Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Lima



"Nona.. Nona..!"


Sebuah suara memanggil-manggil di telinganya membuat Mi Cha tersadar.


Perlahan ia membuka kelopak matanya. Sinar terang dari lampu ruangan yang putih membuatnya silau.


Seketika seluruh kesadarannya datang. Mi Cha meneliti seluruh ruangan, tampaknya ia tengah berada di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit.


Perlahan ia menoleh ke sampingnya. Sesosok wanita cantik sekitar usia 40an tahun menatapnya cemas.


"Apakah ada yang sakit?"


Mi Cha menggeleng meski ia merasa kepalanya sedikit sakit. Ia mengerutkan keningnya.


"Dokter..dokter!!" Panggil wanita itu dengan panik.


Dokter dan seorang suster datang mendekat dan memeriksa Mi Cha.


"Nona Park Ae Ri hanya kelelahan nyonya. Dengan istirahat beberapa hari ia akan pulih kembali. Habiskan infus satu botol ini lalu anda boleh pulang nona. Jangan lupa, istirahat dulu beberapa hari." Dokter tersenyum dan meninggalkan mereka.


"Baik dokter, terimakasih." Jawab wanita itu.


"Nyonya sementara itu anda bisa mengurus administrasi di depan." Perawat menunjuk sebuah loket yang berada di dekat pintu masuk. Lalu pamit meninggalkan mereka.


"Baik." Nyonya itu mengangguk.


"Maaf nyonya, saya sudah merepotkan anda. Saya akan mengurusnya sendiri." Mi Cha berusaha bangun dari tidurnya.


Namun wanita itu mencegahnya bangun. Ia mendorong lembut tubuh Mi Cha agar ia berbaring lagi dan menyelimuti tubuh Mi Cha dengan baik.


"Tunggu sebentar disini, oke?!" Perintahnya sambil membenahi selimut Mi Cha lalu berjalan meninggalkannya.


Mi Cha hanya menatapnya tanpa bisa berkata-kata.


Beberapa saat kemudian nyonya itu kembali lagi ke tempat tidur Mi Cha.


"Aku minta maaf tidak bisa menghubungi orangtuamu. Nomor telepon papa dan mamamu di ponselmu tidak tersambung semua."


"Tidak apa-apa nyonya. Lagi pula mereka pasti tidak bisa datang."


"Jadi.. Aku mendaftarkanmu atas nama putriku." Ujar nyonya itu pelan.


Mi Cha menganga karena terkejut. Ia teringat dokter tadi memanggilnya dengan nama orang lain.


"Jadi.. Jika nanti nona dipanggil dengan nama itu mohon kerjasamanya ya." Bisiknya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada dengan posisi memohon.


"Ba..baik nyonya." Meskipun masih bingung namun Mi Cha memilih untuk menurut.


"Gadis pintar.." Bisik wanita itu sambil membelai rambut Mi Cha. Ia memandangi Mi Cha dan tersenyum.


"Apa yang terjadi padaku tadi nyonya?"


"Saat di taman tadi kau tiba-tiba pingsan di depanku. Jadi aku langsung membawamu ke sini. Tapi setelah bingung tidak bisa menghubungi orangtuamu aku langsung menyebut nama putriku. Oh bodohnya aku. Maafkan aku ya.."


Nyonya itu memandang Mi Cha dengan perasaan bersalah.


"Tidak.. Tidak nyonya. Aku yang perlu meminta maaf padamu. Gara-gara aku nyonya menjadi kerepotan."


"Tidak sayang. Aku senang bisa menolongmu. Aku senang kau membuatku repot."


Tiba-tiba mata wanita itu sedikit basah. Namun cepat-cepat ia memalingkan wajahnya.


"Permisi." Seorang perawat masuk dan memeriksa infus Mi Cha.


"Nona Park Ae Ri sekitar 10 menit lagi anda bisa pulang." ujarnya sambil tersenyum ramah.


"Baik. Terimakasih." Mi Cha membalas senyum perawat itu meskipun ada perasaan asing mendengar nama panggilannya.


Sedangkan nyonya Park tampak meringis dengan perasaan bersalah.


***


"Nyonya, maaf bolehkah saya tahu nama anda?"


Saat itu mereka berdua sudah berada di depan pintu utama Rumah Sakit.


"Oh benar. Kita bahkan belum sempat berkenalan. Aku Park Ha Sun. Kau?" Serunya.


"Saya Mi Cha, nyonya. Yoon Mi Cha."


Keduanya bersalaman dengan hangat.


"Terimakasih banyak atas bantuan nyonya Park hari ini."


"Sama-sama sayang. Baiklah. Sekarang kau sebutkan alamat rumahmu aku akan mengantarmu. Itu mobilku sudah datang."


Nyonya Park menunjuk sebuah mobil SUV berwarna merah yang mendekat ke arah mereka.


Supir turun dari mobil dan membukakan pintu.


Nyonya Park mendorong pundak Mi Cha agar masuk ke mobil. Tapi Mi Cha menolak.


"Terimakasih banyak nyonya Park. Tapi lebih baik saya pulang sendiri saja. Itu.. Saya akan memanggil taksi saja."


"Tidak! Tidak boleh. Ayo cepat masuk. Itu lihat, banyak mobil yang mau lewat. Cepat."


Nyonya Park sedikit memaksa dan mendorong tubuh Mi Cha. Mau tidak mau akhirnya Mi Cha menurut.


"Nah.. Itu baru gadis baik." Seru nyonya Park saat akhirnya ia duduk di dalam mobil.


Mi Cha hanya bisa tersenyum.


"Dimana rumahmu nona Yoon?"


Mi Cha diam tak menjawab. Ia menunduk dan meremas jemarinya.


"Nona Yoon.." Nyonya Park menoleh dan menyentuh pundak Mi Cha.


"Sebenarnya.. Saya tidak tahu mau pulang kemana nyonya. Saya sudah dibuang orangtua saya.


Tidak. Sebenarnya mereka bukan orang tua kandung saya. Mereka sudah meninggal saat saya kecil.


Jadi orang tua tiri saya yang membuang saya. Rumah kami.. Rumah mamaku sudah mereka jual. Mereka pergi. Bukan, papa tiriku


bunuh diri. Mama tiriku dan anaknya yang pergi."


Dengan nafas yang menyesak di dada Mi Cha mencoba menjelaskan keadaannya.


Nyonya Park terbelalak mencoba mencerna ucapan gadis itu.


Ia melirik ke arah spion. Tampak supirnya memandang trenyuh pada gadis itu.


"Pak Jo. Kita pulang ke rumah saja."


"Baik nyonya." Pak Jo, sopir nyonya Park menatap wanita itu dan tersenyum lega.


***


Mobil merah itu masuk ke kawasan perumahan di tepi kota Seoul dan berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar berwarna putih.


"Ayo turun! Kita sudah sampai."


"Tapi nyonya.."


"Sudah ayo cepat masuk ke rumah. Udara malam tidak baik untuk tubuhmu yang masih lemah."


Mi Cha terpaksa menurut dan berjalan mengikuti wanita berambut lurus sepunggung itu.


Meskipun ia sudah berumur namun nyonya itu masih sangat cantik dan anggun.


Rumah yang di masuki Mi Cha itu terlihat sangat nyaman. Minimalis dan tidak begitu banyak barang. Sama seperti pemiliknya yang sangat simple namun elegan.


"Kesini! Ini kamarmu."


Mi Cha melangkah masuk ke sebuah ruangan yang tidak terlalu luas namun sangat hangat. Terdapat sebuah tempat tidur dengan ukuran besar ditengah ruangan segaris lurus dengan pintu masuk. Di atas tempat tidur itu terdapat jendela yang cukup besar.


Sebuah pintu berwarna putih terdapat di sudut ruangan.


"Itu pintu kamar mandi."


Mi Cha melihat sekeliling, tampaknya kamar ini tidak pernah dihuni sebelumnya.


"Apakah ini kamar putri anda? Lalu saya pasti akan membuatnya tidak nyaman."


Nyonya Park tertawa.


"Maaf nyonya. Saya.."


"Tidak. Tidak apa-apa. Segeralah mandi. Aku akan membawakan pakaian untukmu. Jika sudah selesai segeralah keluar untuk makan malam."


Nyonya Park cepat-cepat keluar dari kamar itu.


***


Dengan sedikit ragu Mi Cha membuka pintu kamar. Lalu melangkah perlahan keluar dari kamar itu.


"Sini cepat!" Suara nyonya Park mengagetkan Mi Cha.


Dengan patuh ia mendatangi meja makan yang terdapat di ruang tengah.


"Duduklah. Semoga kau suka masakanku ya."


"Nyonya memasak semuanya ini sendiri?" Tanya Mi Cha dengan tatapan kagum.


"Ya.." Ujarnya sambil tersenyum. Ia terlihat semakin cantik dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Ayo makan! Bagaimana? Enak?"


Mi Cha menyendok sup tahu ke mulutnya.


"Whoaa.. Enak!"


Lalu ia mengambil sebuah telur gulung.


"Whoaa ini juga enak!" Serunya.


Nyonya Park tertawa bahagia.


"Kalau begitu ayo kita habiskan!"


"Baik!"


Mereka berdua tertawa lepas. Sejenak keduanya bisa melupakan penderitaan yang sedang mereka alami.


***


"Jadi.. Ceritakan tentang orang tuamu."


Mi Cha menoleh pada Nyonya Park. Saat itu mereka sedang menikmati teh dan duduk di sofa di depan televisi besar yang tidak menyala.


'Baiklah. Aku memilih untuk percaya pada wanita ini. Ia sepertinya orang baik.' Batin Mi Cha.


"Saat berumur 2 tahun papa kandungku meninggal karena kecelakaan. Mama akhirnya menikah lagi dengan papa tiriku saat umurku 5 tahun. Lalu saat usiaku 9 tahun, mamaku meninggal karena sakit. Setahun kemudia papa tiriku menikah lagi dengan seorang wanita. Lalu mereka memiliki putri. Kemudian mereka mengambil semua harta milik orang tuaku karena saat mama meninggal belum sempat membuat surat wasiat. Papa tiriku menipu banyak teman bisnisnya lalu terlilit hutang dan akhirnya bunuh diri beberapa hari yang lalu. Istri dan anaknya.. Aku tidak tahu mereka dimana."


Nyonya Park menghela nafas panjang.


"Apakah mereka memperlakukanmu dengan kasar?"


Mi Cha menengadah dan memandang lurus ke depan.


"Papa tiriku beberapa kali memukulku. Terutama bila melihatku berbicara dengan orang lain. Aku tidak pernah boleh keluar rumah kecuali sekolah. Tidak boleh mempunyai teman. Dia selalu mengawasiku."


"Kau menyayangi mereka?"


Mi Cha menoleh pada nyonya Park. Dahinya berkerut.


"Tidak. Sebenarnya aku senang bisa lepas dari mereka."


Selama beberapa lama kedua perempuan itu diam.


"Park Ae Ri adalah putriku. Saat aku berumur 20 tahun aku hamil dari seorang pria brengs*k yang tidak mau bertanggung jawab. Aku membesarkannya sendiri sambil bekerja keras siang dan malam. Aku juga dibuang oleh keluargaku karena telah menjadi aib keluargaku.


Aku salah mengasuh Ae Ri. Dia tumbuh menjadi gadis yang liar. Justru disaat-saat aku mulai sukses di dalam bisnisku, ia semakin menjauh dariku. Saat selesai SMP dia memaksa untuk sekolah diluar negeri. Aku mengirimnya ke Amerika karena aku memiliki teman disana.


Namu ternyata ia semakin liar dan tidak terkendali.


Lima hari lalu aku mendapat kabar ia ditemukan meninggal di apartemennya karena overdosis."


Mi Cha memandang nyonya Park dengan mata terbelalak tak percaya.


"Aku turut berduka cita nyonya Park." Ucapnya lirih.


Nyonya Park tersenyum getir.


"Saat aku duduk di taman tadi, aku sedang berpikir. Apakah aku harus menyusul putriku yang malang? Yang kekurangan kasih sayang karena ia selalu kutinggal bekerja.


Tapi kau menyelamatkan aku. Gara-gara kau pingsan aku tidak jadi bunuh diri. Aku menjadi sibuk mengurusimu."


Nyonya Park tertawa. Namun Mi Cha tahu pasti hatinya sedang berduka.


Mi Cha meletakkan cangkir tehnya dan duduk mendekat pada nyonya Park.


Digenggamnya jemari wanita itu. Ia sangat ingin menghibur wanita itu namun bibirnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata.


"Nyonya, itu bukan salah anda. Putri anda yang memilih untuk tidak bahagia. Ia tidak bersyukur karena masih memiliki mama yang mau berjuang untuknya. Bukan salah anda nyonya."


Nyonya Park menoleh pada Mi Cha.


"Maukah kau menjadi putriku?"


"Hah?!" Mi Cha terperangah.


"Bukankah kau tidak mempunyai tempat untuk pulang? Dan kau juga tidak memiliki siapapun.


"Pakailah identitas putriku. Aku tidak mau mencatatkan kematiannya di catatan sipil."


"Hah?" Mi Cha sama sekali tidak menduga atas apa yang ditawarkan nyonya Park.


"Putriku tahun ini berumur 20 tahun. Tampaknya usiamu tidak jauh berbeda dengannya."


"Saya juga 20 tahun nyonya."


"Nah! Bagus sekali!"


"Tapi.. Bagaimana jika ketahuan nyonya?"


"Tenang saja. Akan kuurus semuanya. Bagamana? Kau mau?"


Kedua mata nyonya Park berbinar memancarkan harapan pada Mi Cha.


Mi Cha tak bisa menyangkal ini adalah jalan satu-satunya untuk bertahan hidup. Lagi pula akan lebih baik baginya jika memulai hidup baru dengan identitas baru. Sehingga ia tidak akan lagi terlacak terutama oleh pria monster kejam yang telah merusak hidupnya itu.


Mi Cha mengangguk. Nyonya Park tersenyum dan memeluknya.


"Jika begitu bersiaplah. Dalam 2 hari kita akan terbang ke Amerika. Kau akan tinggal disana bersamaku."


"Hah?!"


"Apakah aku belum cerita jika aku selama ini tinggal di Amerika dan kesini hanya liburan untuk menghilangkan stressku?"


Mulut Mi Cha kembali ternganga.


"Tapi aku tidak bisa bahasa Inggris.." Desisnya.


Nyonya Park tertawa melihat ekspresi Mi Cha.


"Tenang saja sayang. Ada mama yang akan selalu disisimu."


Kembali mata Mi Cha terbelalak.


"Maukan kau memanggilku mama?"


Perlahan Mi Cha mengangguk. Meski terasa sangat kaku baginya.


"Bolehkah mulai saat ini mama memanggilmu Ae Ri?"


Mi Cha terdiam beberapa saat. Lalu perlahan ia mengangguk lagi.


Nyonya Park memeluknya erat.


"Terimakasih sayang. Kau telah mengembalikan kehidupanku."


Mi Cha membalas pelukan wanita itu. Lalu sesaat kemudian mereka berdua menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala kesedihan yang telah lama mereka tahan sendiri selama ini.


***


Nyonya Park Ha Sun yang cantik, cerdas dan keibuan.