Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tiga Puluh Sembilan



"Sejak lahir aku tidak mengenal ayahku. Tampaknya ia tidak bertanggungjawab saat mengetahui mamaku mengandungku. Kami sangat miskin hingga sangat kesulitan untuk makan sehari-hari. Mamaku hanya bisa bekerja paruh waktu karena ia tidak berpendidikan. Dan karena usianya, tidak banyak orang yang mau memberinya pekerjaan. Kami seringkali diusir dari kontrakan karena tidak mampu membayar. Jika sudah seperti itu aku akan mengikuti mama bekerja. Saat mama mencuci piring di sebuah restoran kecil, aku menunggunya sepanjang waktu di pintu belakang. Itu sudah terjadi dari usiaku sangat muda. Mamaku sakit-sakitan. Aku tidak tahu ia sakit apa, tapi ia semakin hari semakin kurus dan lemah. Akhirnya pada saat umurku sekitar 9 tahun, mamaku meninggal dunia. Di jalanan, tanpa pengobatan."


"Ya Tuhan.. Aku sangat sedih sampai menangis." Seru nona Go. Dan memang air mata sudah bercucuran di pipinya.


Kim Yo Han tertawa melihatnya dan mengambilkan tisu dari atas meja dan diserahkan pada nona Go.


"Terimakasih tuan Kim. Silahkan lanjutkan ceritamu."


"Kemudian aku hidup di jalanan. Aku sering mengais sampah untuk mencari makanan sisa. Biasanya aku mencari di belakang restoran-restoran. Kemudian suatu saat aku bertemu dengan para anggota gank yang memang suka merekrut anak-anak jalanan untuk dididik menjadi anggota mereka. Aku dibawa masuk oleh mereka dan diajari bertarung. Aku hidup dalam kekerasan. Dan bahkan menjadi kesayangan ketua gank.


Tapi aku tahu apa yang kulakukan itu tidak baik dan sangat beresiko. Aku tidak mau. Singkat cerita aku berhasil melepaskan diri dari gank tersebut dan bisa membuat sebuah perusahaan pengadaan sekurity serta cleaning servis. Tapi sayang aku ditipu oleh rekan kepercayaanku. Aku bangkrut dan tidak dapat membayar hutang. Lalu aku masuk penjara selama kurang lebih 2 tahun."


Kim Yo Han berhenti sejenak dan menatap sendu ke arah Ae Ri.


Ae Ri menundukkan kepalanya tidak sanggup melihat mata yang menyedihkan itu.


***


"Ya Tuhan.. Sungguh tragis sekali kehidupanmu tuan Kim. Tapi kau bisa berjuang dengan hebat. Silahkan lanjutkan lagi tuan."


"Terimakasih nona Go Kemudian setelah keluar dari penjara aku bingung. Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bagaimana aku bisa bertahan hidup. Lalu ayah angkatku si ketua gank menginginkan aku kembali padanya. Tapi ku tolak. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi model. Karena saat dipenjara aku pernah memenangkan kontes model." Kim Yo Han tertawa terbahak begitu juga nona Go. Ae Ri ikut tertawa.


"Aku mencoba casting dibeberapa kesempatan, akhirnya ada yang mau menerimaku. Dan aku cukup sukses disana. Tapi aku tidak mau selamanya menjadi model. Jadi kuputuskan untuk belajar bisnis agensi. Dan akhirnya aku bisa memiliki manajemen sendiri seperti yang kau tahu sekarang ini." Ujar Kim Yo Han menutup ceritanya.


Tepuk tangan panjang dari nona Go dan para penonton memberi aplaus untuk Kim Yo Han.


"Kau sungguh menginspirasi anak-anak muda tuan Kim. Perjuanganku sungguh luar biasa. Selamat tuan Kim kau sudah menjadi pemenang." Nona Go menyatakan kekagumannya dengan semangat.


Kim Yo Han menundukkan kepalanya mengucapkan terimakasih.


"Nona Park. Kudengar kau juga hanya dibesarkan oleh mama tanpa mengenal papa seperti tuan Kim. Bisakah kau menceritakannya. Aku yakin perjuanganmu juga sangat hebat."


Park Ae Ri tersenyum dan mengangguk.


"Hampir sama dengan kisah tuan Kim. Mamaku juga berhubungan dengan pria tidak bertanggungjawab. Aku lahir tanpa mengenal papaku. Mamaku berjuang sendiri untuk menghidupi kami. Karena sesuatu hal, mamaku membawaku pergi ke Amerika. Dia berjuang disana dan bisa membangun bisnis pakaian disana. Awalnya kecil.


Lalu kuputuskan untuk sekolah disainer dan membantu mamaku. Akhirnya kau bisa melihat sendiri.


Aku berbeda dengan tuan Kim. Kurasa dia lebih hebat karena bisa berjuang sendiri. Tapi aku bisa seperti ini karena mamaku. Mamaku adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada mama dalam hidupku."


"Kau juga luar biasa nona Park. Ku dengar saat masa sekolahmu kau adalah anak manja tapi bisa berubah 180°. Adakah yang membuat hidupmu berubah?"


"Ya benar sekali. Aku sangat manja dan nakal. Aku terjerumus juga dalam pergaulan yang salah. Bahkan aku juga bertemu dengan pria brengs*k yang sangat membuatku terpuruk. Bahkan aku nyaris mengakhiri hidupku.


Namun mama menyelamatkanku dan masalah itu membuatku tersadar. Oke! Aku harus berubah demi mama dan diriku sendiri. Aku tidak mau hidupku rusak. Dan aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa. Dan ternyata kupikir aku sekarang benar-benar bisa." Ujar Ae Ri.


"Kau sungguh wanita yang hebat nona Park. Jadi pemirsa banyak hal yang bisa kita petik dari kisah ini. Anak muda, ayo bangkit! Jangan ada alasan untuk malas. Mereka bisa, pasti anda semua juga bisa. Dan untuk orangtua terutama para Ibi, support anda pada putra-putri anda sangatlah diperlukan. Selamat berjuang para ibu!" Seru nona Go Ah Ra.


"Satu lagi nona. Pesan untuk para pria jadilah pria yang bertanggungjawab. Jangan tinggalkan anak anda dan bersenang-senang sendiri." Ujar Ae Ri sambil tertawa.


"Ya.. Ya.. Benar sekali." nona Go ikut mengiyakan dengan serius.


"Nona Park, kamu punya hadiah khusus untuk anda. Ada seseorang yang sangat mencintai anda di ruangan ini. Dan ia ingin memeluk anda sekarang. Bolehkah?" Nona Go tersenyum menggoda Ae Ri.


Seketika jantung Ae Ri berdegup kencang.


'Apa maksudnya ini? Apa ia tahu Kim Yo Han menyukaiku. Apa yang harus kulakukan?'


Ae Ri melirik pria yang duduk diseberangnya. Namun ternyata pria itu pun tampak bingung. Ae Ri sedikit lega.


"Aku tidak tahu apa maksudmu? Siapa itu?" Ae Ri tertawa berusaha terlihat santai.


"Oke kalau begitu aku akan mempersilahkan tamu spesial kita masuk ke stage." Nona Go berseru.


Ae Ri terbelalak saat melihat mamanya masuk. Ia berdiri dan sedikit berlari ke arah mamanya dan memeluknya erat.


"Belia adalah nyonya Park Ha Sun, mama dari nona Park yang bersedia datang jauh-jauh dari Amerika."


Riuh tepuk tangan penonton di studio memenuhi ruangan itu.


Kim Yo Han cepat-cepat berdiri dari duduknya dan ikut bertepuk tangan dengan senyum mengembang di bibirnya.


Ae Ri mengajak mamanya duduk disampingnya.


Mata nyomya Park menangkap sosok Kim Yo Han dan mengangguk padanya. Kim Yo Han membungkuk dengan hormat.


Nona Go tertawa.


"Memang kami bekerjasama untuk membuat anda surprise nona. Bagaimana anda lega sekarang? Karena tadi putri anda tampak tegang saat saya mengatakan ada yang ingin memeluknya." Tawa renyah nona Go berkumandang.


"Mengapa begitu?" Nyonya Park tampak bingung.


"Putri anda pasti menyangka bahwa itu adalah seorang pria. Jangan-jangan anda mengira orang itu tadi adalah tuan Kim." Raut wajah nona Go seketika berubah penasaran.


"Nona Go ada-ada saja." Ae Ri sudah tidak tahu harus berkata apa. Nona Go hanya tertawa.


"Bagaimana perjalanan anda nyonya Park. Terimakasih banyak karena telah menerima undangan kami."


"Syukurlah dengan begini aku bisa bertemu dengan putriku yang sangat sibuk ini. Parjalananku cukup lancar nona. Saya baru saja tiba 4 jam yang lalu."


"Waw kalau begitu tentu anda masih jetlag ya. Maafkan kami sudah merepotkan anda." Nona Go berdiri dan menuduk meminta maaf.


"Tidak apa-apa nona. Saya rasa sekarang saya mirip burung sering terbang kesana kemari jadi sudah tidak terlalu mengalami jetlag lagi." Nyonya Park tertawa renyah.


"Baik alah kalau begitu, karena anda sudah disini jadi saya akan bertanya 3 hal pada anda."


"Baiklah apa itu? Kau membuatku tegang." Tawa nyonya Park.


"Apakah nona Park sering membuat anda menangis?"


"Tentu. Tapi tahun-tahun belakangan ini sudah tidak lagi. Paling aku menangis karena merindukannya saja. Dia sudah tidak pernah berulah lagi." Nyonya Park dan Ae Ri tertawa bersama.


"Baiklah. Kau aman nona Park." Goda nona Go.


"Yang kedua. Apakah jika anda bisa kembali ke waktu lalu saat bertemu dengan papanya nona Park kau akan menghindarinya? Kita tahu jika kau tidak berhubungan dengan pria itu tentu nona Park tidak akan ada kan." Nona Go tersenyum ke arah penonton.


Nyonya Park tampak berpikir sebentar.


"Tentu aku sangat ingin menghindari pria itu. Namun aku akan memohon pada Tuhan agar Ae Ri tetap menjadi putriku. Siapapun suamiku."


Nona Go tertawa. Sedangkan Ae Ri memeluk mamanya dengan erat.


"Wah.. Kau aman lagi Kona Park."


"Oke pertanyaan terakhir nyonya Park. Apakah kau akan merestui jika putri anda dan tuan Kim menjalin hubungan. Karena saya dan penonton ingin menjodohkan mereka." Nona Go tersenyum senang karena berhasil menggoda tamu-tamunya.


Nyonya Park sedikit terkejut lalu memandang pria muda dihadapannya itu. Ia tampak terkesima dan terpana saat melihat wajah Kim Yo Han dengan jelas.


"Mengapa aku merasa sangat familiar dengan wajahmu anak muda. Apakah kita pernah bertemu?" Nyonya Park tertawa.


"Tampaknya belum nyonya. Tapi saya adalah pengagum anda." Jawab Yo Han sopan.


"Wah.. Apakah ini bertanda tuan Kim Yo Han akan menjadi menantu nyonya Park."


"Nona Go jangan membuat gosip aneh. Kasihan tuan Kim. Mungkin nanti akan ada yang marah." Ae Ri sudah sangat risih dengan topik ini.


"Jangan khawatir nona. Aku tadi sudah bertanya padanya dan dia mengaku belum memiliki kekasih. Jadi kau aman lagi nona Park. Mari nyonya saya menunggu jawaban anda."


"Hmm.. Kalau saya lihat sepertinya tuan Kim adalah pria yang baik."


"Dan juga kaya?" Belum lagi nyonya Park merampungkan ucapannya, nona Go sudah memotong.


"Oke, dan kaya. Tapi sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan jodoh untuk putriku. Jika Ae Ri mencintainya tentu aku akan merestui mereka." Jawab nyonya Park.


"Ya sekarang anggap saja nona Park mencintainya." Kejar nona Go tidak sabar.


"Kalau begitu aku akan merestui mereka."


"Yes!! Kau aman tuan Kim. Aku sudah membuka jalan untuk anda. Silahkan anda melakukan pendekatan lebih jauh lagi pada Kona Park. Kau tahu nyonya, tuan Kim tampaknya menyukai putri anda. Dia terus mencuri-curi pandang pada nona Park." Tawa nona Go menggema lagi di ruangan itu.


Seketika tanpa bisa dicegah, wajah Kim Yo Han memerah karena malu. Ia memegang hidungnya dengan kedua telapak tangannya berusaha menutupinya. Nyonya Park tertawa melihatnya.


"Baiklah kita akan kembali setelah beberapa iklan berikut."


"Maafkan aku tuan Kim. Aku tidak dapat menahan diri untuk menggoda anda. Ada sangat menggemaskan. Bukankah begitu nona Park?" Nona Go tertawa kecil. Sedangkan Ae Ri hanya bisa tersenyum menutupi debaran di dadanya.


***