Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Lima Puluh Empat



Kim Yo Han mengeratkan pelukannya. Ingin sekali ia menghibur wanita itu agar berhenti menangis. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa selain memeluknya erat.


"Sampai kapan kau mau menangis? Apa kau tidak lelah?" Bisiknya.


Ae Ri melepaskan diri dari pelukan pria itu. Kedua matanya menatap langit-langit kamarnya.


Kim Yo Han kembali menyeka beberapa butir air mata yang tersisa di pipi Ae Ri. Tangannya kemudian membelai lembut wajah wanita itu.


Perlahan ia memberanikan diri untuk mencium bibir Ae Ri. Kedua tangan kekarnya memegang rahang Ae Ri agar wanita itu tidak menjauh darinya.


Kim Yo Han tersenyum saat menyadari Ae Ri membalas ciumannya. Pria itu semakin berani ******* bibir pink yang selalu didambakannya itu.


Ae Ri menyadari ia sangat menginginkan pria itu sekarang. Ia tak mau ambil pusing tentang rasa benci atau cinta yang ada didalam hatinya. Yang ia tahu ia sangat menikmati setiap sentuhan pria itu.


Perlahan Ae Ri menarik keatas kaos yang dipakai Kim Yo Han. Pria itu segera melepaskan bibirnya agar Ae Ri bisa melepaskan kaosnya. Kembali Kim Yo Han menciumi wanita itu takut kalau ia berubah pikiran.


Ae Ri memeluk tubuh Kim Yo Han yang berada diatasnya. Ia menikmati apa yang dilakukan pria itu terhadapnya. Terhadap tubuhnya, terhadap dadanya, terhadap bagian dibawah perutnya. Erangan-erangan kenikmatan tidak dapat ia tahan, meluncur begitu saja di bibirnya.


Kim Yo Han terlentang disamping Ae Ri dengan nafas yang terengah-engah. Keringat membasahi keningnya. Setelah dapat menguasai dirinya lagi, ia memeluk Ae Ri yang juga masih berkeringat.


"Thank you." Bisiknya pelan.


Ae Ri mendongak menatap mata indah pria itu. Berbagai pikiran menyerang otaknya.


Ia sangat ingin Kim Yo Han tetap berada di sisinya. Ia berharap setelah malam ini ia bisa mengubah keinginan pria itu untuk pergi.


Kim Yo Han membelai rambut Ae Ri dan menyelipkan dibelakang telinga wanita itu. Bibirnya tersenyum.


'Jika aku boleh meminta, aku ingin operasi ku berhasil sehingga aku bisa menatap wajah ini lagi.' Bisik Kim Yo Han didalam hatinya. Kembali ia memeluk tubuh Ae Ri dengan erat.


***


Kim Yo Han terbangun dari tidurnya saat tubuhnya diguncang oleh Tae Yang.


"Daddy.. Ayo bangun sudah siang.." Ujar bocah itu.


Kim Yo Han tersenyum menatap putranya.


"Ayo dad.. Kita sarapan.."


"Oke.. Oke.. Baiklah.." Kim Yo Han bangun dan membiarkan Tae Yang menggeret tangannya keluar kamar Ae Ri.


Ae Ri tampak sedang sibuk menata makanan di meja makan. Ia melirik ke arah pria itu.


Kim Yo Han tersenyum sangat manis padanya. Seketika jantung Ae Ri berdetak kencang. Ia tidak berani menatap mata elang itu. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ayo makan." Hanya itu kalimat yang terucap oleh Ae Ri tanpa menyebut siapa yang sedang ia ajak bicara.


Kim Yo Han dan Tae Yang duduk diseberang Ae Ri.


"Terimakasih makanannya. Kau hebat sekali bisa memasak begitu banyak makanan. Apakah kita sedang merayakan sesuatu?" Ujar Kim Yo Han polos.


Ae Ri mengutuki dirinya yang sangat bahagia pagi ini sehingga tanpa sadar ia memasak begitu banyak masakan seperti ini.


"Tidak ada. Aku hanya sedang ingin praktek saja, mumpung lagi libur." Jawab Ae Ri. Ia berusaha membuat suaranya terdengar santai. Kim Yo Han kembali tersenyum padanya. Dan lagi-lagi Ae Ri cepat-cepat menunduk menghindari tatapan pria itu.


"Emm enak. Enak kan Tae Yang?"


"Iya, masakan mommy paling enak! Thankyou mommy!" Seru Tae Yang sambil mengacungkan jempolnya.


Ae Ri tertawa melihat cerianya wajah Tae Yang.


"Biar aku yang membereskan ini. Kau istirahatlah. Pasti lelah kan memasak begitu banyak makanan seperti ini." Ujar Kim Yo Han sambil mendorong pelan tubuh Ae Ri agar ia bersantai diruang tamu.


Ia melepas celemek Ae Ri dan memakainya lalu kembali ke dapur untuk membereskan bekas makan mereka.


Ae Ri duduk di sofa. Sesekali ia mencuri pandang ke arah pria yang kini membelakanginya dan tengah sibuk mencuci piring itu.


'Ini seperti mimpi. Aku tidak pernah menyangka ia seperti itu. Ternyata dia bisa bersikap lembut seperti itu. Alangkah menyenangkannya jika ini bisa terjadi terus-menerus. Bukan hanya sekarang.' Bisik Ae Ri.


Ia kembali menatap televisi yang sedang menayangkan berita-berita nasional.


"Dad.. Daddy!!" Tiba-tiba Tae Yang berseru nyaring.


"Kecilkan sedikit suaramu Tae Yang." Kata Ae Ri sambil memegang telinganya.


"Daddy kan bilang kalau ulang tahun daddy saat malam tahun baru. Bukankah besok adalah malam tahun baru? Itu paman yang di televisi tadi bilang begitu."


"Benarkah?" Kim Yo Han pura-pura terkejut.


"Ya! Berarti besok daddy ulang tahun! Yeey!!" Tae Yang bersorak kegirangan.


"Mommy! Besok kita beli kue ulang tahun untuk daddy ya! Daddy suka yang rasa apa?" Seru Tae Yang lagi.


Kim Yo Han berpikir sebentar.


"Cake pisang saja." Jawab Kim Yo Han.


"Daddy juga suka cake pisang seperti aku?" Tae Yang keheranan. Kim Yo Han mengangguk.


"Tentu saja." Jawab pria itu.


"Baiklah kalau begitu. Besok aku dan mommy akan membelikan daddy cake pisang ya. Iya kan mom?"


Dengan sedikit ragu Ae Ri mengangguk.


Kim Yo Han tersenyum.


"Jika mommy sibuk kita pesan saja lewat online." Ujarnya. Ia tidak mau Ae Ri melakukannya dengan terpaksa. Ia tahu Ae Ri pasti tidak akan suka melakukannya.


"Tidak apa-apa. Aku memang akan keluar besok. Ada yang perlu kubeli." Jawab Ae Ri. Matanya masih menatap layar televisi dihadapannya. Ia masih belum berani menatap pria itu. Antara malu dan gengsi bercampur jadi satu.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak." Bisik Kim Yo Han.


"Apa kau mau menceritakan kejadian tadi malam dirumah Jae Hyun?" Tanya Kim Yo Han saat melihat Tae Yang sudah sibuk bermain sendiri.


Ae Ri terkejut. Perlahan ia menoleh dan mendapati mata pria itu menatapnya cemas.


"Aku tidak suka melihatmu menangis. Dan kurasa pasti telah terjadi sesuatu saat kalian makan malam. Ceritakan padaku." Kini Kim Yo Han menatapnya tajam.


Ae Ri menggeleng.


"Tolong jangan mengusik area privasiku. Ini antara aku dan Jae Hyun." Jawabnya.


Kim Yo Han menghela nafas.


"Apakah keluarganya tidak merestui hubungan kalian berdua?" Kim Yo Han masih tampak penasaran.


Ae Ri memilih diam. Kim Yo Han menggigit gerahamnya. Ada rasa bersalah dan juga marah. Namun ia sendiri bingung ia marah pada siapa.


Baru saja Kim Yo Han membuka mulutnya, tiba-tiba Ae Ri menyanggahnya.


"Aku tidak mau membicarakan itu lagi." Serunya tampak kesal.


Kim Yo Han mengunci bibirnya lagi.


"Kau berhak bahagia. Jika tidak bisa bahagia dlbersama Jae Hyun jangan memaksakannya. Pasti ada pria lain yang lebih baik darinya." Ujar pria itu.


Kim Yo Han sangat ingin memberi kekuatan dan menghibur Ae Ri. Namun ia tidak tahu bahwa ucapannya itu justru membuat kesal wanita itu.


Bagi Ae Ri Kim Yo Han benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi. Dan laki-laki itu justru menginginkan ia hidup dengan pria lain.


Bagaimana bisa pria itu berkata seperti itu setelah apa yang dilakukannya tadi malam.


Ae Ri berdiri dengan kesal dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Bagitu sampai di ranjangnya cepat-cepat ia berbalik lagi ke pintu untuk menguncinya. Ia takut jika tiba-tiba pria itu masuk dan menggodanya lagi seperti tadi malam. Karena ia tak yakin bisa menolak pria itu.


Kim Yo Han menatap punggung wanita itu yang kemudian menghilang dibalik pintu kamarnya.


Pria itu menghela nafas.


'Betapa sulitnya memahami pikiran wanita.' Batinnya.


"Mommy marah pada daddy?" Tanya Tae Yang polos.


Kim Yo Han mengangkat kedua bahunya.


***