
Ae Ri membelai kepala putra semata wayangnya itu.
"Bukankah teman-teman sekolahmu tahu bahwa kau anak mommy. Bahkan bu dokter di rumah sakit juga tahu." Ujarnya dengan lembut.
"Itu kan karena paman daddy. Kalau bukan karena dia mommy pasti tetap merahasiakan aku." Protes Tae Yang.
Ae Ri menghela nafas lagi. Kini rasanya ia tidak lagi dapat menahan rasa sesak di dadanya itu.
"Maafkan mommy sayang. Itu semua untuk kebaikanmu. Jika terlalu banyak orang mengetahui kau anak mommy, kemungkinan akan ada orang jahat yang akan memisahkan kita. Kau mau berpisah dengan mommy?" Ujar Ae Ri perlahan.
Tae Yang menoleh pada mommynya dan menggeleng dengan cepat. Matanya tampak sedikit cemas.
"Jangan khawatir. Mommy akan selalu melindungimu sayang. Jadi sekarang, mommy minta kerjasamamu ya. Jangan sampai orang-orang tahu tentang kita. Terutama tuan Kim. Oke?" Bujuk Ae Ri.
Tae Yang mengangguk meski sedikit ragu. Ae Ri tersenyum merasa lega. Setidaknya untuk saat ini.
***
Park Ae Ri hari ini merasa sangat lega karena pergelaran perdananya berjalan dengan sangat sukses. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut juga efek manis hasil kerjasamanya dengan kedua pria hebat Kim Yo Han dan Ahn Jae Hyun.
"Selamat sore nona Park Ae Ri. Saya Go Ah Ra. Kami dari acara Talk Show Superstar ingin mewawancarai anda untuk edisi khusus kami bulan depan. Apakah anda bersedia nona?"
Ae Ri sebenarnya ingin melompat karena merasa sangat girang. Hal ini yang sudah ia tunggu-tunggu. Karena dengan masuknya ia di acara ternama itu pasti akan menambah sukses brand nya di Korea.
"Maaf maksudnya edisi khusus apa ya, nona Go?" Ae Ri berpura-pura sedikit jual mahal.
"Edisi khusus pebisnis sukses dibawah 35 tahun nona."
Ae Ri terdiam beberapa saat. Ia tidak ingin jurnalis itu menganggapnya gampangan.
"Kapan wawancaranya?" Tanya wanita itu.
"Acara kami setiap hari Sabtu dan kami mengundang anda Sabtu pertama bulan depan nona. Apakah nona Park Ae Ri bersedia? Apakah bisa?" Nona Go terlihat sangat berharap padanya.
Ae Ri melihat jurnalnya di Ipad. Walau sebenarnya ia tahu bahwa hari itu ia belum memiliki jadwal penting.
"Oke, baiklah. Nanti kabari lagi mengenai jam dan tempatnya." Jawab Ae Ri sambil tersenyum.
"Oh baiklah nona Park. Saya lega sekali anda akhirnya bersedia. Tuan Kim Yo Han juga akan kami wawancarai di hari yang sama. Ia sudah kami tanyai apakah bersedia diwawancarai bersama anda. Dia bersedia nona. Jadi nanti kami akan mengupas sedikit tentang kesuksesan kerjasama anda berdua hari ini nona. Tadinya kami juga mengundang tuan Ahn Jae Hyun, tapi sayang dia tidak bisa karena bertepatan dengan acara lain." Nona Go tampak sangat bersemangat.
Untuk sesaat Ae Ri tercekat. Jika ia langsung menolak maka akan ada skandal yang beredar di tengah jurnalis. Di lain pihak ini adalah kesempatan penting untuk mendongkrak nama butiknya yang baru masuk di pasar Korea.
"Ba..baiklah." Ae Ri hanya bisa menjawab dengan terbata-bata. Ia ragu apakah ini langkah yang tepat baginya.
Nona Go Ah Ra membungkuk dan berlalu dengan semangat yang berkorbar, meninggalkan Ae Ri yang bingung dan sedikit cemas.
Kedua matanya menyapu keramaian di hall itu. Masih banyak tamu-tamu dan penonton pamerannya yang berlalu lalang meski acara sudah selesai.
Tiba-tiba ia menangkap satu sosok pria tampan yang berdiri jauh darinya. Seperti biasa ia tampak menyendiri ditengah keramaian itu. Pria bertubuh tinggi itu tengah memandanginya.
Kim Yo Han tampak sedikit terkejut saat Ae Ri balas memandangnya dari kejauhan. Lalu tanpa disangka Ae Ri, bibir pria itu merekah senyum yang indah. Sangat manis dan hangat.
Sontak Ae Ri ingin membalas senyuman itu. Namun buru-buru ia tahan. Ia cepat-cepat berpaling dan berjalan masuk ke ruangan samping yang disulap menjadi wardrobe sementara. Didalam ruangan itu masih banyak terdapat model-model dari YH Management dan juga beberapa karyawannya sendiri.
"Bagaimana nona Kang? Apakah semua oke?" Ia bertanya pada asistennya yang ia percaya untuk mengurus semua item yang dipamerkan hari ini. Jantungnya masih berdegup tak beraturan karena terhipnotis senyum yang memabukkan tadi.
"Baik nona Park. Sudah lengkap semuanya." Jawabnya mantap.
"Baiklah kalau begitu. Segera diurus kembali ke butik ya. Kerja bagus hari ini. Terimakasih ya pada kalian semua. Acara ini sukses berkat kalian semua." Ae Ri menundukkan diri dan menebarkan senyumannya pada beberapa pegawainya dan juga para model.
"Sama-sama nona Park." Jawab mereka kompak dan membalas membungkukkan badannya.
Setelah semua beres Ae Ri bergegas menuju area parkir. Ia bersikeras tidak mau diantar oleh Jae Hyun karena ia takut dilihat oleh para pegawai pria itu dan dilaporkan pada ayah Jae Hyun.
Dengan tenang ia mengemudikan mobilnya. Namun tiba-tiba di jalan ia merasa ada yang tidak beres dengan mobilnya. Perlahan ia menepi. Ia mencoba menghidupkan kembali mobilnya namun tidak berhasil hidup sama sekali.
Ae Ri keluar dari mobilnya. Ia tampak bingung karena tidak memahami mesin mobil. Ae Ri mengambil ponselnya.
Baru saja ia mencari-cari nomor telpon, sebuah mobil hitam tiba-tiba menepi di depan mobilnya. Jantung Ae Ri berdegup kencang saat melihat seorang pria yang turun dari mobil itu.
"Kenapa?" Kim Yo Han bertanya dengan cemas.
"Entahlah." Jawab Ae Ri malas. Ia sedikit curiga. Mengapa pria itu bisa ada di situ disaat yang pas.
'Jangan-jangan dia yang merusak mobilnya!' Ujarnya dalam hati.
"Kutelponkan dealer servisnya ya. Tunggu sebentar." Kim Yo Han mengeluarkan ponselnya.
"Jangan khawatir sebentar lagi mereka akan segera kesini." Ujar pria itu setelah berbicara beberapa waktu dengan seseorang di ponselnya. Ae Ri diam saja tak menjawab, walau seharusnya ia mengucapkan terima kasih.
"Lebih baik menunggu didalam mobil saja nona Park Ae Ri. Ayo masuk ke mobilku saja. Diluar sangat dingin." Ujar Kim Yo Han.
Ae Ri hanya diam. Ia tak memberikan respon apapun. Membuat Kim Yo Han sedikit gelisah.
"Jika kau tidak nyaman berada di dekatku, kau saja yang masuk. Aku akan menunggu disini." Yo Han membuka kunci mobilnya dengan kontrol jarak jauh.
"Masuklah." Bujuknya.
Ae Ri melirik sebentar pada pria itu dan menurut. Ia masuk dan duduk dengan nyaman di dalam mobil hitam pria itu. Ia segera menghidupkan penghangatnya untuk menghangatkan tubuhnya yang hampir beku.
"Ahh.. Hangat.." Ujarnya lega.
Dari kaca spion ia melirik ke belakang mobil. Tampak Kim Yo Han berdiri kedinginan dengan kedua tangannya ia simpan disaku celananya. Ada rasa sedikit rasa kasihan pada pria itu. Namun ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Ia tak pantas mendapat belas kasihanku." Bisik Ae Ri.
Sekitar setengah jam kemudian mobil servis datang. Ae Ri hanya menonton dari spion saat Kim Yo Han tampak ikut sibuk memperhatikan dan berbincang dengan kru servisnya.
Beberapa saat kemudian Kim Yo Han mengetuk jendela mobil disamping Ae Ri. Ae Ri menurunkan kacanya sedikit.
"Ada korsleting pada kelistrikan mobilmu. Jadi mobilmu harus dibawa ke bengkel. Mungkin besok atau lusa baru bisa selesai diperbaiki." Lapor Yo Han.
Ae Ri terdiam beberapa saat. Ia sedikit merenung karena merasa bingung.
Kim Yo Han memperhatikan wajah cantik wanita itu.
"Mereka menunggu keputusanmu nona Park." Bisik Kim Yo Han lembut.
Ae Ri tersadar.
"Ya.. Baiklah." Jawabnya sedikit ragu. Kim Yo Han mengangguk.
Kim Yo Han kembali ke arah mobil Ae Ri. Dengan sigap ia mengambil tas wanita itu dan menyerahkan kunci pada kru servis.
Seketika Ae Ri tersadar ia tengah berada di dalam mobil pria itu. Dengan cepat ia keluar dari mobil itu. Dan saat Yo Han sudah berada di dekat nya ia merebut tasnya.
Kim Yo Han tampak sangat terkejut melihat sikap wanita itu.
Ae Ri berjalan sedikit ketengah jalan untuk mencari taksi.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kim Yo Han.
Ae Ri memutuskan untuk tetap diam. Ia bertekad harus segera menjauh dari pria itu.
"Aku akan mengantarmu. Kita searah nona Park. Jangan menyusahkan diri seperti itu." Ujar pria itu sedikit berteriak untuk mengalahkan kebisingan kendaraan di jalanan.
Ae Ri masih tetap diam. Matanya terus memperhatikan kendaraan yang lewat.
Ia merasa sangat kesal mengapa saat dibutuhkan selalu saja taksi itu sulit didapat. Tidak seperti di drama-drama televisi yang tokohnya selalu dapat taksi dengan mudahnya.
Kim Yo Han meraih tangan Ae Ri karena merasa diabaikan.
Ae Ri yang terkejut karena pria itu memegang tangannya langsung otomatis ia melepaskan diri dan mendorong pria itu hingga hampir terjatuh.
"Tolong jangan ganggu aku." Ujar Ae Ri dingin.
Kim Yo Han memandangi wanita dihadapannya itu.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk mengganggumu. Aku hanya ingin kau aman. Biarkan aku mengantarmu." Jawabnya.
Ae Ri tertawa sinis.
"Justru aku merasa paling tidak aman saat berada di dekatmu tuan Kim. Maafkan aku."
Ae Ri akhirnya merasa lega saat sebuah taksi berhenti didepannya. Dengan cepat ia masuk ke taksi itu dan meninggalkan Kim Yo Han yang terdiam mematung menatap kepergiannya.
Kim Yo Han masuk ke mobilnya dan segera mengikuti pergerakan taksi yang membawa Ae Ri. Hingga akhirnya sampai di depan rumah wanita itu.
Ae Ri turun dari taksi dan menoleh pada mobil hitam milik Kim Yo Han. Ia memandang dengan rasa tidak suka.
Kim Yo Han tetap berada di dalam mobil menunggu Ae Ri masuk ke rumahnya dan barulah ia beranjak meninggalkan tempat itu.
Berbagai pikiran berkecamuk didalam kepala Kim Yo Han. Kata-kata terakhir wanita itu tadi sangat mengganggunya.
Ia sangat menyesal atas apa yg terjadi saat berada di rumah biru itu. Jika saja saat itu ia bisa menahan diri, pasti wanita itu tidak akan membencinya.
***