Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua Puluh Delapan



"Kita mau kemana, Paman?"


"Kau suka nonton? Ada film super hero bagus."


"Oke. Aku belum pernah."


Jae Hyun menoleh pada Ae Ri seakan tidak percaya.


"Dia masih kecil, jadi kupikir dia mungkin akan merasa bosan jika terlalu lama di dalam ruangan tertutup." Ae Ri memberi alasan.


"Apa kau akan bosan nanti?" Tanya Jae Hyun pada Tae Yang.


"Tidak!" Jawab bocah itu.


"Oke, kita lihat saja nanti." Jawab Ae Ri.


Jae Hyun tetawa. Sedangkan Tae Yang cemberut.


***


Ae Ri, Tae Yang dan Jae Hyun berjalan menyusuri keramaian pusat perbelanjaan modern milik Jae Hyun.


"Mengapa kita harus kesini. Bukankah banyak mall lain yang memiliki studio film. Aku risih dengan tatapan mereka." Ujar Ae Ri.


"Jangan pedulikan mereka." Jawab Jae Hyun santai.


"Aku takut jika mereka melaporkannya pada ayahmu."


Jae Hyun tertawa lebar.


"Biarkan saja. Aku justru menyukainya."


"Kau gila!" Desis Ae Ri.


"Bagaimana filmnya tadi? Kau suka?" Tanya Jae Hyun pada Tae Yang.


"Suka sekali Paman! Keren!!" Seru Tae Yang dengan semangat.


"Kau juga keren, bisa bertahan sampai selesai tanpa bosan di dalam sana." Jae Hyun menunjukkan jari jempolnya.


Tae Yang tertawa. Ia menoleh pada mommy nya dengan bangga. Ae Ri ikut tertawa.


"Tae Yang!!" Tiba-tiba sebuah suara yg sangat di kenal Ae Ri mengagetkannya.


Ia menoleh dan dari arah belakangnya tampak Kim Yo Han menghampiri mereka. Ia tersenyum pada Tae Tang yang berlari ke arahnya.


"Paman daddy!?" Serunya. Yo Han membalas pelukan Tae Yang dan menggendongnya.


"Dia mengenal Tae Yang?" Bisik Jae Hyun.


"Dia tahunya Tae Yang anak temanku. Kau juga harus bisa kerja sama. Jangan katakan siapa ibunya Tae Yang." Bisik Ae Ri.


Jae Hyun memandanginya dan mengangguk.


"CEO Kim, Anda disini?" Sapa Jae Hyun.


"Bukankah kemarin aku sudah bilang akan menemui anda siang ini?"


Jae Hyun terdiam sebentar dan berpikir.


"Whoaa.. Aku benar-benar lupa. Untung kita jalan-jalannya disini." Ujarnya sambil menepuk keningnya sendiri.


"Kalau begitu aku dan Tae Yang akan jalan-jalan berdua saja. Kalian bisa melanjutkan agenda kalian." Ujar Ae Ri.


"Tidak, jangan. Kami hanya sebentar." Jawab Kim Yo Han. Ia tampak enggan berpisah dengan Tae Yang dan juga Ae Ri.


"Lagipula mungkin malah lebih enak jika CEO Park juga bersama kita. Jadi bisa nyambung dengan pembicaraan kita nantinya." Lanjutnya lagi sambil menoleh pada Jae Hyun.


"Aku dan CEO Kim berencana akan membicarakan konsep panggung dan kau mungkin bisa melihat ruang persiapan. Kira-kira apa yang kau butuhkan di sana. Acaranya kan tinggal dua minggu lagi." Ujar Jae Hyun.


Ae Ri berpikir sejenak.


"Baiklah kalau begitu. Tae Yang apa kau tidak apa-apa jika kami bekerja dulu sebentar?" Tanya Ae Ri.


"Tidak apa-apa Nona Park. Aku tidak akan mengganggu."


"Anak pintar." Seru Jae Hyun. Ia sedikit cemburu melihat Tae Yang tampaknya sangat dekat dengan Kim Yo Han.


"Tapi aku lapar. Bisakah kita makan dulu sekarang?" Ujar Tae Yang dengan polos.


"Oke, tuan Park. Kau mau makan apa?" Tanya Jae Hyun.


"Apa saja aku suka! Tapi aku lebih suka ayam goreng" Jawab Tae Yang ceria.


"Oke kita kesana!" Jawab Kim Yo Han cepat. Sedangkan Jae Hyun dan Ae Ri saling pandang.


Jae Hyun tahu jika Ae Ri tidak suka jika Tae Yang sering-sering makan ayam goreng. Ae Ri hanya mengangkat kedua pundaknya.


Mereka berempat sudah duduk berhadapan. Ae Ri bersebelahan dengan Jae Hyun. Lalu Yo Han duduk dihadapan Ae Ri dan Tae Yang di depan Jae Hyun.


Kim Yo Han dengan penuh perhatian melayani Tae Yang. Dari mengambilkan ayam mengantar cuci tangan dan mengelap bibir bocah itu saat ada makanan yang menempel.


Jae Hyun dan Ae Ri sering saling menoleh saat melihat Kim Yo Han.


"Makan yang banyak biar cepat tinggi."


"Oke! Terima kasih Paman daddy. Jika tadi kita tidak bertemu mungkin hari ini aku tidak bisa makan ayam goreng."


Kim Yo Han tertawa.


"Tapi walaupun kau menyukainya, tidak boleh sering-sering ya makan ayam gorengnya. Sekali-sekali saja." Ujar Yo Han.


"Sama seperti Paman daddy? Walaupun aku menyukai Paman, tapi kata mommy, aku tidak boleh sering-sering bertemu Paman." Kata Tae Yang polos. Kim Yo Han tertawa.


"Ya benar. Kita turuti saja kata mommymu. Mungkin dia memiliki alasan sendiri."


Jae Hyun kembali menoleh pada Ae Ri. Kedua matanya benar-benar tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.


Ae Ri hanya diam saja. Ia menahan berbagai gejolak di dalam dadanya.


***


Mereka berempat kini telah berjalan menuju area acara Jae Hyun. Sebuah hall yang sangat lebar di lantai atas dari bangunan mall itu. Bisanya sering disewa untuk acara-acara pernikahan.


Mereka bertiga sudah asik dengan pembicaraan mereka. Sedangkan Tae Yang juga asik dengan dirinya sendiri. Kadang ia berlari atau duduk di kursi-kursi.


Kedua mata Kim Yo Han tidak bisa lepas dari anak itu. Ae Ri bahkan sedikit kesal dibuatnya.


"Tuan Kim. Biarkan saja dia bermain. Kita fokus dulu dengan pembicaraan kita." Seru Ae Ri.


Kim Yo Han menoleh dan sedikit terkejut menyadari dirinya sendiri.


"Maaf." Ujarnya.


Namun kenyataannya masih saja Kim Yo Han sedikit-sedikit mencari keberadaan anak itu. Ia tampak sangat takut jika terjadi apa-apa pada Tae Yang.


Brak!! Suara kursi jatuh disusul tangisan Tae Yang bergema di ruangan kosong itu. Serentak mereka bertiga berlari menghampiri Tae Yang.


"Tenanglah. Tidak apa-apa. Apakah ada yang luka. Coba paman periksa sebentar ya."


Ae Ri cepat-cepat mendekat dan memeriksa kaki dan tangan Tae Yang.


"Ada yang luka?" Tanyanya cemas pada Yo Han.


Kim Yo Han menggeleng.


"Tidak apa-apa. Dia hanya shock saja."


"Maafkan aku." Jawab Tae Yang terbata-bata disela isakan tangisnya.


Ae Ri membelai kepala Tae Yang.


"Tidak apa-apa. Yang penting kau tidak terluka. Apakah kepalamu sakit? Punggungmu bagaimana?" Tanya Ae Ri cemas.


Tae Yang menggeleng.


"Hanya ini yang sakit." Ia mengangkat siku kirinya yang tampak merah.


"Apakah ini berbahaya?" Seru Ae Ri, matanya bertanya pada Yo Han.


Kim Yo Han meraba siku Tae Yang. Seketika bocah itu berteriak.


"Sakit Paman!"


"Bawa ke rumah sakit saja. Supaya lebih tahu." Usul Jae Hyun.


Tanpa berbicara, Kim Yo Han menggendong Tae Yang dan berjalan cepat menuju lift.


Ae Ri dan Jae Hyun berjalan cepat mengikutinya.


Kim Yo Han memasukkan Tae Yang ke mobilnya di kursi bagian belakang. Setelah memasangkan sabuk pengaman ia masuk ke kursi kemudi.


Ae Ri cepat-cepat masuk dan duduk di sebelah Tae Yang.


"Pergilah duluan. Aku menyusul membawa mobil sendiri." Seru Jae Hyun.


Tanpa berucap apapun Kim Yo Han langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sampai di rumah sakit Kim Yo Han kembali menggendong dan membawa masuk Tae Yang ke unit gawat darurat.


Ae Ri terus berlarian di belakang Yo Han dengan cemas.


"Dokter!" Panggil Kim Yo Han.


"Apa yang terjadi?"


"Dia jatuh, dan sepertinya sikunya cidera."


"Letakkan di sini!" Dokter memerintah sambil menunjuk ranjang perawatan.


Dengan pelan Kim Yo Han membaringkan Tae Yang.


"Tolong anda berdua mundur sebentar." Ujar dokter pada Yo Han dan Ae Ri.


Kim Yo Han merangkul pundak Ae Ri dan membawanya sedikit menjauh.


"Jangan cemas. Tae Yang anak yang kuat. Dia pasti baik-baik saja." Bisik Yo Han.


Ae Ri merasakan air matanya sudah tidak dapat ditahan lagi mendengar erangan Tae Yang. Yo Han memeluknya dan membelai rambutnya.


"Bagaimana?!" Suara Jae Hyun terdengar di belakang mereka. Ae Ri cepat-cepat melepaskan dirinya dari pelukan Yo Han.


Jae Hyun tampak tidak suka melihat Ae Ri terlalu dekat dengan Kim Yo Han.


"Belum tahu. Masih ditangani dokter." Jawab Ae Ri.


Sesaat kemudian dokter mendekat.


"Sepertinya ia mengalami dislokasi pada sikunya. Atau biasa disebut tulangnya bergeser. Ia sudah diberi obat pereda nyeri. Namun harus dirontgen agar kita bisa lebih mengetahuinya."


"Apakah harus operasi, dokter?" Tanya Ae Ri cemas.


"Kita berharap supaya tidak terlalu parah sehingga tidak perlu sampai operasi."


"Baik dokter. Terima kasih." Ujar Ae Ri.


"Siapakah wali anak itu? Silahkan mengurus administrasi di depan." Ujar seorang perawat.


"Kau temani Tae Yang, biar aku yang mengurus administrasinya." Jawab Jae Hyun lalu pergi mengikuti perawat itu.


Kim Yo Han memandangnya lalu menoleh pada Ae Ri.


"Apakah ia juga mengenal keluarga Tae Yang."


"Ya. Dia ayah babtis Tae Yang. Ia sudah mengenal Tae Yang sejak lahir."


Kim Yo Han hanya terdiam. Ia memperhatikan Ae Ri yang berlari kecil mengikuti para perawat yang mendorong ranjang Tae Yang ke ruang rontgen. Perlahan kakinya melangkah menyusul wanita itu.


***


"Syukurlah tidak terlalu parah. Sehingga Tae Yang tidak perlu operasi." Ujar Ae Ri menelpon ibunya.


"Iya. Dia perlu dirawat dirumah sakit dulu. Mungkin dua sampai tiga hari. Tidak perlu cemas. Oke.. Aku akan menjaganya baik-baik. Oke.. Aku akan menjaga diriku juga. Bye.."


Kim Yo Han memperhatikan wanita itu. Saat ini mereka sudah berada di dalam sebuah kamar rawat inap di kelas VIP di rumah sakit itu. Kim Yo Han dan Ahn Jae Hyun duduk di sofa sedangkan Ae Ri duduk di sebelah ranjang Tae Yang.


"Apakah ia ibunya Tae Yang?" Tanya pria itu.


Ae Ri tampak terkejut. Ia berpikir sejenak.


"I..iya benar. Dia sedang di Amerika." Jawabnya pelan. Di dalam hatinya ia sangat menyesal harus berbohong seperti itu. Ae Ri melirik Jae Hyun yang tampak menatapnya dengan aneh.


"Apakah dia tidak bisa pulang? Putranya terluka seperti ini."


"Dia baru saja sampai disana. Kau tidak tahu bagaimana perjuangan seorang wanita ketika ia harus menjadi orangtua tunggal. Jangan menghakiminya!" Seru Ae Ri. Entah mengapa ia sangat kesal pada Kim Yo Han.


"Kau pulanglah. Kau juga pulanglah.Tae Yang sudah tidak apa-apa." Ucapnya pada Yo Han dan Jae Hyun.


"Aku akan disini sehingga kita bisa bergantian beristirahat dan menjaganya." Jawab Jae Hyun.


"Aku juga!" Seru Kim Yo Han tidak mau kalah.


"Ada apa dengan kalian berdua ini! Sana! Aku tidak ingin melihat kalian lagi. Cepat pergilah!" Ae Ri berdiri dan membukakan pintu untuk kedua pria itu.


Kim Yo Han dan Ahn Jae Hyun dengan malas berdiri dan keluar dari ruangan itu.


"Jangan lupa kau juga perlu istirahat. Besok pagi aku akan kesini ya. Telepon aku jika memerlukan sesuatu." Ujar Jae Hyun. Ae Ri mengangguk.


Sedangkan Kim Yo Han sudah pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata.


***