Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tiga Puluh



Ahn Jae Hyun mengetuk pelan pintu kamar rawat Tae Yang. Ia memasuki kamar itu disambut senyum manis Ae Ri yang sedang duduk disamping putranya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Sudah baik."


"Kau bisa tidur?" Tanya Ahn Jae Hyun sambil melirik Kim Yo Han yang tampak masih terlelap di sofa.


"Bisa. Aku baru saja bangun." Ae Ri mengangguk. Ia ikut menoleh melihat pria di sofa itu.


"Kapan dia datang?"


"Kemarin dia hanya keluar sebentar lalu kembali lagi membawakan pakaian ganti dan alat mandi untukku." Jawab Ae Ri. Entah mengapa ada perasaan bersalah terhadap pria didepannya itu.


Mendadak sikapnya seperti anak gadis yang ketahuan menyembunyikan pacar di dalam kamarnya.


"Kau menyukainya?" Tanya Jae Hyun serius dengan suara pelan. Namun jelas ia tampak kesal.


"Hah? Apa? Tidak! Aku tidak menyukainya." Ae Ri tertawa dan gagap menjawab.


Ahn Jae Hyun menatapnya tajam.


"Kalau kau tidak menyukainya mengapa kau biarkan dia disini."


"Aku sudah mengusirnya, tapi dia tidak mendengarkanku. Lagi pula tadi malam aku sangat mengantuk dan kelelahan jadi aku langsung tertidur." Ae Ri berusaha memberikan alasan.


Tae Yang bergerak terbangun dari tidurnya.


"Mom.." Suaranya lirih terdengar.


"Tae Yang. Bagaimana tanganmu? Masih sakit?" Seru Ae Ri.


Tae Yang memandangi Ae Ri dan menggeleng. Tiba-tiba anak laki-laki itu tersenyum lebar melihat ke arah belakang Ae Ri. Ae Ri penasaran dan menoleh.


Jantungnya berdegup lebih cepat saat menyadari Kim Yo Han sudah berdiri di belakangnya dengan senyum manisnya.


Meski dengan rambut yang sedikit berantakan, ia tetap terlihat sangat menawan. Bahkan sexy. Ae Ri cepat-cepat membuang mukanya saat pria itu tersenyum padanya.


"Tae Yang.." Ahn Jae Hyun yang sedikit cemburu melihat senyuman Tae Yang mencoba mengalihkan perhatian bocah itu.


Tae Yang menoleh.


"Lihat, ayah JJ membawakan makanan kesukaanmu. Ada pancake dan ayam goreng. Ayo kita makan." Seru Jae Hyun dengan mata berbinar.


"Yey.. Aku suka!" Tae Yang tertawa lebar penuh sukacita. Ia berusaha bangkit untuk duduk. Cepat-cepat Jae Hyun membantunya duduk.


Toktoktok.. Seorang dokter wanita diikuti beberapa dokter muda di belakangnya masuk ke dalam ruangan itu dengan senyum yang sangat ramah.


"Halo pangeran tampan. Kau sudah bangun? Bagaimana tanganmu apakah masih sakit?" Sapanya ramah pada Tae Yang. Ahn Jae Hyun mundur untuk memberi tempat bagi para dokter itu.


"Sudah tidak terlalu sakit Dokter." Jawab Tae Yang.


"Kapan dia boleh pulang, Dok?" Tanya Ae Ri.


Dokter wanita itu memandang ke arah Ae Ri dan Yo Han yang berdiri di depannya. Ia tersenyum.


"Syukurlah, Putra anda berdua sangat kuat dan pintar. Jadi cideranya pulih dengan cepat. Tapi kami harus mengontrolnya sehari ini. Jika semuanya baik, mungkin besok lusa pangeran kalian baru boleh pulang." Jawab dokter itu dengan ramah.


Ae Ri hendak protes saat dokter itu menyebut 'putra anda berdua'. Ia sangat tidak senang mendengarnya.


"Berapa lama sampai tangannya bisa pulih lagi dok?" Tanya Kim Yo Han. Raut wajahnya sangat menampakkan rona bahagia karena dianggap suami istri dengan Ae Ri.


"Tidak lama. Hanya beberapa hari saja. Lalu Tae Yang segera bisa sekolah lagi ya. Oya, saya sempat melihat Anda berdua saat lomba di sekolah. Putra saya juga sekolah di SD Byeol tapi berbeda kelas dengan Tae Yang."


"O benarkah? Tae Yang, dokter ini adalah mamanya teman sekolahmu. Siapa nama putra anda dokter?" Seru Kim Yo Han bersemangat. Ae Ri meliriknya kesal.


Sedangkan Ahn Jae Hyun terlihat bingung dan kurang memahami pembicaraan mereka.


"Joon Jae. Lee Joon Jae kelas 1a."


Tae Yang tampak berpikir keras.


"Tae Yang mungkin belum mengenalnya ya. Kata Joon Jae, Tae Yang murid baru kan disana." Ujar dokter itu.


"Iya dokter. Nanti saat aku sudah masuk sekolah akan kucari." Jawab Tae Yang tersenyum riang.


Dokter itu mengangguk dan membelai rambut Tae Yang. Ia tersenyum geli melihat ekspresi bocah itu.


"Sekarang biar dokter periksa dulu ya."


Tae Yang mengangguk.


***


"Kalian berdua pulanglah. Bukankah kalian harus masuk kerja." Ujar Ae Ri pada Jae Hyun dan Yo Han saat dokter sudah meninggalkan ruangan itu.


"Ini hari Minggu. Kantorku tutup." Jawab Yo Han santai. Ia sudah duduk disamping Tae Yang.


"Kau tidak mengurus para artismu?!" Tanya Jae Hyun sambil meliriknya kesal karena ia harus pergi sebentar lagi karena ada janji bertemu dengan ayah dan koleganya. Sebenarnya ia sangat tidak suka melihat Kim Yo Han berada di dekat Ae Ri dan Tae Yang.


Dan ia sangat tidak suka melihat Ae Ri dan Yo Han saat ini memakai kaos pasangan seperti itu.


"Mereka sudah diurus oleh managernya masing-masing dan direkturku." Jawab Yo Han tanpa menoleh.


"Tuan Kim tampaknya baru kali ini aku melihat CEO yang sangat santai seperti anda." Ujar Ahn Jae Hyun sedikit sinis. Ia sedikit terkejut melihat pria itu masih disana saat memasuki ruangan Tae Yang.


Ia sangat kesal melihat pria itu selalu ada di ruangan rawat inap Tae Yang. Bahkan saat ini sudah menjelang petang pun dan ia masih juga ada disitu.


Kim Yo Han tertawa lebar tanpa suara.


"Aku memang tidak ingin pekerjaanku menyita waktuku. Aku selalu bercita-cita ingin berada di dekat orang-orang yang ku sayangi."


"Maksudmu Tae Yang dan nona Park?!" Tanya Jae Hyun merasa aneh dan tampak tidak suka.


"Ya.. Bisa dibilang seperti itu." Jawab Kim Yo Han santai sambil tersenyum pada Tae Yang.


"Bahkan kau tidak tahu siapa Tae Yang." Ujar Jae Hyun dengan tawa sinis.


"Aku tidak terlalu memikirkan siapa dia. Yang jelas aku menyayanginya. Apakah Tae Yang keberatan?" Bisik Yo Han sambil membelai rambut Tae Yang.


Bocah tampan itu menggeleng. Ia tidak terlalu memahami isi percakapan kedua pria dewasa itu. Namun ia menyadari bahwa Jae Hyun tampak sangat kesal.


"Jae Hyun apa yang kau bawa itu?" Ae Ri yang duduk di sofa mencoba mencairkan suasana.


Jae Hyun datang menghampirinya dan duduk disebelah Ae Ri.


"Ini pakaian gantimu dan ini makan malam kita. Maaf tuan Kim. Aku tidak tahu kau ada disini jadi aku tidak membeli lebih."


Kim Yo Han hanya tersenyum.


"Terimakasih Jae Hyun. Aku sudah sangat gerah dan ingin ganti pakaian." Ujar Ae Ri mengambil kantong berisi pakaiannya dan beranjak ke toilet.


"Aku juga sangat ingin kau berganti pakaian." Jawab Jae Hyun pelan. Ia sangat kesal karena Ae Ri masih mengenakan kaos pasangan dengan Kim Yo Han.


"Thankyou.." Ae Ri menerimanya dengan senyum lebar. Setelah seharian kurang bernafsu makan tampaknya aroma jjajangmyeon berhasil menggugah selera nya.


"Untuk Tae Yang ayah JJ belikan cake pisang kesukaanmu ya. Kau mau makan sekarang?" Jae Hyun membuka sekotak cake. Harum pisang dan butter segera menyeruak di ruangan itu.


"Aku belum lapar paman. Tadi Tae Yang baru saja makan. Akan kumakan nanti." Ujar Tae Yang sopan.


Jae Hyun mengangguk dan meletakkan kotak cake di meja di samping ranjang Tae Yang. Ia kembali duduk di samping Ae Ri dan ikut makan bersama wanita itu.


Kim Yo Han tersenyum saat melihat tatapan mata Tae Yang. Ia tahu anak itu mengasihaninya. Yo han sedikit kesal melihat keakraban Ae Ri dan Jae Hyun. Mereka makan bersama dengan sangat akrab.


Saat bersama Jae Hyun Ae Ri bisa tersenyum bahkan tertawa lebar. Namun wanita itu sangat berubah dingin dan ketus saat bersamanya.


'Apakah tidak ada kesempatan sama sekali untukku?' Batin Yo Han.


Tangan kecil Tae Yang tiba-tiba memegang tangan Kim Yo Han. Pria itu tersenyum.


"Paman daddy lapar? Mau cake itu?" Bisik Tae Yang. Ia tampak berusaha menghibur Tae Yang. Dalam pikirannya Kim Yo Han pasti sangat sedih karena tidak dibelikan makanan.


Kim Yo Han menyadari tatapan iba Tae Yang terhadapnya.


"Tidak. Paman daddy tidak lapar. Kau mau cakenya? Paman daddy suapi ya?"


Tae Yang tampak berpikir beberapa saat. Lalu mengangguk. Kim Yo Han tersenyum dan beranjak mengambil cake dan menyuapi bacah itu dengan lembut.


"Enak?" Tanya Yo Han.


Tae Yang mengangguk.


"Paman boleh ikut makan juga." Bisik Tae Yang. Ia takut pria itu kelaparan, namun ia juga takut Jae Hyun marah jika mengetahuinya jadi ia berbisik pelan.


Kim Yo Han tertawa.


"Paman daddy belum lapar." Bisiknya sambil tersenyum.


Di sofa, Ae Ri dan Jae Hyun diam-diam memperhatikan interaksi kedua orang itu.


Jae Hyun sedikit merasa terabaikan oleh bocah kecil yang dari bayi ikut ia asuh itu.


"Apakah memang mereka sangat akrab seperti itu? Sejak kapan?" Bisik Jae Hyun.


"Entahlah.. Aku juga tidak tahu pasti." Jawab Ae Ri.


Ahn Jae Hyun menoleh pada wanita cantik itu.


"Mengapa kau membiarkannya? Bagaimana jika akhirnya orang itu tahu bahwa Tae Yang anakmu?"


Ae Ri hanya terdiam.Memang hal itu lah yang membuatnya sangat risau. Namun untuk memisahkan mereka berdua tampaknya saat ini akan sedikit sulit.


***


Sepeninggal Jae Hyun Ae Ri duduk di sofa memeriksa ponselnya yang tidak tersentuh dari tadi malam. Sedangkan telinganya tetap menangkap percakapan Tae Yang dan Yo Han.


"Aku senang paman daddy bisa menemaniku disini."


"Paman daddy juga senang. Apakah tanganmu sudah tidak sakit lagi?"


Tae Yang mengangguk. Kim Yo Han membelai rambut bocah itu dengan lembut.


"Syukurlah. Paman daddy kemarin sangat takut saat Tae Yang jatuh dan menangis."


"Benarkah? Paman kan sudah besar, masak takut?"


"Meskipun sudah besar, saat terjadi sesuatu dengan orang yang kita sayangi pasti akan takut."


Tae Yang tampak sedikit berpikir.


"Jadi paman daddy menyayangiku?" Tanyanya dengan tatapan polos.


Kim Yo Han tersenyum dan mengangguk.


"Mengapa?" Tanya Tae Yang lagi.


"Mmm.. Karena Tae Yang anak yang baik dan pintar. Tae Yang juga mirip dengan paman daddy." Jawab Yo Han sambil tersenyum.


"Nona Park, benarkah kami berdua mirip?" Tanya Tae Yang tiba-tiba dan sangat mengejutkan Ae Ri.


"Hah?!" Ae Ri pura-pura tidak memahami pertanyaan Tae Yang.


"Apakah wajahku dan paman daddy mirip?"


"Mmm.. Entahlah." Jawab Ae Ri pelan dan ia cepat-cepat menunduk melihat ke ponselnya lagi.


Tae Yang mengerucutkan bibirnya dan melirik Kim Yo Han. Kim Yo Han tertawa pelan.


"Nanti saat kau sudah sembuh dan boleh pulang, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Kim Yo Han.


"Mmm.. Aku mau bermain di taman bermain dengan paman daddy. Apakah paman daddy mau?"


"Tentu saja mau."


"Nanti aku akan bertanya pada mommy dulu ya. Semoga saja boleh." Ujar Tae Yang dengan gaya yang sok dewasa.


"Oke. Baiklah." Jawab Yo Han sambil tertawa.


Dalam hati Ae Ri merasa sangat cemas dengan kata-kata Kim Yo Han karena ia menyadari kemiripannya dengan Tae Yang.


Jantungnya berdetak kuat. Bagaimana jika pria itu mengetahuinya.


Sesekali ia melirik pria itu. Tampak jelas terlihat Yo Han sangat menyayangi Tae Yang.


'Jangan-jangan dia sudah tahu. Itu sebabnya ia memperlakukan Tae Yang seperti anaknya sendiri. Bukankah ia memiliki banyak koneksi. Jadi mudah saja baginya untuk mencari informasi.' Batin Ae Ri.


'Ah.. Tapi tidak ada orang yang tahu siapa ayah Tae Yang. Bahkan mama dan Jae Hyun saja tidak ku beri tahu.' Batinnya lagi berusaha menenangkan diri.


"Nona Park.." Suara Tae Yang mengejutkan Ae Ri. Ae Ri menoleh.


"Nona Park melamun?" Tanya Tae Yang polos.


Ae Ri merasa sangat gugup saat menyadari Tae Yang dan Kim Yo Han memandanginya seperti itu.


"Tidak. Hanya memikirkan pekerjaan di butik." Jawab Ae Ri berbohong.


"Jika sangat mendesak bisa kau urus dulu. Aku akan menjaga Tae Yang. Jangan khawatir." Ujar Kim Yo Han.


"Ah tidak. Tidak perlu." Sahut Ae Ri cepat.


Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Tae Yang hanya berdua dengan Yo Han. Ia sangat takut jika putranya itu keceplosan bicara dan membuka rahasia mereka. Jadi ia harus terus memantau dan menguping pembicaraan mereka berdua.


***