
Saat Ae Ri kembali masuk ke butiknya berpasang-pasangan mata milik pegawai maupun pengunjung disana menatapnya dengan senyum penuh arti.
Bagi pegawainya selain Ahn Jae Hyun tidak pernah mereka melihat bos cantik mereka dekat dengan seorang pria. Bahkan dengan Ahn Jae Hyun pun hubungan mereka tampak hanya sebatas sahabat. Berbeda dengan pria yang baru saja mengunjunginya tadi.
Ae Ri yang kesal dengan pandangan anak buahnya menoleh dan memberikan plastik berisi kotak makarons.
"Ini! Buat kalian saja."
"Jangan Nona, itu kan dari pacar Anda."
"Pacar? Jangan membuat gosip murahan seperti itu ya. Dia memang menyukaiku, tapi aku tidak menyukainya. Tolong jika ia datang kesini, usir saja! Cepat terima ini!"
Ae Ri segera meninggalkan mereka yang melongo keheranan.
"Whoaa memang enak ya menjadi Nona Park. Pria setampan itu menyukainya tapi ia dengan santai bisa menolaknya." Ujar salah seorang pegawainya.
"Tentu saja. Nona Park sangat cantik dan sukses. Ia bisa mendapatkan pria mana saja yang lebih tampan dari pria tadi." Jawab yang lain.
"Tapi menurutku sangat susah mencari pria yang lebih tampan dan seksi dari pria tadi." Komentar yang lain lagi sambil tersenyum.
"Ya benar.." Ujar mereka kompak ikut tersenyum.
***
Selama dua hari ini Ae Ri sedikit merasa lega karena ia terbebas dari gangguan Kim Yo Han.
Tidak ada yang tiba-tiba menelponnya dan juga tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Selamat pagi Mommy!" Tae Yang berseru ceria menyapa Ae Ri yang duduk menikmati sarapannya.
"Pagi sayang. Bagaimana istirahatmu? Kau bisa tidur nyenyak?"
Tae Yang mengangguk sambil memanjat kursi makan yang cukup tinggi baginya.
Ae Ri teringat saat Yo Han menanyakan apakah ia bisa tidur dengan baik dan apakah ada tubuh anaknya yang sakit. Ae Ri tiba-tiba tersenyum mengingat pria itu sangat memperhatikan Tae Yang.
Namun sesaat kemudian ia menghentikan senyumnya.
'Mengapa aku tersenyum untuknya?! Gila!' Batinnya.
"Mommy!"
Ae Ri menatap putranya.
"Mengapa Mommy melamun?"
"Mommy tidak melamun.."
"Aku memanggil-manggil, Mommy tidak mendengar dari tadi."
"Benarkah? O maaf sayang, mommy sedang memikirkan sesuatu."
"Mom.. Bolehkah aku bertemu Tuan Kim sebentar?" Kedua mata Tae Yang menatap penuh harap pada Mommy nya.
Seketika dada Ae Ri berdebar kencang.
"Mau apa bertemu dengannya?" Ae Ri merasa kesal.
"Paman daddy bilang, dia akan mengajakku ke taman bermain hari minggu besok. Boleh ya Mom."
Kening Ae Ri berkerut.
"Kapan dia mengajakmu?"
"Tadi malam. Dia menelponku."
'Bukankah tadi malam dia masih di China? Dia menelpon Tae Yang tapi tidak menelponku?!' Ae Ri menjadi sangat kesal tanpa ia mengerti penyebabnya.
"Tidak boleh! Dia itu adalah pria yang berbahaya. Jangan dekat-dekat dengannya."
"Tapi dia sangat baik padaku. Dia bilang akan membelikan sesuatu dari China. Oya Mom, paman daddy kemarin menelpon dari China. Dia menanyakan apakah aku mau dibelikan mainan? Dia juga tanya, mainan apa yang kusukai? Ku bilang, aku sangat ingin memiliki pistol-pistolan. Paman daddy bilang dia akan membeli dua, jadi kami bisa bermain bersama." Tae Yang bercerita dengan penuh semangat.
Ae Ri menggigit bibirnya karena merasa sangat kesal dan cemas sekaligus.
"Apakah Mommy benar-benar akan merasa sedih jika aku bertemu dengan paman daddy?" Tanya bocah itu menekankan suaranya.
"Ya. Dan kau bisa berhenti memanggilnya paman daddy. Cukup tuan Kim saja."
Seketika raut wajah Tae Yang yang tadinya ceria dan bersemangat menjadi murung. Ia menunduk dan mengaduk bubur telurnya.
Ada perasaan bersalah saat Ae Ri melihat putranya bersedih. Namun ia bertekad akan menjauhkan anaknya dari pria itu.
"Jika Mommy tidak boleh maka aku akan bertemu dengannya diam-diam."
Ae Ri melotot karena kaget. Ia tidak menyangka Tae Yang senekat itu.
Tiba-tiba ia teringat ada seseorang yang juga sangat suka nekat seperti itu. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Itu namanya Tae Yang tidak menyayangi mommy."
"Sayang. Tapi bukankah Mommy bilang, aku tidak boleh membeda-bedakan teman? Paman daddy adalah temanku. Aku tidak boleh membeda-bedakan teman."
Ae Ri menatap Tae Yang yang berbicara serius di depannya.
'Whoa kenekatan anak ini memang benar-benar seperti papanya!'
"Cepat bersiaplah ke sekolah. Nanti terlambat!" Seru Ae Ri. Ia sudah angkat tangan dengan kegigihan putranya.
Tae Yang menurut dan masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
***
Sampai di kantornya Ae Ri masih bertanya-tanya.
'Jika ia bisa menelpon Tae Yang, mengapa ia tidak menelponku? Dasar laki-laki br*ngsek!'
"Halo Nona Park!! Kau merindukanku?!"
Ae Ri sangat terkejut. Ia melirik Jae Hyun yang baru saja masuk ke ruangannya dengan kesal.
"Pagi-pagi sudah bersikap kejam seperti itu, ada apakah gerangan?" Jae Hyun tertawa.
"Mau apa? Kau seperti pria pengangguran saja!"
"Aku akan memberitahumu mengenai jadwal perayaan ulang tahun pusat perbelanjaanku bulan depan."
"Lalu apa hubungannya denganku?!"
"Hah??" Jae Hyun terperangah karena terkejut.
"Tentu saja ada hubungannya! Bukankah pakaianmu akan dipakai oleh artis-artisnya YH Manajemen? Apa kau mabuk? Hilang ingatan?"
Ae Ri teringat. Ya ia memiliki kerja sama dengan pria menyebalkan itu.
"Ya tentu saja aku ingat. Aku hanya bercanda." Bisik Ae Ri.
"Ada apa? Tidak biasanya kau tidak fokus seperti ini."
Ae Ri hanya menggeleng.
"Mungkin karena sedikit stress. Ada begitu banyak yang harus kulakukan."
"Apa kau sudah sarapan?"
"Sudah."
"Mau makan siang bersamaku nanti?"
"Tidak. Aku banyak pekerjaan."
"Nanti malam?"
"Aku sibuk. Aku akan memesan online saja."
"Apakah kau harus bersikap dingin seperti itu?"
"Ya."
Ja Hyun menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu. Aku kembali ke kantor dulu. Hubungi aku jika kau memerlukan bantuan. Oke??" Ujar pria tampan itu pasrah.
"Oke." Ae Ri menjawab tanpa melihat pada Jae Hyun. Pandangan matanya terus fokus pada layar komputer dihadapannya.
Jae Hyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sepeninggal Jae Hyun, Ae Ri kembali melirik ponselnya.
'Mengapa ia tidak menelponku?'
Tiba-tiba Ae Ri tertawa karena menyadari kekonyolannya.
Tiba-tiba ia tersenyum sinis.
Ae Ri mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Kim Yo Han.
***
Kim Yo Han duduk di belakang sopirnya menyandarkan kepalanya di kursi. Ia sangat kurang tidur selama dua hari di China.
Sedikit istirahat selama perjalan dari bandara ke kantornya mungkin cukup sedikit memulihkan tenaganya.
Baru saja ia memejamkan matanya,
Drrt.. Ponselnya bergetar.
Dengan malas ia mengambil ponsel di saku jasnya.
'Ae Ri?' Batinnya saat membaca nama pengirim pesan.
'Kau dimana CEO Kim? Jika kau sudah tiba di Korea, mari bertemu di hotel x. Bukankah kau bilang kau mau membawakanku sesuatu? Oke, sekarang aku mau tubuhmu.'
Kedua mata Kim Yo Han terbelak.
'Wanita ini, apakah sudah gila?'
Ia segera menghubungi Ae Ri.
"Halo.."
"Aku baru saja tiba di Korea. Ini sedang dalam perjalanan dari bandara. Apa maksud pesanmu itu?"
"Ada sesuatu yang aku inginkan darimu. Kita bertemu disana sekarang."
Lalu Ae Ri memutuskan telponnya.
Kim Yo Han memandangi ponselnya seakan tidak percaya.
"Pak ke hotel x sekarang. Aku akan bertemu klien disana."
"Baik Tuan."
"Nanti kembalilah ke kantor duluan. Aku akan menumpang mobil klienku saat kembali ke kantor nanti."
"Baik, Tuan."
***
Kim Yo Han memasuki lobi hotel yang megah itu. Ia sedang menelpon Ae Ri.
"Aku sudah sampai. Kau dimana?"
"Aku dalam perjalanan. Lima belas menit lagi sampai sana."
"Kau sudah memesan kamar atau aku yang memesan?"
"Aku sudah memesan. Atas namamu! Mintalah kuncinya. Nanti aku akan langsung ke kamar."
"Oke. Hati-hati di jalan."
Kim Yo Han tertawa. Ia merasa sangat aneh dengan kejadian ini.
"Atas nama Kim Yo Han." Ujarnya pada resepsionis.
"Kamar nomor 805, Tuan. Ini kuncinya. Apakah Anda perlu diantar?"
"Tidak perlu."
Kim Yo Han berjalan ke arah lift. Begitu berada di dalam lift jantungnya mulai berdebar keras.
'Ah.. Mungkin wanita itu hanya mempermainkanku. Mungkin saja dia tidak akan datang.' Kim Yo Han tertawa.
'Oke, aku akan mempersiapkan diri jika ia benar tidak datang. Aku akan menggunakan untuk istirahat sebentar disini.'
Kim Yo Han menemukan kamarnya dan masuk ke kamar mewah itu. Ia membuka lebar tirai jendela dan membiarkan cahaya matahari menerangi seluruh ruangan.
Ia membuka sepatu, jas dan dasinya. Lalu merebahkan diri di atas ranjang yang super lebar itu.
Tubuhnya yang kelelahan sesaat terlelap, namun saat telinganya menangkap bunyi ketukan di pintu ia segera meloncat turun dari ranjang.
"Kau datang?" Sapa Kim Yo Han pada Ae Ri.
Ae Ri tidak menjawab. Ia melepas sepatu hak tingginya dan berjalan masuk ke kamar. Diletakkannya tas tangannya di nakas samping tempat tidur.
Kim Yo Han hanya berdiri mematung menatap setiap gerakan wanita itu dengan rasa tak percaya.
"Aku membersihkan diri dulu." Ujar Ae Ri lalu masuk ke kamar mandi.
Kim Yo Han benar-benar kehilangan kata-kata.
'Benarkah ia Mi Cha ku yang polos? Betapa berubahnya ia sekarang.' Bisiknya sedikit kecewa.
Ae Ri keluar dari kamar mandi langsung menuju ranjang dan berbaring di sana.
"Kau menunggu apa? Cepat! Aku hanya mempunyai waktu sebentar."
Kim Yo Han yang masih berdiri mematung perlahan menghampiri tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang berwarna serba putih itu.
"Ambilkan tasku!"
Yo Han menyerahkan tas Ae Ri. Ae Ri tampak mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Jangan lupa pakai ini!" Ae Ri menyerahkan sekotak k*ndom pada Yo Han.
Kim Yo Han menerimanya dengan sedikit ragu. Ia memandang Ae Ri masih dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Kau benar-benar ingin tidur denganku?"
"Ya! Bukankah sudah kukataan. Hubunganku dengan pria hanya sebatas hubungan tidur bersama? Dan tampaknya kaupun suka yang seperti itu Jadi mulai sekarang kapanpun aku menginginkannya aku bisa menghubungimu. Apakah bisa?!"
"Sudah berapa laki-laki yang pernah tidur denganmu?"
"Entah." Jawab Ae Ri santai sambil membuka satu kancing dibagian atas kemeja merahnya. Bra hitam berenda terlihat sedikit mengintip di baliknya.
Sekuat tenaga ia berusaha terlihat santai. Karena Ae Ri sangat benar-benar ingin mempermainkan perasaan pria itu.
"Mengapa kau diam saja?" Ae Ri berseru pura-pura kesal melihat Yo Han tidak berbuat apapun.
"Aku sangat lelah sekarang. Apakah bisa kita melakukannya nanti malam saja?" Tanya Kim Yo Han lirih. Perasaannya saat ini sedang hancur berkeping-keping. Benar-benar menghilangkan gairahnya.
"Jika kau menolakku sekali saja. Berarti itu adalah akhir hubungan kita. Aku tidak akan menghubungimu lagi jika aku memerlukan kepuasan." Jawab Ae Ri dingin.
Ae Ri bangkit dari duduk dan berniat mengancingkan kembali kemejanya. Kim Yo Han memegang tangan Ae Ri. Ia menariknya dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya.
Perlahan dan dengan sangat lembut ia menciumi bibir wanita pujaannya itu. Meski hatinya sakit membayangkan berapa pria yang pernah menikmati tubuh indahnya itu.
Ae Ri menyadari jika Kim Yo Han melakukannya dengan setengah hati. Tiba-tiba ia mendorong tubuh Yo Han dan segera berdiri.
"Aku tidak menyukainya. Kau tidak sungguh-sungguh. Aku akan pergi sekarang." Ujarnya sambil memperbaiki rok dan kemejanya.
"Ku anggap hubungan kita sampai disini saja. Aku tidak menyukainya pria yang tidak profesional sepertimu."
Ae Ri sudah berbalik dan berjalan menuju pintu ingin meninggalkan kamar.
Kim Yo Han berdiri dengan cepat dan menarik tubuh wanita itu. Ia mendorong tubuh Ae Ri dengan tubuhnya hingga keduanya menempel dinding kamar.
Pria itu sungguh tidak ingin kehilangan Ae Ri, meski pikiran dan batinnya seperti tercabik-cabik.
Dengan lembut ia kembali mencium bibir Ae Ri. Ia benar-benar ingin memiliki wanita itu seorang diri.
Drrt.. Ponsel Ae Ri bergetar dari dalam tasnya.
Ae Ri mendorong tubuh Yo Han agar menjauh darinya.
"Sayang kau dimana?"
"..."
Kim Yo Han mengepalkan kedua tangannya. Namun Ae Ri tampak tak peduli.
"Kau sudah pulang? Baiklah sampai ketemu. Aku kesana sekarang. Aku sangat merindukanmu juga." Ujarnya manja.
Ae Ri segera menyimpan ponselnya dan bergegas keluar dari kamar tanpa menoleh ataupun mengucapkan sepatah kata pada Kim Yo Han.
Pria itu masih berdiri ditengah kamar. Pandangan matanya masih tertuju pada pintu kamar hotel berwarna putih itu.
'Apa yang barusan terjadi ini?' Bisiknya.
***