Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Lima Puluh Dua



"Ayo kita main bertiga mom. Sini!!!" Panggil Tae Yang.


Bocah laki-laki itu duduk dibawah bersama Kim Yo Han. Sedangkan dimeja dihadapan mereka telah tersusun balok-balok kecil berwarna-warni.


"Ayo mom.." Bujuk Tae Yang lagi. Mata berbinar penuh harap itu tak mampu ditolak oleh Ae Ri.


Perlahan ia berjalan dan duduk diseberang Tae Yang dan Kim Yo Han.


"Baiklah. Sekarang kita suit untuk menentukan siapa yang jalan lebih dulu ya."


"Yeey.. Aku duluan setelah itu mommy dan terakhir daddy. Seperti itu ya urutannya." Tae Yang menjelaskan disambut anggukan kepala Ae Ri dan Kim Yo Han.


"Merah!" Tae Yang melempar dadu dan mendapat giliran mencabut satu balok berwarna merah.


Ae Ri ikut cemas saat melihat Tae Yang mencabut balok berwarna merah dari tumpukan balok-balok itu.


"Yeey berhasil. Sekarang giliran mommy." Tae Yang memberikan dadu pada Ae Ri.


Ae Ri melempar dadu itu.


"Biru mom!" Seru Tae Yang.


"Hati-hati mom.." Bisik Tae Yang yang ikut takut saat menara balok itu sedikit goyah.


"Berhasil!" Seru Ae Ri dengan senyum lebar.


"Sekarang daddy!" Seru Tae Yang. Kim Yo Han mengambil dadu dan melemparnya.


Putaran pertama dan kedua mereka semua lolos dan dapat menyelesaikan misinya dengan baik. Saat putaran ketiga Ae Ri merobohkan menara balok itu.


"Mommy harus mendapat hukuman dari kita berdua! Dan tidak boleh menolak." Seru Tae Yang yabg sudah berdiri karena sangat bersemangat. Ae Ri mengerucutkan bibirnya.


"Hukumannya jangan yang susah-susah ya, please.." Bujuk Ae Ri pada Tae Yang.


"Oke! Kalau begitu cium aku dan daddy!"


Seketika Ae Ri terkejut. Kalau hanya mencium Tae Yang tidak masalah. Namun jika harus mencium Kim Yo Han rasanya itu tidak mungkin.


"Ayo mom.. Cepat.." Tae Yang tidak sabar karena melihat mommy nya belum juga bergerak. Tangannya menarik Ae Ri agar bangun dari duduknya.


Ae Ri mencium pipi Tae Yang. Lalu cepat-cepat ia mencium pipi Kim Yo Han dan kembali duduk ditempatnya semula. Ia tidak berani menatap wajah pria itu. Pipinya sudah terasa sangat panas.


Kim Yo Han tersenyum dan menoleh pada Tae Yang. Bocah itu tertawa lebar dan menunjukkan jempolnya. Kini Kim Yo Han tahu maksud terselubung bocah itu.


"Sekarang giliran daddy." Ujar Tae Yabg setelah ia menyusun kembali menara balok itu.


Putaran pertama masih lolos. Kemudian saat putaran kedua Kim Yo Han sengaja merobohkan menara itu.


"Yaaah.." Serunya. Matanya mengerling pada Tae Yang.


"Daddy harus menerima hukuman!" Seru Tae Yang.


"Apa hukumannya?" Tanya Kim Yo Han sambil tertawa.


"Cium aku dan mommy!" Jawab Tae Yang. Ae Ri melirik pada Kim Yo Han.


'Sepertinya dia sengaja meruntuhkan menara itu agar dapat kesempatan ini.' Batinnya.


Jantungnya berdebar saat melihat Kim Yo Han mendekatinya.


Cup!


Kim Yo Han mencium kening Ae Ri dengan lembut.


"Sudah ah. Mommy tidak mau ikut main ini lagi. Tidak seru." Ujar Ae Ri.


'Bahaya sekali jika pria itu terus-terusan sengaja merobohkan menara. Bisa-bisa aku diciuminya terus.' Batin Ae Ri lagi.


"Mommy.. Kita baru main sebentar."


"Kalian berdua saja yang main. Mommy sibuk." Ae Ri diselamatkan suara dering ponselnya.


"Halo Jae Hyun." Sapa Ae Ri. Ia sedikit milirik ke arah Kim Yo Han agar dapat melihat ekspresi wajah pria itu saat ia menyebutkan nama Jae Hyun.


Kim Yo Han memandanginya dengan sendu.


"Nanti malam? Jam berapa?"


"..."


"Tidak perlu kau jemput. Aku akan kesana sendiri."


"..."


"Sungguh. Percayalah padaku. Tunggu saja di rumah. Aku akan datang tepat waktu."


"..."


"Kau mau aku memakai pakaian warna apa?" Ae Ri menangkap sorot mata tidak suka dari pria dihadapannya. Namun ia semakin menjadi. Suaranya ia buat sedikit manja.


"Coklat? Oke."


"..."


"Baiklah aku akan bersiap dari sekarang." Ujarnya sambil melihat ke arah jam dinding.


"..."


"Tae Yang ada yang menjaganya. Kau jangan khawatir. Oke, sampai jumpa nanti malam." Ae Ri menutup pembicaraannya di telepon.


"Tae Yang, nanti malam mommy akan menghadiri acara makan malam keluarga ayah JJ. Mommy akan menghubungi bibi Seo agar ia menemanimu ya."


"Tidak usah mom. Kan ada daddy. Aku sama daddy saja."


"Oke baiklah kalau begitu."


"Tapi mommy jangan lama-lama ya perginya." Tae Yang tampak tak mau mommy nya pergi.


"Iyaa.. Mommy siap-siap dulu ya." Jawab Ae Ri sambil berdiri dan masuk ke kamar.


Tae Yang menatap Kim Yo Han. Pria itu hanya bisa tersenyum padanya.


"Bukankah daddy ingin menikah dengan mommy. Kenapa daddy membiarkan mommy pergi dengan ayah JJ?" Tanya bocah itu.


"Daddy hanya ingin melihat mommymu bahagia."


Tae Yang tampak tidak mengerti ucapan Kim Yo Han.


"Ayo kita main lagi." Seru Kim Yo Han. Ia ingin bocah itu teralihkan perhatiannya.


Selama beberapa saat mereka sudah asik kembali dengan bermain menara balok.


"Tae Yang, mommy berangkat dulu ya."


Sontak Tae Yang dan Kim Yo Han menoleh pada Ae Ri yang berdiri ditengah ruangan.


Kim Yo Han terpana saat melihat wanita itu. Ae Ri terlihat sangat cantik dan anggun. Tubuh indahnya terbungkus dengan gaun panjang berwarna coklat muda. Lengan bajunya yang lebar seperti sayap membuat nya tampak cantik bak peri. Rambut panjang nya ia biarkan jatuh bergelombang dipunggungnya. Kim Yo Han tersenyum memandangnya.


Dalam hati ia menyesalkan karena wanita itu berdandan bukan untuk dirinya.


"Oke mom. Hati-hati dijalan ya. Dan cepat pulang." Seru Tae Yang.


Ae Ri tertawa.


"Baik tuan Park." Ujarnya lalu berjalan dan menghilang dibalik pintu tanpa berpamitan dengan Kim Yo Han.


***


Ae Ri menghela nafas untuk membuang rasa cemasnya. Ia mengambil ponsel dan menelepon Jae Hyun.


"Aku sudah didepan rumahmu." Ujarnya singkat lalu menutup ponselnya.


Jae Hyun keluar dari rumahnya untuk menjemput Ae Ri.


"Kau cantik sekali." Jae Hyun memuji Ae Ri. Senyum bahagia jelas terlihat diwajahnya.


"Ayo kita masuk." Jae Hyun mengandeng tangan Ae Ri dengan lembut.


Ae Ri membiarkan tangannya digandeng oleh Jae Hyun memasuki rumah besarnya. Mereka menuju ruang tamu yang dimana sudah berkumpul keluarga Jae Hyun.


Ahn Jae Hyun memperkenalkan Ae Ri pada anggota keluarganya.


"Ae Ri, ini mamaku, kau sudah bertemu dengannya beberapa waktu lalu kan. Dan ini papaku, kakak perempuanku, itu suaminya dan ini adik perempuanku." Ujarnya Jae Hyun pada Ae Ri.


"Dan ini Ae Ri, Park Ae Ri kekasihku. Calon istriku." Ujar pria itu dengan tegas pada seluruh keluarganya.


"Selamat datang nona Ae Ri. Mari silahkan duduk. Sebentar lagi kita makan malam ya. Ini sedang dipersiapkan." Mama Jae Hyun bersikap sangat ramah. Namun entah mengapa Ae Ri tidak menyukai tatapan mata wanita itu.


"Kau tidak mengajak anakmu? Bukankah kau janda dan sudah memiliki anak?" Tiba-tiba kakak perempuan Jae Hyun mengagetkan Ae Ri.


Ae Ri tersenyum. Ia berusaha tetap tenang.


"Putraku bersama pengasuhnya. Dan aku bukan janda. Aku bahkan belum pernah menikah." Entah mengapa Ae Ri menjelaskan itu.


"Bisakah kita tidak membahas itu?" Tanya Jae Hyun.


"Harus kita bahas karena itu akan menjadi aib keluarga kita. Kau adalah pewaris utama." Seru kakak Jae Hyun.


Ae Ri merasa ia benar-benar telah masuk ke ruangan yang salah. Ingin sekali ia pergi dari sana namun ia terlanjur berjanji pada Jae Hyun untuk membantunya.


"Sudahlah Nam Hyun.. Ayo sepertinya makanan sudah siap. Kita makan bersama. Ayo nona Ae Ri." Ujar Mama Jae Hyun dengan suaranya yang lembut.


Wanita itu berdiri lalu berjalan menuju riang makan dan dengan patuh anggota keluarga yang lain mengikutinya. Tampak sekali mama Jae Hyun memegang peranan bahkan dominan dalam keluarga ini.


Jae Hyun menggandeng tangan Ae Ri dan tersenyum padanya.


"Maaf jika kau sedikit kurang nyaman. Aku akan membelamu, jangan khawatir ya." Bisik Jae Hyun sambil berjalan menuju ruang makan.


"Jadi bagaimana bisnismu nona Park?" Tanya papa Jae Hyun.


"Baik tuan Ahn. Berjalan diluar ekspektasi saya." Jawab Ae Ri sambil tersenyum. Ia berusaha untuk tetap ramah.


"Kudengar Jae Hyun banyak membantumu. Tidak bisa dibayangkan jika kau melakukannya tanpa Jae Hyun." Lagi suara kakak Jae Hyun terdengar sangat pedas.


"Tidak. Aku hanya sekali bekerjasama dengannya. Selebihnya ia melakukannya sendiri. Ia terbiasa bisnis di negara-negara lain tanpa bantuan siapapun. Dan semuanya sukses." Ahn Jae Hyun cepat-cepat membela Ae Ri.


Tingtong..


Tiba-tiba semua terdiam mendengar suara bel pintu. Sesaat kemudian seorang pelayan masuk ke ruang makan diikuti seorang gadis muda yang sangat cantik.


"Nona Kim Yu Ri sudah datang tuan nyonya."


"Yu Ri.. Akhirnya kau datang nak. Ku pikir kau tidak bisa datang. Kenapa terlambat? Apakah ada sesuatu?" Mama Jae Hyun berdiri dan menyambut gadis itu.


Ae Ri memandang Kim Yu Ri dan orang-orang disekelilingnya. Tampak semua orang langsung tersenyum bahagia melihat kedatangan gadis itu. Kecuali Jae Hyun.


Pria itu tampak membuang muka tidak mau melihat gadis itu.


"Sini nak. Duduk disini." Mama Jae Hyun menunjuk kursi tepat disebelah Ahn Jae Hyun.


"Halo Opa.." Kim Yu Ri menyapa manja pada Jae Hyun.


Ae Ri menyadari, tampaknya gadis ini adalah calon yang dijodohkan pada Jae Hyun.


"Halo." Jawab Jae Hyun dengan senyum kecutnya.


Kim Yu Ri menatap Ae Ri lalu tersenyum. Ae Ri membalas senyumannya.


"Baiklah karena tamu istimewa kita sudah datang mari kita mulai makan. Silahkan menikmati.." Seru mama Jae Hyun.


"Terimakasih makanannya, selamat makan.." Ae Ri dan Kim Yu Ri berkata secara bersamaan.


"Haha.. Nah mama dan papa sekarang silahkan memilih mau menantu yang disebelah kiri atau yang sebelah kanan Jae Hyun? Ae Ri atau Yu Ri? Kalau aku lebih suka yang sebelah kiri." Ujar Nam Hyun kakak Jae Hyun sambil tertawa.


Ae Ri benar-benar ingin melempar wajah wanita itu dengan sendoknya.


"Bagaimana kalau kita voting saja?" Tanya si bungsu tiba-tiba.


"Tidak ada voting. Ini kehidupanku. Ini cintaku. Aku hanya akan menikah dengan Ae Ri. Kalian tidak bisa mengaturku."


"Kalau begitu kau lepaskan bakmi sebagai pewaris utama."


"Baik kalau itu yang kakak mau." Seru Jae Hyun.


***