Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Lima Puluh



"Halo.. " Suara seorang pemuda menyapa mereka dengan ramah. Tampak Lee Chan tersenyum dengan riang.


"Chan!" Sapa tuan Park.


"Paman." Lee Chan cepat-cepat membungkuk dengan hormat.


"Tae Yang kesini. Ini kado untukmu. Selamat natal!" Lee Chan menyerahkan kotak yang ia bawa pada bocah itu.


"Terimakasih paman." Jawab Tae Yang sambil menerima kado berbungkus coklat itu.


"Tae Yang kau panggil dia samchon ya. Karena dia adalah adik daddy. Jika kau membutuhkan apapun, hubungi samchon ya." Ujar Kim Yo Han. *Samchon adalah panggilan untuk paman kandung.


Tae Yang menoleh pada Kim Yo Han karena bingung.


Lee Chan tertawa senang. Ia sangat bahagia melihat Kim Yo Han mengenalkannya sebagai adiknya.


Ae Ri sedikit terkejut. Ia tidak mengira Lee Chan adalah adik Kim Yo Han.


Kim Yo Han menoleh padanya dan tersenyum.


"Kau juga. Jika membutuhkan apapun carilah bocah ini. Meskipun kadang tingkahnya seperti orang gila namun dia pasti akan membantumu."


Lee Chan seketika melotot ke arah Kim Yo Han.


"Ayolah kita makan sekarang. Tae Yang pasti sudah lapar kan?" Ujar tuan Park.


Ia sudah menahan rasa gelisahnya lagi. Ia tahu Kim Yo Han mengatakan hal itu karena penyakit yang ia derita. Seolah-olah ini adalah makan malam terakhir mereka.


Tuan Park sangat ingin memberi tahu Ae Ri tentang penyakit Kim Yo Han namun pria itu selalu menghalanginya. Bahkan sepertinya Lee Chan pun belum mengetahuinya.


Malam sudah semakin larut, tuan Park dan Lee Chan pamit pulang.


Saat akan pulang tuan Park hanya bisa menghela nafas saat memandang Kim Yo Han. Ia belum tahu bahwa putra angkatnya itu telah memutuskan untuk di operasi. Ia pikir Kim Yo Han telah patah semangat dan tetap akan membiarkan penyakitnya itu.


Sesampainya diluar rumah tuan Park berdiam diri didepan mobilnya. Sedangkan sopirnya sudah membukakakan pintu.


"Chan!" Panggil tuan Park. Pemuda itu berlari mendekat.


"Ya paman."


"Kau sudah tahu tentang penyakit Kim Yo Han?"


"Hah? Penyakit apa?" Lee Chan tampak terkejut.


"Aku menonton saat dia diwawancarai stasiun televisi beberapa waktu lalu dan aku sedikit penasaran dengan pertanyaan dari host nya tentang apa yang ia lakukan di rumah sakit kanker itu. Lalu aku mencari tahu. Ternyata Kim Yo Han menderita tumor otak yang sudah membahayakan hidupnya."


Lee Chan terbelalak. Sesaat ia berharap ini adalah lelucon dari pria tua itu. Ia sudah tidak sanggup berkata-kata.


"Yang lebih gilanya lagi, Kim Yo Han menolak di operasi. Ia ingin mati saja. Karena jika ia di operasi dan hasilnya tidak sukses maka kemungkinan besar ia akan lumpuh."


"Baginya lebih baik mati daripada lumpuh. Aku seperti mau gila mendengar itu." Lanjut tuan Kim.


Lee Chan masih terbelalak dengan mulut menganga. Sekujur tubuhnya serasa mati rasa.


"Lalu.." Ujarnya terbata.


"Kau tahu tadi ia memperkenalkan dirimu sebagai adiknya dan berpesan pada Tae Yang dan Ae Ri agar mencarimu saat membutuhkan bantuan. Kupikir itu seperti pesan terakhirnya. Dan aku tidak tahan mendengar itu." Tuan Park terisak.


Lee Chan kinipun tak dapat lagi menahan air matanya. Selama beberapa saat kedua pria itu menangis dalam diam.


"Sudah sekarang pulanglah. Jika bisa coba kau bujuk dia agar mau di operasi."


Lee Chan mengangguk-angguk sambil menghapus air matanya.


"Baik paman." Jawabnya lemas.


Sementara itu didalam rumah.


"Kau mau apa dengan koper besarmu itu? Apa maksudmu?" Tanya Ae Ri dengan suara tinggi setelah mengantar Tae Yang tidur dikamar.


Kim Yo Han memandangnya dengan inten.


"Aku tahu kau sangat membenciku."


"Jika kau tahu mengapa kau selalu dekat-dekat denganku. Kau tahu aku sangat tersiksa jika berada didekatmu."


"Oke. Aku akan pergi. Selamanya. Jika itu yang kau mau."


Ae Ri tertawa sinis.


"Ya. Itu yang ku mau." Jawabnya.


"Tapi aku meminta syarat."


Ae Ri memandang pria itu dengan penasaran.


"Biarkan aku menghabiskan seminggu ini dengan putraku. Biarkan aku tinggal disini sampai tahun baru. Setelah itu aku akan pergi."


Ae Ri tiba-tiba tertawa.


"Putramu? Maksudmu Tae Yang? Jangan kau pikir gara-gara aku membiarkannya memanggilmu daddy maka otomatis kau menjadi ayahnya. Kau tampaknya sedang berkhayal tuan Kim!"


Kim Yo Han mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya yang tergeletak disampingnya.


"Bacalah." Ujarnya sambil menyerahkan kertas hasil tes DNA itu pada Ae Ri.


Ae Ri terbelalak saat membaca tulisan di kertas itu. Jantungnya kini berdebar tidak menentu. Ia sempat melupakan bahwa pria dihadapannya itu benar-benar bisa melakukan apapun yang ia mau.


"Aku tidak akan merebut Tae Yang seperti yang selalu kau takutkan. Aku hanya ingin tinggal bersamanya selama seminggu ini. Lalu aku akan menjauh darimu. Selamanya." Ujar Kim Yo Han dengan tegas.


Perlahan Ae Ri duduk di sofa dihadapan Kim Yo Han. Ia seketika merasa kakinya menjadi lemas.


Pikiran Ae Ri mendadak berkemelut didalam kepalanya.


"Baiklah. Tapi kau harus memegang janjimu." Ae Ri berpikir ini pasti akan lebih baik. Jika hal itu memang benar-benar bisa membuat pria itu menjauh darinya maka ia akan menuruti syarat itu.


"Baiklah, malam ini kau tidur di sofa. Mulai besok biar Tae Yang tidur denganku, kau bisa tidur dikamar Tae Yang."


"Biarkan Tae Yang tidur denganku." Potong Kim Yo Han.


Ae Ri menatap pria itu.


"Oke. Terserahlah. Aku hanya bisa berharap satu minggu ini berlalu dengan cepat." Jawabnya.


Kim Yo Han tersenyum. Ae Ri yang masih memandangnya sempat terkesima dengan ketampanan pria itu. Matanya begitu teduh saat memandang dirinya. Dan bibir pria itu..


Tiba-tiba Ae Ri teringat dengan hal gila yang mereka lakukan beberapa malam lalu. Jantung wanita itu kini berdetak semakin tak berirama. Ia merasa pipinya semakin panas saat membayangkan kembali ciuman Kim Yo Han.


Cepat-cepat ia berdiri.


"Sudah malam. Aku mau tidur." Ujarnya sambil cepat-cepat masuk ke kamarnya.


Kim Yo Han tertawa pelan. Ia tahu Ae Ri pasti malu karena pipinya memerah.


Perlahan Kim Yo Han naik ke ranjang dimana Tae Yang sudah tertidur lelap. Ia membelai rambut Tae Yang dan mengecup keningnya dengan lembut sebelum akhirnya ia membaringkan diri disamping putranya itu. Perlahan bibirnya tersenyum.


Ini adalah saat-saat bahagia yang ia rasakan. Meski ia tahu ini hanya sebentar, namun ia benar-benar ingin menikmatinya tanpa memperdulikan penyakit yang terus menggerogoti kepalanya itu


***


Ae Ri terkejut saat merasa ada yang membangunkan dirinya. Wajah Tae Yang tersenyum riang berada dihadapannya saat ia membuka mata.


Ae Ri tersenyum.


"Mommy ayo bangun. Daddy sudah memasakkan sarapan untuk kita." Ujar anak itu dengan penuh semangat.


Ae Ri menoleh ke arah pintu. Tampak Kim Yo Han tersenyum memandangnya. Pria itu berdiri dipintu dengan menyandarkan bahu kirinya di pinggiran pintu. Ia tampak sangat tampan dengan kaos tangan panjangnya yang berwarna biru navy. Rambutnya ia biarkan tanpa pomade sehingga poninya jatuh menutupi keningnya.


Ae Ri cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah Tae Yang. Supaya jantungnya tidak semakin berdebar melihat pesona pria itu.


"Keluarlah duluan, mommy mau membersihkan diri dulu ya."


Tae Yang mengangguk. Ia melompat turun dari tempat tidur. Kim Yo Han mengulurkan tangannya lalu menggandeng Tae Yang keluar kamar.


Ae Ri memegang dadanya.


'Ya Tuhan. Mengapa aku seperti ini?!' Ia tidak memahami dirinya sendiri.


"Makanlah. Semoga enak. Aku jarang sekali memasak." Kim Yo Han menyodorkan mangkok berisi nasi pada Ae Ri yang duduk didepannya.


Ae Ri merasa sedikit kagum karena pria itu ternyata bisa memasak beberapa masakan rumahan. Perlahan ia mencicipi satu persatu.


"Bagaimana?" Tanya Kim Yo Han penasaran. Ae Ri melihat pria itu tampak sangat berbeda dengan kemarin. Hari ini ia terlihat sangat bahagia. Wajahnya terus-menerus tersenyum dan bahkan tertawa lebar.


"Cukup enak." Jawab Ae Ri. Kim Yo Han langsung tersenyum lebar. Ia tampak sangat puas.


"Tapi masih jauh lebih enak masakan Jae Hyun." Cepat-cepat Ae Ri melanjutkan jawabannya. Ia tidak suka pria itu tampak senang dengan pujiannya.


Seketika senyum di wajah Kim Yo Han hilang. Ae Ri tersenyum puas dalam hati.


"Mommy hari ini bekerja?" Tanya Tae Yang.


"Tidak sayang hari ini mommy libur."


"Yeey!!! Jadi mommy dan daddy akan menemaniku hari ini di rumah?! Aku senang sekali!"


Ae Ri memandang putranya itu lalu melirik Kim Yo Han. Pria itu tampak tersenyum pada Tae Yang.


"Daddy.. Jadi daddy akan tinggal disini terus?"


Kim Yo Han mengangguk sambil tersenyum.


"Apakah kau suka jika daddy tinggal disini?"


"Tentu saja. Aku suka sekali. Sekarang aku memiliki mommy dan juga daddy seperti teman-temanku." Ujarnya dengan penuh semangat.


Kim Yo Han tertawa. Ia membelai rambut Tae Yang yang duduk disampingnya.


"Daddy senang jika bisa membuatmu senang. Katakan pada daddy, apa yang paling kau inginkan? Daddy akan membelikannya untukmu."


Tae Yang tampak berpikir. Lalu bocah itu menggelengkan kepalanya.


"Aku sangat ingin memiliki seorang daddy. Dan sekarang sudah kudapatkan. Jadi aku sudah tidak memiliki keinginan yang lain." Jawab anak itu.


Kim Yo Han terdiam. Tidak ada senyum di bibirnya. Ia justru menggigit bibirnya untuk menahan air matanya. Ia cepat-cepat memeluk Tae Yang dan menghapus air matanya.


Ae Ri sedikit terkejut dengan reaksi pria itu. Ada sedikit rasa haru melihat kedua orang itu.


Kim Yo Han melepas pelukannya ia tersenyum pada Tae Yang.


"Kau lebih suka daddy atau paman Jae Hyun yang menjadi daddymu?" Tanya Kim Yo Han.


Tae Yang tampak sedikit bimbang. Ia menoleh pada mommynya.


"Mommy lebih suka pada paman Jae Hyun. Ia ingin paman Jae Hyun menjadi daddymu. Kau mau?" Ujar Kim Yo Han lagi.


Ae Ri merasa sedikit risih dengan percakapan itu. Ia menatap Kim Yo Han dengan tatapan tidak suka.


"Aku.. Lebih suka daddy. Tapi paman Jae Hyun juga baik." Jawab Tae Yang ragu.


"Jika paman Jae Hyun akhirnya menikah dengan mommy, maka yang menjadi daddymu adalah dia. Apa kau tidak apa-apa?"


"Lalu daddy kemana?"


"Daddy akan tetap meyanyangimu, dimanapun daddy berada, walaupun kau tidak bisa melihat daddy lagi, daddy akan selalu menyayangimu." Jawab Kim Yo Han sambil membelai rambut Tae Yang.


***