
Ae Ri diam-diam merasa kesal karena Kim Yo Han yang terus mengikuti wanita itu tanpa menunjukkan rasa risih. Justru dimata Ae Ri pria itu tampak menikmatinya.
"Nona Park Ae Ri. Aku senang sekali kau menyempatkan diri untuk hadir ke pesta kecil-kecilanku ini." Seru nona Shin Ha Na saat melihat Ae Ri menghampirinya.
"Terimakasih atas undangannya nona Shin. Selamat ulang tahun nona Shin. Semoga sehat dan sukses selalu ya. Wah, kau terlihat sangat cantik."
Nona Shin tertawa merdu sambil melirik Kim Yo Han yang terlihat dingin.
"Ini semua berkat gaun anda ini nona Park. Gaun ini yang membuatku tampak cantik."
"Ah tentu saja tidak. Kau memang sangat cantik." Sanggah Ae Ri.
"Bukankah begitu tuan Kim. Tampaknya tuan Kim sangat mengagumi anda nona Shin." Ae Ri tersenyum sangat cantik pada nona Shin dan Kim Yo Han.
Kim Yo Han membalas menatap Ae Ri dengan tajam. Ia sendiri tidak suka melihat wanita itu menggandeng lengan Jae Hyun.
"Kalau boleh aku tahu siapakah partner anda ini nona Park." Ujar nona Shin sambil melirik Jae Hyun.
"O iya maafkan aku, ini adalah Jae Hyun ku. Ahn Jae Hyun. Dia calon suamiku." Jawab Ae Ri sambil bergelayut manja pada Jae Hyun.
Ahn Jae Hyun sempat terkejut dengan ucapan dan tingkah Ae Ri. Namun ia tampak senang.
"Perkenalkan saya Ahn Jae Hyun nona Shin. Selamat ulang tahun untukmu." Sapa Jae Hyun.
"Terimakasih tuan Ahn. Wah nona Park, anda beruntung sekali memiliki calon suami yang sangat tampan." Shin Ha Na tertawa kecil sambil melirik Kim Yo Han lagi. Pria itu terlihat sangat tegang.
"Haha.. Anda bisa saja nona Shin. Justru saya yang sangat beruntung memiliki Ae Ri ku ini." Senyum Jae Hyun sambil memeluk pinggang Ae Ri.
Ae Ri ikut tertawa sambil membalas memeluk Jae Hyun juga.
"Baiklah nona Shin. Semoga acaranya lancar sampai akhir ya. Tampaknya sudah banyak tamu yang mengantri ingin mengucapkan selamat pada anda." Kata Ae Ri.
"Oke nona Park. Terimakasih juga atas kadonya. Selamat menikmati pesta, tolong jangan buru-buru pulang ya."
"Baik nona Shin. Oya, itu edisi spesial dari Liberty Park. Bisa anda pakai saat bersama kekasih anda. Selamat bersenang-senang nona." Ae Ri mengedipkan satu matanya. Dan saat mengucapkan kata kekasih, ia menoleh pada Kim Yo Han.
Ae Ri dan Jae Hyun menjauh dari nona Shin yang sudah dikerumuni beberapa orang.
"Ku harap kau serius dengan ucapanmu tadi." Ujar Jae Hyun sambil mengambilkan minuman untuk Ae Ri.
Ae Ri menoleh dan menatap Jae Hyun. Seketika ia tertawa.
"Tentang aku menyebutmu calon suamiku?"
"Ya. Tentu saja."
"Bukankah kau yang menginginkan sandiwara ini? Supaya kau terbebas dari perjodohan?"
"Aku tidak ingin itu hanya sandiwara. Aku ingin kau sungguh-sungguh menerimaku."
"Jae Hyun, jika kau tidak bisa bercanda lebih baik kita tidak usah berteman saja."
"Aku memang tidak ingin hanya berteman denganmu lagi. Aku ingin kau menjadi kekasihku, menjadi istriku. Bukan teman." Jae Hyun menatap Ae Ri dengan serius.
Ae Ri merasa sangat gelisah. Ia tidak menyukai situasi ini. Bahkan Ae Ri membuang pandangannya ke tempat lain karena tidak ingin menyakiti perasaan Jae Hyun.
Namun kini pandangannya justru bertemu dengan Kim Yo Han yang menatapnya dengan tajam. Ae Ri sedikit bergidik. Biasanya Ae Ri menyukai tatapan hangat mata pria itu. Namun kali ini Ae Ri sedikit takut karena terlihat kemarahan di sorot mata itu.
'Ada apa dengan kedua pria ini. Sungguh merepotkan.' Desis Ae Ri.
"Jae Hyun, tolong jangan membuatku tidak nyaman. Jika kau seperti itu terus aku akan menghindarimu." Ae Ri pura-pura merajuk.
Ahn Jae Hyun hanya berdiam diri.
Ae Ri menarik tangan Jae Hyun yang disimpannya di saku celana.
"Jangan seperti itu Jae Hyun. Kumohon.." Rengek Ae Ri.
Jae Hyun menoleh.
"Kau mengatakan itu tadi hanya untuk memanas-manasi tuan Kim saja kan?"
"Ha? Ah tidak. Apa maksudmu?" Ae Ri mendadak menjadi gugup.
"Apakah kau menyukai tuan Kim? Kulihat kau sedikit berbeda saat didepannya." Jae Hyun meneliti wajah wanita disampingnya itu.
Ae Ri tertawa sumbang. Ia tidak berani menatap mata lawan bicaranya. Seakan ingin menyembunyikan sesuatu.
"Tapi sikapmu justru bertolak belakang dengan ucapanmu itu nona." Jae Hyun tertawa sinis.
Ae Ri diam selama beberapa saat. Ia sedikit terganggu dengan ucapan Jae Hyun.
Kedua matanya kembali mencari pria dingin itu. Namun ia sedikit kecewa saat tidak menemukannya.
Tiba-tiba ia tersentak.
'Mengapa aku mencarinya? Apakah ucapan Jae Hyun benar? Ah tidak mungkin, aku hanya senang membuatnya cemburu. Sama sekali tidak ada niat lain.' Ujarnya dalam hati. Namun kini hatinya menjadi tidak tenang.
"Aku mau menemui kolegaku sebentar. Kau mau ikut atau tetap disini?" Tanya Jae Hyun. Ia masih terlihat kesal pada Ae Ri.
"Aku disini saja." Ujar Ae Ri. Ia memilih tetap disudut ruangan itu, malas bertemu dengan orang lain.
Ae Ri menatap punggung Jae Hyun yang melangkah menjauh darinya. Tampak kemudian pria itu menyapa seorang pria dan kemudian asik mengobrol dengannya.
Ia sungguh tidak ingin mengubah hubungannya dengan Jae Hyun. Ae Ri merasa hubungan persahabatanya selama ini dengan Jae Hyun adalah yang paling pas baginya. Ia justru takut jika hubungan itu berubah. Takut ia akan kehilangan sosok sahabat seperti Jae Hyun.
Ae Ri melirik jam tangannya. Sudah hampir jam sembilan. Ia teringat janjinya pada Tae Yang tidak akan pergi lama. Namun disisi lain ia juga tidak enak jika meninggalkan pesta terlalu cepat. Ia melirik Jae Hyun juga masih tampak masih asyik berbincang dengan beberapa orang dengan serius. Ia tidak ingin mengganggunya.
Ae Ri menoleh ke janan dan ke kiri mencari pintu keluar ia sedikit merasa gerah dengan hiruk pikuk pesta itu.
Ae Ri berjalan ke arah pintu yang menuju tangga darurat. Ia menuruni tangga dan duduk di anak tangga paling bawah supaya jika ada orang yang kebetulan kesana tidak langsung bisa melihat dirinya.
Ae Ri duduk termenung. Segala macam pikiran memenuhi otaknya.
'Aku ingin sekali menolong Jae Hyun. Tapi aku takut akan merusak hubungannya dengan keluarganya.'
'Kim Yo Han. Apa sebenarnya hubunganmu dengan nona Shin?'
'Mengapa ia masih terlihat tenang meski telah mengetahui bahwa Tae Yang adalah putraku?'
Karena terlarut dengan pikirannya, Ae Ri sampai tidak menyadari langkah kaki seorang pria yang mendekatinya.
Ae Ri sangat terkejut karena tiba-tiba Kim Yo Han duduk di sebelahnya.
Baru saja ia akan menanyakan ada apa pria itu menyusulnya, tiba-tiba Kim Yo Han memegang kepala Ae Ri dibagian telinga dengan kedua tangannya yang kokoh. Dan seketika pria itu mencium bibir Ae Ri yang masih kebingungan.
Ae Ri meronta dan mencoba melepaskan diri. Namun Kim Yo Han justru merapatkan tubuh Ae Ri kepadanya. Ia memeluk erat pinggang wanita itu.
Kim Yo Han berhenti mencium Ae Ri lalu menatap kedua mata Ae Ri yang marah kepadanya.
"Apa-apaan ini tuan Kim. Kau mau aku berteriak?! Lepaskan aku!" Seru Ae Ri.
"Jangan pernah lagi kau berbuat seperti itu! Aku sangat membenci saat kau terlihat murahan dengan sembarang lelaki. Aku tidak menyukainya. Ingat itu!" Kim Yo Han berkata dengan menahan amarah.
"Murahan? Lelaki sembarangan? Maksudmu Jae Hyun ku? Dia calon suamiku. Terserah aku mau berbuat apa padanya. Tolong jangan mencampuri urusanku!" Ae Ri tertawa sinis.
Kim Yo Han terlihat semakin kesal saat Ae Ri mengatakan 'Jae Hyunku'. Seketika ia memeluk Ae Ri kembali dan menciumi bibir wanita itu dengan penuh emosi. Ia telah terbakar api cemburu.
Ae Ri kewalahan dan hampir kehabisan nafas. Ia mendorong Kim Yo Han dengan sekuat tenaga.
Kim Yo Han kembali melepaskan Ae Ri. Kini pandangannya menjadi sendu. Hatinya terasa sangat sakit seperti teriris-iris.
Perlahan ia membelai rambut Ae Ri dengan lembut. Ia kemudian memeluk wanita itu.
"Aku sangat mencintaimu. Aku tidak sanggup melihatmu bersama pria lain." Bisiknya.
Ae Ri terdiam, ia tertunduk dan tiba-tiba merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
Dengan lembut Kim Yo Han mengangkat dagu Ae Ri. Kembali ia mencium bibir wanita itu, namun kini dengan sangat lembut sehingga membuat Ae Ri terhanyut dan menikmatinya.
Selama beberapa saat mereka menikmati sensasi hangat dimalam yang dingin itu. Bibir keduanya saling bertautan dan seakan enggan untuk melepaskan satu sama lain. Kim Yo Han membelai rambut panjang Ae Ri lalu ke seluruh tubuh wanita itu. Perlahan Kim Yo Han melepaskan ciumannya.
"Kau mau kuantar pulang dan kita lanjutkan dirumah?" Bisiknya. Ia berdebar menunggu jawaban Ae Ri.
Tanpa diduganya Ae Ri mengangguk. Kim Yo Han tersenyum.
"Jae Hyun?" Tanya Ae Ri tiba-tiba. Karena ia tadi berangkat bersama Jae Hyun tidak mungkin ia meninggalkannya begitu saja.
"Kirim pesan padanya bilang kau sudah pulang bersamaku." Ujar Kim Yo Han sambil menarik tangan Ae Ri untuk mengikutinya menuruni tangga ke lantai dibawah mereka.
***