
'Pria ini, mengapa dia bersikap sangat manis seperti ini.' Batinnya.
Kim Yo Han mengambil jasnya dan menyelimutkan ke kaki Ae Ri yang duduk bersila. Karena ia mengenakan rok pendek, maka paha dan betisnya terlihat.
Jantung Ae Ri semakin berdegup kencang. Ia terus berusaha untuk terlihat tenang, padahal pikirannya sudah tidak bisa fokus lagi dengan pekerjaannya.Suasana hati Ae Ri kini berubah drastis. Senyumnya tidak lagi dapat selebar tadi.
'Ah.. Sialan laki-laki itu!' Batinnya dengan kesal.
.
Kim Yo Han menatapnya dengan intens.
"Kau dengar apa yang barusan kukatakan?" Tanya Kim Yo Han.
Ae Ri menunduk. Terus terang ia tidak mendengar. Pikirannya tadi sedang membayangkan hal-hal aneh.
"Kau sudah tampak lelah. Mau melanjutkannya besok?"
Ae Ri berpikir sejenak. Lalu menggeleng.
"Aku ingin cepat selesai, sehingga bisa cepat beralih mengerjakan yang lainnya."
"Oke, kalau begitu ayo fokus lagi." Ujar Kim Yo Han sambil menyerahkan kertas yang di pegangnya. Ia memperhatikan Ae Ri yang sibuk menulis.
Ae Ri sangat sadar bahwa ia sedang diperhatikan pria itu. Dan itu sangat mengganggu konsentrasinya. Karena gugup ia mulai menggigit bibir bawahnya.
Ae Ri bernafas lega saat pria disampingnya itu tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya. Ia menuju jendela di belakang meja kerja Ae Ri lagi.
Kim Yo Han memandangi lampu-lampu dibawah gedung sambil menghela nafas pelan.
Ia hampir saja tidak bisa menahan diri lagi. Ia sangat ingin menyentuh wajah dan mencium wanita itu. Namun ia harus menahan diri. Ucapan Ae Ri saat di tepi lapangan sekolah Tae Yang waktu itu benar-benar seakan telah menamparnya.
Memang ia akui, jika berada di dekat Ae Ri ia sangat ingin memeluk dan mencium wanita itu. Ia menyesal karena Ae Ri menyalah artikan perlakuannya. Dan kini ia bersusah payah harus menahan keinginan di dalam dirinya.
"Sudah. Sudah semua kucatat." Seru Ae Ri. Ia meregangkan kedua tangannya ke atas.
Kim Yo Han duduk di sofa dihadapan Ae Ri.
"Oke. Kau letakkan di meja sekretarismu. Dan minta ia mengetiknya. Lalu secepatnya kau harus mengadakan pertemuan dengan seluruh direktur cabang. Dan minta mereka meneruskan perintahmu ke jajaran-jajaran di bawahnya."
"Oke aku paham." Jawab Ae Ri mantap.
"Dan ingat. Kau sendiri harus mempunyai jam kerja. Jangan lagi lembur-lembur seperti ini. Kalau bisa ini yang terakhir."
Ae Ri mengangguk. Meski dalam hati ia ragu.
"Lama-lama kau akan terbiasa." Kata Yo Han seakan mengerti isi pikiran Ae Ri.
"Kalau sudah selesai berarti kita bisa pulang." Lanjutnya.
Tiba-tiba Ae Ri sedikit gugup. Bagaimana jika pria itu menculiknya dan berbuat semaunya lagi.
Perlahan ia membereskan kertas-kertasnya.
"Sudah. Ayo turun." Ujarnya sambil mencangklong tasnya di bahu.
Kim Yo Han membukakan pintu dan mereka masuk ke lift untuk turun ke bawah.
Butik sudah sepi dan lampu sudah redup. Ae Ri membuka pintu kecil dan mereka keluar.
Dengan diam mereka berjalan ke arah parkiran.
"Sampai jumpa lagi nona Park. Jika ada yang ingin kau tanyakan, atau ada kesulitan, kau bisa menghubungiku setiap saat. Apapun yang kau inginkan akan kuusahakan untukmu." Ujar Kim Yo Han saat Ae Ri sampai di mobilnya.
"Baik. Terimakasih banyak atas bantuannya, CEO Kim." Ae Ri membungkuk hormat pada Yo Han. Yo Han hanya tertawa. Ia membukakan pintu untuk Ae Ri.
Ae Ri masuk dan Yo Han menutup pelan pintu mobilnya. Pria itu melambaikan tangannya.
"Hati-hati." Bisiknya. Ae Ri mengangguk lalu perlahan meninggalkan pria itu.
Lewat kaca spion ia melihat Kim Yo Han terus menatap kepergiannya. Ae Ri merasa ada yang hilang dari pria itu.
Dia seperti bukan dirinya. Kemana perginya laki-laki mesum itu. Kemana perginya orang yang suka tiba-tiba menyosornya?
Ae Ri mengerutkan keningnya.
'Ia bahkan tidak menciumku hari ini.' Batin Ae Ri.
Tiba-tiba Ae Ri terbelalak, terkejut dengan dirinya sendiri.
"Kau sudah gila Ae Ri! Bagaimana mungkin kau mengharapkan pria itu menciummu! Gila!!" Serunya salah tingkah sendiri.
***
"Selamat pagi, Tuan Kim. Tampaknya Anda kurang tidur. Apakah kau merindukanku?" Lee Chan menyapa CEOnya.
"Kau ingin tidur denganku malam ini?" Jawab Kim Yo Han tiba-tiba dengan nada merayu.
Lee Chan langsung menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya menyengir ngeri.
Ia menyerahkan tabletnya ke pria itu lalu mundur cepat-cepat.
"Itu jadwal anda, Tuan. Dan jangan lupa, nanti malam ada pesta sekaligus pengumuman nominasi penghargaan musik."
"Apakah aku harus datang?"
"Ya. Banyak dari artis kita yang akan masuk nominasi."
"Karena sudah tahu, jadi sepertinya aku tidak perlu datang."
"Nona Park Amerika itu juga akan datang."
Kim Yo Han terdiam beberapa saat. Lee Chan tidak dapat menahan senyumnya.
"Mengapa kau tersenyum?!"
"Tidak apa-apa, Tuan. Tiba-tiba saya teringat tetangga saya yang masih kelas 7, ia sedang jatuh cinta. Cinta monyet."
"Lalu?"
"Anda bersikap seperti tetangga saya." Tawa Lee Chan meledak. Kemudian ia cepat-cepat menutup mulutnya saat melihat lirikan maut CEOnya.
***
Sudah tiga hari Kim Yo Han tidak mendapat kabar dari Ae Ri. Hanya kadang saat ia mengirim pesan pada Tae Yang kadang bocah itu menceritakan tentang Ae Ri.
'Mungkin ia memang benar-benar membenciku. Tidak ada diriku dalam pikirannya apalagi hatinya.' Batin Kim Yo Han
Wanita itu memang memiliki daya pikat yang luar biasa. Banyak sekali orang yang tertarik dengannya. Terutama para pria.
'Mengapa ia bisa tersenyum dan tertawa lebar saat bersama orang lain namun tidak bisa saat ia bersamaku.' Bisik Kim Yo Han dalam hati.
Ia memilih untuk berpaling. Pemandangan itu membuat hatinya teriris-iris.
"CEO Kim, anda tampak sangat lelah malam ini?" Sapa seorang wanita muda yang cantik dengan tubuh yang tinggi berbalut gaun hitam panjang.
Shin Ha Na adalah seorang penyanyi yang sedang naik daun. Gadis itu dulu satu manajemen dan ia memulai debutnya hampir bersamaan dengan Kim Yo Han. Sehingga mereka cukup akrab.
"Nona Shin Ha Na." Sapa Kim Yo Han.
"Kau seperti orang yang sedang patah hati."
Kim Yo Han tertawa.
"Siapa wanita yang beruntung itu?"
"Bukan siapa-siapa. Berhentilah bergosip."
"Aku mendengar desas-desus mengatakan kau dekat dengan CEO Liberty Park. Benarkah?"
Kim Yo Han menoleh heran pada gadis di sampingnya itu.
"Oo.. Berarti benar." Shin Ha Na tersenyum.
Kim Yo Han tidak menanggapinya.
"Dan kau di sini sedang patah hati karena melihat banyak sekali penggemarnya. Begitukah?" Ujar wanita itu sambil melirik Ae Ri yang masih asik mengobrol dengan tamu-tamu lain.
"Kau kini menerima balasannya, Tuan Kim. Kau dulu selalu menolakku. Lihatlah apa yang kau tuai sekarang."
Ha Na tertawa.
"Kau mau membuatnya cemburu? Aku akan membantumu." Lanjutnya.
Kim Yo Han ikut tertawa.
"Kau bisa memanfaatkanku, tuan Kim. Bagaimana?" Tantang Ha Na.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Ikuti saja skenarioku. Kau mau?"
Kim Yo Han tampak ragu-ragu. Namun akhirnya ia mengangguk setuju.
"Tapi jangan keterlaluan ya." Bisik Yo Han.
Shin Ha Na menggandeng lengan Kim Yo Han dengan sedikit intim. Ia menempelkan tubuhnya pada pria itu.
Kim Yo Han tertawa karena sebenarnya ia sedikit risih dan takut membuat Ae Ri semakin membencinya.
Ae Ri yang selalu mencuri pandang ke arah Kim Yo Han sedikit terkejut saat ia tampak sangat akrab dengan seorang penyanyi yang saat ini sedang terkenal itu.
Tadinya ia merasa berada di atas angin karena berhasil membuat pria itu cemburu saat melihatnya dengan banyak pria. Namun kini keadaan berbalik. Ia menjadi sedikit tidak tenang.
'Lihatlah pria mesum itu. Bahkan ia terlihat menikmati saat wanita itu terlalu menempel pada dirinya.' Batin Ae Ri.
"Aku bosan disini. Aku ingin pulang saja. Besok pagi aku ada rekaman dan jumpa fans. Kau mau pulang atau masih ingin disini?" Ujar Shin Ha Na.
Kim Yo Han berpikir sebentar.
"Oke, aku juga ingin istirahat. Besok ada pekerjaan di Busan." Jawabnya.
"Baiklah. Turuti aku. Kita berpamitan dulu dengan CEO Lee. Itu, dia juga sedang asik berbincang dengan pacarmu."
CEO Lee adalah pemilik stasiun televisi yang setiap tahun selalu mengadakan acara penghargaan musik.
Shin Ha Na dan Kim Yo Han berjalan mendekat ke arah CEO Lee.
"Maaf mengganggu CEO Lee.." Sapa Ha Na dengan suara merdunya.
"Nona Shin Ha Na.." CEO Lee menoleh dan tersenyum.
"Aku dan Tuan Kim Yo Han mohon pamit dulu. Dan dengan sangat menyesal kami tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai. Ada suatu bisnis yang harus kami selesaikan malam ini." Ujar Ha Na dengan suaranya yang merdu dan manja.
"Begitukah? Sayang sekali. Baiklah kalau begitu. Terimakasih atas kehadiran Nona Shin dan CEO Kim." Jawab CEO Lee.
Kim Yo Han tersenyum dan membungkukkan badannya dengan hormat.
Ha Na menggandeng tangan Yo Han dan mereka berpamitan pergi dari pesta itu.
Ae Ri melihat tangan Ha Na menggandeng tangan Kim Yo Han dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
'Dasar laki-laki! Dia bilang menyukaiku. Bahkan ingin menjadikanku istrinya. Tapi hari ini ia bergandengan dengan wanita lain. Brengs*k!!'
Beberapa saat kemudian ia memutuskan untuk berpamitan juga pada CEO Lee.
Ae Ri melangkahkan kaki menuju area parkir. Ia merasa kesal pada pria itu. Namun ia lebih kesal lagi pada dirinya sendiri.
'Mengapa aku harus terganggu dengan mereka?' Batinnya.
Tiba-tiba ia merasa ada orang yang memperhatikannya. Ia menoleh ke berbagai arah untuk mencari tahu.
Seorang pria yang sangat ia kenal bersandar pada sebuah mobil hitam. Kedua tangannya berada dikedua saku celananya. Bibirnya tersenyum sangat manis pada Ae Ri.
Ae Ri merasa sedikit salah tingkah. Ia cepat-cepat menundukkan kepala dan terus berjalan.
"Nona Park!" Seru Kim Yo Han memanggilnya.
Namun Ae Ri pura-pura tidak mendengarnya. Ia terus berjalan terburu-buru sambil menunduk.
"Kau tidak naik mobilmu? Mobilmu sudah kau lewati nona." Tanya Yo Han sambil menahan senyumnya.
Tiba-tiba Ae Ri terhenti dan berbalik menuju mobilnya yang sudah dilewatinya. Dan ia semakin menunduk dan menggerutu dalam hati.
'Sialan. Ada apa denganku malam ini. Bukan seperti ini seharusnya!' Omelnya dengan kesal.
Park Ae Ri membawa mobilnya dengan perlahan keluar dari area parkir. Ia menyadari di belakangnya Kim Yo Han mengikutinya dari belakang.
Ia sangat cemas jika pria itu mengikutinya sampai ke rumahnya. Itu sangat tidak nyaman dan berbahaya.
***