Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua



Kim Yo Han menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan.


"Nona di belakang sudah dikirim sarapannya?"


"Sudah tuan."


'Ah sial!! Mengapa aku harus memikirkannya?!" Batinnya kesal.


"Selamat pagi tuan."


Kim Yo Han hanya melirik sekilas ke arah pak Lee yang baru saja datang. Ia tetap menyelesaikan sarapannya dengan tenang.


Beberapa saat kemudian Kim Yo Han sudah berada di dalam mobilnya menuju ke kantor perusahaannya.


Perusahaan C&K Corp bergerak di bidang pengadaan tenaga sekuriti dan kebersihan. Masa muda Kim Yo Han yang dihabiskan dalam dunia hitam memberinya ide untuk membangun perusahaan untuk memenuhi permintaan perusahaan maupun perorangan yang membutuhkan jasa body guard dan sekuriti.


Bahkan seiring berjalannya waktu mereka pun mulai mengembangkan untuk pengadaan tenaga kebersihan. Dan saat ini sudah banyak perusahaan di Seoul yang telah memakai jasa mereka.


Tuan Cha mengajak Kim Yo Han muda yang belum begitu berpengalaman bekerja sama dengannya. Dengan kehandalan keduanya hanya dalam waktu 3 tahun perusahaan mereka berkembang pesat.


Namun sayang tampaknya tahun ini perusahaan yang mereka bangun bersama akan hilang tertelan bumi. Akibat dari kecurangan tuan Cha.


Saat ini Kim Yo Han harus menghadapi para investor yang merasa dirugikan. Belum lagi para karyawan yang bekerja di perusahaannya.


"Pak Lee. Aku sudah mengambil keputusan akan mengakhiri saja perusahaan ini. Semua asetku akan kujual untuk menutup kerugian. Termasuk perusahaan. Dalam beberapa hari ini kita harus mencari penawar tertinggi untuk mengambil alih perusahaan. Ini sudah di luar kendaliku."


Ucap Kim Yo Han sambil melihat jauh ke jendela mobil disampingnya.


Pak Lee menghela nafas panjang. Ia sangat menyayangi pemuda itu. Ia sangat mengenalnya sejak mereka sama-sama menjadi kaki tangan mafia besar di kota itu.


Kim Yo Han lah yang mampu membawanya keluar dari cengkraman serigala bernama Park Chul Moo atau yang lebih di kenal dengan sebutan Pandai Besi.


Pandai Besi mempunyai kebiasaan memilih remaja-remaja yatim piatu untuk dididik menjadi kaki tangannya. Dididik masuk dalam dunia gelap dan kasar. Termasuk Kim Yo Han muda.


Kim Yo Han yang bertumbuh semakin kuat dan cerdas akhirnya menjadi kesayangan Pandai Besi. Namun ternyata Kim Yo Han tidak mau menghabiskan hidupnya dengan berada di bawah telapak kaki Pandai Besi.


Ia mulai mengumpulkan pundi-pundi hasil kerjanya. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan berhemat dan mengerjakan apapun demi mengumpulkan modal untuk bisa terlepas dari jerat Pandai Besi.


Dan tepat saat ia berusia 20 tahun. Kim Yo Han meminta Pandai Besi melepaskannya.


Sangat susah untuk bisa melepaskan diri dari jeratan pria setengah baya itu. Namun Kim muda dengan pantang menyerah tetap berusaha sekuat tenaganya. Ia berhasil melarikan diri.


Dan setiap kali ada kaki tangan Pandai Besi yang berusaha menangkapnya kembali, setiap kali itu juga ia berhasil meloloskan diri. Entah karena nasib baik atau kekuatannya sendiri akhirnya ia benar-benar bisa meloloskan diri.


Saat itu Pandai Besi sendiri yang datang untuk menangkapnya. Dengan membawa puluhan anak buahnya yang terlatih ia mengepung Kim Yo Han yang bersembunyi di sebuah gudang tua di pinggir kota.


Tanpa takut Kim Yo Han bertarung sekuat tenaganya. Namun tanpa mereka sadari gedung yang lama tidak terurus itu tiba-tiba runtuh dan menimpa mereka yang berada di lantai bawah.


Kim Yo Han sekuat tenaga berusaha bangkit. Sekali lagi nasib baik masih memihak padanya. Ia berhasil keluar dari puing-puing reruntuhan bangunan itu.


Saat ia sudah bersiap untuk pergi dari sana ia mendengar suara rintihan seseorang yang sangat dikenalnya. Seorang pria tua yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.


Dengan sigap Kim Yo Han mencari sumber suara. Ia menarik satu persatu puing-puing di sekitarnya. Dan akhirnya ia berhasil menemukan Pandai Besi yang sudah bersimbah darah. Tampaknya ada luka besar di kepalanya.


Tanpa pikir panjang Kim Yo Han mengangkat pria itu dan memasukkannya ke mobil. Dengan kecepatan maksimal ia menuju ke rumah sakit terdekat.


Dan akibat dari perbuatannya itu, Pandai Besi merasa sangat berhutang budi padanya dan berjanji akan melepaskan pemuda itu. Bahkan ia menyuruh pak Lee kaki tangan yang ia percayai untuk menjaga pemuda itu seumur hidupnya.


Sampai kini Pandai Besi menganggap Kim Yo Han seperti anaknya sendiri. Malah lebih dari anak kandungnya sendiri.


Sampai akhirnya ia bisa mendirikan perusahaannya, Pandai Besi pun dengan senang hati bekerja sama dengan Kim Yo Han.


"Jika saja tuan Pandai Besi tahu yang tuan alami ia pasti bisa membantu tuan." Ujar pak Lee.


"Jangan. Jangan katakan apapun padanya."


"Tapi pasti hanya butuh waktu sebentar sampai ia akhirnya akan tahu, tuan."


"Biar saja. Tapi bukan kita yang memberitahunya."


"Baiklah tuan."


"Bagaimana dengan bangs*t itu? Sudah ada kabar?"


"Belum tuan. Dia seperti hilang tertelan bumi. Tapi kami sudah bisa melacak keberadaan istri dan anak keduanya."


"Bagus! Kabari lagi jika ada perkembangan."


"Baik tuan."


***


Hari kedua Mi Cha berada dalam sanderaan panculik tampan yang belum ia ketahui namanya itu.


Ia sudah sangat-sangat bosan berada dalam ruangan kecil itu.


Mi Cha berdiri di depan cermin meja rias. Ia menghela nafas panjang saat melihat keadaannya yang acak-acakan.


Ia hanya mengenakan kimono tidur setiap hari. Tidak ada pakaian lain untuknya. Apalagi make up. Pakaian yang ia kenakan saat ia di culik entah dimana, tidak dikembalikan lagi oleh pelayan.


Rambutnya yang seleher juga acak-acakan karena hanya bisa ia sisir menggunakan jemarinya. Semua benda yang kira-kira bisa dipakai menjadi senjata untuk menyerang sudah di jauhkan dari kamar itu.


Hari sudah malam. Ia sudah menyelesaikan makan malamnya. Tidak ada jam diruangan ini sehingga ia merasa sedikit bingung.


Terdengar suara langkah kaki cepat menuju ke kamarnya. Mi Cha mendadak menjadi tegang. Cepat-cepat ia berdiri karena sebelumnya ia sudah membaringkan diri. Ia merapatkan kimononya.


Suara tuts kunci pintu terdengar dan sesaat kemudian pintu terbuka. Tampak sesosok pria berdiri di ambang pintu. Tampaknya pengalaman kemarin membuatnya sedikit waspada. Jangan sampai ia kena pukul gadis itu lagi.


Setelah melihat Mi Cha berdiri di tengah ruangan, baru Kim Yo Han masuk ke kamar.


Mi Cha menutup hidungnya. Bau alkohol dari tubuh pria itu menusuk hidungnya.


"Kau tau apa yang dilakukan orang tuamu yang brengs*k itu?!" Tanya Kim Yo Han dengan logat orang mabuk.


Mi Cha memberanikan diri melihat ke arah Kim Yo Han. Karena ia pun penasaran dimana papanya sekarang.


"Hahaha..!!" Pria itu berjalan mendekati Mi Cha.


Selembar kertas ia keluarkan dari saku celananya. Diserahkannya pada Mi Cha.


"Baca itu.." Dengusnya.


Mi Cha menerimanya dan membaca kertas itu.


Darahnya terkesiap saat ia membaca sebuah kalimat.


'Aku serahkan putriku untuk membayar hutangku.'


"Baca yang keras nona Cha!"


"A..aku serahkan putriku untuk membayar hutangku."


"Hahaha.. Dia pikir berapa hargamu?! Hah?! Laki-laki tua bangs*t!! Walaupun ia memberi 1000 gadis sepertimu belum bisa melunasi hutangnya!! Kurang aj*r!!" Pria itu menggeram penuh kemarahan.


Mi Cha sedikit mundur karena takut saat pria itu semakin maju mendekatinya.


"Kau tahu lagi? Apa yang ia lakukan setelah ia menulis surat ini? Hahaha.. Dia menembak kepalanya sendiri! Hahaha.. Bahkan ia tidak mengijinkan aku menembaknya. Mengapa ia menembak kepalanya sendiri padahal aku sangat ingin melakukannya?! Hah? Mengapa!!!?" Teriak pria itu.


Mi Cha yang mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan pria itu merasa mendadak jantungnya berhenti berdetak. Ia terduduk di tepi ranjang. Nafasnya mulai tersengal karena begitu terkejut mendengar berita itu.


"Papa.."


"Ya.. Papamu.. Tua bangka sial*n itu sudah mati! Dan kau.. Kau sekarang menjadi budakku! Hahaha.."


Setelah berkata itu Kim Yo Han mendorong tubuh Mi Cha ke ranjang dan dengan mudah ia dapat mengalahkan tenaga gadis itu.


Mi Cha hanya bisa menangis ketakutan saat tubuhnya sudah berada di bawah tubuh pria itu.


Pria itu benar-benar melampiaskan kemarahannya. Ia tidak mempedulikan teriakan dan tangisan Mi Cha. Dengan gagah perkasa ia menghentak-hentakkan miliknya kedalam milik Mi Cha hingga ia memperoleh kepuasannya sendiri.


Setelah itu Kim Yo Han memakai kembali pakaiannya dan berjalan keluar meninggalkan Mi Cha yang menangis kesakitan.


Mi Cha cepat-cepat ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air shower. Ia merasa sangat jijik. Jijik dengan tubuhnya dan juga dengan pria itu.


Sepanjang malam Mi Cha menangisi hidupnya. Ternyata penderitaannya selama ini belum cukup. Hingga akhirnya malam ini miliknya yang ia jaga sungguh-sungguh direnggut begitu saja oleh pria yang tidak dikenalnya.


Hingga tanpa ia sadari ia terlelap dengan wajah yang masih basah dengan air mata.


Suara piring berdentang yang sedang ditata oleh pelayan membangunkan Mi Cha.


Sinar matahari menusuk ke matanya sehingga ia memejamkan kembali kedua matanya.


Mi Cha memilih tetap berbaring diranjang tanpa mempedulikan sarapannya. Ia kini merasa seperti hewan dikandang.


Tidak terasa air mata kembali membasahi pipinya. Akan sampai kapan ia begini.


***


Malam hari Kim Yo Han kembali kerumahnya. Ia berniat langsung menuju kamarnya namun kepala pelayan mencegatnya di bawah tangga.


"Tuan.."


"Ada apa?"


"Nona Cha tidak mau makan sama sekali hari ini. Makan malam ini juga tidak disentuhnya."


Kening Kim Yo Han berkerut.


"Baiklah aku akan memeriksanya." Jawabnya sambil berjalan ke arah belakang rumahnya.


'Apa yang membuatnya seperti itu?' Batinnya penasaran.


Karena mabuk ia benar-benar telah lupa akan kelakuannya pada gadis itu semalam.


Ia membuka pintu dan mendapati lampu diruangan itu belum dinyalakan. Dengan cepat ia menyalakan lampu.


Mi Cha yang tengah tertidur karena kelelahan menangis seharian, terkejut dan terbangun karena lampu tiba-tiba menyala.


Ia cepat-cepat duduk dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia sangat takut pria itu menyerangnya lagi seperti kemarin.


Kim Yo Han melihat wajah Mi Cha yang sembab karena menangis.


"Mengapa kau menangis?!" Bentaknya kesal. Ia kini menganggap Mi Cha gadis yang manja dan cengeng.


Mi Cha diam tak menjawab. Ia tidak ingin melihat wajah pria itu karena sangat membencinya.


Kim Yo Han mengambil nampan yang berisi makanan yang disediakan pelayan dan setengah melemparkannya di hadapan Mi Cha.


"Makan itu! Cepat!! Jangan sampai membuatku menyiksamu!"


Perlahan Mi Cha mengambil sumpit dan sambil meneteskan air mata ia memakan makanan yang sudah dingin itu.


"Jika aku sampai mendengar kau tidak mau makan lagi. Kau akan melihat apa yang akan kulakukan padamu! Kau mengerti?!"


Mi Cha cepat-cepat mengangguk. Ia sungguh tidak ingin kejadian tadi malam terulang kembali. Rasa sakit dibagian bawah tubuhnya bahkan sampai saat ini masih terasa.


Mi Cha bernafas lega saat pria itu telah keluar dari kamarnya.


Untuk malam ini tampaknya ia terhindar dari kelakuan bejat laki-laki itu. Tapi entah besok..


***