
Di depan pintu rumah Ae Ri tampak nyonya Park Hae Sun mamanya Ae Ri dan tuan pandai besi tersenyum bahagia melihat kedatangan Kim Yo Han. Mereka berdua sangat serasi dengan pakaian adat Korea.
"Yo Han putraku. Bagaimana kesehatanmu? Kau tampak kurus sekali." Ujar Pandai Besi sedikit khawatir.
"Aku baik ayah. Nyonya Park aku turut berbahagia atas pernikahan putri anda." Jawab Kim Yo Han. Ia berusaha memamerkan senyuman yang paling manis. Meski hatinya berkata lain.
Nyonya park tersenyum.
"Aku bahagia kau bisa datang hari ini Yo Han. Maafkan aku jika pertemuan terakhir kita kurang enak." Wajah cantik itu tersenyum.
"Tidak apa-apa nyonya. Aku memang pantas mendapat hukuman atas semua kejahatanku." Kim Yo Han sedikit menunduk.
"Sudahlah. Sekarang hari bahagia. Jangan kita bahas lagi kisah dahulu kala. Ayo masuk. Acara akan segera dimulai." Buru-buru nyonya Park mengalihkan pembahasan itu.
Kim Yo Ha mandang sekeliling rumah yanh dimasukinya. Beberapa hiasan rangkaian bunga putih dan pink menghiasi rumah itu. Terasa sangat indah dan harum.
Rumah Ae Ri yang tidak terlalu besar ditata dengan rapi. Disana sudah ada beberapa teman dekat Ae Ri. Tidak banyak hanya sekitar 4 sampai 5 orang. Ada pemain piano yang asik memainkan lagu romantis dan juga Ayah ibu Ae Ri, Lee Chan dan Kim Yo Han.
"Hanya mereka tamu undangannya?" Bisik Kim Yo Han pada Lee Chan.
Lee Chan hanya mengangkat bahu.
Piano mulai berdenting memainkan sebuah lagu pengiring pengantin.
Tampak Tae Yang yang memakai setelan jas berwarna putih keluar dari kamar Ae Ri berhenti dan menunggu Ae Ri keluar dari kamar. Wanita itu tampak sangat anggun dalam gaun putih dengan kerah model sabrina. Ia berjalan perlahan keluar dari kamarnya digandeng oleh Tae Yang putra kecilnya.
Ae Ri tampak sangat cantik saat tersenyum manis. Kim Yo Han tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
Kim Yo Han tiba-tiba tersadar. Ae Ri dan Tae Yang mendatanginya. Jantungnya berdegup semakin kencang.
Sampai di dekat nya, Tae Yang sedikit berlari dan memeluk Kim Yo Han.
"Paman daddy aku merindukanmu." Bisik Tae Yang.
"Tae Yang.." Bisik Kim Yo Han. Bibirnya tak sanggup mengucapkan kata-kata. Kedua tangannya memeluk erat tubuh mungil putranya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan air matanya.
"Baiklah Tae Yang. Bukankah ada sesuatu yang ingin kau katakan pada tuan Kim Yo Han? Coba katakan sekarang." Nyonya Park Hae Sun berbicara.
Tae Yang melepaskan pelukannya. Perlahan ia mundur sedikit dan berdiri disamping mamanya menghadap Kim Yo Han.
"Tuan Kim Yo Han.." Ujarnya.
"Ya.." Jawab Kim Yo Han.
"Apakah tuan Kim Yo Han mau menikahi mamaku, nona Park Ae Ri dan menjadi daddyku?" Tanya bocah laki-laki itu dengan sorot mata beningnya.
Kim Yo Han terbelalak. Ia tidak sepenuhnya memahami apa yang tengah terjadi. Ia memandangi setiap orang diruangan itu. Semua tersenyum padanya. Bahkan Ae Ri pun tersenyum.
Kini bibirnya pun tanpa ia sadari ternganga lucu, hingga membuat beberapa orang terkikik.
"Tuan Kim.." panggil Tae Yang.
"Oh.. Eh.. Emm.. Maksudmu bagaimana?" Kim Yo Han kebingungan.
"Apakah tuan Kim mau menikah dengan mommyku dan menjadi daddyku? Kenapa jawabnya lama sekali?" Kini suara Tae Yang semakin meninggi. Ia tampak sedikit kesal.
"Mau. Aku mau! Sungguh!!" Jawab Kim Yo Han serius dan sungguh-sungguh seolah-olah takut kehilangan kesempatan.
Dan seketika tepuk tangan riuh memenuhi ruangan itu.
Perlahan Ae Ri berjalan menghampiri kursi roda Kim Yo Han. Namun tiba-tiba seisi ruangan terperangah karena Kim Yo Han berdiri dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Ae Ri.
Ia memeluk Ae Ri dengan erat seakan takut kehilangan wanita itu.
"Daddy bisa berjalan!!" Tae Yang berseru kegirangan.
Kim Yo Han kini memeluk Tae Yang putra yang menjadi kekuatannya saat ia terpuruk.
Nyonya dan tuan Park, Lee Chan dan nona Kang sekretaris Ae Ri tak dapat membendung air mata mereka. Mereka sangat tahu bagaimana kedua orang itu saling mencintai namun juga saling menyakiti karena kepolosan pemikiran mereka berdua.
Malam itu semua tersenyum. Senyum yang lebih indah dari bulan purnama diatas langit sana. Mereka menghabiskan malam dengan tertawa bahagia.
Kim Yo Han memandang langit-langit kamar Ae Ri. Tangannya membelai rambut lurus Ae Ri yang berbaring didadanya. Ia masih merasa semua ini seperti mimpi.
"Aku merasa hari ini seperti mimpi. Aku takut tertidur dan bangun dengan keadaan yang berbalik."
Ae Ri menengadah agar bisa memandang wajah Kim Yo Han. Kemudian tangannya menyubit pipi pria itu dengan kuat.
"Aduh! Sakit.." Seru Kim Yo Han sambil mengelus pipinya.
"Jadi ini bukan mimpi tuan." Senyum Ae Ri.
"Mengapa kau tidak jadi menikah dengan Ahn Jae Hyun? Dimana dia sekarang?" Tanya Kim Yo Han penasaran.
"Dia akan menikah dengan gadis lain." Jawab Ae Ri.
"Bukankah ia mencintaimu?"
"Ia pergi ke Amerika. Entahlah. Setelah aku
menolak untuk menikah dengannya ia pergi. Ia bilang ingin lepas dari keluarganya. Semoga ia bahagia dengan pilihannya. Meski aku sedikit merasa bersalah." Ujar Ae Ri. Ia sangat sedih kehilangan sahabat seperti Jae Hyun.
"Sudah lupakan dia. Tolong jangan memikirkan pria manapun selain aku, suamimu." Kim Yo Han mencium pucuk kepala Ae Ri dengan lembut.
Ae Ri tertawa ia belum terbiasa mendengar kata suami.
"Kau bukan suamiku. Kita belum menikah. Tadi cuma acara lucu-lucuan yang disiapkan Lee Chan dan Tae Yang saja." Jawab Ae Ri tenang.
"Jadi ini hasil karya mereka berdua." Seru Kim Yo Han.
"Ya. Tae Yang dan Lee Chan terus merengek padaku."
"Aku harus menyiapkan hadiah istimewa untuk mereka. Bagaimana kalau kita ajak mereka jalan-jalan. Ke Jepang misalnya. Tapi kupikir kita harus menikah dulu sebelumnya. Kau setuju kan?" ujar Kim Yo Han dengan semangat.
"Biar kupikirkan dulu. Kapan-kapan baru kujawab. Sekarang sudah malam ayo tidur." Jawab Ae Ri sambil memapankan dirinya untuk tidur disamping Kim Yo Han.
"Tidak. Kau harus menjawabnya sekarang. Tidak perlu kau pikir-pikirkan lagi. Aku tidak mau tidur sebelum kau menjawabnya." Kim Yo Han bingung dan mulai mengelitiki Ae Ri.
"Jangan. Geli.." Seru Ae Ri sambil tertawa.
"Tunggu dulu!" Ujar Ae Ri.
"Sejak kapan kakimu sembuh dan bisa berjalan lagi?" Tanyanya tiba-tiba.
"Emm.. Sejak minggu lalu.. Atau dua minggu lalu.. Aku lupa." Jawab Kim Yo Han santai.
"Jadi selama itu kau berpura-pura? Aku merawatmu mengangkat-angkat tubuhmu tapi ternyata kau sudah bisa berjalan. Wah.. Kau keterlaluan sekali. Kau menipuku."
"Kau juga menipuku dengan mengatakan kau akan menikah."
"Waah.. Aku kesal sekali.." Guman wanita itu.
"Waah.. Aku kesal sekali.." Kim Yo Han meniru ucapan Ae Ri.
Ae Ri meninju lengan Kim Yo Han. Pria itu tertawa sambil mengelus lengannya.
"Sakit.." Ujarnya manja.
"Kau mau kupukul lagi?" Suara Ae Ri meninggi.
"Jangan.. Jangan pukul dong sayang. Tapi kalau cium bolehlah.." Ujarnya sambil cengengesan.
Ae Ri mencubit pelan lengan pria disisinya itu. Kim Yo Han tertawa dan memeluk tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku sangat bahagia bersamamu." Bisik Kim Yo Han.
Dan Ae Ri pun menganggukkan kepalanya dalam pelukan Kim Yo Han. Mereka saling mengeratkan pelukannya, seolah enggan untuk berpisah lagi.
Dari kaca jendela tampak angin hangat di musim panas meniup lembut pohon di halaman rumah bercat putih itu. Sehangat pelukan dua insan yang saling melepaskan rindu di dalamnya.
Tamat.