
Ae Ri meliriknya dengan kekesalan yang menumpuk. Dengan marah ia berdiri dan mendorong kursinya lalu duduk dihadapan pria itu dan mengambil sebuah boks berisi bimbimbab.
Dengan emosi ia mencampur nasi itu dan memakannya cepat. Ia ingin segera selesai sehingga pria itu bisa segera pergi dari ruangannya.
Kim Yo Han membuka kotak-kotak yang lain. Ia menyodorkan sebuah kotak yang berisi bulgogi dan kimci. Lalu dengan tenang ia juga memakan bimbimbabnya sambil memandangi wanita dihadapannya itu.
Ae Ri hanya bisa menghela nafas dengan kesal. Lalu mencoba menyibukkan diri dengan menggambar disainnya.
"Aku mau membuat setelan jas." Ujar Yo Han tiba-tiba.
Ae Ri pura-pura tidak mendengar. Ia tetap sibuk dengan gambarnya.
"Mana pilihan disainnya? Akan kupilih." Kim Yo Han mendatangi meja Ae Ri dan menunggu didepan wanita itu.
Ae Ri meliriknya kesal. Lalu meraih sebuah buku yang berbentuk seperti majalah dan menyerahkannya pada Kim Yo Han.
Setelah menerima katalog itu, Yo Han kembali duduk di sofa. Ia membalik setiap halaman sambil menikmati makanannya dengan santai. Membuat Ae Ri bertambah kesal.
Akhirnya setalah hampir satu jam Kim Yo Han menyelesaikan makannya.
"Menurutmu jas mana yang bagus untukku?"
"Bagus semua." Jawab Ae Ri cepat.
"Baiklah. Aku akan memilih yang ini. Kau bisa mengukurku sekarang."
Ae Ri menatap pria itu dengan pandangan kesal.
Dengan malas ia mengambil metlin dan buku catatannya.
"Silahkan berdiri disini." Perintah Ae Ri.
Kim Yo Han segera berdiri dan mendekat ke arah Ae Ri.
Ae Ri mengukur bagian pundak pria itu. Tubuh keduanya kini berada sangat dekat.
Dari jarak yang sangat dekat itu kedua mata Kim Yo Han terus memandangi wajah Ae Ri. Jika tidak dapat menahan diri mungkin ia sudah memeluk tubuh wanita itu.
"Tolong angkat sedikit tanganmu." Ujar Ae Ri. Ia akan mengukur lingkar dada pria itu.
Ae Ri merasakan debaran jantungnya melaju sangat cepat saat ia harus memeluk pria itu untuk mengambil ujung metlin di punggung Yo Han.
Aroma harum dari parfum pria itu semakin membuatnya berdebar. Ia mendongak untuk melihat wajah pria tampan itu.
Dan ternyata Kim Yo Han pun sedang memandanginya.
Posisi keduanya sangat intim. Dan mereka seperti terhipnotis mematung selama beberapa waktu.
Kim Yo Han perlahan menundukkan kepalanya. Bibir pink Ae Ri benar-benar telah memikatnya. Dan makin lama bibirnya semakin dekat dengan bibir Ae Ri.
Kim Yo Han melihat Ae Ri memejamkan matanya dan kesempatan itu ia pakai untuk mencium bibir Ae Ri dengan lembut.
Kedua tangannya yang semula ia rentangkan perlahan turun dan memegang kepala Ae Ri. Dan seluruh gairah yang selama ini ia tahan ia tumpahkan lewat bibirnya.
***
Selama beberapa detik Ae Ri seperti terhipnotis. Tanpa ia sadari ia membalas ciuman Yo Han. Ciuman memabukkan yang selalu saja terbayang-bayang di kepalanya.
Namun tiba-tiba sebuah ketukan di pintu membuat ia tersadar. Dengan segenap kekuatan yang ia miliki ia mendorong tubuh Kim Yo Han.
Pria itu terjatuh dengan keras. Untung dibelakangnya ada sofa sehingga ia terjengkang di tempat yang aman.
Sekretaris Kang yang baru saja membuka pintu terkejut saat melihat bosnya mendorong pria itu.
Sesaat kemudian ia tersadar bahwa ia masuk disaat yang tidak tepat.
"Ma..maafkan saya nona. Saya akan kembali lagi nanti."
"Tidak! Tidak apa-apa nona Kang. Ada apa?" Seru Ae Ri dengan suara yang terdengar sedikit gugup.
Sementara Kim Yo Han sudah mengubah posisinya menjadi duduk sambil menyilangkan salah satu kakinya.
"A..ada.. Maksud saya nona Shin Ha Na sudah datang nona.." Jawab Nona Kang dengan gugup dan perasaan bersalah.
Kim Yo Han menoleh saat sekretaris itu menyebut nama Ha Na.
"Baiklah suruh dia masuk."
Nona Kang mengangguk ke arah Ae Ri dan Kim Yo Han lalu meninggalkan ruangan.
"Ada perlu apa Ha Na kesini?" Tanya Kim Yo Han penasaran.
"Bukan urusanmu. Pergilah aku mau bekerja."
Belum sempat Yo Han menjawab, suara pintu diketuk dan Shin Ha Na masuk ke ruangan itu. Ia tampak sedikit terkejut melihat Yo Han disana.
Wanita yang cantik dan anggun itu semakin mempesona dalam balutan dress selutut berwarna coklat muda dan mantel berwarna merah yang sama panjang dengan dressnya.
"Selamat siang nona Shin. Silahkan duduk. Tuan Kim sebentar lagi akan pergi." Ae Ri menyambut kedatangan Ha Na dengan ramah. Ia mengajak Ha Na duduk di sofa merah.
Kim Yo Han cepat-cepat membereskan kotak-kotak bekas tempat makanan mereka yang belum sempat dibersihkan.
"Aku tidak menyangka bertemu tuan Kim disini. Dan tampaknya kalian berdua akrab." Ujar Ha Na dengan senyum manisnya.
"Tidak. Kami tidak akrab. Dia hanya ingin membuat pakaian disini." Jawab Ae Ri cepat.
Kim Yo Han baru membuka mulutnya namun ia tutup kembali.
"Jika tahu kau akan kesini kita bisa datang bersama kesini Yo Han. Kau tidak bilang." Shin Ha Na tersenyum manja pada pria itu.
Ae Ri sedikit risih mendengar wanita itu memanggil Yo Han dengan akrab.
"Mumpung kau disini aku mau minta tolong. Pilihkan gaun untuk kupakai saat ulang tahunku bulan depan. Oya, kau tidak lupa ulang tahunku kan?"
'Dasar laki-laki. Mudah saja dirayu oleh wanita cantik.' Ae Ri mengomel dalam hati.
"Boleh aku lihat katalog anda nona Park."
Ae Ri mengulurkan dua buah buku besar kepada Ha Na.
"Ini katalog premium yang terbaru nona. Ini edisi khusus dan terbatas." Ujar Ae Ri.
"Sini!" Ha Na memanggil Yo Han agar duduk di sebelahnya. Yo Han menurut.
Selama beberapa waktu mereka berdua tampak sibuk dengan pilihan gaun untuk Ha Na. Ae Ri berusaha menahan diri dari ketidaknyamanan itu.
"Kalau yang ini?" Tanya Ha Na setelah beberapa kali mengalami pertentangan pilihan.
Kim Yo Han memandangi gaun yang ditunjuk Ha Na.
"Jangan. Ini terlalu terbuka. Kau mau jadi tontonan banyak orang."
"Mau. Aku memang dibayar agar banyak orang menontonku." Jawab Ha Na sambil tertawa manja. Kim Yo Han menoleh padanya dengan kesal.
"Oke.. Oke.. Jadi yang mana yang cocok untukku. Aku bingung sekali. Disainnya bagus-bagus semuanya. Nona Park anda memang jenius. Pantas saja banyak yang memuji anda." Shin Ha Na tersenyum pada Ae Ri.
"Terimakasih nona Shin. Semoga anda puas nanti dengan hasilnya." Jawab Ae Ri dengan senyumannya. Kim Yo Han ikut tersenyum saat melihat senyum bahagia wanita itu. Namun saat Ae Ri menyadari itu ia menghentikan senyumnya.
Shin Ha Na diam-diam memperhatikan keduanya dan tertawa geli.
"Yang ini bagus. Pasti akan cocok denganmu."
"Mana? Ini? Tapi aku tidak suka warna itu."
"Anda bisa reqeust warna dan bahan yang sesuai dengan keinginan anda nona." Jawab Ae Ri.
"Okelah kalau begitu. Aku mau warna silver ya. Untuk bahannya aku akan ikut pilihan anda nona Park. Tapi aku ingin kau menambah aksen baru pada gaun itu jadi tidak sama persis dengan yang digambar."
"Baiklah kalau begitu. Saya akan memberi gambar disainnya terlebih dahulu nanti. Kita bisa mengukur sekarang nona Shin. Mari."
Dengan telaten Ae Ri mengukur sendiri tubuh kliennya itu. Sedang Kim Yo Han memandanginya dengan intens.
Sesekali Ae Ri melirik pria itu. Ia sedikit berdebar melihat mata elang itu terus menatapnya. Namun sekuat tenaga ia memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Sudah selesai nona. Dua atau tiga hari lagi aku akan mengirim foto disainnya. Jika cocok langsung akan kami kerjakan. Mungkin butuh waktu dua sampai tiga minggu akan selesai."
"Baiklah. Saya tunggu nona Park. Terimakasih banyak."
"Saya juga berterimakasih nona Shin. Semoga nanti acara ulang tahun anda sukses."
"Ya nona Park. Terimakasih banyak. Jika anda tidak sibuk bisakah anda juga datang ke pesta saya. Nanti akan saya berikan undangannya."
"Baik nona semoga saya bisa datang. Pasti akan seru sekali pestanya."
Kedua wanita itu tertawa bersama.
"Saya pamit dulu nona Park. Sampai jumpa lagi."
Mereka saling membungkukkan badan.
"Kau masih mau disini atau pulang bersamaku Yo Han?" Tanya Ha Na pada Kim Yo Han.
"Aku juga harus pergi. Ada pekerjaan di kantor. Saya permisi nona Park. Jangan lupa hari Sabtu ya. Ku tunggu kabar darimu." Kim Yo Han buru-buru menyusul Ha Na yang sudah sampai di depan pintu ruangan Ae Ri.
Ae Ri menghela nafas.
'Jika sudah ada Shin Ha Na mengapa ia terus mendekatiku?' Batin Ae Ri tidak tenang.
Namun sesaat kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Biarkan saja dia! Aku tidak boleh terpengaruh dengannya. Anggap pria itu tidak ada.'
Ae Ri tiba-tiba memukul kepalanya.
'Argh!! Mengapa tadi aku diam saja saat dia menciumku. Mengapa!!' Ia berteriak dalam hati dengan kesal.
'Brengs*k kau Kim Yo Han! Aku harus membalasnya!'
Otak Ae Ri bekerja sangat keras memikirkan pembalasan apa yang akan ia lakukan agar pria itu merasa sakit hati dan menderita.
***
Kim Yo Han berjalan disamping Shin Ha Na saat keluar dari butik Liberty. Semua pasang mata yang ada disana memperhatikan keduanya.
"Bukankah itu penyanyi Shin Ha Na? Mengapa dia bersama kekasih nona Park." Bisik seorang pramuniaga.
"Nona Park bilang tuan Kim bukan kekasihnya." Jawab gadis lain yang berdiri didekatnya.
"Tampaknya kau cukup populer di butik pacarmu ini tuan Kim." Ujar Ha Na setelah mereka keluar dari pintu butik.
Kim Yo Han tidak menjawab.
Ha na menoleh pada pria disampingnya yang tampak cuek itu.
"Kau hanya ramah padaku saat didepan nona Park. Dasar!" Omel Ha Na kesal.
"Aku duluan nona Shin. Sampai jumpa." Ujar Kim Yo Han dan berjalan ke mobilnya dengan santai.
"Dasar kau! Ingin sekali aku meleparmu dengan sepatuku." Seru Ha Na.
"Kita berangkat sekarang nona?" Tanya asistennya sambil membukakan pintu mobil untuk Ha Na.
"Ya!" Jawab Ha Na masih kesal.
***