Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua Puluh Sembilan



Ae Ri merenung menatap wajah putranya yang tengah terlelap akibat pengaruh obatnya.


Garis wajahnya sangat mirip dengan Kim Yo Han. Hidung dan matanya persis milik pria itu. Itu sebabnya ia sangat takut jika pria itu menyadarinya.


Toktoktok.


Ae Ri dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Ia melirik jam. Pukul setengah sepuluh malam.


Perlahan pintu di buka dan tampak pria yang sedang dipikirkannya masuk ke dalam.


"Mau apa?!" Tanya Ae Ri dengan nada tidak suka.


Kim Yo Han menunjukkan kantong-kantong yang ia bawa.


"Kemarilah." Ujarnya sambil meletakkan bawaannya di meja sofa.


Ae Ri mendekat.


"Ini alat mandi, ini pakaian untuk gantimu. Dan ini makan malam kita." Ujar Kim Yo Han.


"Mandilah. Kau pasti sudah tidak nyaman dengan pakaian itu dari tadi pagi kan."


Ae Ri memeriksa pakaiannya sendiri. Ia memang sudah tidak nyaman. Ia menerima kantong yang diberikan Yo Han padanya dan langsung membawanya ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi ia memeriksa apa yang didalam kantong-kantong itu.


Handuk dan peralatan mandi. Lalu di kantong yang lain tampak sebuah kaos berwarna putih bergambar merah dengan bentuk yang abstrak. Lalu juga ada sepasang pakaian dalam berwarna putih dengan banyak renda.


Ae Ri terbelalak.


"Whoaa.. Dan ia tahu ukuranku!" Serunya namun dengan suara yang sedikit ditahan.


Ae Ri keluar dari kamar mandi. Ia lega setidaknya bisa mengganti baju atasannya dengan kaos yang lebih santai.


"Sudah? Aku juga akan ganti pakaian dulu." Kata Yo Han lalu membawa sebuah kantong kertas dan masuk ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian pria itu keluar dari kamar mandi. Ia juga mengganti kemejanya dengan kaos putih yang bermotif sama dengan yang di pakai Ae Ri.


Ae Ri memperhatikan gambar pada kaos Yo Han.


"Ada apa?" Tanya Kim Yo Han pura-pura polos.


Kemudian Ae Ri memperhatikan gambar di kaosnya sendiri. Kedua matanya terbelalak. Ternyata ini adalah kaos pasangan yang jika mereka berdekatan akan terangkai bentuk hati besar berwarna merah.


"Apa-apaan ini?!" Serunya kesal.


"Apa? Aku tidak tahu apa maksudmu."


"Kau sengaja membeli kaos pasangan?!"


"Apa itu? O.. Apakah ini kaos pasangan? Aku tidak tahu. Tadi aku terburu-buru jadi tidak memperhatikan." Jawab Kim Yo Han dengan tampang pura-pura bodoh.


"Lepas!" Perintah Ae Ri.


"Lalu kau mau aku telanjang? Pakaianku yang tadi basah."


"Terserah!"


Kim Yo Han segera melepas kaosnya. Ae Ri terbelalak melihat pria itu dengan polosnya bertelanjang dada dihadapannya.


"Baiklah jika kau lebih suka aku seperti ini."


"Kau! Dasar mesum! Pakai lagi!" Seru Ae Ri kesal lalu ia duduk di sofa dan mengambil makanannya.


Kim Yo Han tertawa.


***


Kim Yo Han duduk tepat disebelah Ae Ri yang sedang menikmati makanannya.


"Kau tampak sangat kelaparan." Kim Yo Han tertawa melihat wanita cantik itu sangat lahap.


Ae Ri hanya meliriknya sedikit tanpa berkomentar. Sambil tersenyum Kim Yo Han ikut menikmati makan malamnya.


Sangat lama mereka berdiam diri. Ae Ri sangat malas berbicara. Sedangkan Kim Yo Han menahan diri agar wanita itu tidak merasa terganggu. Ia masih teringat kata-kata wanita itu dalam rekaman ponsel Lee Chan.


Hanya sesekali mereka saling lirik dan beradu pandang.


"Pulanglah. Ini sudah malam." Akhirnya Ae Ri membuka mulutnya.


"Aku akan menjaga Tae Yang. Kau tidurlah dulu meski hanya sebentar. Nanti kalau kau sudah bangun baru aku akan pulang." Jawab Kim Yo Han.


Ia berdiri dan berjalan ke arah ranjang Tae Yang, lalu duduk di kursi disebelahnya. Tangannya meraba dahi bocah itu dengan lembut, lalu ia merapikan selimut Tae Yang dan membelai rambutnya.


Ae Ri memperhatikan pria itu. Separuh hatinya merasa bahagia saat Kim Yo Han sangat perhatian pada putra kesayangannya itu. Namun separuh dirinya lagi merasa tidak nyaman melihatnya.


Tae Yang adalah miliknya. Ia mengandungnya, melahirkannya dan membesarkannya seorang diri. Kim Yo Han tidak boleh memilikinya. Kalimat-kalimat itu yang selalu ada di dalam pikirannya.


Kim Yo Han tiba-tiba menoleh dan menatapnya.


"Tidurlah cepat." Ujarnya.


Ae Ri tergagap karena kedapatan sedang menatap pria itu.


"Percuma saja. Aku tidak akan bisa tidur. Lebih baik kau pulang saja." Jawabnya kesal.


"Kalau begitu aku akan menemanimu."


Kim Yo Han kembali mendatangi Ae Ri dan duduk di sampingnya.


"Aku tidak mau ditemani." Jawabnya ketus.


"Ya sudah, anggap saja aku tidak ada." Jawab Yo Han santai.


Ae Ri kini memilih diam. Dan selama beberapa saat keheningan menyelimuti mereka.


Makin lama Ae Ri semakin berdebar. Tidak dapat dipungkiri pria tampan yang duduk tepat disampingnya memiliki pesona yang luar biasa. Bahkan hanya bersentuhan lengan saja mampu membuat jantungnya berdegup kencang.


"Mengapa kau membenciku? Apakah aku pernah berbuat salah padamu?" Tiba-tiba Yo Han menoleh dan bertanya.


Kedua mata elang itu menatap Ae Ri yang sedang kebingungan sendiri.


Saat sudah bisa menguasai dirinya, Ae Ri tertawa sinis.


"Entahlah."


"Katakan saja. Aku ingin mendengar apa kesalahanku."


"Aku tidak akan mengatakannya."


"Mengapa?"


"Karena aku tidak ingin mendengar kata maaf darimu. Aku sangat membencimu dan tidak ingin memaafkanmu." Desis Ae Ri.


"Apa aku pernah menyakitimu?" Tanyanya dengan suara yang sangat pelan.


Ae Ri kembali tertawa. Namun ia tidak memberikan jawaban.


Kim Yo Han menghela nafas.


"Apa karena perbuatanku saat di rumah biru itu. Aku sungguh minta maaf. Tadinya aku hanya ingin menunjukkan rumah itu padamu. Aku tidak pernah berpikir ternyata aku tidak dapat menahan diriku saat berada sangat dekat denganmu. Aku sangat menyukaimu."


Ae Ri tidak berkomentar.


"Jika memang karena itu, aku minta maaf. Aku akan menebus kesalahanku, sampai kau mau mengampuniku. Katakan, apa yang harus aku lakukan. Asal jangan menyuruhku menjauh darimu. Aku tidak akan bisa. Kumohon, maafkan aku."


Ae Ri masih diam membisu. Ia memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat pria itu.


"Lihatlah aku. Sekarang aku selalu berusaha menahan diriku. Meski aku sangat ingin memeluk dan menyentuhmu tapi aku bisa menahan diriku. Jadi jangan cemas lagi. Dan jangan samakan aku dengan pria-pria lain seperti yang pernah kau katakan dulu."


"Kau pikir gelas yang pernah pecah bisa menjadi utuh kembali?" Desis Ae Ri.


"Akan kusatukan setiap pecahannya sehingga menjadi utuh kembali."


"Lalu kau pikir ada orang yang mau memakainya?"


"Karena itu gelas kesayanganku, aku akan tetap memakainya meski mungkin aku akan terluka saat memegangnya."


"Hahaha.. Konyol dan tolol!" Jawab Ae Ri sinis.


"Tolong beri aku kesempatan." Kim Yo Han memohon pada Ae Ri. Ia memegang jemari wanita itu namun Ae Ri cepat-cepat melepaskannya.


"Sudah hentikan omong kosongmu. Duduklah disana. Aku mau tidur." Ae Ri mengusir Kim. Yo Han dari sofa panjang itu.


Perlahan Kim Yo Han berdiri. Ia terus menatap Ae Ri yang membaringkan diri di sofa hitam itu.


Kim Yo Han membuka lemari di sudut ruangan. Ia mengambil selimut yang biasanya memang disediakan untuk keluarga pasien.


Diselimutinya kaki Ae Ri yang terlihat kedinginan karena ia hanya mengenakan rok jeans pendek.


Setelah menyelimuti Ae Ri, ia membelai rambut wanita itu.


"Selamat tidur." Bisiknya lembut. Ia ingin mencium kening Ae Ri namun dengan sekuat tenaga Ae Ri mendorong pria itu hingga ia jatuh terjengkang karena kehilangan keseimbangannya. Ia terduduk dilantai.


Kim Yo Han dan Ae Ri sama-sama terbelalak karena terkejut.


Ae Ri sedikit merasa bersalah.


Selama beberapa saat mereka saling pandang. Kim Yo Han tertawa pelan.


"Pernahkah waktu kecil kau memiliki sebuah boneka kesayangan. Pasti setiap melihatnya kau ingin memeluknya kan? Begitulah perasaanku saat melihatmu. Kau adalah kesayanganku. Jadi akan terasa sangat menyiksa jika aku tidak bisa menyentuhmu."


"Aku bukan boneka. Aku bukan mainanmu!"


Kim Yo Han terdiam. Dalam hatinya ia mengutuki dirinya sendiri yang salah mengambil perumpamaan.


"Bukan itu intinya. Mengapa kau tidak mengerti maksudku." Jawabnya pelan namun kesal. Ia kini justru mengambil posisi duduk santai di lantai.


"Apakah aku sangat mirip dengan cinta pertamamu itu?" Tanya Ae Ri tiba-tiba.


Kim Yo Han terdiam beberapa saat.


"Ya."


"Apakah kau menyukaiku karena aku sangat mirip dengannya?"


Kim Yo Han kembali terdiam.


"Bagaimana jika seandainya dia tiba-tiba muncul. Kau akan memilihku atau dia?" Tanya Ae Ri. Ia menatap pria itu dengan intens. Menuntut jawaban darinya.


"Kenapa? Kau tidak bisa menjawab?" Ae Ri tertawa sinis lagi.


"Bagiku kau adalah dia. Dan dia adalah kau. Aku meyakini itu. Kau adalah Mi Cha." Jawab Kim Yo Han pelan namun pasti.


Ae Ri terbelalak.


"Ternyata kau sudah gila. Bagian mana yang menunjukkan aku adalah dia?" Seru Ae Ri.


"Semuanya. Ingatanku dipenuhi dirinya. Selama ini yang kuingat hanya dirinya. Setiap inci dari dirinya aku sangat ingat. Bahkan bau keringatnya aku juga ingat."


"Kau.. Kau psikopat gila. Psikopat mesum!"


"Terserah kau mau bilang apa. Tapi.."


"Ah sudah.. Sudah! Aku tidak mau dengar. Berhentilah! Aku mau tidur. Menjauhlah sana!"


"Dan ingat! Aku bukan Mi Cha!!" Serunya lagi.


Ae Ri merubah posisinya jadi membelakangi Yo Han. Ia berusaha memejamkan matanya. Namun ia sangat cemas. Bagaimana bisa pria itu menyadari bahwa ia adalah Mi Cha.


Beberapa lama Ae Ri pura-pura sudah tidur. Namun akhirnya ia mulai merasa kurang nyaman dengan posisinya. Perlahan ia membalik tubuhnya.


Seketika pandangannya bertemu dengan Kim Yo Han yang masih duduk seperti tadi.


Ae Ri merasa sedikit grogi. Namun ia berusaha bertahan untuk tidak menundukkan matanya.


"Kau tidak bisa tidur?" Tanya Kim Yo Han lembut.


Ae Ri memilih diam dan kembali memejamkan matanya. Ia tidak ingin pria itu menyadari kegalauannya.


"Mom.. Mommy.."


Tiba-tiba suara Tae Yang merintih. Ae Ri dan Yo Han cepat-cepat bangun dan mendekat ke ranjang Tae Yang.


"Tae Yang.." Ae Ri memeluk putranya yang masih terlihat gelisah dalam tidurnya.


Tae Yang memeluk leher Ae Ri dengan kencang sehingga kepala Ae Ri menempel pada wajah Tae Yang.


Ae Ri tidak berani bergerak karena takut Tae Yang terbangun. Jadi ia membiarkan putranya itu memeluknya dengan posesif.


"Kau tidak nyaman jika seperti itu. Naik saja di ranjangnya." Bisik Kim Yo Han.


Ae Ri menurut. Dengan pelan ia naik ke tempat tidur tanpa melepaskan pelukan Tae Yang. Ae Ri memiringkan tubuhnya menghadap Tae Yang karena ia tidur di pinggir ranjang yang sempit.


Kim Yo Han mengambilkan selimut yang dipakai Ae Ri tadi dan menyelimutkannya lagi. Lalu ia memasang pagar ranjang agar Ae Ri tidak jatuh.


Sejenak ia berdiri di belakang Ae Ri. Lalu ia menunduk dan mencium Tae Yang. Otomatis Ae Ri terkejut karena wajah pria itu sangat dekat dengannya. Ia bisa mencium wangi harum tubuh pria itu.


Setelah mencium Tae Yang, Kim Yo Han kembali menegakkan tubuhnya. Perlahan ia membelai rambut Ae Ri.


"Tidurlah." Bisiknya lembut lalu berjalan ke arah sofa dan berbaring di sana.


***