Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Empat Puluh



Acara sudah dimulai kembali. Nyonya Park kini sudah duduk di kursi penonton. Tinggallah Ae Ri dan Kim Yo Han lagi di atas stage.


"Sekarang kita memasuki babak akhir dari acara kita yaitu 3 pertanyaan maut. Apakah kalian berdua siap?" Ujar nona Go dengan penuh semangat.


"Mau tidak mau harus siap. Sebenarnya tidak siap." Park Ae Ri tertawa.


Kim Yo Han ikut tertawa.


"Baiklah kita akan bergantian mulai dari tuan Kim. Dosa apakah yang pernah kau lakukan dan kau menyesal sampai sekarang."


Kim Yo Han terdiam benerpa detik sebelum menjawab.


"Aku pernah menyakiti seorang wanita yang sangat aku cintai. Sampai sekarang dia membenciku. Dan aku sungguh menyesalinya."


Nona Go tampak tertegun beberapa lama.


"Apa yang kau lakukan? Coba sedikit lebih jelas lagi."


"Aku.." Kim Yo Han meremas jari-jarinya. Tak mungkin ia menjelaskan dosa besarnya itu.


"Aku meninggalkannya begitu saja. Tanpa menjelaskan padanya bahwa saat itu aku harus masuk penjara. Jadi dia berpikir aku meninggalkannya."


"Itu bukan dosa besar menurutku. Jika aku menjadi wanita itu pasti aku akan memaafkanmu. Tapi entahlah kita tidak tahu mengenai isi hati seseorang. Bukankah begitu nona Park?"


Ae Ri mengangguk.


"Baiklah sekarang pertanyaan yang sama untuk nona Park. Apa dosa terbesar anda."


Sebelum menjawab Ae Ri meringis.


"Aku pernah ingin bunuh diri. Kurasa itu dosa terbesarku dan aku menyesalinya. Untung dulu itu tidak terjadi."


"Hmm.. Benar bunuh diri benar-benar suatu dosa besar. Oke baiklah kalau begitu pertanyaan kedua. Sebutkan nama cinta pertama kalian."


Ae Ri dan Kim Yo Han serentak saling pandang.


"Aku tidak bisa menjawabnya."Ujar Ae Ri cepat.


"Mengapa? Apakah orang itu ada disini hingga kau malu?" Nona Go tertawa.


"Tuan Kim?"


Kim Yo Han mengalihkan pandangannya dari Ae Ri ke arah nona Go.


"Nona Park tahu siapa cinta pertamaku." Jawabnya sambil tersenyum.


"Wah begitukah nona Park? Aku sangat penasaran. Siapa wanita itu nona?" Nona Go tampak sangat penasaran. Tubuhnya condong ke arah Ae Ri.


"Aku juga tidak bisa menjawab itu." Jawab Ae Ri salah tingkah.


Nona Go tertawa lebar.


"Bukankah ini sangat misterius penonton? Kita jadi berasumsi bahwa nona Park adalah cinta pertama tuan Kim. Dan tuan Kim adalah cinta pertama nona Park." Kembali ia tertawa.


"Tidak. Tidak seperti itu." Ae Ri berusaha menyanggah. Tapi nona Go todak menanggapinya.


"Baiklah sekarang pertanyaan terakhir. Berbeda ya untuk nona Park dulu. Kami mendapat informasi dari detektif khusus kami bahwa anda sudah memiliki seorang anak. Benarkah seperti itu nona?"


Ae Ri sudah menyangka akan ada pertanyaan itu, namun tetap saja ia tidak siap menghadapinya.


Ia mengatur nafasnya danelihat ke arah mamanya yang tampak tegang. Ae Ri tertawa.


"Itu gosip nona Go. Mungkin karena aku dekat dengan seorang anak temanku. Ia sering main bersamaku. Mungkin detektifmu salah."Jawab ya pelan dengan suara yang tenang.


"Oke, baiklah kalau begitu. Kami minta maaf." Jawab nona Go dengan senyum misteriusnya.


"Untuk tuan Kim, aku juga ingin bertanya sesuatu. Anda akhir-akhir ini rutin ke rumah sakit kanker. Apa yang anda lakukan disana? Apakah anda sedang sakit?"


Kim Yo Han benar-benar terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tidak menyangka tim dari acara itu begitu detail.


Kim Yo Han tersenyum. Ia berusaha tampak tenang.


"Aku mengunjungi seorang teman yang berada di rumah sakit itu nona." Jawabnya dengan sambil menatap pembawa acara itu. Ia ingin meyakinkan wanita itu bahwa apa yang dipikirkannya adalah keliru.


Namun jauh didalam hati ia merasa cemas. Mungkinkah nona Go akan mempercayainya?


Kim Yo Han menoleh pada Ae Ri yang juga ternyata sedang menatapnya dengan pandangan menyelidik. Ia tersenyum sangat tampan pada wanita itu. Ingin ia sampaikan bahwa ia baik-baik saja.


Seketika jantung Ae Ri berdesir. Namun ada sesuatu dari pria itu yang mendadak membuatnya cemas. Namun ceoat-cepat ia membuang muka dan menoleh kearah nona Go.


***


Acara itu berakhir dengan baik. Untunglah nona Go telah kehabisan durasi sehingga ia tidak lagi mencecar mereka.


"Terimakasih banyak atas kehadiran nona Park dan tuan Kim. Semoga sukses selalu untuk kalian." Ujar nona Go sambil menundukkan kepalanya.


Ae Ri dan Kim Yo Han juga membalasnya.


"Terimakasih juga nona Go." Jawab mereka hampir bersamaan.


"Anda berdua memang sehati ya." Nona Go kembali menggoda keduanya.


Ae Ri cepat-cepat pamit.


"Mohon maaf nona Go. Saya pergi sekarang. Sampai bertemu lagi di lain waktu." Ujar wanita itu.


"Baik nona, tolong sampaikan salam saya untuk nyonya Park." Balas nona Go ramah. Ae Ri mengangguk dan cepat-cepat berlalu dari situ.


Kim Yo Han juga berpamitan dan berusaha mengejar Ae Ri. Namun wanita itu cepat sekali perginya sehingga ia kehilangan jejaknya.


Kim Yo Han melangkah gontai menuju lobi gedung itu. Namun seketika ia kembali bersemangat karena melihat Ae Ri dan nyonya Park masih berdiri diluar gedung. Tampaknya sedang menunggu mobil mereka.


Kim Yo Han cepat-cepat menghampiri mereka.


Nyonya Park menoleh. Sesaat kemudian ia tersenyum.


"Tuan Kim. Kau belum pulang?" Tanya wanita itu ramah.


"Belum nyonya. Saya tadi sempat mencari-cari anda di dalam."


"Benarkah? Ada apa? Mengapa kau mencari ku?" Nyonya Park tampak penasaran.


"Saya sangat ingin mengajak anda makan malam sebelum kita pulang. Apakah anda sibuk?" Ujar Kim Yo Han.


Nyonya Park menoleh pada Ae Ri. Ae Ri menatapnya sambil berharap mamanya menolak ajakan pria itu.


"Baiklah. Tapi kau harus mentraktirku di tempat yang makanannya enak ya. Aku sudah lama sekali merindukan masakan Korea." Jawab nyonya Park sambil tersenyum.


"Tentu nyonya. Kalau begitu aku akan mengambil mobilku."


"Itu mobil kita datang ma." Ujar Ae Ri sedikit kesal pada mamanya.


"Aku akan menyusul dengan mobilku. Ajaklah mama ke restoran Haneul aku akan menyusul. Begitu sampai disana minta tempat yang sudah ku pesan." Kim Yo Han cepat-cepat memberi komando pada Ae Ri yang sudah masuk ke mobilnya.


Ae Ri yang masih merasa kesal karena tidak ingin makan malam bersama pria itu tidak mau menjawab.


Kim Yo Han menundukkan kepalanya pada nyonya Park. Wanita itu tertawa melihat tingkah putrinya.


"Mama tidak tahu kau sudah memiliki fans disini. Pantas saja kau jarang menelpon mama." Ujar nyonya Park sambil tertawa saat mobil sudah meninggalkan Kim Yo Han.


"Mama apa-apaan sih. Aku tidak menyukainya." Jawab Ae Ri.


"Tapi sepertinya dia pria baik. Dan sangat tampan."


"Mama baru bertemu dengannya malam ini, darimana mama tahu kalau dia baik."


"Dia memanggil mama 'mama' dan mentraktir mama makan malam." Jawab nyonya Park polos.


"Mama!" Ae Ri semakin kesal.


"Harusnya tadi mama menolaknya."


"Mama tidak tega. Matanya mengingatkan mama pada seseorang. Dan membuat mama tidak bisa menolaknya."


Ae Ri terdiam. Ia tahu mata siapa yang dimaksud mamanya itu. Ya mata Kim Yo Han sama persis dengan mata Tae Yang bahkan bentuk alisnya pun sama. Ia menggigit bibirnya. Bagaimana jika nanti mamanya menyadari itu.


Perlahan mobil mereka yang dikemudikan nona Kang masuk kedalam restoran Haneul. Restoran mewah khas Korea.


"Sepertinya restoran mahal. Jangan-jangan pacarmu itu mau melamarmu disini. Waah.. Mama jadi berdebar!" Nyonya Park excited sendiri. Ae Ri menoleh dengan tatapan heran.


"Mama stop. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Lagi pula aku tidak akan menikah dengan siapapun." Ae Ri menekan suaranya.


"Siapa tahu nanti ada cerita lain." Jawab mamanya sambil tersenyum ramah pada pelayan yang membukakan pintu untuk mereka.


"Kami sudah pesan atas nama Kim Yo Han." Ujar nyonya Park.


"Baik nyonya dan nona, mari saya antar." Jawab pelayan itu.


Nyonya Park dan Ae Ri mengikuti pelayan itu menuju ke bilik-bilik privat yang biasa dipesan untuk orang-orang yang tidak ingin terganggu dengan orang lain.


Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang hangat dan romantis. Meja lesehan dan empat buah kursi tanpa kaki yang terbuat dari rotan berwarna gading sangat apik terlihat.


Ae Ri duduk disebelah mamanya.


"Silahkan tunggu beberapa saat sampai pesanan anda dihidangkan. Jika memerlukan sesuatu anda bisa meminta pada petugas yang berada di depan ruangan nyonya." Ujar pelayan itu.


"Baiklah. Terimakasih." Jawab nyonya Park sambil tersenyum.


Tak lama kemudian pintu diketuk dan Kim Yo Han masuk ke dalam ruangan. Ia tampak sedikit terengah karena berlari saat menuju ruangan itu.


"Maaf saya terlambat nyonya Park." Ujarnya.


"Tidak terlambat. Kami baru saja sampai. Duduklah."


Kim Yo Han duduk di seberang nyonya Park.


"Sejak kapan kau mengenal Ae Ri?" Tanya nyonya Park sambil meminum segelas air putih.


Kim Yo Han melirik Ae Ri. Ae Ri sedikit cemas dengan pertanyaan mamanya.


"Sejak nona Park datang ke Korea. Kami kebetulan bertemu beberapa kali secara tidak sengaja."


"O begitukah? Kau pasti sangat sering dibuatnya kesal kan?" Nyonya Park tertawa.


"Tidak nyonya. Saya yang sering membuatnya kesal." Jawab Kim Yo Han sambil ikut tertawa kecil.


Ae Ri meraih gelas di depannya dan meminum sampai setengah gelas.


"Kudengar kau baru saja bekerjasama dengan Ae Ri. Apakah sukses?"


"Sukses nyonya. Berkat karya-karya nona Park yang luar biasa."


"Tapi model-modelmu kudengar juga model papan atas jadi pasti semua rancangan kami akan terlihat luar biasa saat dipakai mereka."


"Nyonya sangat rendah hati. Saya jarang bertemu pengusaha sukses seperti anda. Biasanya mereka agak sombong." Kim Yo Han tertawa.


Nyonya Park meneliti wajah pria muda dihadapannya itu. Ia sungguh penasaran mirip siapakah pria ini.


"Boleh aku tahu siapa nama mendiang mamamu? Siapa tahu aku mengenalnya. Karena wajahmu begitu familiar. Kau sangat mirip seseorang. Tapi aku lupa siapa."


Ae Ri menggigit bibirnya. Ia sangat takut mamanya menyadari bahwa Kim Yo Han sangat mirip dengan putranya, Tae Yang.


***