Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Empat Puluh Tujuh



Mereka turun menggunakan lift sampai ke lantai dasar tempat parkir mobil. Kim Yo Han melepas jasnya dan memakaikannya pada Ae Ri karena coat wanita itu tertinggal di tepat penitipan barang di pesta tadi.


'Jae Hyun, aku langsung pulang karena Tae Yang menelpon. Maaf aku pulang duluan karena kau tampak masih asik berbincang dengan kolega-kolegamu. Sampai bertemu besok.' Ketik Ae Ri lalu mengirimkan nya pada Jae Hyun.


Ia menoleh pada pria yang duduk disampingnya. Pria itu masih tetap terlihat dingin dan menatap tajam ke arah jalanan didepannya.


'Apa yang aku lakukan ini? Mengapa tadi aku mengiyakan keinginannya?' Ae Ri bingung sendiri dengan sikapnya.


'Dan lihatlah pria itu. Ia sangat dingin bahkan tidak mengajakku bicara sepatah katapun.'


Ae Ri hanya menunduk dan memainkan jemarinya.


Mobil berhenti di depan rumah Ae Ri. Kim Yo Han cepat-cepat turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ae Ri. Ae Ri turun dengan sedikit ragu. Ia cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Ayo cepat masuk. Udara sangat dingin dan sudah mulai turun salju." Ujar Kim Yo Han. Kini di dalam suaranya sudah tidak ada nada kemarahan lagi.


Ae Ri mengikuti dengan pasrah saat pria itu menggandeng tangannya menuju pintu rumah. Lalu ia menekan tuts kunci rumah.


Ae Ri terbelalak saat melihat pintu terbuka.


"Bagaimana kau bisa.." Ae Ri baru saja akan menanyakannya namun bibirnya sudah diciumi oleh Kim Yo Han. Sehingga ia tidak bisa lagi melanjutkan pertanyaannya.


Kim Yo Han mengangkat tubuh Ae Ri dan membawanya ke dalam kamar wanita itu. Dengan pelan ia meletakkan tubuh Ae Ri ditempat tidur. Lalu dengan lembut ia melepaskan sepatu wanita itu.


Ae Ri seakan terhipnotis dengan setiap perlakuan lembut Kim Yo Han. Ia membiarkan saja saat pria itu menciuminya sambil melepaskan satu persatu pakaiannya.


Dengan cepat pria itu juga melepaskan pakaiannya sendiri.


Ae Ri menikmati setiap sentuhan pria itu.


Dan malam yang panas pun terjadi di dalam ruangan itu.


Kim Yo Han memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.


"Mi Cha.. Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu." Bisiknya berkali-kali.


***


Ae Ri terbangun dari tidurnya saat merasa di perutnya ada benda berat menimpanya.


Ia terkejut menyadari seorang pria memeluknya.


Ae Ri memandangi wajah Kim Yo Han yang masih terlelap dalam tidurnya. Wanita itu menyadari ternyata mereka berdua masih sama-sama belum berpakaian. Dengan cepat ia bangun dan mencari pakaiannya yang berserakan lalu masuk ke kamar mandi.


Sambil membersihkan dirinya tak henti-hentinya ia mengutuki dirinya sendiri.


'Mengapa aku mudah sekali jatuh dalam rayuan lelaki itu. Bukan ini tujuanku. Mengapa jadi begini?!' Omelnya dalam hati.


Perlahan ia keluar dari kamar mandi. Pria itu masih tidur dengan lelapnya. Ae Ri keluar dari kamar dan menuju pantry. Seperti biasa ia menyiapkan sarapan untuknya dan Tae Yang.


'Ya.. Dan orang itu juga.' Batinnya sedikit kesal. Ia kesal dengan pria itu, jg kesal dengan dirinya sendiri.


"Selamat pagi mommy." Tae Yang menyapa Ae Ri dengan ceria.


"Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurmu?"


"Nyenyak sekali mom. Tadi malam mommy pulang jam berapa?"


"Sepertinya jam sepuluh. Entahlah mommy lupa melihat jam." Jawab Ae Ri. Ia risih karena teringat kelakuannya dengan Kim Yo Han tadi malam.


Ae Ri menata sarapan diatas meja.


"Wow.. Terlihat enak mom. Aku suka pancake pisang dan stroberi buatan mommy."


"Selamat pagi Tae Yang.." Suara Kim Yo Han menyapa Tae Yang dengan lembut dan ramah.


Tae Yang terkejut dan menoleh ke belakang.


"Daddy!!" Serunya sambil melompat turun dari kursi dan memeluk Kim Yo Han.


Kim Yo Han langsung menangkap bocah laki-laki itu dan menggendongnya.


"Daddy tadi malam tidur disini?"


"Iya.." Jawab Kim Yo Han sambil melirik Ae Ri. Wanita itu sama sekali tidak mau melihat kearahnya.


"Kenapa daddy tidak membangunkan aku." Tae Yang merajuk.


"Tae Yang sudah tidur nyenyak, daddy tidak tega membangunkan Tae Yang."


"Yaah.. Padahal Tae Yang kan ingin bermain dengan daddy."


"Hari ini bisa kok bermain dengan daddy."


"Daddy tidak pergi? Daddy tidak berangkat kerja?" Seru Tae Yang tiba-tiba jadi bersemangat.


"Tidak. Ini kan hari Minggu. Daddy akan menemani Tae Yang bermain sampai Tae Yang puas."


"Horeee..!" Teriak Tae Yang penuh suka cita.


Kim Yo Han tertawa bahagia melihat putranya itu. Ia membelai rambut Tae Yang dengan lembut.


"Ayo sekarang sarapan dulu. Nanti masakan mommy keburu dingin." Ujar Kim Yo Han.


"Baiklah dad.."


"Bilang apa pada mommy yang sudah menyiapkan sarapan untukmu?" Tanya Kim Yo Han.


Ae Ri tertawa melihat tingkah anaknya itu. Namun seketika ia berhenti tertawa saat matanya beradu pandang dengan Kim Yo Han. Cepat-cepat ia membuang muka.


Ae Ri menyadari Kim Yo Han tidak mengambil makanan untuknya sendiri. Ia justru terlihat sibuk mengurusi makanan Tae Yang. Kadang ia menyuapi bocah itu.


"Daddy.. Daddy.. Nanti malam daddy tidur disini lagi ya?"


"Coba tanyakan pada mommy. Apakah boleh daddy tidur disini lagi?"


"Boleh ya momm.." Rengek Tae Yang.


Ae Ri sama sekali tidak menanggapi, ia sibuk memakan pancake nya.


Kim Yo Han tersenyum pada Tae Yang. Sedangkan Tae Yang cemberut. Ia tahu pasti mommynya tidak mengijinkan.


"Kapan-kapan saja ya." Bujuk Kim Yo Han.


Tae Yang mengangguk dengan wajah sedih.


"Kalau kau mau kerja pergilah, biar aku yang menemani Tae Yang." Ujar Kim Yo Han sambil membantu Ae Ri membereskan piring-piring dan gelas bekas sarapan.


Ae Ri tetap diam sambil mencuci piring kotor. Kim Yo Han berdiri disampingnya dan ikut membantu mengelap piring gelas yang sudah dicuci Ae Ri.


Berdiri sangat dekat seperti itu membuat jantung Ae Ri berdegup lebih kencang. Tiba-tiba ia teringat bagaimana lembut namun panasnya Kim Yo Han tadi malam. Seketika bulu kuduknya merinding mengingat itu.


Ae Ri semakin menundukkan kepalanya seakan takut pikiran kotornya terbaca oleh Kim Yo Han.


"Kau baik-baik saja kan? Apa aku membuatmu sakit?" Bisik Kim Yo Han dengan cemas.


'Ya Tuhan, mengapa ia menanyakan itu.' Batinnya kesal.


"Sana bermainlah dengan Tae Yang, jangan menggangguku!" Usir Ae Ri. Ia sudah tidak tahan berada didekat pria itu. Ae Ri merebut lap di tangan Kim Yo Han.


Kim Yo Han memandangi Ae Ri.


"Tidak bisakah kau pertimbangkan lagi untuk memaafkanku dan menerimaku demi Tae Yang kita?" Bisiknya lagi. Ia tidak ingin percakapan mereka didengar Tae Yang.


"Tidak. Aku sudah menerima lamaran Jae Hyun. Aku akan segera menikah dengannya. Dan kurasa Jae Hyun akan menjadi ayah yang lebih baik untuk Tae Yang."


"Mi Cha.."


"Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku sangat membencinya. Karena nama itu mengingatkanku akan perbuatanmu padaku dulu." Ae Ri berbicara sambil menahan emosinya.


"Aku ayah kandungnya. Setidaknya biarkan aku ikut membesarkannya."


Ae Ri tak bisa menahan tawanya.


"Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai ayahnya. Dari aku hamil, melahirkan sampai membesarkannya seperti ini hanya Jae Hyun yang ada disisiku. Jadi jangan pernah kau mengaku-ngaku sebagai ayah kandungnya. Itu memalukan. Tidak pantas kau sebut." Ucapnya sinis.


Kim Yo Han merasa seperti ada paku tajam yang menancap didadanya.


"Jadi lebih baik kau gunakan saat-saat ini. Sekarang aku masih memperbolehkanmu untuk menemui anakku. Tapi belum tentu di lain waktu."


"Aku menyesali yang terjadi tadi malam. Sepertinya aku benar-benar mabuk. Aku pastikan tidak akan lagi terjadi hal seperti itu. Kuharap kau mengerti, dan anggaplah tidak terjadi apa-apa tadi malam." Lanjut Ae Ri.


Kim Yo Han hanya bisa memandangi Ae Ri. Ia kehabisan kata-kata.


"Aku sangat bahagia tadi malam. Aku tidak akan melupakannya." Ujar Kim Yo Han lalu pergi meninggalkan Ae Ri yang tercengang.


Kim Yo Han benar-benar menghabiskan waktunya dengan bermain-main dengan Tae Yang. Kadang mereka menggambar bersama, bermain perang-perangan dan kadang Kim Yo Han menceritakan dongeng untuk Tae Yang.


Setelah menginap di pantai yang lalu membuatnya membaca beberapa dongeng untuk anak karena ia sadar ternyata ia tidak memiliki dongeng yang bisa ia ceritakan untuk Tae Yang.


"Jadi pangeran itu datang untuk menyelamatkan putri yang dikurung didalam menara yang tinggi. Dengan berani dia melawan naga yang ganas yang menjaga menara itu. Pangeran itu berhasil mengalahkan naga lalu ia bisa menyelamatkan sang putri."


"Kata mommy pangeran itu naik ke menara dengan memanjat rambut putri."


"Ah tidak ada seperti itu. Pangeran tidak boleh menyakiti putri. Jika ia memanjat menggunakan rambut putri, pasti putri itu akan kesakitan."


"Lalu bagaimana caranya dia naik ke atas?"


"Tentu saja pangeran menemukan jalan lain untuk ke atas menara karena dia pintar sepertimu."


Diam-diam Ae Ri melirik ke arah Tae Yang. Ia penasaran bagaimana ekspresi bocah itu. Tae Yang tampak berpikir keras.


"Apakah betul ceritanya seperti itu mom?" Ae Ri menahan geli karena Tae Yang tampak tidak menyetujuinya karena berbeda dari yang biasa Ae Ri ceritakan.


"Ya." Ae Ri tidak ingin menjawab panjang-panjang.


"Nah benar kan.." Kim Yo Han tertawa.


Ae Ri tak sengaja memandang pria itu. Baru kali ini Ae Ri melihatnya tertawa lebar dan ia kelihatan berlipat kali lebih tampan dari biasanya.


"Halo Tae Yang!" Tiba-tiba suara lelaki menyapa Tae Yang.


Ae Ri dan Kim Yo Han sangat terkejut. Begitu pula Jae Hyun yang melihat Kim Yo Han berada disana. Pandangannya tertuju pada kemeja dan celana panjang yang dikenakan pria itu tampak sama dengan yang dipakainya semalam.


"Ayah JJ!" Tae Yang tersenyum riang.


"Ini ayah JJ bawakan cake pisang kesukaanmu. Ayo kita makan." Jae Hyun langsung menuju ke pantry. Tae Yang ikut menyusulnya.


Ae Ri pun kemudian menyusul mereka ke pantry. Ia sedikit gelisah. Perasaannya serba salah dan sedikit tidak enak pada Jae Hyun.


'Semoga ia tidak menanyakan tentang tadi malam.' Batinnya cemas.


***