Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tiga Puluh Lima



"Tae Yang, kau kemarin ditelpon tuan Kim?" Tanya Ae Ri pada putranya saat mereka sedang sarapan bersama.


"Ya mom." Jawab anak kecil itu pelan. Ia tampak sedikit takut.


Ae Ri kini menyadari bahwa memang putranya akhir-akhir ini terlihat lesu dan kurang bersemangat seperti yang dikatakan Kim Yo Han.


"Apa yang kau katakan padanya?"


"Aku bilang aku ingin bermain bersamanya. Jika mommy memberi ijin."


"Mengapa tidak bermain dengan paman JJ saja?"


"Paman JJ sering kesini. Kami sering bermain bersama. Tapi paman daddy berbeda dengan paman JJ. Sekali-sekali aku ingin bermain dengannya."


Ae Ri diam dan berpikir beberapa lama.


"Kalau mommy tidak mau pergi biar kami pergi berdua saja. Paman daddy bilang kalau mommy mengijinkan kami akan ke pantai. Boleh kan mom? Aku sudah lamaaaa sekali tidak ke pantai." Tae Yang mencoba membujuk mommynya.


"Ke pantai? Jauh sekali!" Ae Ri merasa cemas. Ia tidak bisa berada jauh dari Tae Yang dan melepaskan putranya sendiri bersama pria itu.


Tae Yang diam dan menundukkan kepalanya. Ae Ri menghela nafas berat. Sebenarnya ia tidak tega menolak keinginan putranya itu.


"Kalau mommy tidak boleh tidak apa-apa. Aku akan bilang pada paman daddy." Tae Yang berdiri dan berjalan ke arah kamarnya dengan lesu.


Ae Ri menghela nafas lagi karena merasa serba salah. Perlahan ia berjalan ke kamar Tae Yang. Sesampainya dipintu ia membuka sedikit dan mengintip ke dalam. Tampak Tae Yang tidur diatas ranjangnya membelakangi pintu kamar.


Ae Ri masuk dan merapikan selimut putranya.


Tae Yang sedikit terkejut, namun kemudian ia memejamkan matanya kembali.


Ae Ri duduk dipinggir ranjang. Ia mengusap lembut rambut bocah itu.


"Katakan pada tuan Kim kalau mommy memberi ijin kau pergi bersamanya."


Seketika kedua mata Tae Yang terbuka dan terbelalak.


"Benarkah? Mommy memberi ijin?"Seru Tae Yang seakan tidak percaya dengan ucapan mommynya.


Ae Ri mengangguk sambil tersenyum.


Tae Yang langsung bangun dan memeluk erat wanita itu.


"Aku senang sekali mommy. Trimakasih mommy. Aku sayang mommy." Tae Yang menciumi pipi mommynya berkali-kali dengan penuh semangat.


Ae Ri tertawa geli melihat perubahan mood putranya yang sangat menyolok itu.


***


"Halo!" Ae Ri mengangkat telpon dari Kim Yo Han.


"Tae Yang bilang mommynya mengijinkan aku mengajaknya pergi."


"Ya. Aku sudah dengar." Jawab Ae Ri datar.


"Aku dan Tae Yang berencana akan ke pantai. Kau mau ikut?"


"Tidak." Jawabnya cepat.


"Ayolah.. Pasti asik. Anggap saja refreshing. Sudah berapa lama kau tidak berlibur. Ini hanya satu hari."


"Aku lebih memilih tidur dari pada pergi-pergi jauh." Jawab Ae Ri.


"Besok siapkan pakaian ganti ya. Untuk berjaga-jaga jika pakaianmu basah karena bermain air. Sudah ya. Sampai jumpa besok. Akan kujemput kalian jam 9 pagi." Lalu Kim Yo Han menutup telponnya begitu saja.


Ae Ri yang sudah membuka mulutnya untuk menjawab terbelalak menatap ponselnya.


"Seenaknya saja menyuruh orang!" Omelnya.


***


Baru saja Ae Ri melangkah masuk ke rumahnya ia dikagetkan dengan teriakan Tae Yang.


"Mommy...!!" Teriak bocah laki-laki itu sambil berlari dan memeluk Ae Ri.


"Ada apa putraku sayang. Kau membuat mommy terkejut."


"Kata paman daddy mommy besok bisa ikut ke pantai ya. Aku senang sekali karena mommy ikut." Seru Tae Yang kegirangan sambil menunjukkan layar ponselnya pada mommynya.


Ae Ri meraih ponsel putranya dan membaca sederet kalimat pesan dari Kim Yo Han.


"Tae Yang, nona Park akan ikut bersama kita ke pantai besok. Jadi katakan pada mommymu agar dia jangan khawatir ya. Kau senang?"


"Iya paman daddy, aku senang sekali nona Park ikut bersama kita."


"Ya, paman daddy juga senang sekali dan tidak sabar menunggu besok."


"Aku juga sudah ingin segera besok supaya kita bisa cepat sampai ke pantai."


"Ya sudah sekarang kau cepat istirahat agar besok tubuhmu fit dan tidak mudah lelah."


"Baik paman. Terimakasih paman daddy, aku sayang paman daddy."


"Paman daddy juga sayang Tae Yang. Selamat tidur. Sampai ketemu besok."


"Ya paman. Sampai ketemu besok."


Ae Ri menggigit bibirnya. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Ia sangat tidak ingin pergi bersama pria itu. Namun ia tidak ingin membuat putranya kecewa.


Dan juga ia tidak ingin membiarkan mereka berdua berlama-lama menghabiskan waktu bersama. Ia takut Tae Yang akan menceritakan tentang hubungan yang sebenarnya antara Tae Yang dengan dirinya. Karena tampaknya Tae Yang sudah semakin akrab dengan pria itu.


Ae Ri tersenyum pada pria kecil dihadapannya itu.


"Iya, besok mommy akan ikut bersama kalian." Bisiknya pelan seakan tidak ingin mengatakannya.


"Horeee.. Aku senang!" Seru Tae Yang dengan tawa lebarnya. Kedua matamya tampak berbinar bahagia.


Ae Ri tersenyum meski di dalam hatinya ia mengutuki Kim Yo Han yang menjerumuskannya pada keadaan dilematis ini.


***


Mobil silver Kim Yo Han sudah melaju meninggalkan kota Seoul yang ramai menuju ke arah pesisir timur kota Seoul tepatnya ke arah kota Gangneung.


"Mau ke pantai mana kita paman?" Tanya Tae Yang yang duduk tenang di samping Kim Yo Han.


"Kita ke pantai Gyoengpo di Gangneung. Disana masih cukup hangat udaranya."


"Apakah masih jauh?"


Kim Yo Han tertawa.


"Tidak. Aku tidak ngantuk. Aku suka melihat pemandangan di jalan."


"Baiklah kalau itu maumu." Kim Yo Han tersenyum sambil melirik Ae Ri yang duduk di kursi belakang Tae Yang.


Ae Ri mengenakan kacamata hitam yang sangat tidak cocok dikenakan di musim gugur ini apalagi didalam mobil. Kim Yo Han tak dapat menahan tawa.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memakai kacamata hitam seperti itu."


"Mataku sakit." Jawab Ae Ri seenaknya. Padahal ia mengenakan kacamata itu agar saat ia melihat ke arah Kim Yo Han, pria itu tidak mengetahuinya.


Ae Ri berpikir bahwa perjalanan dua sampai tiga jam itu tentu akan terasa sangat canggung.


"Kenapa matamu? Iritasi? Sudah diobati?" Kim Yo Han tampak cemas.


"Sudah." Jawab Ae Ri cepat. Sebenarnya ia tidak ingin berlama-lama bercakap-cakap dengan pria itu.


"Bukankah tadi pagi mata nona Park baik-baik saja? Kapan mulai sakitnya?" Tiba-tiba Tae Yang penasaran sampai menoleh ke belakang.


Ae Ri melototkan kedua matanya ke arah Tae Yang, namun kemudian ia menyadari bahwa ternyata bocah itu tidak dapat melihat matanya karena terhalang kacamata hitamnya.


"Baru saja. Sudah sana menghadap kedepan. Aku mau tidur jangan mengganggu." Jawab Ae Ri ketus.


Kim Yo Han kembali tertawa geli. Ia mulai menangkap alasan wanita itu memakai kacamata hitam.


"Paman daddy, bolehkah hari ini aku memanggil daddy saja seperti waktu itu?" Tanya Tae Yang.


"Tentu saja boleh. Kapanpun kau mau memanggilku daddy, boleh kau lakukan."


"Sungguh?!"


"Ya!!"


"Horee.. Nona Park?" Tae Yang menoleh lagi ke belakang.


"Bolehkah hari ini aku memanggilku mommy?" Tae Yang menunggu jawaban dari Ae Ri yang pura-pura tidur di balik kacamata hitamnya.


Kim Yo Han membelai rambut Tae Yang.


"Jangan ganggu nona Park sedang istirahat." Bujuknya lembut.


Tae Yang yang sedikit kecewa duduk kembali dengan tenang disamping Kim Yo Han.


"Mengapa daddy menyukai nona Park. Dia kan jahat pada daddy?" Tiba-tiba Tae Yang bertanya.


Ae Ri sangat kesal mendengarnya, tapi ia bertahan dengan tetap pura-pura tidur.


Kim Yo Han tertawa.


"Dari mana kau tahu kalau daddy menyukai nona Park?" Tanya pria itu.


"Aku tahu. Tahu saja.." Jawab bocah itu dengan lucu.


Kim Yo Han semakin tertawa.


"Mengapa kau bilang nona Park jahat pada daddy?"


"Dia selalu marah-marah pada daddy. Iya kan?"


Kim Yo Han terbahak melihat ekspresi wajah bocah itu.


"Benarkah? Daddy tidak merasa dia marah."


"Iya dia selalu marah. Tidak mau tersenyum pada daddy, meskipun daddy selalu tersenyum padanya."


Kim Yo Han menoleh dan melihat Tae Yang berbicara dengan serius.


"Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk memiliki perasaan yang sama dengan kita. Kau mengerti?"


Tae Yang menggeleng.


"Jika kau menyukai seseorang, sukai saja dia. Tapi kau jangan memaksanya untuk menyukaimu juga. Biarkan ia memutuskan untuk menyukaimu atau tidak. Mengerti?"


Tae Yang mengangguk.


"Yang penting kau selalu berbuat baik padanya. Jaga dia supaya jangan sampai sedih atau kecewa atas perbuatanmu."


"Bagaimana jika dia menyukai orang lain? Daddy tidak sedih?"


"Tentu saja sedih. Tapi kalau itu pilihannya ya sudah. Yang penting dia senang dan bahagia. Daddy senang melihat orang yang daddy sayangi bahagia, meskipun tidak bersama daddy."


"Aku senang jika daddy menjadi daddyku." Jawab Tae Yang tiba-tiba.


Kim Yo Han kembali tertawa.


"Apakah daddy pernah merindukan ayah daddy?" Tanya Tae Yang.


Kim Yo Han berpikir sebentar sebelum menjawab.


"Pernah. Tapi sama sepertimu, daddy belum pernah mengenal ayah daddy. Jadi tidak tahu ia seperti apa. Kadang daddy juga takut jika ternyata ayah daddy itu orang jahat."


Tae Yang tampak diam dan merenung.


"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan daddymu?" Tanya Kim Yo Han pada Tae Yang.


"Tapi mommyku tidak mau aku bertemu dengannya."


"Mengapa?"


"Mommy bilang mungkin daddyku akan menculikku. Karena dia orang jahat."


"Benarkah?"


Tae Yang mengangguk.


"Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi aku tidak mau berpisah dengan mommyku. Dan aku tidak mau mommy sedih."


Kim Yo Han membelai rambut Tae Yang.


"Kau anak yang baik Tae Yang. Pasti mommymu sangat bahagia memilikimu. Tugasmu sekarang harus menjaga mommy dan selalu membuatnya bahagia. Oke?!"


"Iya." Jawab Tae Yang.


Diam-diam Ae Ri menyeka air matanya.


'Sial.. Untung saja aku memakai kacamata ini.' Bisiknya dalam hati.


***