Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Lima Puluh Lima



Sejak siang hari Tae Yang sudah sangat ribut dan sibuk ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk Kim Yo Han.


Bocah itu sibuk membuat hiasan-hiasan dari kertas origaminya. Dan menempelkannya di segala penjuru rumah.


Kim Yo Han tertawa geli saat melihat Ae Ri mengomel karena bukannya terlihat bagus namun justru rumahnya jadi terlihat berantakan.


"Jika ingin menempel di satu tempat saja. Misalnya disudut sini. Kau bisa membuat tulisan lalu ditempel. Jadi kita tahu ini pesta apa." Jelas Ae Ri.


Tae Yang cemberut.


"Ayo sini daddy bantu. Daddy yang membuat tulisan, kau yang menggunting ya. Nanti setelah itu kita tempel bersama-sama. Oke?" Ujar Kim Yo Han menyemangati putranya.


"Oke dad!" Tae Yang terlihat semangat kembali.


Sesaat kemudian mereka berdua tampak sibuk dengan kertas warna-warni dan gunting-menggunting.


"Kalau begitu mommy pergi dulu ya Tae Yang. Mommy mau mampir sebentar ke butik. Tidak lama."


"Oke mom. Nanti jangan lupa cake untuk daddy ya." Jawab Tae Yang. Ae Ri mengangguk dan cepat-cepat pergi.


"Cepat pulang ya mom." Teriak Tae Yang.


"Ya!" Jawab Ae Ri sebelum menghilang dibalik pintu.


***


Ae Ri berdiri termenung di depan etalase di dalam sebuah toko kue. Beberapa tart yang sangat cantik dipajang didalamnya. Ia mencari cake yang hiasan nya cocok untuk pria. Namun kemudian ia teringat bahwa pria itu menginginkan cake pisang.


"Apakah ada tart yang cake pisang?" Tanya Ae Ri pada pramuniaga.


"Maaf nona, tidak tersedia. Anda harus memesannya terlebih dahulu."


"Jika aku memesan sekarang apakah nanti malam sudah bisa diantar?"


"Maaf nona, besok baru bisa. Karena minimal pemesanannya adalah satu hari."


Ae Ri tersenyum kecut.


Wanita itu kini sibuk keluar masuk toke kue. Dalam hati ia mengomel, mengapa harus cake pisang.


***


"Mommy pulang!!" Langkah kaki Ae Ri kedalam rumah disambut teriakan Tae Yang.


"Mana cakenya?!" Tanya Tae Yang saat melihat mommynya tidak membawa apapun selain tas tangannya.


"Tidak ada." Jawab Ae Ri cepat. Lalu masuk ke kamar.


Tae Yang yang wajahnya berubah kusut menoleh ke arah Kim Yo Han.


"Tidak apa-apa. Kita bisa memasak sesuatu. Kau mau membantu daddy?" Tanya Kim Yo Han.


Dengan lemah Tae Yang mengangguk dan mengikuti Kim Yo Han ke dapur.


"Daddy jangan marah ya. Kadang mommy suka begitu. Kemarin ulang tahunku saja dia lupa." Ujar Tae Yang berusaha menghibur Kim Yo Han.


"Iya. Daddy tidak marah kok. Tidak apa-apa. Bagi daddy ulang tahun kali ini sudah sangat istimewa. Karena bisa merayakannya dengan Tae Yang. Daddy senang sekali." Kim Yo Han membelai rambut Tae Yang dengan lembut.


"Ayo sekarang bantu daddy. Kita masak makan malam yang istimewa ya." Ajak Kim Yo Han agar putranya bersemangat kembali.


Hari sudah mulai gelap saat mereka menata hasil masakan mereka di depan tenda kecil yang dibuat disudut ruang tamu. Diatas tenda terdapat tulisan 'Happy birthday daddy Tae Yang' dan di tenda itu terdapat tempelan-tempelan dari kertas lipat hasil karya Tae Yang.


Didepan tenda mereka menggelar karpet dan di atas nya disusun makan malam mereka. Sehingga suasananya seperti sedang berpiknik.


"Oke sudah siap. Panggil mommy kita makan malam bersama." Ujar Kim Yo Han. Tae Yang cepat-cepat berlari ke arah kamar Ae Ri.


"Mommy.. Mommy.. Ayo kita piknik. Makan malam sudah siap mom." Seru Tae Yang sambil masuk ke kamar mommynya.


Dengan malas Ae Ri membalik tubuhnya menghadap ke pintu. Ia merasa tubuhnya sangat lelah karena mencari tart cake pisang.


Namun ia tidak berani menolak Tae Yang yang menatapnya dengan binar bahagia dimatanya.


"Sebentar lagi mommy keluar. Tunggulah disana." Jawab Ae Ri pelan.


Tae Yang menurut.


Ae Ri menatap dirinya di cermin. Gaun panjang berwarna merah dengan belahan sampai di paha membalut tubuhnya. Wajahnya memakai make up yang cukup tebal seperti akan ke pesta besar.


Ia menggeleng-geleng.


'Ini sangat aneh. Tidak mungkin aku mengenakan pakaian seksi ini.' Ujarnya sambil masuk lagi ke ruang pakaiannya.


Kini ia menatap kembali tubuhnya dicermin. Ae Ri mengenakan kimono tidur.


'Gila. Masak memakai ini saat makan malam.' Batinnya sambil berganti pakaian lagi.


Setelah beberapa kali berganti kostum akhirnya ia lelah dan memakai leging serta sweeter pink oversize nya.


"Lama sekali mom.. Aku sudah kelaparan." Seru Tae Yang saat melihat momnynya keluar kamar. Bocah itu sudah duduk dengan manis disamping Kim Yo Han didepan tenda kecilnya.


Kim Yo Han menatap Ae Ri dengan senyum menghias bibirnya.


"Kau sangat cantik." Bisiknya.


Ae Ri terkejut dan tiba-tiba ia menyadari ia lupa menghapus make up diwajahnya. Wanita itu memerah pipinya menahan malu.


"Ayo makan." Ujarnya untuk menutupi rasa canggungnya.


Tae Yang tak henti-hentinya bercerita dengan penuh semangat pada Kim Yo Han dan Ae Ri.


Ae Ri menatap putranya yang tampak sangat bahagia itu. Rasanya ia ingin selamanya melihat putranya seperti itu. Kini ia menoleh pada Kim Yo Han.


'Apakah dia tidak ingin hidup bersama putranya? Apakah ia tidak ingin tetap seperti ini?' Batinnya.


Kim Yo Han menoleh dan tersenyum pada Ae Ri. Wanita itu cepat-cepat menunduk karena merasa tertangkap basah sedang menatap Kim Yo Han.


Tingtong..


Ae Ri cepat-cepat berdiri dan berjalan je arah pintu.


'Jika Jae Hyun yang datang akan kuusir dia. Malam ini aku ingin menikmati hanya bertiga saja.' Batinnya.


Ae Ri masuk dengan membawa sebuah kotak berwarna pitih yang cukup besar.


"Apa itu mom?" Seru Tae Yang penasaran. Ae Ri meletakkan kotak itu ditengah-tengah karpet.


"Bukalah." Ujarnya sambil melirik Kim Yo Han. Pria itu membuka kotak itu perlahan.


"Waah.. Bagus sekali!" Seru Tae Yang saat melihat kue tart bernuansa biru itu.


"Terimakasih banyak." Kim Yo Han menatap Ae Ri dengan senyum yang susah diartikan oleh Ae Ri. Ae Ri merasa kedua mata pria itu sedikit basah.


Ae Ri berusaha tersenyum.


"Selamat ulang tahun." Ucapnya sedikit kaku.


"Terimakasih." Jawab pria itu lagi.


"Ayo dad.. Potong kuenya!"


"Sebentar kita hidupkan dulu lilinnya." Ae Ri berdiri mengambil korek api dan menyalakan lilin di atas kue tart.


"Ayo dad.. Tiup lilinnya. Buat doa harapan dulu." Seru Tae Yang dengan semangat.


Kim Yo Han tertawa. Tapi ia mengikuti ucapan bocah itu. Ia menutup matanya dan mengucapkan harapannya di dalam hati.


Ae Ri sangat penasaran tentang apa yang diharapkan pria itu.


Perlahan Kim Yo Han membuka kedua matanya lalu ia meniup lilin-lilin itu. Senyum lebar menghias wajah tampannya.


"Biar kubawa Tae Yang ke kamar." Kata Kim Yo Han sambil berdiri dan mengangkat tubuh putranya yang sudah terlelap di dalam kemahnya.


Ae Ri yang masih duduk di karpet didepan tenta hanya memandangi pria itu tanpa menjawab. Sambil tetap menikmati coklat hangatnya.


Kim Yo Han kembali duduk didepannya seperti tadi.


"Terimakasih kue tartnya tadi. Aku tidak tahu ternyata ada tart cake pisang."


"Bukankah kau yang menginginkannya."


"Yang kubayangkan hanya cake pisang seperti yang disukai Tae Yang biasanya itu. Itu sudah sangat cukup bagiku."


Ae Ri menoleh.


'Seandainya kau bilang dari awal, aku tidak akan pusing dan capek mencarinya.' Omelnya dalam hati.


Menjelang tengah malam, di luar rumah terdengar beberapa dentuman kembang api. Ae Ri melirik ke arah jendela rumahnya. Kemudian ia menoleh pada Kim Yo Han.


"Kau mau melihat kembang api?" Tanyanya.


Kim Yo Han menoleh dan berpikir sejenak.


"Tae Yang?" Pria itu balas bertanya. Ia tak ingin meninggalkan bocah itu sendirian di rumah.


"Kita lihat dari atas. Pakai jaket tebal!" Jawab Ae Ri sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Kim Yo Han menaiki tangga mengikuti langkah Ae Ri di depannya. Sebuah tangga kecil melingkar menuju lantai atas yang tampaknya hanya difungsikan sebagai gudang.


Mereka melewati sebuah lorong kecil lalu diujung belok ke kanan. Di ujung lorong sebelah kanan terdapat sebuah jendela kaca. Lampu ruangan yang bercahaya kuning membuat tempat itu menjadi romantis.


Letak rumah Ae Ri berada di kawasan yang cukup tinggi sehingga dari jendela itu mereka dapat melihat ke arah Lotte World. Di gedung tertinggi di Korea Selatan itu setiap pergantian tahun akan diadakan pesta kembang api yang sangat indah.


"Setengah jam lagi pergantian tahun." Ujar Ae Ri sambil melihat jaman di ponselnya.


Mereka berdiri berdekatan karena jendela kaca itu tidak terlalu besar. Ae Ri merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ia melirik pria disampingnya yang tampak asik menikmati pemandangan lampu-lampu diluar jendela. Cahaya kuning yang menyinari wajah pria itu semakin membuatnya tampan luar biasa.


Tatapan Ae Ri perlahan turun ke bagian bibir Kim Yo Han. Ae Ri cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


'Mengapa kau berpikiran yang aneh-aneh seperti itu Ae Ri!' Wanita itu mengomeli dirinya sendiri.


"Ada apa?" Bisik pria disampingnya. Ae Ri terkejut.


"O? E.. Tidak.. Tidak ada apa-apa." Jawab Ae Ri gugup.


"Ada kursi disana. Ku bawa kesini ya supaya kau tidak lelah berdiri terlalu lama."


Ae Ri hanya mengangguk tidak mau membalas tatapan pria itu.


Saat Kim Yo Han pergi untuk mengambil kursi, Ae Ri menghela nafas yang dari tadi ditahannya. Ia cemas pria itu dapan mendengar degup jantungnya yang berantakan.


Kim Yo Han datang membawa kursi yang cukup besar. Ae Ri cepat-cepat membantunya.


"Duduklah. Dan pakai ini. Sangat dingin disini." Kim Yo Han duduk disisi kiri kursi dan menunjuk sisi kanannya yang kosong.


Setelah Ae Ri duduk ia menyelimuti wanita itu dengan selimut yang sempat ia ambil dari lantai bawah.


Ae Ri melirik pria itu. Dia hanya menyelimuti Ae Ri dan membiarkan kakinya sendiri tidak terselimuti. Ae Ri melebarkan selimutnya dan menaruh di pangkuan pria itu tanpa berkata apapun.


Kim Yo Han menoleh dan tersenyum. Ia merapikan selimut untuk menutupi kedua kakinya.


Duduk berdua tanpa jarak seperti itu membuat jantung Ae Ri semakin berdetak hebat. Ia meremas jemarinya agar merasa lebih tenang.


"Dingin?" Tanya Kim Yo Han saat melihat Ae Ri meremas-remas jemarinya. Pria itu meraih kedua tanga Ae Ri.


Ae Ri merasakan tangan Kim Yo Han yang hangat saat menyentuh tangannya. Tanpa ia sadari Ae Ri menatap pria disebelahnya. Pria itu balas menatapnya dengan lembut.


Kim Yo Han dapat merasakan deru nafas wanita disampingnya. Dadanya semakin bergetar saat melihat wanita itu menatap bibirnya. Namun ia masih takut salah apakah wanita itu menginginkan ciumannya.


Perlahan ia menundukkan kepalanya. Kim Yo Han berusaha menahan dirinya. Kembali ia menatap keluar jendela. Mencoba menenggelamkan pikirannya kesana. Pria itu menyadari bahwa wanita disampingnya masih menatapnya.


Kim Yo Han kini menoleh dan menatap kembali wajah yang selalu ia rindukan itu. Kedua matanya beradu pandang dengan Ae Ri.


Tangan kiri Kim Yo Han memegang bagian belakang leher Ae Ri dan kemudian ia mengecup bibir wanita itu.


***