"Whoaa.. Siapa sih mommymu itu, aku sangat penasaran."
"Baiklah kalau begitu. Nanti setelah mendapat ijin dari mommymu, telpon paman daddy ya. Nanti akan ku jemput."
"Tidak usah paman, aku akan datang langsung saja ke sana. Aku tahu paman daddy pasti sangat sibuk."
Kim Yo Han menyipitkan matanya.
"Okelah kalau itu yang kau mau. Semoga mommymu setuju ya. Paman akan senang sekali."
Tae Yang mengangguk dengan ceria.
***
Kim Yo Han berkali-kali melirik jam tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk mengakhiri rapatnya dengan perusahaan yang ingin memakai artisnya.
"Baiklah saya sudah mengerti. Akan saya pelajari dulu, dan besok siang sekretaris saya akan menghubungi anda. Terima kasih atas kehadiran anda." Kim Yo Han cepat-cepat menutup pembicaraan saat ada kesempatan.
"Anda tampak tidak sabar sekali hari ini. Ada apa tuan Kim? Mau bertemu wanita cantik itu lagi?"
"Wanita cantik mana?"
"Disainer itu?"
"Ck! Dia sedang di Shanghai."
"Whoaa.. Lalu apakah ada wanita lain?"
"Bukan wanita!"
"Hah?! Pria? Sejak kapan.." Lee Chan memandang bosnya ngeri.
"Lee Chan!! Apakah kau tidak mempunyai pekerjaan?" Seru Kim Yo Han.
Lee Chan cepat-cepat menutup mulutnya.
"Mau kemana, Bos?" Tanya sekretaris itu saat melihat Kim Yo Han beranjak pergi.
"Pulang!"
"Baru jam segini!"
"Pekerjaanku sudah selesai. Kau lanjutkan sisanya."
Lee Chan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Apartemen Kim Yo Han.
'Apakah mommynya tidak memberinya ijin?' Batin Yo Han sambil melirik jam dindingnya.
Ia memainkan ponselnya. Mencari sebuah nama.
"Halo."
"Ae Ri.."
"Nona Park. Berapa kali harus kukatakan, jangan memanggil nama belakangku! Ada apa?!"
Kim Yo Han tertawa mendengar suara galak wanita itu.
"Apakah kau merindukanku?"
"Tidak."
"Baiklah kalau begitu malam ini aku akan tidur dengan orang lain."
"Terserah."
"Kau tidak cemburu?"
"Tidak. Jika tidak ada yang lain aku akan menutup telpon ini."
"Tae Yang akan tidur disini malam ini." Seru Yo Han tiba-tiba.
Ae Ri seperti disambar petir karena terkejut.
"Mengapa dia tidur disana?"
"Dia bilang mommynya sedang keluar kota, dia tidak mau tidur sendiri."
Saat itu terdengar bunyi bel pintu apartemen Kim Yo Han berbunyi.
"Itu dia datang!" Seru Kim Yo Han sambil berjalan ke arah pintu.
Ae Ri menggigit bibirnya.
"Mana dia? Aku ingin menyapanya." Ae Ri menahan suaranya agar terdengar ramah.
"Hai Tae Yang masuk sini. Ini nona Park ingin bicara di telepon.."
Tae Yang yang baru saja masuk tampak terkejut. Ia mundur beberapa langkah.
"Dia sepertinya tidak mau bicara denganmu." Bisik Yo Han. Ia sangat heran dengan sikap anak itu.
"Katakan padanya, aku akan memberitahu mommynya. Pasti mommynya tidak tahu. Pasti dia tidak meminta ijin."
"Tae Yang sudah meminta ijin pada mommy untuk menginap di sini?" Kim Yo Han bertanya pada Tae Yang.
Tae Yang menggeleng lemah.
Kim Yo Han menghela nafas.
"Ae Ri, tolong katakan pada mommynya dia aman disini. Besok akan ku antar langsung ke sekolah. Jangan khawatir. Kalau perlu kau berikan saja nomor telponku padanya."
"Kau jangan selalu menuruti anak itu. Nanti dia manja. Kasihan mommynya." Tiba-tiba Ae Ri tidak dapat menahan isak tangisnya. Ia sangat kesal.
"Hei.. Mengapa kau menangis? Jangan menangis saat jauh dariku. Aku jadi ingin langsung berangkat ke sana."
Kim Yo Han tertawa namun cemas sekaligus .
"Ya, seharusnya kau kesini saja. Hanya memerlukan dua jam sampai kesini."
"Ae Ri. Ada Tae Yang di rumahku. Apa kau ingin aku meninggalkannya?" Bisik Yo Han.
Ae Ri hanya terdiam. Sebuah pikiran jahat terlintas di benaknya.
"Jika kau tidak datang malam ini. Aku menganggapmu tidak serius dengan semua ucapanmu padaku." Lalu ia memutuskan telponnya.
Kim Yo Han terdiam selama beberapa saat.
"Apakan nona Park memarahi Paman Daddy?"
Yo Han menoleh.
"Tampaknya iya. Sudah biarkan saja. Nanti saat dia pulang Paman akan membujuknya supaya dia tidak marah lagi."
Tae Yang mengangguk.
"Dan kau anak muda. Mengapa kau tidak meminta ijin pada mommymu dulu baru kesini."
"Mommy pasti tidak mengijinkan."
"Tapi itu tidak baik. Lain kali jangan kau ulangi ya. Harus selalu meminta ijin terlebih dahulu pada mommymu."
"Baik, Paman Daddy."
"Oke sebaiknya sekarang kita makan dulu ya. Kau sudah lapar kan?"
Tae Yang mengangguk dan kembali tersenyum ceria.
***
Di Shanghai
Ae Ri berkali-kali melirik ponselnya.
'Mengapa ia tidak menjawab?' Batinnya kesal.
Drrt..
Pesan masuk dari Kim Yo Han.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan Tae Yang sendirian. Kau tahu pasti, aku selalu serius denganmu. Jika tidak ada Tae Yang aku akan langsung terbang kesana. Jadi maafkan aku. Aku akan menunggumu pulang. Akan kulakukan apa saja yang kau inginkan, sebagai hukumanku hari ini. Selamat istirahat Ae Ri ku."
Ae Ri memandangi ponselnya.
'Whoaa.. Pria ini memang sangat berbahaya!' Serunya dalam hati.
"Nona Park.."
Ae Ri tersadar dari lamunannya.
"Oh.. Maaf. Ada pesan penting tadi dari Korea."
"Wah Anda tampaknya sibuk sekali Nona." Ujar seorang wanita berusia sekitar 40an tahun, yang duduk di hadapannya.
Ae Ri hanya tersenyum.
"Baiklah mari kita kembali ke bisnis kita. Saya rasa saya harus memajukan jadwal pulang saya menjadi malam ini Direktur Lee. Ada sedikit masalah di Korea."
"Baik Nona."
Keduanya kemudian tampak sibuk dengan kertas-kertas dan laptop mereka. Nyonya Lee adalah penanggungjawab butik Liberty Park di Shanghai dan Beijing.
Pukul 9 malam Ae Ri tiba di bandara Incheon Seoul. Ia memanggil taksi dan langsung menuju ke apartemen Kim Yo Han. Entah mengapa ia tidak bisa terima jika Tae Yang berada di dekat pria itu. Mungkin orang lain akan mengatakannya terlalu posesif.
Itu bisa saja. Karena ia tidak mau pria itu memiliki putranya. Ia tidak mau Tae Yang menyayangi pria itu. Tae Yang hanya boleh menyayanginya.
Ae Ri menekan password apartemen Kim Yo Han. Dan masuk ke ruangan yang tampak sudah gelap itu. Jam menunjukkan angka 10 malam.
'Apakah mereka sudah tidur?' Batinnya sambil terus melangkahkan kakinya di tangga menuju lantai dua.
Perlahan ia membuka pintu kamar yang terdekat dari tangga. Ternyata kamar itu kosong. Terdapat tempat tidur yang tidak terlalu besar disana. Juga ada menja kecil dan lemari serba putih yang tampak apik.
Ae Ri menutup pintu kembali dan menuju ke kamar di seberangnya. Saat ia membuka perlahan pintu itu, tampak Tae Yang telah tidur dengan lelap.
Tampaknya ini adalah kamar Kim Yo Han. Furniture di kamar ini serba hitam, sangat bertolak belakang dengan kamar sebelumnya. Kamar ini terlihat sangat maskulin. Bau parfum khas milik pria itu tercium dan sangat dikenal Ae Ri.
'Lalu dimana orang itu?' Bisik Ae Ri.
Ia menoleh ke salah satu pintu disudut ruangan.
'Mungkin dia disana. Ruang apa itu?' Batinnya penasaran.
Namun Ae Ri mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar itu. Ia memilih untuk masuk ke kamar pertama.
Pelan-pelan ia masuk membawa kopernya. Ia tidak ingin diketahui pria itu.
Kim Yo Han keluar dari kamar kerjanya. Ia berjalan di lorong atas menuju ke kamar. Namun alisnya berkerut saat ia mencium bau parfum yang sangat ia kenal.
Dengan cepat ia membuka kamarnya. Namun hanya terlihat Tae Yang yang sedang terlelap.
Perlahan ia menutup kembali pintu kamarnya dan melangkah ke tangga dan mengecek lantai bawah.
'Tidak ada. Dimana dia? Apa sudah pulang?' Batinnya heran.
Lalu ia mendongak dan melihat ke arah kamar atas tepat disamping tangga.
Perlahan di bukanya pintu kamar itu. Kim Yo Han tersenyum. Sesosok wanita cantik tengah terlelap di atas ranjang putih itu.
Ia masuk dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Ae Ri. Ia tahu wanita itu pasti sangat kelelahan.
Kim Yo Han perlahan duduk di tepi ranjang. Ia merapikan selimut yang di pakai Ae Ri.
Ae Ri yang memang sangat mudah sekali terbangun seketika membuka matanya karena terkejut.
Kim Yo Han juga terkejut melihat Ae Ri yang tiba-tiba terbangun.
"Maaf, kau terganggu? Tidurlah lagi, kau pasti lelah."
"Kau tidur disini saja. Biar aku yang tidur dengan Tae Yang."
"Tidak. Aku saja yang bersamanya."
Ae Ri pura-pura tidak mendengar. Ia bangun dari tidurnya dan memakai sandal lalu keluar menuju kamar Yo Han.
Kim Yo Han membuntutinya.
Ae Ri yang tampak masih mengantuk langsung merebahkan diri di samping Tae Yang. Lalu tampak ia tertidur kembali. Kim Yo Han mengerutkan alisnya.
Kim Yo Han menghampiri ranjangnya dan merebahkan diri di samping Tae Yang. Jadilah mereka tidur bertiga di atas ranjang besar itu.
***
Kim Yo Han perlahan membuka matanya. Dan ia sedikit terkejut saat Ae Ri berada dipelukannya. Ia menoleh ke sekitarnya untuk mencari Tae Yang.
Ia segera mengecek ke kamar mandi, namun kosong. Lalu cepat-cepat ia ke luar dan mengecek ke kamar pertama di dekat tangga.
Tampak di sana Tae Yang tertidur dengan pulas. Kim Yo Han tertawa.
"Kau sangat pengertian sekali pria kecil."
Kim Yo Han membenahi selimut Tae Yang lalu ia kembali ke kamarnya.
Perlahan ia naik ke tempat tidur dan masuk ke selimutnya bersama Ae Ri. Dipeluknya erat wanita itu.
Ae Ri yang tampaknya belum tersadar sepenuhnya ikut mengeratkan pelukannya. Kim Yo Han tersenyum. Di kecupnya kening Ae Ri dengan lembut.
Lalu perlahan di kecupnya juga bibir wanita itu. Saat itu Ae Ri tiba-tiba tersadar. Ia mendorong keras dada Kim Yo Han.
***