
Pagi datang dan memaksakan sinarnya masuk ke dalam kamar.
Nyonya Park Ha Sun tersenyum memandang wajah polos Tae Yang yang masih terlelap. Ia duduk dan membuka tirai jendela. Kemudian ia menghampiri meja belajar Tae Yang. Diambilnya sebuah album foto yang tergeletak di meja.
Kening nyonya Park berkerut saat membuka halaman demi halaman album itu. Ia sampai mendekatkan album itu agar tidak salah lihat. Di album itu tampak kebersamaan Ae Ri, Tae Yang dan Kim Yo Han saat lomba di sekolah.
Hatinya sangat penasaran lalu ia menoleh ke arah Tae Yang. Namun ia tidak tega membangunkan cucunya itu. Cepat-cepat ia keluar kamar sambil membawa album foto itu.
Nyonya Park menghampiri Ae Ri yang sedang membuat sarapan.
"Ini apa?" Tanya wanita tua itu sambil meletakkan album foto di meja makan. Ae Ri melirik sebentar kearah meja.
"Album ma. Masak mama tidak tahu?"
"Isinya?"
"Isinya ya foto ma, tidak mungkin roti kan." Ae Ri menggoda mamanya yang kelihatan sewot. Meski jantungnya mulai berdebar tak beraturan.
"Maksud mama.." Nyonya Park membuka satu foto yang tampak Kim Yo Han tertawa lebar sambil menggendong Tae Yang di pundak sedangkan Ae Ri tampak lucu dengan mulut yang penuh makanan.
"Ini kan Kim Yo Han?"
"Ya."
"Dia tahu tentang Tae Yang?"
"Tahu."
Ae Ri tertawa cekikikan saat melihat mulut mamanya yang menganga lebar.
"Mama tegang sekali sih. Awas nanti lidahnya melompat keluar kalau mama seperti itu" Ujarnya disela-sela tawanya.
"Kim Yo Han tahu nya Tae Yang itu anak temanku yang sering dititipkan padaku. Hari dimana kami difoto itu tidak sengaja Tae Yang bertemu dengan Kim Yo Han dan memintanya menjadi papanya untuk acara sekolah. Kim Yo Han mau. Lalu aku datang dan Kim Yo Han memintaku pura-pura jadi mamanya Tae Yang. Akhirnya jadi seperti itu." Jawab Ae Ri ringan.
Kembali mulut nyonya Park menganga lebar. Ia sampai kehilangan kata-kata.
"Tapi.. " Nyonya Park ingin mengatakan bahwa wajah jeduanya sangat mirip.
"Pagi mommy.." Tiba-tiba suara Tae Yang yang masih serak terdengar menyapa.
Kedua mata bocah itu terbelalak saat melihat sosok dihadapannya.
"Granny...!" Teriaknya sambil memeluk wanita itu.
"Cucuku sayang. Kau sudah besar sekali. Grany merindukanmu."
"Tae Yang juga merindukan granny. Kapan granny datang?"
"Tadi malam. Granny tadi malam tidur di kamarmu. Kau tidak tahu?"
"Aku tidak tahu. Mengapa grany tidak membangunkanku?"
"Kau tidur nyenyak sekali. Granny tidak mau mengganggumu."
"Granny.. " Rengek manja Tae Yang.
"Grany jangan pergi lagi ya. Disini saja." Ucapnya.
Nyonya Park tertawa.
"Tapi granny harus mengurus bisnis kita disana. Tidak bisa kalau ditinggal."
Bibir Tae Yang mengerucut. Ia melepaskan pelukannya dan duduk disamping nyonya Park. Matanya tertuju pada album foto di meja.
"Mengapa buku daddy ada disini?" Tanyanya polos.
"Buku daddy?" Nyonya Park terbelalak menatap Ae Ri.
"Entah mengapa Tae Yang selalu memanggilnya seperti itu." Jawab Ae Ri.
"Mengapa kau memanggil Kim Yo Han daddy?" Tanya nyonya Park pada Tae Yang.
"Granny kenal tuan Kim?" Tae Yang tampak heran.
"Iya dia teman mommy mu kan?"
"Bukan. Dia temanku. Mommy tidak suka padanya. Tapi tuan Kim suka pada mommy."
"Lalu mengapa kau memanggilnya daddy?"
"Tuan Kim bilang aku boleh memanggilnya daddy. Aku mau mempunyai daddy yang seperti tuan Kim. Dia baik sekali."
Ae Ri dan mamanya saling pandang. Ae Ri mengangkat bahunya berusaha tetap terlihat santai dan tenang.
"Ayo kita makan dulu." Ujar Ae Ri sambil meletakkan roti panggang dan sosis serta jus jeruk di meja makan."
"Jadi nanti kita jalan-jalan kan grany? Kemana kita?" Tanya Tae Yang tiba-tiba.
"Oke. Kau mau mengajak granny kemana?"
"Jangan yang jauh-jauh ya. Cuaca sangat dingin. Atau ke mall saja, hangat disana." Ujar Ae Ri.
"Baiklah. Granny mau ke mall?"
"Oke tidak apa-apa. Sambil kita lihat butik kita yang di mall itu ya."
Ae Ri mengangguk.
"Makanlah yang banyak lalu siap-siap ya. Mommy pergi ke butik sebentar. Lalu pulang menjemput kalian."
"Oke.." Jawab Tae Yang dan nyonya Park serempak.
***
"Aku senang sekali. Sudah lama tidak boleh keluar rumah sama mommy." Tae Yang mengadu pada granny nya saat memasuki area parkir mall.
"Mengapa begitu?" Tanya nyonya Park.
"Mommy takut aku diculik daddyku."
"Siapa tahu pria itu tahu lalu merebut Tae Yang dariku." Jawab Ae Ri. Nyonya Park hanya menghela nafas. Dipeluknya Tae Yang dengan erat.
"Jangan jauh-jauh ya." Bisiknya pada Tae Yang. Bagaimanapun ia juga tidak mau jika sampai hal itu terjadi pada cucunya.
Suasana mall terlihat cukup ramai hari itu. Banyak orang berlalu lalang. Beberapa dari mereka jalan dengan tergesa-gesa sambil membawa barang.
"Tampaknya ada shooting film." Ujar Ae Ri melihat kerumunan orang di tengah-tengah mall.
"Daddy!!!" Tiba-tiba Tae Yang berteriak lantang mengejutkan beberapa orang disekitar mereka.
Ae Ri sudah mau memarahi anaknya namun ia tahan saat melihat bocah itu tertawa lebar dengan mata berbinar ke arah dibelakangnya.
Ae Ri menoleh. Tampak Kim Yo Han menoleh juga ke arah mereka dan tersenyum sangat tampan. Ia memakai setelan jas berwarna coklat muda dan dilapisi mantel panjang berwarna coklat tua.
Kemudian ia tampak berbicara dengan seseorang sebentar dan berjalan ke arah Ae Ri.
Tae Yang melepaskan pegangannya dari nyonya Park dan berlari ke arah Kim Yo Han.
Tawa Kim Yo Han makin lebar lalu ia menangkap tubuh bocah itu lalu mengangkatnya tinggi. Tae Yang tertawa kegirangan.
Kim Yo Han menggendong Tae Yang dengan tangan kanannya lalu menghampiri Ae Ri dan nyonya Park. Ia menurunkan Tae Yang lalu membungkuk dengan hormat.
"Selamat siang nyonya Park, nona Park. Senang bertemu anda berdua disini." Sapanya ramah. Sedangkan Tae Yang menggandeng erat tangan pria itu dengan kedua tangannya.
Nyonya Park tak bisa melepaskan pandangannya bergantian antara Kim Yo Han dan Tae Yang. Kini ia semakin menyadari mata Kim Yo Han mengingatkannya pada mata Tae Yang. Mata yang sama persis!
Dengan tergagap nyonya Park tersenyum.
"Apa kabar tuan Kim." Ucapnya. Ae Ri menoleh ke arah mamanya menyadari mamanya sedikit gugup.
"Ayo kita jalan lagi Tae Yang. Jangan mengganggu tuan Kim. Dia sedang bekerja." Kata Ae Ri lembut pada anaknya.
Tae Yang tampak enggan melepaskan Kim Yo Han ia justru menyandarkan kepalanya di pinggang pria itu.
"Apakah kalian punya acara? Mau kemana?" Tanya Kim Yo Han.
"Hanya mau ke butik sebentar. Mamaku mau melihat-lihat." Jawab Ae Ri.
Kim Yo Han duduk berjongkok dan memandang wajah bocah itu dengan senyum.
"Daddy ikut yuk." Ajak Tae Yang. Kim Yo Han tertawa lebar.
"Tanyakan dulu pada nona Park dan nyonya Park, apakah boleh?" Jawab Kim Yo Han sambil mengelus rambut Tae Yang.
"Boleh ya.." Tae Yang tidak meminta ijin tapi langsung merengek.
"Bukan seperti itu caranya. Coba tanyakan 'apakah boleh aku mengajak tuan Kim'? Kim Yo Han membelai punggung Tae Yang dengan lembut untuk mengkoreksi kata-katanya.
Tae Yang menurut.
"Nona Park, nyonya Park, apakah aku boleh mengajak tuan Kim pergi bersama kita?" Kedua mata Tae Yang menatap dengan penuh harap pada mommy dan granny nya.
Kedua wanita itu merasa terhipnotis dengan tatapan kedua pria dihadapan mereka. Kim Yo Han pun tampak sangat ingin ikut mereka.
"Baiklah ayo." Akhirnya nyonya Park yang menjawab.
"Aku memang selalu kalah dengan pria-pria tampan seperti kalian." Nyonya Park tertawa.
Tiba-tiba datanglah Lee Chan tergopoh-gopoh.
"Tuan Kim kau mau kemana?!" Tanyanya sewot.
Kim Yo Han menatapnya tajam membuat Lee Chan langsung ciut nyalinya.
Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah nona Park.
"Halo nona Park. Kita bertemu lagi." Sapa nya ramah.
"Halo Lee Chan. Bagaimana kabarmu? Kau tampak semakin tampan." Jawab Ae Ri menggoda pria muda itu.
"Tadinya baik nona. Tapi setelah kau memuji aku tampan tampaknya ada seseorang yang sangat ingin menyiksaku." Ujarnya sambil melirik bosnya.
"Bersikaplah yang baik Lee Chan. Ini ada nyonya Park mamanya nona Park."
Lee Chan cepat-cepat membungkuk.
"O.. Halo mertuanya bos." Lalu ia pura-pura menutup bibirnya. Padahal ia sengaja mengatakannya. Kim Yo Han melotot padanya.
"Pergilah. Kau hanya perlu mengawasi mereka sedikit. Aku ada urusan sebentar."
"Baik tuan Kim. Semoga lancar acaranya bersama keluarga. Hei.. Apa kau anaknya tuan Kim? Kau mirip sekali dengannya!" Tiba-tiba Lee Chan berseru saat melihat Tae Yang. Sebelumnya ia tidak menyadari kehadiran bocah itu.
Kim Yo Han kembali melotot padanya. Tae Yang tertawa melihat Lee Chan yang langsung lari seperti orang ketakutan.
Kim Yo Han membungkukkan tubuhnya.
"Maaf sekali atas kegaduhan ini. Dia memang sedikit liar. Bicaranya sama sekali tanpa dipikir dulu." Ujar pria itu pada Ae Ri dan nyonya Park.
"Tidak apa-apa tuan Kim. Kami tahu ia hanya bercanda. Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi." Jawab nyonya Park.
Mereka berjalan menuju butik Liberty Park. Tae Yang yang tampak senang selalu ingin berlari sambil menarik tangan Kim Yo Han. Pria itu membiarkan tubuhnya ditarik-tarik oleh bocah itu dan mengikuti kemanapun Tae Yang ingin pergi.
Nyonya Park dan Ae Ri mengamati keduanya.
"Mengapa aku merasa mereka berdua memang ada ikatan darah?" Gumam nyonya Park.
"Ma.. Jangan mulai aneh-aneh lah. Itu mengerikan." Ujar Ae Ri tertawa kecil menutupi kegundahannya.
"Jika memang bukan mengapa kau menolak Kim Yo Han padahal Tae Yang sangat menyukainya. Dan kupikir Yo Han juga sangat menyayangi anak itu. Padahal ia tidak tahu kalau kau ibunya Tae Yang."
"Sudahlah ma. Aku malas membicarakan itu." Ucap Ae Ri.
Nyonya Park hanya menoleh sambil menatap putrinya dengan iba.
***