
"Sayang.. Kata dokter kau boleh pulang hari ini." Ujar Ae Ri pada putranya yang berbaring di tempat tidur.
"Hore! Kapan mom?"
"Sekarang."
"Asik! Aku sudah tidak sabar ingin ke taman bermain dengan paman daddy!" Mata indah Tae Yang berbinar bahagia.
Ae Ri sedikit merasa risih saat putranya menyebutkan nama itu.
"Dokter tadi berpesan, untuk sementara waktu kau harus beristirahat jangan bermain atau beraktifitas berlebihan dulu."
"Kenapa? Aku kan sudah sembuh." Tae Yang langsung cemberut.
"Kau masih dalam masa pemulihan, sayang. Sabar dulu ya. Setelah benar-benar sembuh baru nanti kau bisa pergi-pergi." Bujuk Ae Ri.
Ia sebenarnya tidak ingin membiarkan Tae Yang dan Kim Yo Han pergi bersama.
"Apakah paman daddy akan datang mengantar kita pulang?"
"Tidak sayang, dia sangat sibuk. Kita pulang berdua saja." Ujar Ae Ri sambil membereskan barang-barang mereka.
***
"Halo jagoan! Bagaimana keadaanmu?" Jae Hyun menyapa ramah saat memasuki rumah Ae Ri.
"Baik paman. Kata bu dokter aku sudah hampir sembuh." Jawab Tae Yang.
"Wow.. Hebat sekali!"
"Tapi kata mommy aku belum boleh kemana-mana. Sekolah juga belum boleh. Main dirumah saja." Ujar Tae Yang sambil cemberut.
Jae Hyun menoleh heran pada Ae Ri. Tae Yang tampak sudah pulih tapi mengapa ia melarang anaknya sekolah.
"Jangan khawatir. Ayah JJ akan sering-sering kesini. Kita akan bermain bersama ya."
"Benarkah?"
"Tentu!"
"Asik!" Seru Tae Yang.
***
Kim Yo Han melangkah dengan cepat di koridor rumah sakit menuju ruang inap Tae Yang.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati ruangan itu sudah kosong.
Ia mencoba menghubungi nomor Ae Ri namun selalu tidak diterima.
Kim Yo Han menghela nafas panjang. Ia duduk sebentar di kursi panjang yang terdapat di lorong itu. Ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
***
Ae Ri membiarkan ponselnya terus bergetar fi atas meja.
"Mengapa tidak kau terima panggilannya?" Tanya Jae Hyun pada Ae Ri yang duduk di seberangnya di meja makan itu.
Ae Ri menggeleng.
"Kenapa Tae Yang tidak sekolah? Apakah ada hubungannya dengan orang itu?" Tanya Jae Hyun penasaran.
"Aku berencana akan memindahkan sekolah Tae Yang. Apakah ada referensi sekolah lain yang bagus?" Ae Ri tidak menjawab namun justru memberikan kejutan pada Jae Hyun.
"Apa maksudmu? Ia baru saja mulai beradaptasi disana bagaimana mungkin kau memindahkannya lagi. Kasian Tae Yang." Seru Jae Hyun.
Ae Ri memilih tetap diam tidak menjelaskan apapun.
"Apa ada masalah? Masalah apa? Ceritakan padaku?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya aku kurang menyukai sekolah itu."
"Tapi bukankah kau mendapat proyek mengerjakan seragam mereka? Bagaimana itu?"
"Kalau perlu akan ku batalkan saja proyek itu."
"Kau gila!"
"Ya.. Memang rasanya aku akan menjadi gila.." Jawab Ae Ri sambil menarik-narik rambutnya sendiri.
"Apa kau menghindari Kim Yo Han?" Tanya Jae Hyun pelan. Ia sudah menduga itulah yang menjadi alasan Ae Ri bertingkah aneh.
Ae Ri menoleh.
"Entah mengapa aku sangat membencinya. Dan aku semakin membencinya saat ia dekat-dekat dengan Tae Yang." Bisik Ae Ri.
Jae Hyun menegakkan tubuhnya. Berbagai macam pikiran menyerang otaknya.
"Tapi jangan sampai perasaanmu itu merugikan Tae Yang. Begini saja, untuk sementara Tae Yang home schooling saja. Sekolah itu menyediakan layanan itu juga karena banyak artis cilik yang sekolah disana."
Ae Ri menjentikkan jarinya dengan mata berbinar.
"Good! Bagus sekali idemu. Baiklah akan segera kuurus." Ujarnya sambil mengangkat ponselnya dan menghubungi kepala sekolah SD Byeol.
"Bagaimana?" Tanya Jae Hyun penasaran mengenai hasil pembicaraan Ae Ri dengan kepala sekolah.
"Oke. Akan segera diurus. Dia bilang nanti setelah formulir dan urusannya selesai sekolah akan mengirim seorang guru sekali setiap minggu untuk memberi materi dan mengajari Tae Yang."
Jae Hyun mengangguk-angguk.
"Tapi dia nanti tidak memiliki teman. Apakah tidak apa-apa seperti itu?" Tanyanya ragu.
Ae Ri diam sesaat.
"Tidak akan lama. Setelah butik disini bisa ku lepas, aku akan segera kembali ke Amerika. Ku harap tahun depan aku sudah bisa berada disana lagi."
Raut wajah Jae Hyun mendadak berubah lesu.
"Tidak tuan muda. Aku harus kembali ketempatku semula. Aku suka berada disana didekat mamaku." Jawab Ae Ri sambil tersenyum.
"Bagaimana jika kau menjadi istriku saja. Dengan begitu tidak ada orang yang berani mengganggumu terutama Kim Yo Han."
Ae Ri tertawa.
"Tuan muda. Aku tidak mau berusan dengan ayahmu. Lagipula kau berhak untuk mendapatkan seorang gadis yang baik dan normal. Bukan aku. Ingat itu!" Jawab Ae Ri sambil menepuk-nepuk lengan Ahn Jae Hyun.
Jae Hyun meringis menahan kesal karena merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh wanita itu.
Tingtong...
Bel rumah Ae Ri berbunyi. Ae Ri mendekati pintu dan menghidupkan layar monitor. Betapa terkejutnya ia saat melihat Kim Yo Han berada disana, didepan pintu rumahnya.
***
Jantung Ae Ri berdetak tidak beraturan. Ia cepat berbisik pada Jae Hyun.
"Beritahu Tae Yang agar jangan keluar kamar dulu. Cepat!" Perintahnya dengan gugup.
Ahn Jae Hyun yang tampak bingung tetap melaksanakan perintah wanita itu.
Ae Ri menghela nafas dan menata degup jantungnya lalu setelah lebih tenang ia membukakan pintu untuk Kim Yo Han.
"Halo nona Park." Sapa Kim Yo Han dengan senyumannya yang mempesona. Sejenak Ae Ri terlarut dalam kekagumannya.
Namun cepat-cepat ia menyadarkan dirinya.
"Tuan Kim. Ada keperluan apa anda sampai disini. Dan bagaimana anda tahu rumahku?" Ae Ri menunjukkan sikap tidak senangnya.
"Lee Chan yang memberitahuku. Bisakah kita berbicara sebentar di dalam?" Tanya Kim Yo Han.
Dengan berat hati Ae Ri membukakan pintu. Ia agak merasa sedikit tenang karena didalam rumahnya saat ini ada Jae Hyun. Jadi pria itu tidak mungkin bisa berbuat macam-macam padanya.
"Terimakasih." Bisik pria itu sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Kedua matanya menyapu ke seluruh penjuru rumah.
Ae Ri merasa lega karena tidak ada fotonya maupun foto Tae Yang yang terpasang disana.
"Silahkan duduk. Apa yang akan kau katakan?" Ujar Ae Ri tidak sabar.
Kim Yo Han menyadari bahwa pemilik rumah ingin ia segera pergi dari rumahnya.
"Kapan Tae Yang pulang? Mengapa kau tidak mengabariku?" Tanya Yo Han.
"Entahlah, mungkin tadi siang. Aku tidak tahu. Ia pulang bersama mommynya." Jawab Ae Ri asal-asalan.
"Apa kau tahu dimana rumah Tae Yang. Emm maksudku apakah kau bersedia mengantarku kesana? Ada yang ingin kuberikan pada Tae Yang." Tanya pria itu perlahan.
Ae Ri terdiam beberapa saat. Otaknya mulai berkelana mencari alasan.
"Maafkan aku tuan Kim. Tapi tampaknya mommy Tae Yang tidak suka orang asing terlalu akrab dengan putranya. Jadi dia tidak mau anda terlalu dekat dengan Tae Yang."
Kim Yo Han sedikit menunduk. Ia memainkan jemarinya sambil tampak berpikir.
"Entah mengapa aku merasa sangat terikat dengan anak itu. Aku selalu memikirkannya. Apakah kira-kira kau tahu mengapa aku merasa begitu?" Tanya Kim Yo Han sambil meneliti wajah wanita yang duduk di hadapannya itu.
Tiba-tiba suara pria terdengar mengejutkan Yo Han.
"Aku tahu. Itu karena Tae Yang anak yang spesial. Ia pintar dan menyenangkan. Siapapun pasti akan menyukainya. Jadi jangan heran tuan Kim." Ujar Jae Hyun sambil duduk disamping Ae Ri.
Kim Yo Han terkejut pria itu berada dirumah Ae Ri. Ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa tidak sukanya.
"Mohon maaf, jika tidak ada hal lain anda bisa pergi sekarang tuan Kim. Karena aku dan Ae Ri akan makan malam berdua." Ujar Jae Hyun sambil tersenyum. Ia senang bisa membuat Kim Yo Han cemburu.
"O.. Baiklah kalau begitu. Baiklah nona Park, saya pergi. Oya jika ada yang perlu ku bantu lagi mengenai butik anda bisa menghubungiku lagi. Permisi." Kim Yo Han tersenyum sangat tampan dan membungkuk lalu beranjak ke pintu.
Ae Ri berdiri dan mengikutinya dari belakang.
Kembali pria itu menganggukkan kepala dan menghilang di balik pintu rumah Ae Ri.
Ae Ri menghela nafas lega.
***
Kim Yo Han melangkah dengan berat hati meninggalkan rumah Ae Ri. Ia menoleh sekali lagi ke arah rumah itu. Ia sepenuhnya tidak rela Ae Ri bersama Jae Hyun berada berdua didalam rumah itu.
Namun betapa terkejutnya ia saat matanya menangkap gerakan seseorang menutup tirai jendela dengan cepat. Ia mencoba mencerna penglihatannya. Ia seperti melihat seorang anak kecil yang tampak seperti Tae Yang.
Namun ia menggelengkan kepalanya.
"Apakah aku mulai berhalusinasi?" Bisiknya sambil melangkah pergi.
***
"Sayang.. Tae Yang ayo makan dulu." Panggil Ae Ri pada putra kesayangannya.
Tae Yang tetap diam sambil menatap keluar jendela. Ia masih sangat kesal karena saat Kim Yo Han datang ia tidak boleh keluar kamar.
"Apakah mommy malu memiliki anak sepertiku?" Tanya Tae Yang pelan. Tatapannya masih ke arah luar jendela kamarnya.
Ae Ri tercekat. Ia sangat terkejut dengan pertanyaan yang tidak terduga dari bibir mungil itu.
Untuk sesaat ia tidak dapat menjawab putranya.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Bisik Ae Ri. Ia berusaha tidak menumpahkan air matanya.
"Selain granny, paman JJ, dan pegawai butik di Amerika, Mommy belum pernah mengatakan pada orang-orang lain bahwa aku adalah anak mommy."
"Dan juga mommy selalu berpesan agar aku tidak memberitahu orang siapa nama mommyku."
Ae Ri duduk di tepi ranjang. Ia menghela nafas yang terasa berat didadanya.
***