Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua Puluh Satu



Ae Ri mendorong wajah Kim Yo Han sekuat tenaga. Ia melotot pada pria itu.


Matanya menunjuk pada Tae Yang yang berdiri di membelakangi mereka yang sibuk memperhatikan angka lantai di atas pintu lift.


"Sembilan... Sepuluh!! Kita sampai!!" Soraknya.


"Yeey..!" Kim Yo Han ikut bersorak sambil melirik Ae Ri.


"Ayo Tae Yang yang menekan password-nya."


Kim Yo Han menggendong Tae Yang di depan pintu unit apartemennya.


"Ayo tekan 010393, ingat ya. Jadi sewaktu-waktu Tae Yang dan Nona Park mau main kesini sudah bisa membuka pintunya." Kim Yo Han melirik Ae Ri dengan tatapan penuh arti.


Sementara Ae Ri sedikit terkejut karena sandi yang dipakai pria itu adalah tanggal lahir Mi Cha. Dirinya yang dulu.


'Bagaimana dia bisa tahu?' Batinnya dalam hati.


"Ayo masuk." Kim Yo Han yang menggendong Tae Yang dengan tangan kiri, kini menggandeng tangan Ae Ri dengan tangan kanannya dan menariknya masuk ke dalam apartemennya.


"Whoaa.. Rumah Paman Daddy bagus. Aku suka!" Seru Tae Yang. Kim Yo Han tertawa.


Apartemen itu cukup besar, terdiri dari dua lantai. Dilantai bawah terdapat ruang santai, pantry dan ruang makan. Juga ada ruang mencuci dan kamar mandi di sudut.


Di lantai atas terdapat dua kamar tidur yang besar dan ruang kerja.


Tae Yang mengintip dari balik tirai untuk melihat keluar. Kim Yo Han membuka tirai dengan lebar.


"Whoaa.. Bagus!!" Komentar Tae Yang lagi saat melihat keluar jendela dimana saat itu matahari mulai terbenam langit sedikit jingga dan lampu-lampu rumah maupun gedung-gedung mulai menyala.


"Kalian tunggu sebentar ya."


Kim Yo Han naik ke kamar atas. Ia ingin berganti pakaian dengan yang lebih santai karena saat ini ia masih mengenakan pakaian formal.


Sesaat kemudian pria itu turun kembali dengan celana jeans dan kaos putih tangan panjang yang sedikit mencetak dada six packnya.


Ia menuruni tangga sambil menarik lengan bajunya sampai ke bawah siku.


Gayanya yang berkharisma benar-benar mampu menghipnotis Ae Ri.


"Tae Yang.. Apakah paman daddy terlihat sangat tampan?" Tanya Kim Yo Han saat menyadari Ae Ri dan Tae Yang sedang memperhatikannya.


"Ya tentu."


"Terimakasih. Kau bisa mengatakannya pada Nona Park, ia boleh menyukai Paman daddy juga." Tawa Yo Han sambil berjalan ke pantry. Sedangkan Ae Ri cepat-cepat membuang muka.


***


"Silahkan di makan. Aku


tidak begitu pandai memasak. Semoga kalian suka ya."


"Terima kasih Paman Daddy. Selamat makan!" Ucap Tae Yang sopan.


Kim Yo Han mengambilkan bulgogi dan menaruhnya di atas nasi Tae Yang.


"Makan yang banyak ya dagingnya. Supaya kau cepat tinggi seperti Paman Daddy."


"Baik.. Trimakasih makanannya!"


Lalu Kim Yo Han juga mengambilkan bulgogi untuk Ae Ri.


"Makan yang banyak supaya tenagamu semakin kuat." Ucapnya sambil tersenyum manis. Ae Ri hanya meliriknya sekilas. Sebisa mungkin ia ingin tetap terlihat tidak peduli, meski dadanya berdegup lebih kencang melihat kelembutan dan ketampanan pria itu.


"Kau sudah bilang pada mommymu kalau pulang terlambat?"


"Sudah. Mommy sudah tahu." Tae Yang melirik Ae Ri.


"Mana nomor teleponnya. Biar paman daddy yang akan memberitahunya."


"Jangan." Seru Tae Yang kaget.


Kim Yo Han juga ikut terkejut.


"Sebenarnya mommyku tidak menyukai Paman Daddy. Nanti dia marah."


"Jadi kau bilang apa padanya?"


"Aku pergi dengan Nona Park."


"Mommy mu mengenal Nona Park?"


Tae Yang tampak bingung menjawabnya.


"Ya. Dia temanku. Dulu kami sama-sama tinggal di Amerika." Jawab Ae Ri asal-asalan.


"Hah?! Lalu selama ini kau pura-pura tidak mengenalnya?"


"Itu sebabnya aku selalu bersikeras ingin mengantarnya pulang. Karena mommynya tidak ingin terjadi keributan."


Kim Yo Han memandangi Tae Yang.


"Aku seperti mengenalmu. Wajahmu terasa sangat akrab." Kim Yo Han mencoba mengingat-ingat.


Jantung Ae Ri berdetak lebih kencang.


"Kau tidak makan?" Seru Ae Ri mencoba mengalihkan pikiran Yo Han. Ia cepat-cepat memberi sepotong telur gulung yang cukup besar ke mulut pria itu.


Dengan sedikit terkejut Kim Yo Han membuka mulutnya dan memakannya.


"Besar sekali"! Tawanya.


"Kau sendiri yang memotongnya!" Jawab Ae Ri.


"Paman Daddy tinggal di sini sendirian?"


"Ya."


"Apakah Paman Daddy sedih? Aku juga sering di rumah sendiri."


"Kau sering sendirian di rumah?"


"Ya. Mommyku harus bekerja. Dia sangat pintar. Karyawannya banyak. Mommy bilang kalau dia malas-malasan nanti tokonya bisa tutup lalu banyak orang yang sedih."


"Apakah kau sedih?"


"Sedikit. Tapi tidak apa-apa."


"Apakah kau marah pada Mommymu?"


"Tidak. Aku tidak marah pada Mommy. Mommy kan bekerja untuk mencari uang untukku."


Ae Ri menunduk. Matanya kembali terasa panas.


"Kau anak yang hebat Tae Yang. Paman Daddy sangat bangga padamu. Jika nanti paman daddy memiliki anak, paman ingin anak paman sepertimu. Tampan, pintar dan baik." Kim Yo Han membelai rambut Tae Yang.


Tae Yang tersenyum dengan mata yang berbinar cerah.


"Benarkah?"


Yo Han mengangguk.


"Apakah Paman mau menikah dengan mommyku dan menjadi daddyku?" Tiba-tiba Tae Yang bertanya dengan serius.


Kim Yo Han tidak dapat menahan tawanya. Ia melirik Ae Ri yang tampak terkejut dan terbelalak.


"Sayangnya Paman sudah menyukai orang lain dan ingin menikahinya."


Tae Yang tertunduk lesu.


Setelah selesai makan Ae Ri dan Tae Yang berpamitan pulang. Kim Yo Han mengantar mereka sampai ke parkiran bawah gedung.


"Terima kasih makanannya, Paman. Aku sangat menyukainya."


"Terima kasih juga, Tae Yang dan Nona Park mau bermain di rumahku. Aku jadi tidak kesepian." Senyum Kim Yo Han.


"Baiklah. Permisi Tuan Kim." Pamit Ae Ri.


"Baik Nona Park. Jangan lupa jika kau sudah siapkan waktu, aku akan datang membantumu."


"Baik." Jawab Ae Ri formal.


"Atau bagaimana jika besok aku ke kantormu?"


"Besok aku akan ke Shanghai. Jumat saja."


"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa. Sampai jumpa Tae Yang."


Tae Yang melambaikan tangannya dari dalam mobil sampai Ae Ri membawa mobilnya ke luar gedung.


***


"Tae Yang, Mommy tidak ingin kau pergi lagi dengan tuan Kim. Apalagi tanpa seijin Mommy."


"Mengapa?"


"Bukankah Mommy pernah mengatakan bahwa dia adalah orang yang jahat? Kau tidak ingat?"


"Aku ingat. Tapi aku tidak ingat paman daddy menjahatiku. Dia sangat baik."


"Dia tidak baik. Ingat itu. Dan jangan menemuinya lagi." Ae Ri mulai kesal karena Tae Yang selalu saja bisa membantahnya.


"Bukankah ia sangat menyukai Mommy?"


Ae Ri terkejut dengan ucapan anaknya. Ia menoleh.


"Dari mana kau tahu?"


"Saat Mommy menangis tadi dia memeluk Mommy. Lalu paman daddy juga berjanji akan membantu Mommy. Bukankah itu berarti dia menyukai Mommy?"


Ae Ri tertawa.


"Jadi kau ingin terus menemuinya?"


Tae Yang tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya.


"Tidak bisakah kita terus berteman dengannya seperti hari ini, Mom?"


Kini Tae Yang menatap Ae Ri dengan penuh harap.


Ae Ri memilih tidak menjawab. Pandangannya terus ke arah depan. Tae Yang kembali menundukkan kepalanya memainkan ujung pakaiannya.


***


"Tae Yang, nanti setelah kau berangkat ke sekolah, Mommy langsung berangkat ke Shanghai. Besok lusa baru pulang. Mommy sudah meminta bibi Seo untuk tinggal disini sampai mommy pulang."


"Baik, Mom." Jawab Tae Yang lesu sambil menyuap sarapannya.


"Jangan bersedih. Mommy tidak lama kok. Lagipula paman JJ akan kesini jika pekerjaannya sudah selesai."


"Ya, Mom." Jawab Tae Yang lagi.


"Mommy akan menelponmu setiap hari."


"Baik, Mom."


Ae Ri menghela nafas panjang. Ia sangat mengerti tentang perasaan putra semata wayangnya itu. Jika waktu di Amerika ia tidak begitu sedih karena ada mamanya yang menemani. Sedangkan di sini ia sendirian.


"Maafkan mommy ya. Sebenarnya mommy juga enggan pergi meninggalkan Tae Yang sendiri. Tapi mommy harus pergi. Karena ada masalah di cabang mommy yang di Shanghai. Jangan marah pada mommy ya.."


"Aku tidak marah. Hanya sedih."


Ae Ri mendatangi anaknya yang duduk di hadapannya lalu memeluknya erat.


"Maafkan mommy.." Bisiknya pada anaknya yang tampan itu.


Tae Yang mengangguk.


"Jika mommy ingin membuatku tidak sedih lagi, mommy harus membolehkan aku bertemu dengan paman daddy."


Ae Ri menatap putranya dengan tajam.


"Whoaa.. Ternyata kau berbakat menjadi pebisnis handal Tuan Park!" Seru Ae Ri.


Tae Yang menyengir lucu.


"Bagaimana, boleh kan?" Tanyanya dengan mata yang membulat penuh harap.


"Oke jika itu maumu. Tapi jangan terlalu sering. Satu kali sebulan ya."


"Satu kali seminggu."


Ae Ri menggeleng.


"Oke. Dua kali sebulan. Deal? Kalau tidak setuju berarti dibatalkan."


"Oke deal, Mom!" Seru Tae Yang yang takut mommynya membatalkan keputusannya.


Ae Ri mengacak lembut rambut putranya yang sangat tampan itu.


***


"Selamat pagi. Silahkan duduk kembali." Kim Yo Han menyapa seluruh direksi dan kepala sekolah SD dan SMP Byeol.


Hari ini ia akan menunjuk direktur sekolah yang baru. Ia telah menyiapkan seorang kandidat yang cocok untuk menempati jabatan penting itu.


Setelah selesai pertemuan itu ia memanggil direktur yang baru dan kepala sekolah.


"Aku ingin kalian bisa bekerja sama dengan baik demi kemajuan sekolah ini. Ingat, jangan sampai ada skandal-skandal apapun di sini. Baik dari dewan direksi, guru maupun murid."


"Baik CEO Kim." Jawab direktur dan kepala sekolah.


"Aku tidak ingin ada permainan-permainan kecurangan dalam bentuk apapun. Begitu aku tahu, aku akan langsung mencari siapa biang keroknya."


"Baik, CEO Kim."


"Jadi intinya aku ingin sekolah ini bersih, tertib dan juga harus berprestasi. Aku menitipkan anak-anak dari agensiku. Jika nilai mereka turun segera laporkan pada sekretarisku. Dia yang akan mengatasi mereka."


"Baik, CEO Kim."


"Aku menyerahkan sepenuhnya sekolah ini pada kalian. Aku berharap kalian bisa membawa sekolah kita semakin bersinar lagi."


Ujar Kim Yo Han lalu berdiri untuk keluar ruangan.


"Oya, Kepala sekolah Yoon aku ingin bicara empat mata denganmu."


"Baik, CEO Kim."


Bu Yoon cepat-cepat menyusul Kim Yo Han.


Di ruang kepala sekolah Yoon.


"Aku sangat penasaran dengan orangtua khususnya mamanya Tae Yang. Aku merasa sangat dekat dengan anak itu. Aku sepertinya mengenal orang tuanya. Katakan padaku siapa dia, bu Yoon."


***