Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua Puluh Empat



"Baik. Sebelumnya perkenalkan saya Park Ae Ri dari Liberty Park. Saya akan menyampaikan proposal kerja sama butik saya dengan sekolah Byeol. Bla..bla..bla."


Ae Ri tampak sangat lancar menjelaskan setiap poin kerja sama maupun mengenai seragam yang dirancangnya.


Beberapa slide gambar anak atau remaja yang menggunakan seragamnya ia pamerkan.


"Ini adalah seragam musim dingin yang tadi saya jelaskan. Dan disampingnya adalah seragam musim panas yang tadi juga telah saya jelaskan detailnya.


"Saya menjamin dengan kerja sama kita akan semakin banyak menarik minat peserta didik disini. Karena seragam buatan Liberty Park akan sangat menarik perhatian. Anda sekalian tampaknya bisa menambah beberapa ruang kelas baru lagi."


Senyum Ae Ri mengembang dengan optimis. Sesaat kemudian ia menoleh pada Kim Yo Han.


Kembali ia merasa kesal karena pria itu sibuk menulis-nulis di tabletnya, tampaknya kurang memperhatikan perkataan Ae Ri.


Tidak hanya Ae Ri yang menoleh ke arah CEO itu, namun semua mata diruangan itu kini menunggu pria itu memberikan komentarnya.


Kim Yo Han mendongak dan tampak terkejut saat semua mata memandang ke arahnya.


"Apa kesalahanku? Mengapa kalian memandangiku seperti itu?" Ujarnya sambil tertawa.


Para direksi dan kepala sekolah ikut tertawa.


"Nona Park sudah selesai presentasi, CEO Kim." Ujar Direktur Go.


"Ya sudah. Menurut anda semua bagaimana? Jika baik untuk sekolah kita ya kita lakukan. Tapi jika merugikan kita maka jangan kita lakukan." Ujarnya santai.


Ae Ri melirik Yo Han dengan kesal. Kemudian tanpa sengaja matanya beradu pandang dengan kepala sekolah Yoon. Wanita itu tersenyum padanya. Ae Ri ikut tersenyum meski ia bingung apa arti senyumannya itu.


"Saya secara pribadi menyukai itu, CEO Kim. Tapi mungkin CEO Kim sendiri yang memutuskan." Jawab direktur Go.


"Jangan. Aku tidak mau keputusan ini menjadi subyektif. Lebih baik kita ambil suara terbanyak."


Suara bisik-bisik terdengar.


"Oke. Angkat tangan bagi yang tidak menerima proposal Nona Park." Serunya tiba-tiba.


Tidak ada satupun di ruangan itu yang mengangkat tangannya.


Ae Ri sendiri bingung. Apakah karena mereka semua menerimanya atau karena mereka semua bingung dengan pertanyaan Kim Yo Han.


"Apakah tidak ada yang menolak proposal Nona Park?" Tanya Kim Yo Han sekali lagi. Dan seperti tadi tidak ada yang menjawab.


"Oke, Nona Park. Proposal anda kami terima dengan suara bulat. Kerja sama kita di mulai di semester yang akan datang. Jadi setelah ini setiap anak yang membeli seragam bisa datang langsung ke butik Anda dan mengukur disana. Begitu kan?"


"Ya, Tuan Kim. Terima kasih banyak atas kepercayaan anda."


"Bukan hanya aku yang mempercayaimu. Tapi mereka juga. Apakah kau hanya bisa melihatku di ruangan ini?" Kim Yo Han tertawa.


Ae Ri seketika memerah wajahnya karena risih. Sedangkan para direksi tersenyum.


"Mengapa tadi anda mengatakan jika anda yang memutuskan maka akan menjadi keputusan yang subyektif, tuan Kim?" Tanya direktur Go penasaran.


Kim Yo Han tersenyum.


"Karena dia kekasihku." Ujar Kim Yo Han dengan mantap. Sedangkan semua orang yang mendengarnya terbelalak. Kecuali Bu Yoon yang tersenyum lebar.


"Whooa.. Kami mendapat kabar gembira hari ini. Selamat untuk CEO Kim dan Nona Park.'


Ae Ri benar-benar ingin membantah ucapan laki-laki itu.


"E.. Sebenarnya kami.." Namun belum sempat ia menyelesaikan ucapannya tangan pria itu telah menariknya keluar ruangan.


"Pertemuan kita akhiri sekarang. Kau selesaikan pekerjaan Nona Park. Aku akan membawanya sebentar." Ujar Kim Yo Han pada direksi sekolah dan juga pada asisten Ae Ri.


"Apa-apaan!!" Ae Ri menghentakkan tangannya dari pegangan Kim Yo Han saat mereka tiba di luar ruangan.


"Mengapa kau berani sekali mengatakan hal itu. Atas dasar apa kau bisa mengatakan itu. Itu tidak benar sama sekali."


Kim Yo Han tidak menjawab ia justru kembali menarik tangan Ae Ri ke arah parkiran.


Namun saat mereka melewati lapangan tampak segerombolan anak-anak memanggil mereka.


"Mommynya Tae Yang. Daddynya Tae Yang!!" Teriak riuh dari beberapa anak.


Sontak mereka berdua menoleh. Dan tampak Tae Yang dan teman-temannya melambaikan tangannya pada mereka.


Ae Ri dan Yo Han membalas lambaian tangan Tae Yang. Anak itu berlari menghampiri mereka berdua. Semakin dekat semakin jelas terlihat tawa bahagianya.


Tae Yang lebih memilih memeluk Yo Han terlebih dahulu baru memeluk Ae Ri. Ae Ri sangat kesal dibuatnya.


"Sedang apa disini?" Tanyanya bocah itu.


"Bisnis." Bisik Ae Ri.


Tae Yang mengangguk-angguk.


"Sekarang mau pulang?"


"Ya, ke kantor kami masing-masing." Jawab Ae Ri.


"Apakah kalian pacaran?" Bisik Tae Yang.


Yo Han tertawa.


"Ya."


"Tidak. Sudah sana kembali ke lapangan. Nanti kami di marah gurumu."


"Bisakah kalian melihatku sebentar. 5 menit. Sudah itu baru boleh pergi." Bisik Tae Yang lagi.


"Kenapa seperti itu?" Yo Han ikut berbisik.


"Karena aku ingin teman-temanku melihat kalian. Aku senang mereka menganggapku memiliki mommy dan daddy."


Ae Ri terdiam.


"Kau mau pamer?" Bisik Kim Yo Han lagi.


Tae Yang mengangguk. Kim Yo Han tertawa.


"Oke! Sudah sana kembalilah!" Ujar Yo Han sambil mengacak lembut poni Tae Yang.


Tae Yang berlari lagi ke tengah lapangan. Ia membungkuk pada gurunya. Guru olahraga nya menoleh pada Ae Ri dan Yo Han. Dan reflek kedua orang itu ikut membungkuk pada guru Tae Yang. Guru Tae Yang pun membalas hormat mereka.


"Tampaknya dari Tae Yang kita sudah belajar berlatih menjadi orang tua." Kim Yo Han tertawa. Ae Ri hanya meliriknya.


"Apakah kau mau mempunyai anak dariku?"


"Tidak!"


"Tapi aku sangat ingin. Aku selalu membayangkan bagaimana wajah anak kita."


"Aku tidak mau. Jadi jangan pernah membayangkannya!"


"Kau sangat cantik. Pasti anak kita akan tampan dan cantik."


Kembali Ae Ri meliriknya dengan kesal.


"Mengapa kau tidak mau menikah denganku?"


"Kau bukan tipeku."


"Lalu seperti apa tipemu?"


"Pria yang sopan, lembut, ramah, penyayang, dan bisa membuatku bahagia. Pokoknya yang tidak sepertimu."


"Apakah ada pria seperti itu?"


"Ada."


"Kau sudah menemukannya?"


"Sudah."


"Siapa?"


"Jae Hyun."


Kim Yo Han terbelalak. Lalu sesaat kemudian ia tertawa.


"Kau dan dia hanya bersahabat. Aku tahu itu."


"Pada akhirnya setelah aku jenuh dengan semua pria-pria yang hanya menginginkan tubuhku saja, aku akan menerima cintanya. Hanya dia yang sanggup mencintaiku apa adanya. Tanpa mengharapkan sex dariku. Dia sangat mencintaiku dan mengormatiku, dan aku juga sangat menghormatinya."


Kim Yo Han menatap kedua mata Ae Ri dengan intens. Ae Ri balik menatap pria itu. Ia ingin menunjukkan kesungguhan ucapannya.


Kim Yo Han terdiam selama beberapa lama. Meski pandangannya ke arah lapangan namun pikirannya berlari entah kemana.


"Nona Park!" Sebuah suara mengagetkan mereka. Asisten sekaligus sekretaris Ae Ri menghampiri mereka.


"Anda belum pergi?" Tanya gadis muda itu lagi sambil menatap Kim Yo Han dan Ae Ri bergantian.


Kim Yo Han melangkah pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata apapun.


Ae Ri memandangi punggung pria itu. Ia tersenyum puas. Tampaknya ia sedikit berhasil menyakiti pria itu.


"Ayo, kita kembali ke butik sekarang." Ae Ri melangkah ke arah parkiran tidak memperdulikan Kim Yo Han lagi.


***


"Selamat pagi, Mom. Hmm baunya harum! Mommy buat pancake?" Seru Tae Yang saat mendatangi meja makan untuk sarapan.


"Pagi, Sayang! Kau tampak gembira hari ini. Ini kesukaanmu kan, pancake madu!"


"Hmmm.. Enak!!" Serunya lagi.


"Paman daddy tadi menelponku. Dia bilang saat dia kembali akan membawakanku pesawat mainan yang bisa terbang!"


"Kembali? Dari mana?"


Sesaat Tae Yang memperhatikan wajah mommynya.


"Apakah kalian bertengkar?"


"Tidak."


"Tapi kemarin waktu di lapangan kulihat paman daddy pergi meninggalkan mommy. Tampaknya dia marah."


"Iya memang. Bukankah dulu mommy pernah bilang kalau dia orang yang jahat. Dia suka menjahati mommy. Karena itu mommy tidak menyukainya."


"Tapi dia tidak pernah jahat padaku."


"Kau selalu saja suka membantah."


"Aku hanya membela paman daddy. Kata bu guru Kang, jika orang yang tidak bersalah harus kita bela."


Ae Ri menjadi kesal.


"Tuan Kim sekarang dimana?" Tanyanya.


"Di Jepang."


"Mau apa dia di Jepang?" Tanya Ae Ri pada dirinya sendiri.


"Mommy tanyakan saja padanya."


"Mommy tidak mau berbicara padanya."


***


'Ini sudah hari Jumat. Apakah dia lupa pada janjinya yang akan menolongku?!' Batin Ae Ri.


Matanya melirik jam di mejanya. Pukul 11.45.


Sudah beberapa hari ini pria itu sama sekali tidak menghubunginya.


'Apakah dia masih di Jepang?' Batinnya lagi.


Toktoktok..


Pintu dibuka dan tampak sekretarisnya masuk.


"Nona Park setelah makan siang ini seluruh jadwal anda sampai malam sudah kosong sesuai permintaan anda."


"Oke.." Jawab Ae Ri pelan. Sebenarnya ia ragu, apakah pria itu akan datang atau tidak. Karena tampaknya perkataannya waktu itu sudah membuatnya tersinggung.


"Apakah anda ingin saya pesankan makan siang?"


Ae Ri berpikir sebentar.


"Aku belum lapar. Kau pergilah makan dulu. Jika aku ingin makan, nanti aku akan memesan sendiri."


Dengan ragu sekretarisnya mengangguk.


"Baik, Nona Park. Kalau begitu saya pamit sebentar." Ujar nona Kang.


Ae Ri menganggukkan kepala.


Selama beberapa lama ia termenung.


'Apakah aku sangat jahat terhadapnya? Aku hanya ingin memanfaatkannya untuk kepentinganku saja. Ah, masa bodoh!' Batin Ae Ri.


***


Kim Yo Han melangkah masuk ke butik Liberty Park. Seorang pramuniaga menyambutnya.


"Selamat datang tuan Kim. Anda sudah ditunggu nona Park di ruangannya."


Yo Han hanya melirik lalu mengangguk. Ia melangkah ke arah lift. Namun kemudian langkahnya ia hentikan.


"Aku akan masuk sendiri. Dan tolong jika ada tamu yang ingin menemuinya katakan nona Park sedang keluar kota. Siapapun itu. Mengerti?" Ujar Kim Yo Han pada pramuniaga yang mengantarnya.


"Baik, Tuan."


Kim Yo Han masuk ke dalam lift dengan anggun. Semua mata menatapnya kagum akan ketampanannya.


Saat lift sudah tertutup, beberapa karyawan butik itu saling melempar pandang dan senyum.


Mereka memikirkan kira-kira apa yang akan dilakukan kedua orang itu sampai-sampai keduanya meminta jangan ada yang mengganggu mereka.


***


Toktoktok..


Kim Yo Han langsung membuka pintu kantor Ae Ri dan melangkah masuk kedalam.


Ia menatap lurus ke arah Ae Ri. Dingin dan tanpa senyum. Pria itu terlihat sangat berkharisma dalam setelan jas berwarna biru navy dan kaos hitam berleher v.


"Anda sudah datang. Silahkan duduk." Ae Ri sedikit gugup dan canggung saat itu.


Kim Yo Han duduk di sofa merah yang menempel pada dinding sisi kanan ruangan itu. Ae Ri menempatkan diri di hadapan pria itu di sebuah sofa ukuran single berwarna hitam.


Selama beberapa waktu Kim Yo Han berdiam diri. Ia memutar-mutar ponselnya.


Karena bingung, akhirnya Ae Ri juga memilih untuk diam.


Kim Yo Han menghentikan putaran ponselnya, lalu menatap Ae Ri.


"Mengapa kau diam saja?" Tanya pria itu.


"Aku tidak tahu mau berkata apa."


"Apakah kau tidak ingin tahu bagaimana kabarku? Atau apa yang kulakukan hingga tidak sempat menghubungimu?"


"Aku tidak suka mengurusi ranah pribadi orang lain."


Kim Yo Han tertawa sinis.


"Kau memang pandai menyakiti hati orang." Desisnya.


"Apakah kau kesini hanya ingin mengajakku bertengkar?!" Seru Ae Ri mulai kesal.


Kim Yo Han tertawa.


"Minta kertas dan bolpen."


Meskipun sedikit heran, Ae Ri berjalan ke mejanya dan memberikan apa yang diminta pria itu.


***