
Dua bulan kemudian.
Hawa dingin di awal musim semi masih terasa menerpa tubuh Ae Ri. Ia berjalan di samping tubuh jangkung Jae Hyun di jalan setapak yang dikedua sisinya dipenuhi pohon sakura. Mungkin beberapa minggu lagi bunga-bunga itu baru akan bermekaran.
Namun Ae Ri justru tidak akan menyukai bunga itu jika mereka mekar. Karena bunga sakura mengingatkannya pada rasa sakit yang ia rasakan tujuh tahun silam.
"Bagaimana? Kau suka?" Tanya Jae Hyun menutup ocehannya yang sama sekali tidak didengarkan oleh Ae Ri.
Ae Ri menoleh. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan pria itu.
Ahn Jae Hyun yang tadinya berbicara dengan penuh semangat tentang rencana pesta pernikahannya bulan depan langsung kendor saat melihat lawan bicaranya terlihat tidak menanggapinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Jae Hyun.
"Tidak ada." Jawab Ae Ri.
"Jangan bohong."
"Aku tidak yakin dengan pernikahan ini."
"O ayolah Ae Ri. Aku berjanji akan selalu membuatmu dan Tae Yang bahagia."
"Tapi keluargamu tidak menyukaiku. Aku tidak ingin hubunganmu dengan keluargamu rusak gara-gara aku."
"Kita sudah membahas ini berulang kali. Bukankah sudah kukatakan aku rela melepaskan semuanya demi dirimu."
Ae Ri menggeleng.
"Kupikir ini salah Jae Hyun. Aku tidak bisa. Maafkan aku." Bisiknya lirih.
"Apa karena laki-laki brengsek itu? Yang berkali-kali meninggalkanmu itu? Kau masih berharap padanya? Kau mau menunggunya?" Kali ini suara Jae Hyun semakin tinggi.
Ae Ri terbelalak.
"Kau gila." Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.
***
Dengan lesu Ae Ri masuk ke dalam kantornya. Berjalan bersama Jae Hyun sepertinya telah menguras segala energinya.
Setiap hari ia telah meyakinkan Jae Hyun bahwa mereka tidak mungkin menikah. Namun pria itu tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Ae Ri tidak ingin menyakiti hati Jae Hyun. Namun ia sendiri tidak ingin menikah dengan pria yang ia anggap sahabatnya itu.
Ae Ri menekan pelipisnya yang terasa sakit.
"Mengapa aku harus terjebak perasaan ini?!!" Teriaknya kesal.
Ia membalik kursinya dan melempar pandangannya ke arah jendela kantornya. Sejenak ia termenung. Tidak ada keinginannya sama sekali untuk menjalin hubungan asmara dengan laki-laki. Kalaupun ada, bukan Jae Hyun orangnya.
Meskipun Jae Hyun sangat baik dan sangat sempurna. Tapi ada sosok lain yang belum bisa ia singkirkan dari pikirannya.
Hari sudah semakin senja. Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Ae Ri meraih ponsel dan tas tangannya lalu bangkit dari tempat duduknya. Sesaat kemudian mobil merahnya telah membelah kota Seoul menuju sebuah apartemen di tengah kota yang tak pernah sepi itu.
Dengan sedikit ragu Ae Ri masuk ke dalam apartemen Kim Yo Han.
Ia menghela nafas saat menemukan kondisi ruangan itu tidak berubah sejak dua bulan lalu ia kesana.
Seluruh perabotan di dalam ruangan itu tertutup rapi dengan kain-kain putih.
Perlahan Ae Ri menaiki tangga dan membuka satu persatu pintu ruangan seolah mencari sesuatu. Namun di sana pun sama. Semua perabotan juga tertutup kain putih.
Kembali Ae Ri menuruni tangga dan duduk di salah satu sofa yang masih tertutup kain putih.
Ia menghela nafasnya yang terasa sesak. Yang dicarinya tidak juga ia temukan.
Ae Ri mengambil ponselnya. Perlahan ia membuka kontak nomor ponsel. Dan saat menemukan nama pria itu, ia menatapnya lama. Baru kemudian ia menekannya.
Tidak dapat dihubungi. Begitu pesan suara yang terdengar dari operator.
'Apakah yang ada dipikiran laki-laki itu? Mengapa ia pergi begitu saja. Kemana ia pergi? Apakah ia sama sekali tidak merindukan putranya? Bahkan menelpon saja tidak.' Batin Ae Ri. Ia masih belum dapat memahami jalan pikiran pria itu.
Perlahan Ae Ri bangkit dari duduknya dan berjalan dengan lemah meninggalkan apartemen Kim Yo Han.
***
Ae Ri menggigit rotinya sambil memandangi Tae Yang yang duduk di hadapannya.
Tae Yang tampak menikmati roti panggang nya dalam diam. Ae Ri menyadari Tae Yang kini berubah sedikit lebih pendiam. Meskipun kini ia telah bersekolah lagi namun tampaknya keceriaannya belum sepenuhnya kembali. Yang lebih menyakitkan lagi Tae Yang sama sekali tidak lagi menyebut atau menanyakan tentang daddynya. Tampaknya bocah itu benar-benar menahan dirinya.
"Nanti kau pulang seperti biasa kan jamnya? Mommy jemput ya." Ujar Ae Ri. Tae Yang mengangguk.
"Bagaimana di sekolah? Apakah ada teman yang mengganggumu?"
Tae Yang menggeleng. Ae Ri menghela nafas beratnya. Ia memahami pasti putranya itu sangat kecewa. Tae Yang pasti telah berharap daddynya akan selalu ada untuknya. Namun tiba-tiba ia pergi begitu saja.
"Bagaimana jika besok saat hari minggu kita ke taman bermain?" Tanya Ae Ri. Ia sangat ingin membuat anaknya kembali ceria.
Kembali Tae Yang menggelengkan kepala.
"Tae Yang, mommy berharap kau bisa melupakannya. Kita kembali seperti dulu. Dulu kita bahagiakan? Ayo kita bahagia lagi sekarang." Ae Ri menggenggam jemari kecil Tae Yang.
Tae Yang menengadah dan memandang wajah mommynya. Perlahan ia mengangguk. Namun Ae Ri menghela nafas lagi karena ia tidak yakin dengan anggukan Tae Yang.
Selama dua bulan ini ia sibuk menghibur Tae Yang dan dirinya sendiri. Namun rasanya sangat sulit mengembalikan keadaan seperti sebelum bertemu pria itu. Terlalu banyak jejak yang ditinggalkannya.
"Apakah daddy baik-baik saja mom?" Tanya Tae Yang. Ae Ri sedikit terkejut, setelah dua bulan baru kali ini bocah itu menanyakan daddynya.
"Mommy tidak tahu. Tapi sepertinya baik-baik saja." Jawab Ae Ri.
Tae Yang tampak merenung.
"Saat dulu aku menelpon mommy agar cepat pulang, daddy memang benar-benar sakit. Dia sampai menangis kesakitan. Dan itu terjadi beberapa kali. Aku tidak ingat. Tapi daddy selalu melarangmu untuk memberitahu mommy. Aku sangat takut melihat daddy seperti itu."
Ae Ri berusaha tersenyum pada putranya.
"Tae Yang jangan khawatir ya. Mommy akan mencari tahu kabar daddy. Tapi mommy yakin dia baik-baik saja." Ujar Ae Ri berusaha meyakinkan Tae Yang meski ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
***
Selama beberapa hari Ae Ri terganggu terus dengan kata-kata Tae Yang. Ia ingin melupakan kata-kata bocah itu namun sangat sulit.
Drrt..
Ae Ri memandang layar ponselnya dan tersenyum saat melihat siapa yang menelponnya.
"Halo ma. Apa kabar?"
"Mama baik. Bagaimana kalian berdua disana?"
"Kami juga baik ma."
"Mama sudah lama ingin menanyakan sesuatu, tapi mama selalu ragu."
"Apa itu?" Ae Ri menghentikan goresan pensilnya.
"Hmm.. Apakah Kim Yo Han baik-baik saja?" Terdengar suara nyonya Park sedikit memelan.
Ae Ri mengerutkan dahinya.
"Tumben sekali mama menanyakannya." Jawab Ae Ri.
"Ayahmu dulu pernah mengatakan bahwa bocah itu sedang sakit parah dan ia menolak untuk di operasi. Tadinya mama bingung, siapa yang dimaksud dengan 'bocah itu'. Mama baru kepikiran sekarang. Apakah Kim Yo Han yang ayahmu maksudkan?"
Seketika Ae Ri menegang. Sebagian dirinya ingin menganggap bahwa mamanya sedang bercanda.
"Mama, maaf nanti kita sambung lagi ya. Aku harus mengerjakan sesuatu sekarang."
"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik ya."
"Baik ma."
Ae Ri segera berkemas dan keluar dari kantornya. Ia mengendarai mobilnya dengan sedikit terburu-buru. Hingga akhirnya tiba disebuah gedung kantor YH Manajeman.
"Selamat sore, aku ingin menemui CEO." Ujar Ae Ri didepan meja resepsionis.
"Baik nona, apakah anda sudah memiliki janji? Boleh saya lihat tanda pengenal anda?"
"Belum." Ae Ri menjawab sambil menyerahkan kartu pengenalnya.
Setelah membaca nama Ae Ri cepat-cepat si gadis berdiri dan menundukkan tubuhnya dengan hormat. Hingga membuat Ae Ri terkejut.
"Mari saya antar nyonya." Si gadis resepsionis. Ae Ri mengangguk dan segera mengikuti langkah kaki gadis itu menuju lift.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai empat. Ae Ri melirik ke kanan dan ke kiri sambil terus mengekor di belakang gadis itu.
Di depan sebuah pintu di ujung lorong terdapat sebuah meja dan ada seorang wanita disana.
"Selamat sore nona Han. Ini nyonya Park Ae Ri ingin bertemu CEO." Ujar si gadis pada wanita itu yang tampaknya adalah sekretaris CEO.
Entah mengapa Ae Ri semakin gelisah. Ia tersenyum dan cepat-cepat membalas membungkukkan dirinya saat sekretaris itu berdiri dan memberi hormat padanya.
Sekretaris Han mengetuk pintu dan membukanya sedikit.
"Selamat sore CEO, nyonya Park Ae Ri ingin bertemu." Ujarnya.
"Mari silahkan masuk nyonya." Sekretaris Han membuka pintu lebih lebar.
Ae Ri melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu. Keningnya berkerut saat kedua matanya menangkap sosok pria yang berjalan ke arahnya. Pria itu bukan pria yang diharapkannya.
"Lee Chan?" Ujar Ae Ri bingung.
"Silahkan kak. Mari duduklah." Kata pria muda itu.
Dengan ragu Ae Ri duduk di sofa berwarna hitam, berhadapan dengan Lee Chan.
Selama beberapa saat mereka saling berdiam diri.
"Aku tahu kakak pasti bingung. Kakak mencari Kak Kim Yo Han?"
Ae Ri memandang Lee Chan lalu menganggu pelan.
"Aku sudah lama ingin menemui kakak, namun kak Yo Han melarangku. Ia berpesan tunggu sampai kakak menemuiku untuk mencarinya."
Ae Ri hanya dia menyimak kata-kata Lee Chan. Pemuda itu berdiri dan mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat dari laci mejanya lalu menyerahkannya pada Ae Ri.
Dengan ragu Ae Ri menerimanya.
"Itu adalah beberapa properti kak Yo Han yang sudah dialihkan ke nama kakak dan Tae Yang. Baik sertifikat maupun kunci-kuncinya. Nanti aku bisa mengantar kakak menunjukkan rumah maupun apartemennya."
Kembali Ae Ri mengerutkan dahinya. Ia belum dapat mencerna kata-kata Lee Chan. Ae Ri meletakkan amplop coklat itu tanpa membukanya sama sekali.
"Jadi, dimana Kim Yo Han?" Tanyanya pelan.
Lee Chan tersenyum. Namun Ae Ri tahu bahwa senyumnya itu dipaksakan.
"Ia baik-baik saja. Dia berpesan agar kakak jangan memukirkannya apalagi mengkhawatirkannya."
Ae Ri sangat tidak puas dengan jawaban itu. Ia menatap Lee Chan dengan seksama. Pemuda itu perlahan menundukkan kepalanya. Lalu tanpa Ae Ri duga, Lee Chan menangis tersedu-sedu.
***