Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua Puluh Tujuh



'Tidak. Itu tidak boleh terjadi! Ia tidak boleh tahu lokasi rumahku!' Batin wanita itu.


Ia menepikan mobilnya dan Kim Yo Han pun melakukan hal yang sama.


Ae Ri mengambil ponselnya.


"Halo.." Suara Kim Yo Han terdengar.


"Apa maumu?! Mengapa kau mengikutiku!" Tanya Ae Ri garang.


"Ini masih sore nona Park. Apakah kau mau minum denganku? Sebentar?" Bujuk pria itu.


"Tidak mau. Aku sibuk."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Jalanlah!"


Ae Ri menggigit bibirnya karena menahan kesal.


"Ayolah minum denganku. Anggap saja bayaranku sebagai konsultan bisnismu."


Ae Ri tidak menjawab. Ia melajukan lagi mobilnya dengan perlahan. Namun kali ini ia tidak menuju rumahnya melainkan mencari kedai minum yang ia anggap ramai sehingga akan kurang nyaman untuk berlama-lama disana.


"Disini?" Tanya Kim Yo Han saat mereka sudah keluar dari mobilnya masing-masing.


Mereka berada didepan sebuah kedai yang sangat ramai. Kedai Malam Panas. Nama yang aneh menurut Ae Ri.


Ae Ri tidak menjawab dan melangkah masuk ke kedai itu. Ia tersenyum dalam hati melihat suasana didalam kedai yag hiruk pikuk dan sangat berasap. Sangat kontras dengan pakaian yang mereka berdua kenakan malam itu.


'Dia pasti merasa sangat tidak nyaman disini. Dan semoga saja makanannya juga tidak enak.' Batinnya karena ia pun belum pernah kesana sebelumnya.


Seorang pelayan menunjukkan meja kosong ditengah-tengah ruangan itu. Ae Ri segera duduk tenang disana dan memesan minuman dan daging bakar.


Kim Yo Han ikut duduk dihadapannya sambil memperhatikan suasana di kedai itu.


Ae Ri merasa puas saat melihat pria itu terlihat tidak nyaman.


Kim Yo Han memandanginya yang sudah mulai minum tanpa menawarinya. Wanita itu menuang soju untuk dirinya sendiri.


"Mengapa kau tidak minum? Bukankah kau bilang kau ingin minum?" Tanya Ae Ri.


"Maksudku bukan alkohol. Aku tidak bisa minum alkohol lagi."


"Lalu minum apa kalau bukan alkohol?" Tanyanya kesal.


"Kopi. Tadinya aku ingin mengajakmu ke kedai kopi langgananku."


"Aku tidak suka kopi!" Jawab Ae Ri asal-asalan, padahal ia sangat menyukai kopi.


Dengan asik dia menikmati minumannya dan daging bakar tanpa memperdulikan pria didepannya itu.


Kim Yo Han kini asik memandangi Ae Ri yang tampak lahap menikmati makanannya. Ia tersenyum kecil dan membantu membalik-balik daging bakar.


Sesekali ia ikut melahap juga, namun ia lebih banyak mendekatkan daging yang sudah siap santap ke arah Ae Ri.


"Kau ingin aku jadi gendut?" Omel Ae Ri.


"Kau tampak menyukainya. Makanlah yang banyak." Jawab Yo Han.


Ae Ri memang menyukainya karena ternyata makanan di kedai itu sangat enak.


"Bagaimana kabar Tae Yang?"


Ae Ri yang terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari pria itu terbatuk. Kim Yo Han cepat-cepat mengambilkan air putih untuknya.


"Bukankah kau memiliki nomor ponselnya? Kau bisa menanyakannya sendiri." Jawab Ae Ri setelah ia kembali tenang.


"Mana nona Shin Ha Na? Bukankah tadi kalian pulang bersama?" Ae Ri mencoba mengalihkan pembicaraan.


Kim Yo Han tersenyum lebar. Ia sedikit senang karena Ae Ri tampaknya cemburu padanya.


"Ya.. Dia mengajakku pulang bersamanya. Tapi kutolak karena tidak ingin ada seorang wanita yang bersedih." Jawabnya sambil memberikan sepotong daging pada Ae Ri.


Ae Ri terbelalak. Tangannya menunjuk ke dadanya dengan tatapan bertanya?


Kim Yo Han hanya tersenyum.


"Tampaknya anda sangat suka sekali berhayal tuan Kim. Atau anda memang selalu hidup dalam fatamorgana?" Ujar Ae Ri sinis.


Pria itu tertawa renyah.


"Ha Na teman baikku. Dulu kami satu manajemen dan kami debut diwaktu yang sama. Jadi sangat sering bertemu."


"Tampaknya ia gadis yang baik."


"Ya. Dia sangat baik."


"Mengapa kau tidak menjadikannya kekasihmu? Atau dia menolakmu?"


Kim Yo Han tertawa, tidak memberikan jawaban.


"Tetapi kasihan juga kalau dia sampai menjadi kekasihmu. Dia sangat cantik dan baik. Sedangkan kau.." Ae Ri sedikit melirik Kim Yo Han dari bawah sampai ke atas lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah memiliki seorang wanita dihatiku. Jadi tidak mungkin aku menerimanya"


Ae Ri tahu siapa wanita yang dimaksud oleh pria itu.


"Aku iba pada wanita itu." Ujarnya.


Kim Yo Han kembali tertawa.


Selama beberapa waktu mereka diam. Larut dalam pikirannya masing-masing. Ae Ri mulai merasakan sedikit pusing akibat alkohol yang ia minum.


Ae Ri melirik jam tangannya.


"Aku sudah mentraktirmu minum tuan Kim. Jadi hutangku sudah lunas. Sekarang aku ingin pulang dan istirahat. Ku harap kita tidak pernah bertemu lagi. Aku sungguh-sungguh berharap itu." Ujar Ae Ri dalam kondisi yang setengah mabuk.


"Baiklah. Sekarang biarkan aku mengantarmu. Kau tidak bisa mengendarai mobilmu."


"Tidak! Aku tidak mau duduk berdekatan denganmu lagi. Kalaupun seumpama kita berada ditengah laut dan hanya ada satu perahu, lebih baik aku mati tenggelam dari pada duduk berdua denganmu di perahu itu. Aku tidak mau. Tidak!" Kata Ae Ri dengan terbata-bata.


Kim Yo Han memandanginya dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.


"Baiklah. Tunggulah sebentar. Aku akan memanggilkan supir untukmu. Duduklah dulu." Kim Yo Han menuntun wanita itu agar duduk kembali di kursinya.


Beberapa saat kemudian Lee Chan datang dengan tergopoh-gopoh.


"Nona Park. Supirnya sudah datang kau bisa pulang sekarang?"


Lee Chan terbelalak. Ia mencoba mencerna permasalahan yang ada. Namun ia cepat tanggap saat Kim Yo Han mengedipkan matanya agar ia bisa bekerja sama dengan bosnya itu.


Ae Ri bangun dari duduknya dan terhuyung-huyung sedikit.


"Wah.. Kau masih muda dan sangat tampan. Aku suka." Ae Ri bertepuk tangan dan tertawa lebar.


"Mari kita pulang anak muda. Kau gagah sekali. Kau rajin olahraga?" Ae Ri menggandeng tangan Lee Chan dengan sedikit terhuyung.


Kim Yo Han mencoba menangkapnya namun Ae Ri cepat-cepat menepis tangan pria itu.


"Tolong antar dia dengan selamat. Hati-hati mengendarai mobilnya." Akhirnya Kim Yo Han menyerah.


Ia hanya bisa memandangi Ae Ri yang tertawa-tawa dengan Lee Chan sampai masuk ke dalam mobilnya.


"Maafkan aku tuan. Aku tadi memanfaatkan mu. Maafkan perlakuanku. Sungguh aku minta maaf." Ae Ri beberapa kali menundukkan kepalanya ke arah Lee Chan saat mobil sudah melaju. Suaranya kembali seperti biasa tanpa terlihat mabuk sama sekali.


Lee Chan memandangnya dari spion. Ia sadar bahwa gadis itu tidak mabuk sama sekali.


"Tidak apa-apa nona. Saya sering mengalami kejadian seperti tadi. Apakah anda sengaja ingin membuat kekasih anda cemburu?" Lee Chan tersenyum.


"Tidak. Bukan. Dia bukan kekasihku. Aku hanya ingin lepas darinya. Aku tidak menyukainya." Seru Ae Ri cepat.


"Dia seperti ulat yang terus ingin menempel padaku. Aku tidak suka."


Lee Chan tertawa. Antara lucu dan sekaligus sangat iba pada bosnya yang jatuh cinta pada wanita itu.


"Trimakasih atas bantuannya. Dan maaf tadi membuatmu tidak nyaman." Ae Ri membungkukkan tabuhnya sesaat setelah menerima kunci mobilnya dari Lee Chan.


"Ini terimalah sedikit tips sekaligus untuk menebus rasa bersalahku." Ia menyodorkan beberapa lembar uang kertas.


"Tidak. Jangan nona. Sesungguhnya akupun bersalah pada anda. Anggap saja kita impas."


"Maksudmu?"


"Sebenarnya saya bukan supir panggilan. Saya adalah sekretaris tuan Kim Yo Han nona. Nama saya Lee Chan." Lee Chan membungkukkan badanya.


"Apa?!" Ae Ri berseru. Cepat-cepat ia menutup mulutnya yang ternganga.


"Kau.." Ae Ri tidak dapat berkata-kata lagi.


"Maafkan saya nona." Ujar pria itu membungkukkan badan sekali lagi lalu melangkah pergi.


***


"Bagaimana tadi malam? Apakah dia baik-baik saja? Dimana rumahnya?" Kim Yo Han berdiri di depan meja Lee Chan dan langsung mencecar sekretarisnya itu begitu ia sampai dikantornya.


"Nona Park tadi malam hanya pura-pura mabuk untuk menghindari anda tuan Kim. Dia baik-baik saja." Ujar Lee Chan dengan santai sambil terus mengetik di komputernya.


"Kau jangan mengada-ada."


"Sungguh. Ia bahkan mengatakan begini.."


Lee Chan berdiri dan mengubah cara bicaranya seperti gaya perempuan


"Dia seperti ulat yang terus ingin menempel padaku. Aku tidak suka." Ujar Lee Chan menirukan Ae Ri.


Plak! Kim Yo Han menampar pipi Lee Chan.


"Auwh... Kau sungguh kejam! " Lee Chan memegang pipinya pura-pura kesakitan seperti seorang wanita, meski sebenarnya tamparan bosnya tidak sakit.


"Berhentilah bercanda Lee Chan! Masih pagi begini tapi tingkahmu membuatku ingin memecatmu."


"Ampun bos. Jangan.. Aku tidak bercanda. Nona Park memang mengatakan hal itu. Baiklah ini buktinya." Lee Chan mengeluarkan ponselnya dan memperdengarkan percakapan mereka didalam mobil tadi malam.


Tanpa sepengetahuan Ae Ri, ia telah merekam pembicaraan mereka.


Kim Yo Han mendengarkan dengan lesu.


Hingga kata-kata terakhir Lee Chan mengaku bahwa ia adalah sekretaris Kim Yo Han.


"Kau mengaku padanya?!" Tanya Kim Yo Han kesal.


Lee Chan cepat-cepat mematikan rekaman suara di ponselnya. Mimik wajahnya sudah pasrah di marah bosnya.


"Lebih baik kuberitahu sekarang daripada dia tahu nanti bos. Dia pasti akan sangat marah pada anda." Ujar Lee Chan pelan.


Kim Yo Han tidak mengatakan apapun. Ia hanya merebut ponsel Lee Chan dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.


"Bos.. Ponselku.." Lee Chan ingin berteriak namun tidak berani karena bosnya sudah menghilang dibalik pintu.


***


Kim Yo Han memandangi ponsel Lee Chan. Sudah berkali-kali ia mendengarkan rekaman suara Ae Ri.


Hatinya seperti hancur berkeping-keping.


'Apakah ia begitu sangat membenciku? Tidak bisakah aku mendekatinya, mencoba memilikinya? Apakah sama sekali aku tidak menarik baginya?'


'Apakah aku harus mundur?'


'Aku ingin berada di dekatnya. Namun jika aku di dekatnya dia tidak bahagia? Apa yang harus ku lakukan?'


"Bagaimana caranya agar dia mau menerimaku?'


Ia begitu putus asa. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Kim Yo Han hingga ia merasa sakit kepala.


***


Park Ae Ri benar-benar sangat kesal dengan Kim Yo Han. Ia sama sekali menghilang beberapa hari ini.


'Jika aku tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana aku bisa menyakitinya?!' Serunya kesal.


"Tae Yang.. Apa tuan Kim menelponmu?"


"Ya, kemarin."


"Di mana dia?"


"Di rumahnya."


"O.. Jadi tidak keluar kota?"


"Tidak. Kenapa Mom?"


"Tidak apa-apa."


"Mommy ingin bertemu dengannya?"


"Tidak!!" Seru Ae Ri dengan suara lantang. Tae Yang sampai terkejut dan menatapnya heran.


"Apakah hari ini paman JJ jadi mengajak kita jalan-jalan?"


"Jadi. Dia sedang dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi sampai. Kau sudah siap kan?"


"Sudah Mom!" Seru Tae Yang.


***