Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Lima Puluh Satu



Tae Yang tampak merenung.


"Sudahlah kita tidak usah membicarakan itu ya. Cepat habiskan sarapanmu. Hari ini kita akan bersenang-senang saja. Tae Yang mau bermain apa hari ini?" Kim Yo Han sadar bahwa ia telah membuat putranya menjadi galau.


Tae Yang mengangguk.


"Tae Yang bermain sendiri dulu sebentar ya, daddy akan membantu mommy membereskan ini dulu."


"Oke dad.."


"Aku tidak suka kau membicarakan masalah itu dengan Tae Yang. Apa hak mu? Itu sepenuhnya adalah urusanku." Ujar Ae Ri dengan suara yang rendah. Ia tidak ingin Tae Yang mendengarnya.


Kim Yo Ha hanya diam. Tangannya sibuk menumpuk piring dan mangkok di meja.


Ae Ri menatapnya dengan kesal. Jika ada Tae Yang, pria itu terlihat sangat hangat. Namun jika hanya berdua dengannya ia terlihat begitu dingin.


Dengan kesal ia mengangkat piring kotor dan mencucinya di bak cuci. Kim Yo Han menyusul dan berdiri disampingnya untuk ikut membilas. Mereka hanya berdiam diri. Meskipun tangan mereka sibuk bekerja, namun mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


***


Hari itu Kim Yo Han benar-benar menghabiskan waktunya seharian dengan Tae Yang. Ia meladeni apapun permintaan bocah itu. Kadang mereka bermain petak umpet, perang-perangan atau kuda-kudaan.


Setelah lelah Tae Yang mengajak Kim Yo Han menggambar di ruang tamu. Kim Yo Han yang juga tampak lelah mengikutinya dan ikut duduk di karpet disisi meja. Ae Ri yang duduk di sofa sambil tangannya mencoret-coret menggambar design pakaian, sesekali melirik ke arah mereka.


"Tae Yang suka menggambar?"


"Ya. Suka sekali. Aku bisa menggambar daddy. Tunggu ya.." Ujar bocah itu sambil menggerakkan pensilnya diatas buku gambar.


"Nah ini daddy. Baju daddy berwarna biru. Sebentar ya, kuwarnai dulu."


"Wah lukisanmu bagus."


"Terimakasih daddy.." Tae Yang tersenyum riang.


"Oya, lukisan yang kuberikan pada daddy dulu masih ada?" Tanya Tae Yang dengan mata berbinar yang menggemaskan.


"Masih. Sudah daddy tempel di kamar daddy." Jawab Kim Yo Han.


"Daddy mau lagi?"


"Tentu saja."


"Baiklah kalau begitu nanti yang ini juga untuk daddy. Sebentar ya, aku gambar mommy dulu. Baju mommy merah. Oke.. Sekarang tinggal gambarku." Ujar Tae Yang sambil terus serius menggambar.


"Nah.. Ini dia sudah jadi." Serunya.


Tae Yang mengangkat hasil lukisan khas anak-anak miliknya.


Kim Yo Han bertepuk tangan.


"Wow.. Bagus sekali." Serunya.


Ae Ri penasaran ia menoleh dan melihat kearah lukisan Tae Yang. Tampak disitu tergambar Kim Yo Han menggandeng tangan Ae Ri, sedangkan Ae Ri menggandeng tangan Tae Yang.


"Akan daddy simpan ya. Ini bagus sekali. Terimakasih pelukis Tae Yang." Senyum Kim Yo Han.


Tae Yang tertawa gembira.


"Daddy.. "


"Ya.."


"Daddy, apakah daddy akan pergi? Kapan?"


Kim Yo Han menoleh. Ia tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan bocah laki-laki itu.


"Mengapa kau bertanya seperti itu? Kau ingin daddy segera pergi?" Tanya Kim Yo Han penasaran.


Ae Ri pun sedikit melirik ke arah mereka.


Tae Yang cepat-cepat menggeleng.


"Aku sebenarnya ingin daddy disini terus. Tapi sepertinya daddy akan pergi."


Kim Yo Han terdiam. Ia menatap putranya itu dalam-dalam.


"Tahun depan daddy harus pergi jauh. Daddy mendapatkan pekerjaan diluar negeri. Jadi daddy harus pindah kesana."


"Luar negri? Dimana itu? Amerika?"


"Bukan Amerika. Lebih jauh dari Amerika."


"Kapan daddy pulang ke Korea lagi?"


"Entahlah. Daddy belum tahu."


"Apakah tidak bisa daddy bekerja disini saja. Bukankah daddy memiliki kantor disini? Mengapa pindah?" Mimik wajah Tae Yang kini sudah berubah sendu.


Perlahan Kim Yo Han menggeleng.


"Daddy harus pindah meskipun sebenarnya daddy tidak mau."


"Apakah tahun depan itu masih lama?"


Kembali Kim Yo Han menggelengkan kepalanya.


"Tidak lama. Satu minggu lagi."


Tae Yang tiba-tiba memeluk Kim Yo Han. Ia menangis diam-diam. Ae Ri kini sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia cepat-cepat menunduk dan pura-pura sibuk dengan gambarnya untuk menyembunyikan air matanya.


Ini sungguh diluar skenarionya. Ia tidak pernah ingin melihat Tae Yang menangis. Apalagi menangisi Kim Yo Han. Ia begitu kesal karena merasa bersalah pada putranya itu.


***


Ae Ri menyadari bahwa pria itu memandangnya. Dan itu membuat ia semakin grogi dibuatnya. Jantungnya kini berdegup lebih cepat.


"Kau tidak penasaran aku akan pergi kemana?" Tanya Kim Yo Han.


"Tidak. Aku tidak ingin tahu sama sekali. Tolong jangan mengatakannya. Aku tidak peduli." Jawab Ae Ri tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sketnya.


Kim Yo Han hanya bisa diam. Ia masih memandangi Ae Ri.


"Apakah kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Aku rela melakukan apapun untukmu."


Ae Ri diam tidak menjawab meski jantungnya terasa berdegup semakin kencang.


"Apa yang kau inginkan? Akan kuberikan."


Ae Ri seketika berhenti menggambar. Perlahan ia menoleh ke arah pria itu.


"Aku ingin kau menghilang dan berhenti menggangguku dan anakku." Ujarnya dengan sinis.


Kim Yo Han menatapnya tajam. Namun sesaat kemudian ia tersenyum. Sangat tampan.


"Baiklah. Akan kau dapatkan. Segera." Jawabnya sambil tersenyum.


Ae Ri menatap pria itu dengan bertanya-tanya. Baginya saat ini pria itu seperti orang lain. Ia bahkan merasa tidak mengenali nya. Sangat jauh berbeda dari sosoknya yang dulu.


"Dan ingat ini. Aku ingin kau dan Tae Yang bahagia. Jika memang kebahagiaanmu adalah bersama Ahn Jae Hyun aku akan merelakanmu." Bisik pria itu hampir hilang suaranya.


Ae Ri menyibukkan kembali dengan gambarnya.


'Secepat itu ternyata dia menyerah. Kupikir ia akan mencoba melarangku bersama Jae Hyun.' Batinnya kesal.


"Ya. Aku dan Jae Hyun akan menikah secepatnya. Mungkin akhir musim semi atau awal musim panas yang akan datang. Aku sangat menyesal tidak bisa mengundangmu dalam pernikahan kami. Karena saat itu kau pasti sudah pindah." Ujar Ae Ri sambil berusaha menampilkan tawa bahagia.


Kim Yo Han menatap wanita itu. Lalu perlahan ia ikut tersenyum.


"Kau sangat cantik jika tersenyum Ae Ri. Kuharap kau selalu tersenyum seperti itu."


Ae Ri tertawa.


"Jangan khawatir tuan Kim. Aku akan selalu tersenyum saat tidak ada dirimu. Selama ini yang menghalangi ku tersenyum adalah dirimu." Jawab Ae Ri sinis.


"Maafkan aku. Sungguh aku sangat menyesali semua perbuatanku padamu. Aku tidak pernah tahu bahwa aku sudah begitu sangat menyakitimu."


Ae Ri hanya tertawa.


"Apakah kau tahu? Saat dulu kau dibawa oleh anak buahku ke rumahku aku sangat senang. Aku sudah menyukaimu jauh sebelum kau datang kerumahku. Setiap kali aku kerumahmu aku selalu berharap bertemu denganmu. Kau selalu bisa membuatku tersenyum bahagia." Kim Yo Han kini tersenyum.


Ae Ri mengerutkan dahinya. Sungguh ia tidak menyangka ternyata pria itupun selalu memperhatikannya saat ia datang kerumahnya dulu. Ae Ri mengira hanya dirinya yang menyukai pria itu.


Ae Ri menyadari ada getar aneh didalam jantungnya.


Ae Ri masih menyibukkan tangannya dengan menggambar desain di buku sket nya. Meskipun hati dan pikirannya memikirkan yang lain.


Kim Yo Han terus memandangi Ae Ri seakan ini adalah hari terakhirnya. Ia ingin berpuas-puas menatap wanita yang dicintainya itu. Satu-satunya wanita yang selalu ia pikirkan dalam hidupnya.


"Jika waktu bisa terulang kembali ada satu hal yang ingin kuubah. Sebelum aku masuk penjara aku ingin mengatakan padamu agar kau mau menungguku sebentar. Saat aku menyelesaikan masa hukumanku maka kita bisa menikah. Aku yakin pasti saat ini kita bertiga akan bahagia." Ujar Kim Yo Han


Ae Ri menghentikan goresannya. Dengan tersenyum sinis ia berkata


"Jika itu terjadi aku semakin ingin menjauh darimu. Kau pikir ada wanita yang mau menikah dengan residivis seperti itu. Aku tidak mau putraku memiliki ayah yang pernah dipenjara. Itu akan menjadi aib bagi putraku."


Kim Yo Han tampak sangat terkejut sekaligus terpukul oleh ucapan Ae Ri. Ia sama sekali tidak menduga pemikiran wanita itu.


Kim Yo Han menundukkan kepalanya.


"Ya. Memang aku sangat tidak pantas untukmu. Dan juga tidak pantas menjadi ayah Tae Yang. Kuharap kau dan Jae Hyun akan bahagia. Kupikir Tae Yang juga akan lebih baik jika memiliki ayah sepertinya." Ucap pria itu perlahan. Kemudian ia berdiri dan berjalan masuk ke kamar Tae Yang.


Ae Ri manatap punggung pria itu. Ada sedikit perasaan bersalah atas kata-kata kejam yang barusan ia katakan. Namun cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.


'Inilah yang benar Ae Ri. Buat ia pergi sejauh mungkin dari Tae Yang.' Bisiknya pada dirinya sendiri.


***


Sudah tiga hari Kim Yo Han menginap di rumah Ae Ri.


Ae Ri sebenarnya ingin pergi saja supaya bisa menghindari pria itu. Namun beberapa hari ini cuaca sangat buruk. Hujan salju terus-menerus sehingga ia memutuskan untuk selalu dirumah daripada terjebak salju diluar sana.


"Daddy.. Ayo kita buat boneka salju diluar!" Rengek Tae Yang pada Kim Yo Han.


Ae Ri sedang menikmati secangkir coklat panas didepan televisi sambil membungkus dirinya dengan selimut.


"Diluar sangat dingin. Nanti kau bisa sakit. Tunggulah jika cuaca sedikit lebih baik ya." Bujuk Kim Yo Han.


Ae Ri mengakui bahwa Kim Yo Han sangat bijak terhadap Tae Yang. Ia memanjakan namun juga mendisiplinkan anaknya dengan baik.


'Jika saja kami dulu menikah baik-baik dan kemudian ada Tae Yang pasti sungguh menyenangkan.' Batinnya.


Kemudian Ae Ri menyadari pikirannya sudah tercemar.


'Apa-apaan kau Ae Ri!' Omelnya dalam hati.


"Mom! Mommy!!" Suara Tae Yang terdengar sangat keras.


"Apa? Kenapa teriak-teriak?" Jawab Ae Ri gugup karena melamunkan hal-hal aneh.


"Mommy di panggil-panggil tidak dengar.." Jawab Tae Yang sambil cemberut.


Ae Ri melirik mata elang Kim Yo Han yang menatapnya dengan lembut. Bibirnya tersenyum sangat manis. Wanita itu tidak dapat menahan debaran jantungnya.


***