
Mata Kim Yo Han menatap sendu pada mata Ae Ri yang berada hanya 1 centimeter dari wajahnya. Kim Yo Han melirik bibir Ae Ri yang merah muda menggoda.
Ae Ri merasakan degup jantungnya semakin cepat. Ia sangat takut jika pria itu benar-benar menciumnya.
Untunglah Kim Yo Han hanya memasang kan sabuk pengamannya saja lalu kembali duduk dan melajukan mobil Ae Ri.
Perlahan Ae Ri menghembuskan nafas lega.
'Kurang ajar mengapa dia seperti itu.' Bisiknya dalam hati sambil menata kembali detak jantungnya.
"Mau kemana kita?!" Tanya Ae Ri kesal.
"Mau membuktikan sesuatu."
"Lalu mobilmu?"
Kim Yo Han hanya diam dan terus fokus menyetir mobil. Pandangannya lurus ke depan. Sorot matanya sangat tajam.
"Membuktikan apa?"
Pria itu masih diam.
"Cepat berhenti! Aku tidak mau. Atau aku akan loncat." Ancam Ae Ri.
Bukannya berhenti Kim Yo Han justru semakin melajukan mobilnya dengan kencang. Ae Ri sampai berpegangan karena mulai merasa cemas.
"CEO Kim! Apa yang kau lakukan? Jika kau mau bunuh diri, bunuh saja dirimu sendiri, tidak perlu mengajakku!" Teriak Ae Ri dengan kesal.
Kim Yo Han hanya tertawa sinis tidak memperdulikan ocehan dan teriakan Ae Ri.
Mobil masuk ke dalam sebuah lingkungan perumahan yang sangat dikenal Ae Ri. Degup jantungnya kembali berdetak kencang.
Kim Yo Han menghentikan mobilnya di sebuah pintu gerbang hitam yang terbuka otomatis dan sesaat kemudian pria itu membawa masuk mobil Ae Ri ke halaman parkir rumah itu.
Ae Ri mencoba sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan keterkejutannya karena saat itu Kim Yo Han membawanya ke rumah masa kecilnya. Rumah bercat biru dan putih itu bermodel modern dengan dua lantai dan banyak kaca besar. Rumah dimana ia dibesarkan, namun kemudian dirampas oleh ayah tirinya.
"Rumah siapa ini?"
"Rumahku! Cepat keluar."
Ae Ri tetap berdiam diri di dalam mobil. Ia mencoba menerka apa yang akan dilakukan pria itu.
Kim Yo Han tidak sabar dan akhirnya membuka pintu mobil, membuka sabuk pengaman dan menarik tangan Ae Ri agar segera mengikutinya ke dalam rumah.
"Aku tidak mau masuk. Aku harus segera ke kantor. Lepaskan aku!!" Teriak Ae Ri yang mulai marah.
Namun Kim Yo Han sama sekali tidak memperdulikan teriakannya. Bahkan sampai di dalam rumah yang tampaknya sepi itu, ia tetap menarik tangan Ae Ri hingga menaiki tangga menuju lantai dua.
Ae Ri terkejut karena yang dituju oleh Kim Yo Han adalah kamarnya. Ya, kamar Mi Cha.
Kamar itu masih sama seperti saat ia meninggalkannya terakhir kali. Saat ia tiba-tiba di culik oleh kaki tangan Kim Yo Han tujuh tahun yang lalu. Penculikan yang sudah merusak hidupnya.
Rasa benci kini timbul lagi didalam pikiran Ae Ri saat ia teringat bagaimana pria itu memperlakukannya dulu. Ia telah merenggut miliknya yang sangat berharga.
Kim Yo Han menyeret tangan Ae Ri ke arah tempat tidur dan mendorong tubuh Ae Ri ke ranjang berseprei putih itu. Seketika tubuh Ae Ri jatuh terlentang di atas kasur. Dan sesaat kemudian Kim Yo Han menyusul dengan posisi diatas Ae Ri.
Ae Ri sekuat tenaga mendorong Yo Han. Namun ia merasa tubuhnya sangat lemas karena sangat ketakutan. Ia takut Kim Yo Han berbuat sesuatu seperti yang pernah ia lakukan dulu. Tanpa ia sadari, air matanya sudah mengalir dengan deras.
"Kau bilang kau biasa bersama pria-pria tampan dan berbadan bagus. Kenapa kau menangis ketakutan seperti seorang gadis yang masih polos seperti ini?" Kim Yo Han tertawa sinis.
"Aku melakukannya karena suka sama suka. Pria-pria itu tidak memperk*saku!" Desis Ae Ri dengan penuh kebencian pada pria yang berada di atasnya itu.
"Kau tidak menyukaiku?"
"Tidak! Aku membencimu! Sangat membencimu!" Ae Ri menatap tajam wajah Yo Han untuk menunjukkan keseriusannya.
"Tapi aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Kau boleh terus menolakku. Tapi aku tidak peduli." Kim Yo Han kembali tersenyum sinis.
Sesaat kemudian ia mencium bibir Ae Ri. Ia benar-benar tidak peduli meski Ae Ri meronta-ronta. Dengan tangan kirinya, kedua tangan Ae Ri ditahannya di atas kepala Ae Ri. Sedangkan tangan kanannya mencengkram dagu Ae Ri agar tidak bisa bergerak.
Ae Ri menangis. Ia ingin berteriak namun bibirnya sepenuhnya telah dikuasai Kim Yo Han. Ia menggigit bibir pria itu dengan sangat kuat. Rasa darah seketika masuk ke dalam mulutnya sendiri.
Kim Yo Han terkejut dan melepaskan ciumannya. Ia menjilat bibirnya yang terasa pedih akibat gigitan Ae Ri.
"Lepaskan aku!" Ae Ri sedikit memohon. Ia tahu Kim Yo Han mungkin tidak akan melepaskannya jika ia terus meronta.
Perlahan Kim Yo Han melepaskan dirinya dan berbaring di samping Ae Ri. Seketika ia menyadari kebrengsekannya barusan. Hampir saja ia menyakiti wanita itu lagi.
Ae Ri duduk membelakangi pria itu dan membenahi pakaiannya yang menjadi tidak rapi lagi. Rasa marah dan benci langsung menyerbunya.
Ae Ri cepat-cepat bangun dan berlari masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Kim Yo Han melirik. Batinnya jika dia bukan Mi Cha pasti ia tidak tahu dimana letak kamar mandinya.
Ia berdiri dan merapikan pakaian serta rambutnya. Kemudian ia mengetuk pintu.
"Cepatlah. Jangan lama-lama. Bukankah kau harus segera kembali ke kantor." Kim Yo Han sedikit berteriak. Sebenarnya ada sedikit rasa takut di dalam benaknya.
Ia benar-benar tidak menyangka hari ini akan terjadi seperti ini.
Ae Ri keluar dari kamar mandi dengan memasang wajah yang datar. Ia mencoba tidak menunjukkan perasaannya yang kacau saat ini.
Ae Ri cepat-cepat akan keluar kamar namun ternyata terkunci. Ae Ri merasa semakin kesal.
Kim Yo Han berdiri tepat didepan Ae Ri.
"Kumohon maafkan aku. Aku sangat menyesal. Maafkan aku. Ku mohon.." Ucap pria itu.
Ae Ri tidak menjawab.
***
Perlahan Kim Yo Han menyetir mobil Ae Ri.
Mobil berwarna merah itu perlahan parkir di depan butik Liberty Park.
"Kita sampai, Ae Ri."
"Nona Park. Jangan memanggilku dengan nama belakangku."
"Baiklah Nona Park." Setelah itu ia keluar dari mobil. Lalu memutari mobil dan hendak membukakan pintu Ae Ri.
Namun wanita itu terlebih dahulu membuka pintu sendiri dan berlari masuk ke dalam butiknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kim Yo Han hanya bisa menatapnya dengan perasaan bersalah.
***
Pikirannya terus melayang pada deru nafas pria itu. Wangi parfum pria itu. Otot dada pria itu yang kencang saat dirabanya.
Ae Ri menggeleng-gelengkan kepalanya.
Meski rasa marah memenuhi dadanya, namun kembali ia teringat rasa bibir dan lidah pria itu yang masih hangat di mulutnya. Ae Ri meraba bibirnya sendiri.
Kemudian ia terbelalak.
'Kau gila Ae Ri! Apa yang kau pikirkan! Kau harus membencinya! Kau harus memikirkan cara membalas dendam padanya!' Seru Ae Ri dalam hati.
Drrt.. Drrt..
Ponsel Ae Ri bergetar. Tae Yang memanggil.
"Halo sayang."
"Mommy ini sudah hampir malam, Mommy pulang jam berapa?"
"Tunggu sebentar ya sayang. Mommy masih harus menyelesaikan sesuatu. Mungkin satu jam lagi mommy pulang."
"Oke Mom. I Love you."
"Love you too, Tae Yang ku."
Ae Ri menutup panggilannya.
Baru saja Ae Ri akan meletakkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya bergetar lagi.
"Halo Sayang, ada apa lagi?"
Selama beberapa detik tidak terdengar suara di seberang sana. Ae Ri meletakkan pensil nya dan memeriksa layar ponselnya.
Seketika ia terbelalak karena yang menelponnya adalah Kim Yo Han, bukan Tae Yang.
"Maaf. Aku mengira kau orang lain. Ada apa CEO Kim?"
Dengan gugup Ae Ri mencoba menjelaskan.
"Aku berharap kau benar-benar memanggilku 'sayang'."
"Maaf aku salah." Jawab Ae Ri tenang sambil kembali menggambar lagi dengan pensilnya.
"Siapa yang kau panggil 'sayang' tadi?"
"Bukan urusanmu. Kau bukan siapa-siapaku, jadi jangan bertindak terlalu jauh." Jawab Ae Ri santai.
"Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Bisakah kau turun? Aku ada dibawah."
Seketika Ae Ri menghentikan goresan pensilnya.
"Aku sangat sibuk, harus menyelesaikan sesuatu malam ini. Jadi tolong jangan menggangguku."
"Atau aku yang akan naik?"
"Tidak! Jangan!"
"Aku akan menghitung pelan-pelan sampai sepuluh. Jika kau tidak datang maka aku akan naik ke kantormu. Kau tahu kan jika aku menginginkan sesuatu maka akan kudapatkan bagaimanapun caranya." Suara Kim Yo Han terdengar santai namun bagi Ae Ri itu adalah ancaman yang sangat serius.
"Apakah.."
"Satu.."
Ae Ri langsung berdiri dengan kesal dan secepatnya menuju lift untuk turun ke bawah.
"Apa maumu!!" Bentak Ae Ri saat berhadapan dengan Kim Yo Han.
Beberapa pegawainya terlihat terkejut dengan sikap Ae Ri yang biasanya lembut dan elegan.
Kim Yo Han tertawa ramah pada para gadis-gadis pegawai Ae Ri yang berada di sekitar mereka. Sesaat mereka saling berbisik, tampaknya mereka mengira Kim Yo Han memiliki hubungan khusus dengan bos mereka.
"Boleh pinjam CEO kalian sebentar. Aku sangat merindukannya." Senyum Yo Han tergambar sangat indah di wajahnya.
Para pegawai Ae Ri langsung tersenyum lebar.
Ae Ri sangat kesal dengan sikap Kim Yo Han. Ia sangat pandai memikat orang.
"Ada apa?" Tanya Ae Ri saat mereka sudah diluar butik.
"Bukankah aku tadi sudah mengatakan pada pegawaimu bahwa aku sangat merindukanmu?" Bisik Kim Yo Han.
"Kalau tidak ada yang penting, kumohon pergilah, jangan menggangguku. Aku sedang sangat sibuk sekali." Ae Ri hampir berteriak karena sangat kesal.
"Dan jangan bersikap seolah-olah kita dekat. Jangan!!" Perintahnya lagi.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu dan melihatmu sebentar. Aku juga sedang sangat sibuk sekali. Besok pagi aku harus berangkat ke China untuk membahas kerjasama disana. Mungkin aku disana selama dua hari. Jadi aku sempatkan untuk bertemu denganmu malam ini. Aku berharap kau mau menghabiskan malam ini denganku."
"Tidak bisa."
"Tidak bisakah kau pikirkan lagi jawabanmu? Jangan menjawabnya terlalu cepat."
"Tidak bisa. Sana pergilah.."
"Pasti aku akan sangat merindukanmu saat di China."
Ae Ri tidak menjawab apapun. Kedua matanya asik melihat jalanan di depan mereka.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Ae Ri. Ae Ri melotot pada Kim Yo Han. Reflek ia mengelap bibirnya dengan keras. Namun Kim Yo Han terus tersenyum padanya.
"Apakah kau mau ku bawakan sesuatu dari sana? Oleh-oleh?" Tanya pria itu dengan nada yang sangat lembut.
"Aku tidak mau. Jangan memberiku apapun. Akan kubuang apapun itu!" Desis Ae Ri.
"Tampaknya kau sangat berbakat dalam hal menyakiti hati seseorang." Kim Yo Han tertawa hambar.
"Ya. Itu sebabnya lebih baik kita hanya berhubungan untuk bisnis saja. Tidak perlu mencoba mendekati ku untuk tujuan yang lain. Aku sangat tidak menyukai itu. Kuharap kau paham dengan kata-kataku ini, tuan Kim."
"Tidak. Aku tidak memahamimu. Tapi baiklah aku akan kembali lagi ke kantor. Aku juga sedang lembur. Sampai bertemu tiga hari lagi ya. Ini makanlah jangan sampai terlalu lelah dan lupa makan ya." Ujar Kim Yo Han sambil menyerahkan sekotak makaron pada Ae Ri. Kemudian dengan kharisma dewa ia berlalu dan masuk ke mobilnya meninggalkan Ae Ri dengan berbagai perasaan bercampur aduk di dalam hatinya.
Di dalam mobilnya, Kim Yo Han memandangi Ae Ri dan tersenyum.
"Sesulit apapun aku akan menembus hatimu Ae Ri. Aku akan sangat sabar hingga sampai berhasil masuk ke sana." Bisiknya pelan.
***