Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Enam



Mi Cha membuka kedua matanya perlahan. Ia mencoba mengingat dimana ia berada, saat melihat ruangan kamar yang asing itu.


Ia duduk diatas tempat tidur dan mengingat kembali seluruh kejadian hari kemarin. Betapa hancur hatinya mengingat kembali perlakuan pria itu terhadapnya. Ia kini merasa dirinya lebih dari sampah yang terbuang.


Namun ia teringat nyonya Park yang menolongnya. Wanita cantik dan baik itu telah menjadi ibu peri baginya.


Tok tok tok..


Mi Cha menoleh ke arah pintu. Sebelum ia menjawab, wajah nyonya Park muncul dengan senyum ramahnya.


"Kau sudah bangun ternyata. Ayo cepat bersiap dan kita sarapan. Ada beberapa hal yang harus mama sampaikan padamu. Mama tunggu di meja makan ya." Ujarnya dengan suara yang empuk dan enak didengar.


Mi Cha teringat kembali kesepakatan mereka berdua kemarin untuk merubah identitasnya menjadi Ae Ri.


'Ya.. Aku harus membiasakan diri mulai saat ini. Aku yakin inilah jalan yang terbaik untukku.' Batin Mi Cha yang kini menjadi Ae Ri.


"Selamat pagi ma.." Ae Ri menyapa ramah nyonya Park. Ia memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi kemarin.


"Ae Ri ku.." Meski bibirnya tersenyum namun mata nyonya Park tampak berkaca-kaca.


"Kau bisa tidur tadi malam? Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran.


"Bisa. Tidurku sangat nyenyak ma. Tubuhku juga terasa lebih segar sekarang." Ae Ri duduk dihadapan mamanya.


Nyonya Park tersenyum.


"Sebentar lagi tuan Choi akan datang. Dia yang akan mengurus perubahan identitasmu. Pekerjaan dia sangat halus. Dia bisa diandalkan. Kau tenang saja."


Ae Ri mengangguk. Ya dia harus percaya, tidak ada pilihan lain. Karena tidak ada waktu juga baginya untuk meragukan apapun.


"Ayolah makan yang banyak. Kau tampak sangat kurus." Nyonya Park mengambilkan telur gulung dan diletakkan di atas nasi Ae Ri.


"Trimakasih ma." Ae Ri menahan air matanya agar tidak menetes. Sudah sangat lama sekali ia kehilangan perhatian seorang ibu seperti ini.


Sejak mamanya meninggal 11 tahun yang lalu ia seperti hidup sendiri. Sedangkan istri papa tirinya, meskipun ia memanggilnya mama namun mereka hampir tidak pernah saling menyapa. Wanita itu menganggap Mi Cha tidak pernah ada.


Nyonya Park menyentuh tangan Ae Ri dan menggenggamnya erat.


"Mari kita lupakan apa yang terjadi di hari kemarin. Mulai hari ini kita melangkah bersama dan bahagia bersama ya putriku." Bisiknya lembut.


Ae Ri mengangguk dan meneteskan air mata.


"Iya ma. Aku akan melupakan semuanya. Aku tidak mau mengingat-ingatnya lagi. Tidak mau." Jawab Ae Ri.


Nyonya Park tersenyum.


Suara bel pintu berbunyi.


"Itu pasti tuan Choi." Ujar wanita itu sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Bagaimana berkas-berkasnya tuan Choi? Apakah ada yang kurang?" Tanya nyonya Park penasaran setelah mereka bertiga duduk di ruang keluarga.


"Tidak ada nyonya. Semua sudah beres dan siap digunakan." Jawab tuan Choi sambil meletakkan sebuah amplop besar di atas meja.


Nyonya Park menerimanya dan membuka berkas itu. Tampak ia tersenyum puas saat memeriksa setiap helai kertas di dalamnya.


"Lihatlah sayang. Semua sudah oke." Ia menyerahkan berkas itu kepada Ae Ri.


Ae Ri menerimanya dan melihat beberapa dokumen yang telah dibuatkan untuknya. Dengan menggunakan orang-orang khususnya semua dokumen asli tapi palsu itu telah berhasil diperolehnya. Dari KTP, paspor, bahkan SIM semua sudah tercetak dengan nama Park Ae Ri tetapi wajahnya Mi Cha. Entah bagaimana caranya mereka membuat itu, Ae Ri terkesima dibuatnya.


"Apakah jika ini digunakan aku tidak akan ketahuan?" Tanya Ae Ri polos.


Tuan Choi tersenyum.


"Anda jangan khawatir nona. Tidak akan ketahuan. Data anda ini sudah masuk ke data di pihak berwenang. Jadi ini sekarang adalah asli. Jangan khawatir." Ujar pria berusia 45an tahun itu.


Ae Ri ternganga keheranan. Nyonya Park tertawa.


"Baiklah terimakasih banyak atas bantuannya tuan Choi."


"Sama-sama nyonya Park. Jika anda memerlukan sesuatu lagi bisa mencariku."


Pak Choi pamit.


"Semua sudah beres nak, kita tinggal bersiap-siap. Besok pagi kita akan berangkat ke Amerika."


"Baik ma."


"Apakah ada yang ingin kau bawa kesana? Apa kita perlu membeli sesuatu?"


"Sepertinya tidak ada ma. Aku tidak ingin membawa apapun dari sini. Lagipula aku juga sudah tidak memiliki apa-apa lagi."


'Termasuk harga diriku.' Terus Ae Ri namun didalam hatinya.


"Baiklah kalau begitu. Ayo kita habiskan hari ini dengan memutari kota. Entah kapan kita bisa kesini lagi. Ayo, mumpung udara hangat dan banyak bunga bermekaran." Seru nyonya Park dengan semangat. Ia ingin menghibur Ae Ri yang tampak masih diselimuti nestapa.


***


Pagi itu terasa cukup hangat tidak seperti hati Ae Ri yang masih dingin. Ia memandang keluar jendela mobil. Meski disepanjang jalan tampak beberapa pohon sakura bermekaran namun ia tidak bahagia. Pikirannya masih belum sepenuhnya bisa melupakan rasa pahit yang ia alami beberapa hari lalu.


Ini adalah perjalanannya menuju dunia barunya. Ya.. Ia akan menjadi orang lain di negeri orang.


'Mi Cha yang menyedihkan sudah mati dan Ae Ri yang mengagumkan akan hidup.' Batinnya. Ia menoleh pada mamanya yang duduk disebelahnya.


Nyonya Park juga menoleh kearahnya dan tersenyum. Ia menggenggam erat tangan Ae Ri.


"Mama kini bisa tersenyum bahagia karenamu." Bisiknya.


Ae Ri juga menggenggam erat tangan nyonya Park.


"Terimakasih ma. Mama adalah peri baikku." Ae Ri tersenyum. Sedangkan nyonya Park tertawa renyah.


"Katakan selamat tinggal pada kota ini Ae Ri. Katakan sampai bertemu lagi saat kau sudah menjadi wanita yang sukses." Seru nyonya Park sambil membuka jendela mobil disampingnya.


Ae Ri pun ikut membuka jendela disebelahnya. Ia memejamkan mata dan menirukan ucapan mamanya.


'Ya selamat tinggal Seoul, selamat tinggal Korea. Sampai bertemu lagi saat aku sudah menjadi wanita yang sukses!'


***


Kedua mata Ae Ri terbelalak saat melihat bangunan 3 lantai dihadapannya itu. Bangunan itu berwarna dominan merah dan hitam dan didepannya terpampang nama "Liberty Park".


Ternyata nyonya Park adalah seorang perancang busana dan memiliki butik yang cukup besar di sudut kota New York.


"Aku tidak menyangka kita akan tinggal di New York. Mama ternyata sangat sukses."


Mereka langsung menuju lantai ketiga yang adalah tempat tinggal mereka.


"Ini kamarmu Ae Ri. Bagaimana? Kau suka? Jika ada yang ingin kau ubah kau boleh mengubahnya. Buatlah senyaman mungkin."


Ae Ri memandang kamar yang bernuansa putih itu. Meskipun kamarnya tidak terlalu luas namun terkesan hangat dan nyaman.


"Tidak ma.. Kurasa tidak ada yang perlu diubah. Aku sangat menyukainya. Trimakasih ma." Ae Ri tersenyum senang.


"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah. Saat kau sudah tidak lelah kita harus membicarakan masa depanmu. Mama mau kau kuliah. Mama akan antar kau ke universitas di dekat sini. Pilihlah fakultas yang kau sukai. Kau mau kan?"


Ae Ri terbelalak. Selama ini ia memang sangat ingin kuliah. Namun papa mama tirinya tidak pernah memenuhi keinginannya itu.


"Mau. Tentu saja mau. Trimakasih ma. Aku sangat berterimakasih." Ae Ri menghambur ke arah nyonya Park dan memeluknya erat. Ia sudah tidak bisa lagi membendung air mata bahagianya.


***


Ae Ri sudah mulai masuk kuliah. Ia akhirnya memilih masuk ke fakultas Fashion Disain. Ia dari kecil memang sudah senang menggambar. Ia pikir akan lebih baik jika ia pun bisa belajar tentang apa yang dilakukan nyonya Park.


"Park Ae Ri!!" Suara seorang pria memanggilnya dengan cukup keras.


Ae Ri menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan tampak seorang mahasiswa berlari ke arahnya. Ia memakai kaos putih dilapis kemeja kotak-kotak dengan celana jeans biru dengan tas ranselnya yang hanya di cangklong di bahu kirinya saja.


"Kau sudah makan?" Tanyanya setelah berada didepan Ae Ri. Nafasnya terengah-engah.


Ahn Jae Hyun adalah seorang mahasiswa asal Korea. Ia dan Ae Ri menjadi akrab karena sama-sama merasa satu negara dan mereka berdua juga mengambil jurusan yang sama. Sejak kenal pertama, Ahn Jae Hyun selalu menempel pada Ae Ri.


Ahn Jae Hyun adalah salah satu putra seorang konglomerat di Korea. Ayahnya seorang pengusaha pemilik beberapa pusat perbelanjaan di kota-kota di Korea.


Menurut Jae Hyun sebenarnya ayahnya sangat menentang ia kuliah disain, namun ia nekat karena ingin mengejar passionnya sendiri. Ia ingin mandiri dan tidak ingin mengikuti keinginan ayahnya untuk menjadi penerus bisnisnya.


"Sudah." Ae Ri menjawab datar.


"Yaa.. Padahal aku sengaja menunggumu supaya kita bisa makan siang bersama." Ahn Jae Hyun mengerucutkan bibirnya yang merah alami. Pria muda itu berkulit putih bersih seperti porselin. Wajahnya sangat tampan dan tubuhnya tinggi atletis.


"Ayolah temani aku makan." Bujuk Jae Hyun.


"Tidak mau. Aku malas kemana-mana. Panas!" Seru Ae Ri.


"Ayolah nanti kubelikan es krim kesukaanmu. Ayo!" Jae Hyun menarik tangan Ae Ri dan terus berjalan ke arah kantin.


"Bulan depan kita akan libur musim panas, kau mau liburan kemana? Atau mau ke Korea, kita kerumahku?"


Ae Ri melirik Jae Hyun yang duduk diseberang meja.


"Aku mau tidur."


"Hibernasi itu kalau musim dingin. Mana ada orang tidur musim panas."


"Sesukaku." Jawab Ae Ri ketus sambil menikmati es krim coklatnya.


"Lagipula liburan masih lama kau sudah ribut saja." Tambah Ae Ri.


Jae Hyun nyengir memamerkan giginya.


"Ae Ri."


"Hmm.."


"Maukah kau menjadi pacarku?"


"Tidak."


"Mengapa kau selalu menolakku?" Tanya Jae Hyun kesal.


Ya.. Ae Ri telah menolak pengakuan pria itu berkali-kali. Namun Jae Hyun tetap saja tak berhenti. Ia tak kenal lelah. Meski kadang Ae Ri sengaja menghindarinya namun Jae Hyun terus saja menempel padanya.


Namun disisi lain Ae Ri menyukai Jae Hyun sebagai teman dan sahabat. Ia selalu ada setiap kali Ae Ri memerlukannya. Namun hati Ae Ri tidak bisa merasakan hal lain selain pertemanan itu.


"Jika kau masih mengatakan itu aku benar-benar akan memusuhimu! Aku tidak akan mau lagi bertemu denganmu!" Ujar Ae Ri ketus.


Ahn Jae Hyun kembali mengerucutkan bibirnya lagi.


"Pria seperti apa sih yang kau sukai. Aku akan menjadi seperti itu. Coba katakan."


"Tidak ada. Aku tidak suka pria. Aku menyukai diriku sendiri. Kau mau menjadi sepertiku? Sana pakailah gaun!" Jawab Ae Ri uring-uringan karena kesal.


Entahlah, setiap kali Jae Hyun mengungkapkan perasaannya itu membuat Ae Ri ingin mengamuk karena kesal. Ia benar-benar merasa tidak membutuhkan laki-laki dalam hidupnya. Ia lebih suka sendiri. Ya.. Ia lebih merasa bahagia dengan kehidupannya sekarang.


Dengan susah payah ia mulai sedikit bisa melupakan pria jahat bernama Kim Yo Han itu. Ia menyibukkan diri dengan kuliahnya dan ia juga sudah mulai ikut membantu bisnis mamanya. Ia bertekat tidak mau berurusan dulu dengan yang namanya pria. Hati dan pikirannya sepenuhnya menolak itu.


"Apa kau pernah dibuat sakit hati oleh seorang pria hingga kau tidak mau pacaran?" Tanya Jae Hyun penasaran.


Ae Ri menatapnya sebentar. Lalu ia menunduk dan tangannya sibuk mengaduk-aduk es krim di gelasnya.


Jae Hyun menunggu-nunggu jawaban dari Ae Ri namun ternyata gadis itu tidak berniat menjawabnya. Jae Hyun menarik kesimpulan sendiri bahwa benar Ae Ri pernah disakiti oleh seorang pria.


"Apakah kau pikir semua pria akan menyakitimu? Aku sama sekali tidak ada niat untuk menyakitimu. Jika kau tidak percaya, coba saja. Cobalah jadi pacarku, kau pasti menyukainya." Ahn Jae Hyun tertawa kecil. Ia ingin membuat Ae Ri mengalihkan pikirannya.


Ae Ri meliriknya.


"Tidak mau. Kau cari pacar lain saja. Itu banyak gadis-gadis cantik. Kau mau ku kenalkan pada mereka. Sini aku panggil mereka." Ae Ri berniat berdiri untuk menghampiri beberapa teman wanita mereka yang juga tengah makan di kantin itu.


Ahn Jae Hyun cepat-cepat menarik tangan Ae Ri dan mendudukkannya lagi di kursi.


"Kau gila. Jangan macam-macam. Aku tidak mau sama orang lain. Aku maunya hanya sama kamu. Kalau kau tidak mau ya sudah. Aku akan menunggu sampai kau mau."


"Nanti kau keburu tua dan aku masih tetap tidak mau denganmu."


"Biar saja. Kita tua bersama-sama. Berarti kita sama-sama tidak menikah. Ya sudah kita seperti ini saja. Aku suka.."


Ae Ri meliriknya kesal. Tapi meski kesal ia akhirnya tertawa melihat ekspresi lucu wajah Jae Hyun yang memang sengaja ia lakukan untuk membuat Ae Ri tertawa.


Ahn Jae Hyun memang selalu berpandangan positif. Ia tidak pernah mengeluh. Dan selalu mensupport Ae Ri. Hal itulah yang membuat Ae Ri nyaman didekat pria itu, tentu saja selain selera humornya yang selalu menghidupkan suasana.


'Jae Hyun kau sangat baik. Apakah aku pantas menerima cintamu?' Bisik Ae Ri dalam hati.


***


Ahn Jae Hyun sebagai Ahn Jae Hyun, Tampan, baik hati, selalu ceria dan berpikir positif. Uwuuu cute banget sih doii.. 😍😍😍