
Sarapan pagi itu tampak tidak membuat Ae Ri berselera. Ia justru semakin mual saat mencium aroma masakan.
"Ae Ri langsung berangkat kuliah saja ma. Nanti sarapan di kampus saja."
"Jangan berangkat dengan perut kosong. Makan dulu walau cuma sedikit."
Dengan terpaksa Ae Ri menurut. Namun baru satu suapan ia sudah berlari ke kamar mandi.
"Kau sakit?" Tanya mama yang membuntutinya.
"Tidak tahu ma. Kemarin juga sempat mual saat makan siang. Apa aku kena sakit maag ya?" Ae Ri berpikir sambil duduk di toilet.
"Ayo periksa saja. Dari pada terlanjur parah."
"Tidak usah ma. Nanti aku ke apotek saja beli obat maag."
"Jangan aneh-aneh. Belum tentu itu maag."
"Tidak apa-apa. Nanti kalau masih seperti ini baru kita periksa."
"Ya sudah. Nanti kabari mama ya kalau sakit."
"Oke mam. Aku berangkat sekarang."
***
Ae Ri masuk ruang kelasnya. Ditempat biasa ia duduk Jae Hyun melambaikan tangannya. Ae Ri tidak membalas namun ia berjalan kesana.
"Bagaimana? Masih sakit?"
"Perutku tidak sakit. Tapi mual. Nanti temani ke apotek ya. Cari obat."
"Kenapa tidak ke dokter saja. Periksa kan lebih akurat."
"Kau sama saja dengan mamaku. Aku tidak mau."
"Keras kepala!"
Ae Ri melirik dengan kesal.
"Ya sudah kalau tidak mau menemaniku. Aku bisa sendiri." Ae Ri merajuk.
"Mau.. Iya nona Park Ae Ri, tuan muda Ahn Jae Hyun akan mengantar."
Ae Ri mencibir.
***
"Keluhannya apa?" Tanya apoteker.
"Mual dan muntah nona. Terutama jika sedang makan. Apa itu maag ya?"
"Mungkin saja. Tapi jika sakitnya tidak sembuh sebaiknya anda cepat periksa ke dokter ya."
"Baik."
"Dan jangan lupa banyak minum air putih supaya tidak dehidrasi."
"Oke. Terimakasih."
"Kenapa sih tidak mau periksa ke dokter?" Tanya Jae Hyun saat mereka sudah berjalan kembali ke kampus.
Ae Ri hanya diam. Ia sebenarnya masih trauma saat kecil harus menemani mamanya yang sakit hingga akhirnya mama menghembuskan nafas terakhirnya dirumah sakit. Bau rumah sakit baginya adalah bau kematian.
"Tidak apa-apa. Hanya takut tiba-tiba aku punya penyakit yang parah."
Jae Hyun menggeleng-gelengkan kepala karena heran.
***
Ae Ri terbangun dari tidurnya. Sekujur tubuhnya terasa sangat lemah. Ia mengambil gelas di atas nakas dan menuang air putih.
Namun sesaat setelah ia meminum habis air itu ia melompat ke kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya.
"Aku sudah minum obat kenapa tidak ada pengaruhnya?" Bisik Ae Ri. Mulutnya kini terasa sangat pahit.
Ia kembali berbaring di ranjang. Tubuhnya sudah tidak sanggup berdiri lagi karena sangat lemah.
Hampir dua hari ini ia tidak bisa menerima makanan dan minuman apapun. Semua yang masuk ke perutnya akan segera keluar lagi.
Toktoktok!
Pintu terbuka dan mama datang menghampiri.
"Sayang, bukankah hari ini kau ada kelas pagi?"
"Tampaknya aku ijin sakit hari ini ma. Tubuhku rasanya lemas sekali."
Nyonya Park cepat-cepat meraba kening Ae Ri.
"Tidak panas."
"Mama panggilkan dokter James ya. Tunggu sebentar."
Ae Ri mengangguk. Kedua matanya ia pejamkan karena merasa pusing.
Tak lama kemudian dokter James datang dan memeriksa Ae Ri.
Dokter separuh baya itu menghela nafas. Dan menatap Ae Ri dalam-dalam.
"Kau harus banyak istirahat nona. Aku akan memberimu obat anti mual."
"Baik dokter." Sebenarnya Ae Ri penasaran dengan sakitnya.
Dokter James keluar kamar diikuti nyonya Park.
Sampai di luar dokter James menghentikan langkahnya.
"Nyonya Park. Maaf saya akan menyampaikan sesuatu yang mungkin akan mengagetkan anda."
Nyonya Park terbelalak.
"Katakan dokter. Ada apa dengan putriku? Apakah ia sakit parah?"
"Tidak nyonya. Jangan khawatir."
"Lalu??"
"Anda akan mempunyai cucu."
"Hah!!!" Nyonya Park menutup mulutnya yang ternganga karena terkejut.
Nyonya Park terhuyung. Dokter James cepat-cepat menangkap dan menuntunnya ke arah sofa.
"Saya tahu putri anda belum menikah. Tapi tolong anda tidak menekannya. Kasian ia akan semakin stres nanti."
Nyonya Park hanya bisa mengangguk. Tangannya memegang dadanya yang berdenyut sakit.
"Apakah anda baik-baik saja?"
"Baik dokter. Tidak apa-apa. Aku akan berbicara baik-baik dengannya."
"Baiklah kalau begitu. Saya pamit. Jangan lupa jika situasi sudah tenang. Periksakan putri anda ke dokter kandungan."
"Ba..baik dokter. Terimakasih." Bisik nyonya Park.
Sepeninggal dokter James nyonya Park masih duduk membeku di sofa. Perlahan ia meneteskan air mata.
Mengapa gadis itu harus merasakan apa yang ia rasakan 20 tahun lalu. Lalu siapa ayah bayinya itu?
Perlahan ia masuk ke kamar Ae Ri. Gadis itu menoleh dan duduk bersandar ditempat tidur.
"Aku sakit apa ma?" Tanyanya lirih. Ia melihat bekas air mata di wajah mamanya.
"Sayang ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum kita bertemu. Jujurlah."
Ae Ri mengerutkan dahinya. Ia agak bingung dengan pertanyaan itu. Namun perlahan ia mulai membuka diri dan ia memang harus jujur pada wanita itu.
"Papa tiriku menipu seorang rekan bisnisnya dan melarikan uang orang itu. Sangat banyak jumlahnya. Sehingga orang itu bangkrut. Orang itu ingin membalas dendam lalu ia menculikku. Aku dijadikan sandera dengan harapan papa akan datang untuk mengembalikan uangnya. Orang itu tidak tahu bahwa aku bukan putri kandung papa. Dan saat papa tidak datang ia menjadi marah. Ia melampiaskannya padaku. Lalu..lalu.." Ae Ri tidak dapat lagi membendung air matanya.
Nyonya Park memeluknya erat. Air matanya juga ikut mengalir deras.
"Apa yang ia lakukan? Ia menjamahmu?"
Ae Ri mengangguk. Ia membayangkan pria itu merenggut miliknya. Semakin deras air matanya.
"Kau tahu siapa dia? Siapa namanya?"
Kim Yo Han. Ingin sekali ia meneriakkan nama itu. Namun ia memilih untuk menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu."
"Lalu apa hubungannya dengan sakit ku?" Tanya Ae Ri tiba-tiba.
Nyonya Park membelai rambut Ae Ri dengan kasih sayang yang tulus.
"Di dalam perutmu, ada calon cucu mama." Bisiknya lembut. Ia berusaha membuat Ae Ri tidak takut.
"Hah!?" Kedua mata Ae Ri melotot.
Nyonya Park memaksakan diri untuk tersenyum.
"A..aku.. Hamil?"
Nyonya Park mengangguk.
"Anak dari laki-laki brengs*k itu??"
"Ae Ri.. Lupakan laki-laki itu. Pikirkan dirimu sendiri."
Ae Ri menangis sejadi-jadinya. Ia semakin membenci pria itu. Saat ia mulai dapat berjalan maju. Kini ia terjatuh kembali.
"Apa yang akan aku lakukan ma? Aku harus bagaimana? Aku tidak mau!!"
"Ae Ri.. Hari ini pikirkanlah baik-baik, apa yang akan kau putuskan. Mama akan sepenuhnya mendukungmu. Jika kau memang menolak bayi ini, mama akan mengantarmu untuk membuangnya. Tapi jika kau mau menerimanya, mama akan mendukung dan ikut membesarkannya bersamamu."
Ae Ri hanya bisa menangis.
"Tapi yang jelas, kau harus bertahan. Jangan putus asa. Hidupmu sangat berharga. Ingat itu."
Ae Ri mengangguk dalam isakannya.
"Mama akan buatkan bubur. Kau harus makan."
Nyonya Park keluar dari kamar.
Drrt..drrt..
Ponsel Ae Ri bergetar untuk yang kesekian kalinya. Ae Ri melirik dan membaca nama di layar.
"Jae Hyun. Tolong sampaikan ijinku hari ini. Aku sakit. Surat dokter menyusul besok saat aku masuk."
Ae Ri menjauhkan ponselnya karena Jae Hyun berteriak sangat kencang. Terdengar jelas jika ia mencemaskan Ae Ri.
"Tidak parah. Hanya butuh istirahat saja. Sudah ya. Aku tutup."
Ae Ri meletakkan ponselnya lalu menarik selimut dan meringkuk didalamnya.
'Apa yang akan kulakukan?'
'Aku tidak mau hamil!'
Perlahan ia mengingat kembali wajah pria itu.
'Kim Yo Han.' Rintihnya dalam hati. Ia menyesal karena sempat terbuai oleh kelembutan laki-laki itu. Air matanya kembali mengalir deras.
***
"Bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Sudah lebih baik ma. Obat yang diberi dokter James bisa mengurangi mualku."
"Baguslah kalau begitu."
"Ma.."
"Ya sayang."
"Bolehkah aku membesarkan bayiku, seperti mama membesarkan Ae Ri?"
Park Ha Sun menatap Ae Ri lalu tersenyum.
"Tentu boleh. Bukankah mama berjanji akan mendukungmu. Apapun pilihanmu."
"Tapi, apakah mama akan malu?"
Nyonya Park menggelengkan kepalanya.
"Tidak sayang. Kau tidak salah, mengapa mama harus malu?"
"Apakah aku harus berhenti kuliah?"
"Tidak perlu. Kuliah saja. Nanti jika saatnya melahirkan baru kau ambil cuti. Tidak usah khawatir."
"Lalu apa yang akan kujawab jika teman-teman bertanya. Sebentar lagi perutku pasti akan membesar."
"Ini di Amerika sayang. Negara ini lebih bebas dari pada Korea. Mereka tidak akan terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu."
Ae Ri terdiam.
"Mungkin kau harus menceritakannya pada Ahn Jae Hyun. Tampaknya ia teman akrabmu kan."
Mata Ae Ri menatap pada mamanya.
"Baik ma."
"Ya sudah sekarang ayo kita sarapan dulu. Mama sudah sangat lapar." Seru nyonya Park sambil menarik tangan Ae Ri.
***
"Ae Ri!!" Tangan Jae Hyun melambai-lambai memanggil Ae Ri.
Ae Ri duduk disebelahnya.
"Tiga hari kau tidak masuk kemana saja?"
"Aku kan sakit!"
"Sakit apa sih sampai lama sekali."
"Sakit hati!!"
"Hah?!"
"Sudah diam, aku pusing!" Ae Ri sangat kesal karena Jae Hyun terlalu berisik.
Jae Hyun mengerucutkan bibirnya.
"Nanti setelah kuliah ayo makan di kafe Korea yang waktu itu."
"Oke." Jawab Ae Ri. Ia berniat hari ini akan memberitahu keadaanya pada Jae Hyun.
***
"Jae Hyun.."
"Ya.."
"Aku hamil."
"Hah!? Huk..huk!!" Jae Hyun tersedak ttaebokki yang pedas.
Ae Ri menuangkan air putih di gelas Jae Hyun. Jae Hyun meminumnya sampai habis.
Perlahan ia meletakkan kembali gelasnya. Lalu ia menatap Ae Ri dengan seksama.
"Apa maksudmu? Kau jangan menakutiku! Apa gara-gara kata-kataku waktu itu?"
Ae Ri menggeleng.
"Aku benar-benar hamil."
"Lalu dengan siapa? Denganku? Bukankah kita tidak pernah tidur bersama?" Bisiknya.
Ae Ri melotot.
"Dengan pria brengs*k."
"Mengapa kau dan mamamu bisa bernasib sama?!"
"Berbeda. Mamaku memang pacaran dengan papaku. Tapi aku.."
"Kau kenapa?"
"Dia memperkosaku."
"Hah!!!"
Ae Ri menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya yang menggenang di kelopak matanya.
"Ayo makan lagi!" Jae Hyun mendadak bingung harus berkata apa.
Ae Ri menurut. Ia kembali makan ttaebokkinya sambil menangis.
"Kau akan mengugurkannya?" Bisik Jae Hyun.
"Tidak."
"Kau gila!" Teriaknya.
Ae Ri hanya memandangnya datar.
"Kau membenciku?"
"Tidak.. Mengapa kau tanyakan itu?"
"Jika kau malu berteman denganku katakan saja. Kau boleh pergi dan pura-pura tidak mengenalku."
"Ae Ri.. Aku akan selalu ada disisimu. Jangan khawatir."
Ae Ri tertawa getir.
Beberapa kali Jae Hyun tertangkap basah mencuri-curi pandang pada Ae Ri. Ia menatap Ae Ri karena ada perasaan khawatir dan kasihan.
Ae Ri menjadi kesal.
"Apakah sekarang aku berubah menjadi seperti alien?"
"Tidak. Apa maksudmu?"
"Mengapa kau melihatku seperti itu?"
"Tidak.. Aku tidak melihatmu!" Jawab Jae Hyun gugup. Matanya ia alihkan ke plafon restoran.
"Sudah berapa bulan?" lanjutnya.
"Tiga."
Lalu pandangan Jae Hyun beralih ke perut Ae Ri.
***
Di butik Liberty Park
"Selamat datang tuan." Sapa pramuniaga pada Jae Hyun.
"Terimakasih nona. Mm.. Saya temannya nona Park Ae Ri. Saya sudah membuat janji dengannya." Jae Hyun berbohong.
"O baiklah tuan. Akan saya antarkan ke atas."
"Terimakasih nona."
Lift mengantar mereka sampai ke lantai paling atas. Sesampainya di depan pintu nona pramuniaga menekan bel.
Ae Ri berjalan ke pintu dan menyalakan kamera.
"Siapa?"
"Saya nona. Teman anda sudah datang."
Dahi Ae Ri berkerut.
Jae Hyun mendorong nona pramuniaga supaya dirinya bisa terlihat oleh Ae Ri.
"Ini aku Ae Ri. Cepat buka. Ada sesuatu yang penting."
Ae Ri menurut dan membuka pintu.
"Masuklah. Dan terimakasih nona Suzane."
Jae Hyun masuk kedalam.
"Apakah mamamu ada?"
"Ada apa mencari ku Jae Hyun?" Sapa nyonya Park.
"Nyonya Park. Aku bersedia menikah dengan Ae Ri. Aku akan menjadi papa dari bayinya." Seru Jae Hyun dengan bersemangat.
***