Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Empat



Kim Yo Han mendekat ke arah Mi Cha. Dadanya mendadak terasa sangat sakit saat melihat gadis itu ketakutan.


Perlahan ia memundurkan tubuhnya dan kembali berbaring.


"Tidurlah sudah malam! Kali ini aku tidak akan mengganggumu." Perintahnya.


Mi Cha terbelalak karena heran. Ia cepat-cepat membalik tubuhnya menghadap ke dinding kamar. Dan memejamkan kedua matanya berharap bisa segera tidur.


Namun sudah beberapa waktu berlalu ia belum juga bisa tidur. Mungkin karena ada monster di ranjangnya jadi alam bawah sadarnya tetap membuat ia terjaga.


Perlahan ia berbalik. Tubuhnya sudah terasa tidak nyaman karena terlalu lama berbaring satu arah.


Mi Cha berbalik menghadap ke pria itu. Kedua matanya terpejam dan terlihat tenang. Tampaknya ia sudah tidur. Ia berbaring menghadap Mi Cha.


Mi Cha mencoba mengingat pertama kali ia bertemu dengan pria itu. Beberapa kali ia melihatnya bertamu dan berbincang dengan papa tirinya.


Dadanya selalu berdebar saat melihat pria itu. Namun ia tidak menyangka jika pria tampan ini ternyata berperilaku seperti monster.


Tiba-tiba jantung Mi Cha berdegup kencang. Kedua mata Kim Yo Han terbuka dan langsung menatapnya tajam. Kedua mata Mi Cha terbelalak begitu pula mulutnya menganga karena terkejut.


Pria itu dengan cepat langsung menyergapnya. Ia mencium bibir Mi Cha dan menyerangnya tanpa ampun. Mi Cha yang meronta-ronta tidak ia pedulikan.


Perlahan setelah Mi Cha kehabisan tenaga, Kim Yo Han merubah tempo permainannya menjadi sangat lembut. Mi Cha kini merasa sangat dimanjakan. Tanpa ia sadari ia telah terhanyut dalam alunan permainan pria itu.


Teriakan-teriakannya kini berubah menjadi desahan. Laki-laki itu sangat sempurna di setiap gerakannya.


Mi Cha yang sudah terbuai membiarkan seluruh tubuhnya dikuasai pria itu. Sampai akhirnya puncak kenikmatan mereka capai bersama.


Dengan terengah-engah keduanya berbaring. Perlahan kesadaran Mi Cha kembali. Ia berbalik menghadap dinding.


Kembali ia mencaci-maki dirinya sendiri yang begitu bodoh. Lagi-lagi ia membiarkan dirinya dijamah oleh pria itu. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras menahan kesal.


Tiba-tiba ia terkejut saat tangan kekar pria itu melingkari perutnya. Dada pria itu menempel di punggungnya dengan hangat. Sesaat kemudian deru nafas pria itu menjadi lebih teratur. Tampaknya ia telah terlelap.


Dan sesaat kemudian Mi Cha pun menyusul lelap dalam tidurnya.


***


Saat Mi Cha terbangun, ia sedikit kecewa saat pria itu sudah tidak ada disampingnya.


Namun saat tersadar ia memukul kepalanya sendiri.


"Dasar bodoh! Dia itu penjahat! Monster!!"


Tanpa ia sadari, sepanjang hari itu Mi Cha sangat tidak sabar menunggu malam.


Namun sampai malam sangat larut pria itu tidak juga datang. Mi Cha meraba sisi ranjang yang biasa ditiduri laki-laki itu.


Tiba-tiba matanya terbelalak dan cepat-cepat menarik tangannya.


"Apa yang kulakukan?!" Ujarnya cemas.


Cepat-cepat ia memejamkan matanya.


***


Hari berikutnya. Mi Cha semakin penasaran. Mengapa pria itu tidak datang.


Ia bertanya pada pelayan yang mengantar makanannya namun pelayan itu diam tidak menjawab.


Sampai malam hari pun pria itu tidak juga datang.


Mi Cha gelisah di atas tempat tidurnya.


"Apakah ia sakit?"


Cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku tidak boleh memikirkannya! Aku harus membencinya!"


Perlahan matanya mulai berat dan akhirnya ia tertidur.


Ditengah tidurnya ia bermimpi pria tampan itu datang dan memeluknya. Aroma wangi parfum pria itu bahkan terasa sangat nyata.


Tiba-tiba Mi Cha tersadar. Ini bukan mimpi. Ia membuka matanya tampak wajah pria tampan itu berada diatas wajahnya.


Mi Cha tersenyum. Ia sangat lega melihat pria itu baik-baik saja. Dan pria itu pun membalas senyumannya. Ia membelai wajah gadis itu dengan lembut.


"Maaf aku terlambat. Kau menungguku?" Bisiknya lembut ditelinga Mi Cha. Gadis itu mendesah menahan rasa geli yang nikmat.


Dengan lembut pria itu menciumi seluruh tubuhnya.


Kenikmatan yang luar biasa kembali di berikan Kim Yo Han untuk gadis itu. Senyum puas terukir di bibirnya saat Mi Cha memeluknya erat.


"Kau milikku selamanya, Mi Cha."


Sinar matahari dan kicauan burung membangunkan Mi Cha dari tidurnya. Ia merentangkan kedua tangannya.


Bibirnya tersenyum.


"Mimpi yang sangat indah.." Desahnya.


Namun tiba-tiba ia terduduk. Ia mengintip tubuhnya dibalik selimut.


Kedua matanya terbelalak.


"Itu bukan mimpi!!" Serunya.


Berbagai perasaan tercampur-aduk di pikirannya. Sedih, senang, takut, marah..


Terngiang satu kalimat yang sangat jelas diucapkan pria itu tadi malam.


"Kau milikku selamanya, Mi Cha.."


Mi Cha tersenyum. Baru kali itu ia mendengar suara pria itu dengan lembut menyebut nama panggilannya.


"Dan kau, siapa namamu tuan?" Bisiknya sambil tersenyum.


Yaa! Nanti saat bertemu ia berjanji dalam hati harus menanyakan nama pria itu. Pria yang kini selalu membuat jantungnya berdebar.


***


"Tuan.."


"Ada apa?"


"Ini hari terakhir saya disini. Bagaimana dengan nona Cha? Semua pelayan dan penjaga telah pergi."


Kim Yo Han menghentikan langkahnya. Ia menatap ke sekeliling rumah. Rumah pertama yang ia miliki hasil kerja kerasnya akhirnya harus ia relakan.


"Setelah makan siang nanti. Berikan pakaian untuknya. Ada di kamarku di dalam paperbag hitam. Sampaikan pesanku padanya. Jika ia bertanya yang lain jangan menjawab apapaun."


Setelah mengatakannya Kim Yo Han menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Kepala pelayan menatap sedih tuannya itu.


***


"Nona Cha.."


Mi Cha terkejut saat ada yang memanggilnya. Ia mendekat ke arah jendela.


"Setelah anda kenakan anda bisa segera keluar nona. Pinnya 3112. Hari kelahiran tuan. Saya akan menunggu nona di dalam rumah. Permisi nona."


Pria setengah baya itu berlalu dari hadapan Mi Cha. Untuk sesaat perasaan Mi Cha diliputi kebahagiaan. Belum pernah ada seorang pria yang memberinya hadiah. Dan lagi mulai hari ini tampaknya ia sudah bukan lagi sandera dirumah ini.


Perasaan bahagia membuatnya tersenyum lebar.


"Apakah kata-katanya tadi malam adalah pengakuan cintanya?" Mi Cha tersipu malu.


Selama ini orangtuanya selalu mengurungnya di rumah sehingga ia sama sekali tidak bergaul dengan orang lain.


Ia hanya bisa membayangkan kisah cinta dari drama atau novel yang ia baca. Belum pernah sekali pun ia mengalaminya sendiri.


Mi Cha memakai gaun putih selutut yang sangat indah itu. Sepatu putih tanpa hills menghias manis kedua kakinya.


"Tas!" Serunya saat melihat tas mungil bertali panjang yang juga berwarna putih itu.


Namun saat ia memeriksa isinya seketika matanya terbelalak.


Dompet dan ponselnya berada disana. Mi Cha kegirangan melihat ponselnya telah kembali. Kemudian ia membuka dompetnya.


"Whoaaa.. Uang siapa ini sebanyak ini? Dan apa ini? Cek? Hah???!" ia terkesima melihat sejumlah uang di dalam dompetnya dan sebuah cek yang tertulis nilai yang cukup besar baginya.


"Ini pasti tuan monster tampan itu.." Bisiknya sambil tersenyum.


Ia cepat-cepat keluar kamar. Saat menekan tuts kunci ia menutup mulutnya yang tersenyum lebar karena bahagia.


Mi Cha menghirup udara segar setelah hampir satu minggu ia berada di dalam kamar itu.


Dengan langkah pasti ia berjalan masuk ke rumah utama. Kepala pelayan tampak sedang menunggunya.


"Silahkan nona."


Pria itu mempersilahkan Mi Cha mengikutinya.


"Nona Mi Cha. Tuan telah membebaskan anda hari ini. Anda bebas untuk pergi sekarang. Tuan telah menaruh uang dan cek yang mungkin akan nona perlukan. Ponsel dan semua kartu identitas nona juga telah ada di tas itu."


"Ya paman. Tolong sampaikan terimakasih padanya." Mi Cha tersenyum. Ia belum sepenuhnya memahami kata-kata pria itu.


"Tuan juga menyuruh saya untuk memanggil taksi dan juga sudah membayarnya banyak. Jadi anda tinggal sebutkan saja kemana tujuan anda."


Mi Cha mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan pria itu.


"Maksudnya saya harus meninggalkan rumah ini?" Suara Mi Cha terdengar terbata-bata.


"Ya nona. Setelah anda pergi, saya juga akan menyusul pergi. Rumah ini telah di jual. Tuan telah lebih dulu pergi ke luar negri pagi tadi. Ia berencana akan tinggal disana untuk waktu yang lama."


Ada rasa sesak didalam dada Mi Cha.


"Di mana dia?"


"Tuan tidak memberitahu saya nona."


"Bolehkah saya tahu siapa nama tuan itu?"


"Maaf nona. Tuan melarang saya memberitahu nona."


"Paman pikir aku tidak bisa mencari tahu sendiri?"


Pria setengah tua itu terdiam beberapa saat. Ia akhirnya membuka suara.


"Kim Yo Han. Nama tuan adalah Kim Yo Han, nona."


"Baik paman. Terimakasih. Aku pamit sekarang." Mi Cha menundukkan kepalanya dan berjalan dengan lemah.


"Lewat sini nona." Kepala pelayan cepat-cepat berjalan mendahului Mi Cha menuju pintu keluar.


Sebuah taksi sudah menunggunya. Setelah ia duduk, ia kembali mengangguk hormat pada kepala pelayan.


Taksi itu berjalan. Mi Cha menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Kim Yo Han. Setelah apa yang kau lakukan padaku, kini kau membuangku seperti ludah. Aku akan mengingat perbuatanmu padaku." Desis Mi Cha sambil memejamkan matanya yang terasa panas.


***


"Maaf nona, ini alamat yang nona minta."


Mi Cha tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati taksi yang ia tumpangi telah sampai di depan gerbang rumahnya.


Gerbang besar dari terali besi itu tampak tertutup rapat.


"Tolong tunggu sebentar pak."


"Baik nona."


Mi Cha turun dari taksi dan mendekat ke pintu gerbang. Terkunci rapat dan tersegel dengan lilitan rantai besi. Terdapat sebuah papan yang terpatok ditanah dengan tulisan di dalam pagar. Mi Cha membaca perlahan.


"Tanah dan bangunan ini telah beralih kepemilikan."


Bagai mendengar kabar buruk, seluruh tubuh Mi Cha menggigil dan kehilangan tenaga. Dengan susah payah ia kembali ke taksi.


"Anda baik-baik saja, nona?"


"Ba..baik pak. Tolong jalan sekarang."


"Kemana nona?"


"Kemana saja pak. Nanti akan saya beri tahu lagi."


"Baik."


Sopir taksi beberapa kali melirik penumpangnya dengan cemas.


"Apakah kita perlu kerumah sakit? Anda terlihat sangat pucat, nona."


"Tidak pak, jangan. Antarkan aku ke taman Yeouido Hangang!" Perintahnya.


"Ya??" Tampaknya sopir taksi masih bingung memahami permintaan Mi Cha.


"Taman Yeouido!" Dengan kesal Mi Cha menyebutnya sekali lagi dengan lebih jelas.


"Baik." Jawab sopir mengalah.


***


Mi Cha melangkahkan kakinya dengan gontai di sepanjang jalan kecil di tepi sungai. Hari sudah beranjak sore. Tampak beberapa pengunjung taman bercengkrama dengan asik.


Ada yang bergurau dengan teman-temannya ada banyak juga yang asik bermesraan dengan kekasihnya.


Mi Cha menghela nafas yang menyesak di dadanya.


Ia memilih satu bangku taman yang kosong. Agak sulit karena tampaknya hari ini sangat banyak pengunjung taman itu.


Tampak sebuah bangku yang hanya diduduki oleh seorang wanita. Dengan kakinya yang terasa penat dan tak berdaya ia melangkah perlahan menuju bangku itu.


Cuaca langit yang cerah di bulan Maret bahkan bunga sakura yang mulai bermekaran tidak bisa membuatnya melupakan kepedihan di hatinya.


Tiba-tiba saat kakinya masih melangkah ia seakan kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh seketika. Dan segenap kesadarannya hilang.


***