
"Maaf tuan Kim, kami pasti membuatmu sangat bosan." Ujar Nyonya Park.
"Tidak sama sekali nyonya Park. Dan tolong panggil saja saya Yo Han. Bukankah kemarin anda mengatakan itu?"
Nyonya Park tertawa.
"Oke. Baiklah Yo Han. Ayo sekarang giliran aku yang mentraktirmu makan. Kita makan dimana anak muda?" Kalimat terakhir itu ia tujukan pada Tae Yang.
"Makan ayam goreng!" Serunya.
"Kau selalu ingin makan ayam terus." Protes Ae Ri.
"Tae Yang, nyonya Park kan dari Amerika. Pasti beliau ingin makan makanan Korea. Bagaimana kalau kali ini kita makan makanan Korea saja. Lain kali baru makan ayam goreng kesukaanmu." Kim Yo Han membujuk Tae Yang.
Tae Yang tampak berpikir sebentar.
"Oke baiklah. Aku mau makan daging yang seperti daddy buat dulu itu ya."
"Apa itu?"
"Yang dulu daddy masak dirumah daddy itu."
"O.. Bulgogi? Oke!" Jawab Kim Yo Han sambil tertawa lebar. Ia mengangguk pada nyonya Park dan Ae Ri untuk mengikutinya.
"Aku senang sekali melihat pemandangan ini Ae Ri. Aku berharap kau bisa bersamanya." Ujar nyonya Park pada putrinya saat berjalan mengikuti Kim Yo Han dan Tae Yang di belakang mereka.
Ae Ri memilih diam dan tidak menjawab.
'Jika saja mama tahu siapa laki-laki itu. Aku tak yakin mama akan bisa tetap baik padanya.' Batin Ae Ri dalam hati.
"Kapan anda akan kembali ke Amerika nyonya?" Tanya Kim Yo Han saat mereka sudah duduk di kursi di restoran.
"Besok pagi."
"Wah sebentar sekali anda disini."
"Iya. Aku tak bisa lama-lama karena minggu depan kami akan mengadakan fashion show musim dingin. Kerjasama dengan beberapa perancang. Jadi aku harus mempersiapkan semuanya."
"Semoga acaranya sukses nyonya. Apakah kau juga akan mengadakan fashion show musim dingin disini? Aku bisa membantumu jika kau perlukan." Tanya Kim Yo Han pada Ae Ri.
"Tidak." Jawab Ae Ri singkat tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel yang dari tadi dipegangnya.
Mamanya menoleh heran ada Ae Ri. Karena biasanya Ae Ri selalu tertarik dengan hal seperti itu.
"Selamat siang.." Sebuah suara pria mengagetkan mereka.
"Jae Hyun!" Seru nyonya Park sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
Ahn Jae Hyun dengan senyum yang lebar memeluk nyonya Park.
"Mama.. Aku sangat merindukanmu. Mengapa tidak bilang kalau mau datang." Ujarnya sedikit manja.
Kim Yo Han memandang keduanya dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
"Maaf sayang. Mama tidak sengaja datang kesini. Ayo duduklah." Jawab nyonya Park.
Jae Hyun melihat ke arah Tae Yang.
"Hei.. Anak muda tampan. Kau disini juga?" Seru Jae Hyun lalu menghampiri Tae Yang.
"Mengapa paman jarang main kerumahku? Paman pergi?"
"Iya.. Paman baru saja dari Jakarta. Hampir 1 bulan paman disana. Paman mengurus bisnis disana. Hei.. Mengapa kau memanggiku paman." Jae Hyun tertawa sambil mengacak rambut Tae Yang. Tae Yang ikut tertawa.
"Karena disini banyak orang." Bisik bocah itu. Jae Hyun hanya mengangguk-angguk.
Ia meminta kursi tambahan dan duduk di antara Tae Yang dan Ae Ri. Sedangkan Tae Yang duduk disamping Kim Yo Han.
"Mana oleh-oleh dari Jakarta. Kau bilang kau membawakan sesuatu untukku?" Tanya Ae Ri.
Kim Yo Han memperhatikan wanita itu. Ae Ri tersenyum dengan sangat cantik pada Jae Hyun. Suaranyapun sedikit manja.
Jae Hyun tertawa sambil mengacak pelan rambut Ae Ri.
"Sabarlah. Nanti malam aku kerumahmu. Kita makan bersama ya ma. Akan ku masak kan sesuatu nanti. Kalian berdua santai saja. Oke?!" Ujarnya ceria.
Nyonya Park tertawa renyah. Lalu tanpa sengaja ia menangkap tatapan misterius Kim Yo Han yang duduk diseberangnya. Nyonya Park sadar bahwa pemuda itu sedang cemburu melihat Ae Ri dan Jae Hyun.
"Tuan Kim. Bagaimana kabar anda?" Tanya Jae Hyun ramah.
"Baik." Jawab Kim Yo Han. Suaranya tampak datar. Namun seketika membuat mereka diam selama beberapa detik.
Suasana canggung itu sedikit mencair saat pelayan menghidangkan makanan yang sudah dipesan.
"Aku pesankan ini untukmu." Ujar Ae Ri sambil menyodorkan piring berisi nasi goreng.
"Oke.. Kau memang selalu tahu apa kesukaanku. Terimakasih nona Park." Ujar Jae Hyun dengan senyum mengembang.
Kini Kim Yo Han tidak lagi berbicara. Ia hanya berdiam diri. Hanya sesekali ia berbicara pelan dengan Tae Yang. Seperti biasa ia selalu melayani keinginan anak itu. Mengambilkan alat makan, makanan dan mengelap pipi dan bibirnya jika kotor.
"Pelan-pelan makannya." Bisiknya pada Tae Yang. Ia sama sekali tidak mau melihat ke arah Ae Ri yang sibuk bercanda dengan Jae Hyun. Ia menyadari jika Ae Ri sengaja melakukannya agar ia marah.
Nyonya Park juga menyadari itu. Ia tahu Ae Ri sengaja memanas-manasi Kim Yo Han dengan memanfaatkan Jae Hyun.
"Ma.. Bisakah sebelum pulang mama bertemu dulu dengan mamaku? Ia sangat ingin bertemu mama."
"Bagaimana ya? Besok pagi mama sudah berangkat. Jadi sepertinya tidak ada waktu."
"Hah? Cepat sekali?" Seru Jae Hyun.
"Bagaimana kalau nanti malam saja. Kita makan diluar saja jangan dirumah. Nanti mamamu tidak nyaman."
"Nanti aku akan menanyakan padanya. Semoga dia tidak ada acara. Nanti akan ku kabari lagi ya ma."
"Apa yang akan dibicarakan mamamu dengan mamaku?" Tanya Ae Ri.
"Tentu saja pernikahan kita!" Jawab Jae Hyun sambil tertawa lebar tanpa suara.
"Ayah JJ akan menikah dengan nona Park?" Tanya Tae Yang dengan lantang. Ia tampak terkejut.
"Ya.. Tentu saja. Kau menyetujuinyakan?" Tanya Jae Hyun.
Tae Yang diam tidak menjawab. Ia tampak ragu. Lalu ia menoleh pada Kim Yo Han.
"Menurut anda apakah kami berdua cocok tuan Kim?" Tanya Jae Hyun tiba-tiba. Kim Yo Han tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
Pria itu memandang Ae Ri dan Jae Hyun bergantian lalu juga memandang nyonya Park yang tampak penasaran dengan jawabannya.
Kim Yo Han tersenyum.
"Ya. Kalian sangat cocok. Aku ingin kau membuat nona Park terus tersenyum bahagia seperti itu. Jika sekali saja kau membuatnya menangis, aku akan memukulimu habis-habisan." Jawab Kim Yo Han. Ia menahan suaranya agar tidak bergetar karena menahan sakit hatinya yang luar biasa saat itu.
Nyonya Park menoleh ke arah putrinya. Sesaat Ae Ri tampak terkesima dengan jawaban Kim Yo Han. Tampak sekali ia tidak menyangka akan jawaban pria itu.
"Terimakasih tuan Kim. Sudah 7 tahun lebih aku mengenalnya dan Ae Ri tidak pernah menangis karena aku. Jadi jangan khawatir." Jawab Jae Hyun dengan senyum lebarnya. Ae Ri menoleh padanya, ia tersenyum namun sangat sulit mengartikan senyum itu.
"Apa kau sudah memiliki kekasih Yo Han?" Tanya nyonya Park. Ia sudah kehabisan ide untuk percakapannya. Namun ia tidak tega melihat raut wajah pria muda dihadapannya itu.
Kim Yo Han tertawa garing.
"Ada nyonya." Jawabnya.
"Wah.. Apakah salah satu artis atau modelmu?" Nyonya Park tampak bersemangat.
"Bukan. Dia gadis biasa."
"Wah gadis itu sangat beruntung sekali. Ajaklah dia kapan-kapan berlibur ke Amerika. Datanglah ketempatku ya. Akan kusiap kan hadiah khusus untuknya."
Kim Yo Han tertawa.
"Terimakasih banyak nyonya Park. Anda baik sekali."
Meskipun pria itu tertawa tapi nyonya Park tetap melihat kesedihan disana.
"Siapa nama gadis itu?" Tanya nyonya Park.
Ae Ri ingin memotong pembicaraan itu namun Kim Yo Han dengan cepat menjawab.
"Mi Cha. Yoon Mi Cha." Jawabnya dengan wajah yang serius. Ia sangat menunggu perubahan ekspresi wajah nyonya Park.
Dan ia tampak puas saat melihat nyonya Park terkejut dan menoleh ke arah putrinya.
"Nama yang sangat indah. Aku yakin gadis itu secantik namanya." Ujar nyonya Park saat ia sudah bisa menguasai dirinya lagi.
"Ya nyonya, dia sangat cantik." Jawab Kim Yo Han sambil tersenyum.
Nyonya Park tampak sangat gelisah. Ae Ri menatap Kim Yo Han dengan penuh perasaan bencinya. Dadanya bergemuruh dan serasa ingin meledak. Ia ingin merahasiakan semuanya termasuk pada mamanya. Namun pria itu kini tampak berusaha mengungkapkan semuanya.
Kim Yo Han juga menatap Ae Ri dengan tajam.
"Ae Ri. Mama baru ingat. Ada teman mama mau datang kerumah. Ayo kita pulang. Mohon maaf tuan Kim, Jae Hyun. Kami pulang dulu ya." Nyonya Park cepat-cepat berdiri dan mengambil tasnya.
Kim Yo Han ikut berdiri.
"Mari saya antar sampai di parkiran nyonya."
"Tidak usah. Silakan melanjutkan pekerjaanmu. Kau tentu sangat sibuk. Jae Hyun, mama pulang ya. Nanti kabari mama lagi. Ayo Tae Yang kita pulang."
Nyonya Park menarik tangan Tae Yang yang sedang menggandeng tangan Kim Yo Han dan cepat-cepat membawanya pergi.
"Aku pulang ya." Ujar Ae Ri pada Jae Hyun.
"Permisi tuan Kim." Berbeda saat berbicara dengan Jae Hyun, ia menggunakan bahasa formal pada Kim Yo Han. Ae Ri berlari kecil menyusul mamanya.
Kim Yo Han menunduk sedikit pada Jae Hyun lalu pergi mengikuti mereka.
***
Di dalam mobil tampak nyonya Park tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Matanya berganti-ganti memandangi Ae Ri yang menyetir mobil dan Tae Yang yang duduk di belakang.
"Apakah dia orangnya?" Tanya nyonya Park saat sudah habis kesabarannya.
Ae Ri menoleh sebentar. Dengan ragu ia mengangguk.
Nyonya Park menghela nafas.
"Mengapa tidak kau mengatakannya dari kemarin? Aku sangat kesal karena sempat menyukainya. Ku kira ia pemuda yang baik. Kau.." Nyonya Park benar-benar tidak bisa menguasai emosinya. Nafasnya sampai tersengal-sengal.
"Tenanglah ma. Nanti akan kuceritakan semuanya."
"Kalau begitu Tae Yang biar ikut mama lagi kembali ke Amerika. Sangat berbahaya dia disini."
"Ma.." Ae Ri tidak ingin membuat putranya cemas.
"Tae Yang suka tinggal disini dengan mommy." Ujar Tae Yang.
Nyonya Park menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia mencoba menenangkan diri.
Saat mobil telah terparkir di depan rumah, mereka keluar dari mobil. Mendadak 3 mobil berhenti di depan mereka.
Ae Ri cepat-cepat memeluk putranya.
***