Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tiga Belas



Ae Ri merasa langkahnya untuk pulang ke Korea dan membawa serta buah hatinya kesini adalah langkah yang tepat.


Tae Yang tampak menyenangi lingkungan barunya. Meski kadang masih canggung karena berbeda budaya, namun Tae Yang tampaknya menyukai Korea.


"Mom. Bolehkah aku bermain ke rumah temanku?"


"Siapa?"


"Teman sebangku ku. Namanya Mi Rae, Kim Mi Rae."


"Apakah dia teman baikmu di sekolah?"


"Iya Mom. Dia sangat baik dan cantik."


"Oya? Benarkah?"


"Ya Mom. Dia selalu mengajakku bermain bersama. Mengajariku jika aku bingung dengan kata-kata orang lain. Pokoknya dia sangat baik!"


Ae Ri tersenyum melihat kedua mata putranya yang tampak berbinar-binar.


"Bolehkah Mommy kapan-kapan melihatnya? Mommy mau lihat, siapa sih teman baik Tae Yang."


"Kalau Mommy ke sekolah nanti akan ku tunjukkan."


"Oke.."


"Jadi, bolehkan?"


"Boleh apa?"


"Bermain ke rumahnya Mi Rae?"


Kedua mata Tae Yang membulat tanda memohon.


"Boleh. Tapi ingat perjanjian kita ya."


"Oke Mom. Aku selalu ingat. Aku tidak boleh menyebutkan nama Mommy kecuali ditanya oleh polisi."


"Anak pintar."


Ae Ri tertawa.


"Mom.."


"Ya sayang.."


"Apakah aku punya papa?"


Ae Ri terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang. Inilah pertanyaan yang paling ia takutkan.


"Mengapa aku tidak memiliki papa seperti teman-temanku?"


Ae Ri memandangi wajah polos putranya.


"Mengapa kau menanyakan ini?" Ae Ri balas bertanya. Ia bingung harus menjawab apa.


"Besok adalah hari ayah. Sekolah mengadakan lomba ayah dan anak. Seharusnya semua anak membawa papa mereka ke sekolah."


Ae Ri kembali terdiam. Dalam hatinya ia mengutuk siapapun yang mengusulkan kegiatan itu.


"Tidak bisakah momy saja yang datang untuk menjadi papamu dan ikut lomba?" Ae Ri tersenyum semanis mungkin untuk menutupi kegundahannya.


Tae Yang memperhatikan mommy nya dengan seksama.


"Bukankah mommy perempuan? Perempuan tidak bisa menjadi papa." Jawab Tae Yang polos.


Ae Ri tertawa terbahak-bahak sambil meneteskan air mata. Namun cepat-cepat disembunyikannya kesedihannya.


Dia berusaha tetap terlihat tegar didepan putranya.


"Besok mommy akan bicara dengan ibu guru. Tae Yang tidak usah khawatir ya."


Tae Yang menyadari raut wajah mommy nya menjadi sedih. Ia turun dari kursi dan menghampiri mommy nya. Kemudian tubuh kecil itu memeluk Ae Ri.


"Mommy tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Besok aku tetap akan semangat karena bisa bermain dengan Kim Mi Rae. Aku yakin pasti aku boleh meminjam papanya sebentar."


Ae Ri memeluk putranya dengan erat. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh.


***


Ae Ri membelai rambut Tae Yang yang sudah terlelap di tempat tidurnya.


Jempolnya mencari nama Jae Hyun di ponselnya.


"Halo Ae Ri.."


"Jae Hyun.. Kau dimana?"


"Aku dalam perjalanan ke Busan, besok ada meeting untuk persiapan membuka cabang yang baru disana. Ada apa?"


"Tidak. Tidak ada apa-apa.."


"Ada sesuatu? Ada apa? Katakanlah! Jangan membuat aku tidak bisa tidur!"


"Tidak.. Hanya tadi Tae Yang bilang..."


Ae Ri memutuskan untuk tidak mengatakannya.


"Bilang apa?"


"Tae Yang bilang ingin main bersamamu."


"Oh.. Oke. Besok malam aku pulang akan langsung kerumahmu. Sampaikan padanya ya."


"Oke. Terimakasih ya.."


Terdengar suara Jae Hyun tertawa.


Ae Ri menggigit bibirnya. Ia mencoba mencari solusi untuk Tae Yang besok.


***


Kim Yo Han memarkirkan mobilnya di halaman sekolah SD Byeol. Ia tertawa sendiri karena sempat lupa jika memiliki sekolah ini.


Sekolah sebenarnya sangat tidak menarik baginya. Memiliki sekolah ini benar-benar terpaksa baginya.


Ia melangkahkan kakinya ke dalam halaman sekolah. Ia memeriksa keadaan sekolah yang tampak sepi di luar, karena jam pelajaran sudah di mulai.


Yo Han terlihat puas dengan taman dan halaman sekolah. Di samping kiri depan sekolah terdapat lapangan yang tampaknya juga dimanfaatkan sebagai lapangan sepak bola. Rumputnya tampak hijau terawat.


Kaki Yo Han melangkah ke arah lapangan itu. Ia teringat masa kecilnya tidak pernah merasakan senangnya bermain-main seperti anak kecil lainnya. Ia hanya mengikuti mamanya kesana kemari mencari tempat hidup ataupun sesuap nasi.


Kim Yo Han duduk disebuah kursi taman yang menghadap ke lapangan. Lamunannya terbang ke masa-masa terburuknya saat ia kecil.


Tiba-tiba debu halus tertiup dan masuk ke matanya. Membuat matanya sangat perih.


Ia menundukkan kepalanya dan memejamkan erat matanya yang berair.


Tiba-tiba ia dikagetkan karena punggungnya di tepuk-tepuk. Kim Yo Han mengintip dengan salah satu matanya yang tidak kemasukan debu.


Seorang anak lelaki berdiri disampingnya sambil tangan kecilnya menepuk pelan punggung Kim Yo Han.


"Mengapa paman menangis?"


'Sialan. Aku dikira menangis!' Batinnya.


"Aku tidak menangis." Yo Han berusaha mengusap matanya pelan supaya mengurangi rasa perihnya.


Anak kecil disampingnya melepas tas di punggungnya dan membuka tasnya itu. Ia mengeluarkan tisu dan memberinya pada Yo Han.


Kim Yo Han menerimanya dan ia memakainya untuk mengusap matanya.


"Terima kasih tisunya." Ujarnya.


"Siapa namamu? Mengapa kau tidak masuk kelas?" Tanya Yo Han.


"Kata Mommy, aku tidak boleh berbicara dengan orang asing."


Yo Han menganga heran.


"Bukankah kau yang mendekatiku terlebih dahulu?" Tanyanya.


Anak kecil itu hanya diam.


"Nama paman Kim Yo Han. Aku yang memiliki sekolah ini." Ujarnya seperti memamerkan sebuah mainan.


Anak itu kini menganga karena terkejut.


"Namaku Tae Yang. Kim Tae Yang."


"Wah nama kita sama."


"Tidak sama." Jawab Tae Yang menyanggahnya.


"Yo Han dan Tae Yang artinya sama-sama matahari."


"O.." Wajah polos anak laki-laki yang terlihat kagum itu membuat Yo Han tertawa.


"Apa yang kau lakukan disini dengan tasmu itu? Kau mau membolos?"


Tae Yang menundukkan kepalanya.


"Paman.. Apakah paman mau menjadi daddyku?"


"Hah?! Daddy?" Teriak Yo Han karena terkejut.


"Daddy.. Teman-temanku di Amerika memanggil ayah mereka dengan sebutan daddy."


Tae Yang menggeleng.


"Kemana daddymu?"


"Kata Mommy tidak ada."


"Jadi kau tidak pernah melihat daddymu?'


Tae Yang mengangguk. Entah mengapa dada Kim Yo Han serasa teriris. Kenangan masa kecilnya melintas dibenaknya.


"Mengapa kau ingin aku menjadi daddymu?"


"Hari ini adalah hari ayah. Sebentar lagi akan ada lomba-lomba ayah dan anak. Teman-temanku sudah membawa papa mereka. Tapi aku tidak punya."


Kedua mata bulat milik Tae Yang menatap penuh harap pada Yo Han. Kim Yo Han meliriknya. Ia merasa iba dengan anak itu.


"Baiklah. Karena aku suka matamu yang bagus, paman akan menjadi daddymu hari ini."


Tae Yang menatap Yo Han dengan tatapan tidak percaya.


"Mengapa? Kau tidak percaya?"


Tae Yang masih diam.


Kim Yo Han menegakkan kelingking kanannya.


"Paman sungguh-sungguh. Ayo kita ikat perjanjian kita. Kemarikan kelingkingmu."


Tae Yang mangaitkan kelingking kecilnya. Kemudian mereka menyatukan jempol mereka.


Tae Yang tertawa. Di kedua pipinya muncul lesung pipi yang membuatnya semakin tampan.


"Wah.. Kau memiliki lesung pipi!" Seru Kim Yo Han.


Tae Yang memegang kedua pipinya.


"Kau tahu. Jika memiliki lesung pipi, berarti kau harus sering tersenyum. Jangan bersedih terus ya.." Yo Han mengusap lembut rambut Tae Yang.


Tae Yang mengangguk.


"Oke Paman Daddy.."


Kim Yo Han tertawa mendengar panggilan barunya.


"Jadi apa yang harus paman daddy lakukan sekarang?" Tanya Yo Han dengan memasang wajah serius.


"Kita akan masuk kedalam. Nanti aku akan bilang pada bu guru Kang jika aku bisa ikut lomba bersama paman daddy. Sudah. Nanti kita tunggu saja."


"Baiklah kalau begitu."


"Emmm.. Tapi ada sesuatu lagi."


"Apa itu?"


"Namaku bukan Kim Tae Yang."


"Lalu siapa?" Yo Han terkejut.


"Park Tae Yang."


"Lalu mengapa kau mengaku namamu Kim Tae Yang."


"Karena paman orang asing." Jawab Tae Yang polos.


Kim Yo Han tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka anak kecil ini menipunya. Tidak bukan menipu, tapi ia sangat pandai berhati-hati.


"Paman daddy tidak marah?"


"Tidak.. Paman daddy senang kau bisa menjaga dirimu dengan baik."


Tae Yang tersenyum ceria.


"Siapa nama mommy mu?"


"Mommy bilang tidak boleh menyebutkan namanya, kecuali ditanya oleh polisi."


"Hah?!!" Kening Yo Han berkerut.


'Aneh sekali..' Batinnya dalam hati.


"Okelah. Kau terlalu banyak rahasia." Yo Han tertawa.


Kim Yo Han berdiri dan menggandeng tangan Tae Yang.


"Ayo kita menemui bu guru Kang."


"Let's go!!" Seru Tae Yang dengan semangat.


Mereka berjalan ke arah pintu masuk utama sekolah yang berada ditengah.


Saat Yo Han dan Tae Yang sampai di jalan menuju pintu utama, dari arah tempat parkir sesosok wanita mengejutkan Kim Yo Han.


"Nona Park?!" Serunya.


Tanpa Yo Han sadari Tae Yang cepat-cepat bersembunyi di belakangnya.


Park Ae Ri sangat terkejut. Ia sangat tidak menyangka bisa bertemu dengan pria itu disini.


'Dan apa itu? Bukankah itu Tae Yang. Mengapa mereka bisa bergandengan tangan seperti itu?' Batin Ae Ri bingung dan cemas bergelut di benaknya.


Kim Yo Han yang menyadari arah tatapan Ae Ri menarik tangan Tae Yang dengan pelan. Sehingga anak itu lebih terlihat oleh Ae Ri.


"Tae Yang. Perkenalkan dirimu. Nona ini adalah teman paman daddy. Namanya nona Park.


'Hah! Paman daddy? Apa maksudnya itu?' Seru Ae Ri dalam hati.


"Ha..halo nona Park." Tae Yang terbata-bata karena sangat takut bila mommynya marah.


"Hai.." Ae Ri mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya. Ia berusaha terlihat santai.


'Semoga Tae Yang tidak keceplosan.' Batinnya.


"Apa yang kau lakukan disini nona Park?" Tanya Kim Yo Han penasaran.


Mendadak Ae Ri sadar. Ia harus mencari alasan keberadaannya disini. Tidak mungkin ia mengaku kesini untuk menemui Tae Yang anaknya.


"Mm.. Aku ingin mengajukan proposal untuk kerjasama dengan pihak sekolah."


"Kerjasama apa?"


"Mmm.. " Ae Ri mencari-cari ide. Lalu saat melihat Tae Yang mengenakan seragam sekolah ia mendapat ide.


"Seragam sekolah. Aku dengar mereka tidak puas dengan penjahit yang sekarang. Jadi aku ingin mengajukan diri."


"Seragam sekolah? Bukankah proyek seperti itu terlalu kecil untuk Liberty Park?"


"Apakah anda tidak tahu jika sekolah ini banyak artis cilik dan anak-anak pesohor? Kupikir aku bisa memasukan fashion anak-anak melalui proyek ini."


Kim Yo Han memandang takjub dengan pemikiran Ae Ri.


"Baiklah kalau kau mau berbisnis denganku. Kita akan bicarakan ini setelah lomba. Aku akan ikut lomba dulu dengan Tae Yang. Ayo kau harus menyemangati kami. Setelah itu baru kita bicara bisnis."


"Bicara bisnis?"


"Sekolah ini adalah milik paman daddy, Mommy..ssi.." Tae Yang dan Ae Ri terkejut karena Tae Yang keceplosan. Untung Tae Yang cepat-cepat menambahkan kata ssi diakhir kalimatnya. Dalam bahasa Korea ssi dipakai untuk tambahan panggilan pada orang yang kita hormati.


Tapi diluar dugaan Yo Han justru tertawa.


"Sekarang kau memanggilnya mommy ssi.. Tidak bisa semua orang kau panggil seperti itu. Aku paman daddy, dia mommy ssi."


"Aku mau, punya mommy seperti nona Park."


"Kau tidak bisa mengganti mommymu. Nanti mommymu yang asli akan sedih." Yo Han berjongkok dan mengusap lembut rambut Tae Yang.


Tae Yang mengangguk dan tersenyum.


"Aku tidak akan mengganti mommyku paman daddy, hanya meminjamnya hari ini menjadi mommyku seperti paman daddy. Jadi hari ini aku seperti teman-teman yang lain. Memiliki mommy dan daddy." Seru Tae Yang dengan semangat.


Yo Han tertawa.


"Coba kau tanyakan pada nona Park, apakah ia mau?"


Ae Ri berdegup kencang melihat interaksi kedua orang yang sebenarnya memiliki hubungan darah itu. Selain rasa cemas, terselip sedikit rasa bahagia melihat Tae Yang tersenyum.


"Nona Park, maukah anda kupinjam menjadi mommyku hari ini?"


"Apakah kau tidak memiliki mommy?" Tanya Ae Ri. Ia berusaha bersikap seperti orang asing pada Tae Yang.


"Mommyku sibuk Nona."


'Waah.. Anak ini memang sangat pandai bermain peran.' Batin Ae Ri.


"Baiklah." Jawab Ae Ri lirih. Kim Yo Han tersenyum padanya.


'Thankyou.' Bisiknya lewat gerak bibirnya.


"Ayo kita masuk!" Seru Yo Han sambil bangkit berdiri.


Tae Yang mengangguk ceria. Ia menoleh pada Ae Ri di belakang mereka. Yo Han ikut menoleh.


"Ayo cepat. Nanti kita terlambat." Ujarnya pada Ae Ri. Ia meraih tangan Ae Ri dan setengah berlari karena tangannya sendiri sudah ditarik oleh Tae Yang.


***