Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tujuh Belas



"Mengapa kau tidak pulang tadi malam?" Tanya Ae Ri pada Jae Hyun saat ia menyiapkan sarapan.


Jae Hyun duduk manis di meja makan yang berupa minibar di depan kitchen set dimana Ae Ri memasak.


"Aku sangat lelah dan mengantuk. Akan berbahaya jika menyetir sendiri."


"Kau bisa memanggil supir pengganti kan?"


"Kau pelit sekali, hanya menumpang tidur di sofa saja tidak boleh."


"Tidak enak jika ada yang melihat."


"Aku usahakan tidak ada yang melihat. Atau.. Biar saja orang melihatnya. Aku akan mengaku sebagai simpananmu." Jae Hyun terkekeh.


Ae Ri meliriknya kesal.


"Selamat pagi Ayah JJ dan Mommy.." Suara riang Tae Yang terdengar menyapa mereka.


"Pagi sayang.." Kompak Ae Ri dan Jae Hyun menjawab.


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"


"Cukup nyenyak. Ayah JJ tadi malam tidur disini?"


"Ya.. Waah ayah jadi ingat. Apa yang kau gambar pada wajah ayah, hah? Kau usil sekali.." Seru Jae Hyun sambil menggelitik Tae Yang yang duduk disebelahnya.


Tae Yang tertawa-tawa geli.


"Aku sudah bertanya, ayah JJ bilang boleh."


"Ah.. Dasar bocah usil. Ayah JJ kan sedang tidur makanya tidak menyadari pertanyaanmu."


"Tae Yang. Lain kali jangan seperti itu ya."


"Iya Mom.."


"Lain kali pakai spidol permanen. Supaya tidak bisa dihapus." Ae Ri tertawa keras.


Tae Yang dan Jae Hyun saling menatap.


"Jangan. Tidak boleh ya. Mommy mu sedikit aneh hari ini." Ujar Jae Hyun cemas.


Ae Ri masih senyum-senyum sendiri mengingat kondisi wajah Jae Hyun semalam.


"Kau tampaknya sangat bahagia melihat kesengsaraanku."


"Tidak.. Hanya lucu saja. Aku menyesal membangunkanmu untuk mencuci muka. Seharusnya kubiarkan saja jadi bisa melihatnya sampai pagi ini." Kembali Ae Ri tertawa.


Dengan kesal Jae Hyun berdiri dan mendatangi Ae Ri yang duduk di seberangnya.


Tangannya sudah siap untuk menjitak kepala Ae Ri. Ae Ri cepat-cepat menyembunyikan keningnya dengan dikedua tangannya.


Jae Hyun tersenyum dan langkah selanjutnya ia malah mengacak rambut Ae Ri dengan lembut.


"Jae Hyun! Hentikan!!" Teriak Ae Ri berusaha merapikan rambutnya.


Tae Yang tertawa-tawa melihat Mommynya dan Jae Hyun.


"Jangan menertawaiku lagi."


"Iya baiklah.. Cepat hentikan."


Jae Hyun berhenti lalu membisikkan sesuatu di telinga Ae Ri.


"Aku merindukanmu." Bisiknya.


Jae Hyun tersenyum menatap Ae Ri yang terlihat sedikit salah tingkah. Lalu sesaat kemudian ia kembali duduk di samping Tae Yang dan melanjutkan sarapannya.


"Tae Yang, bagaimana sekolahmu? Kau menyukainya?"


"Ya Ayah JJ. Aku sangat menyukai sekolahku. Ada satu temanku yang baik. Dia duduk di sebelahku."


"Benarkah?"


Tae Yang mengangguk.


"Bagaimana dengan gurumu? Apakah mereka menyenangkan juga?"


"Ya. Mereka baik. Guruku namanya bu guru Kang. Dia asik."


"Whoaa.. Sepertinya sekolahmu seru ya."


Jae Hyun senang melihat Tae Yang tertawa bahagia. Ia melirik Ae Ri.


"Tidak salah kan aku memilih sekolahnya."


Ae Ri tersenyum.


'Tidak salah bagaimana! Jika kau tahu itu adalah sekolah milik pria yang seharusnya aku hindari.' Batin Ae Ri.


Ae Ri melirik Tae Yang.


'Untung saja dia tidak menceritakan tentang lomba kemarin pada Jae Hyun.' Batinnya lagi.


***


Ae Ri melangkah cepat di koridor sekolah SD Byeol. Ia sedang menuju ruang kepala sekolah. Ae Ri sangat gelisah mengenai rahasianya dan Tae Yang. Ia berharap Kim Yo Han belum menemui kepala sekolah itu hari ini.


Toktoktok..


Ae Ri membuka pintu.


"Selamat datang nona Park. Silahkan duduk."


"Baik terimakasih ibu kepala sekolah."


"Bagaimana? Ada masalah?"


"Begini Bu. Mengenai kejadian kemarin."


"Maksud anda saat lomba hari ayah kemarin?"


"Ya benar. Saya tidak tahu jika akan sampai sejauh itu. Tae Yang bertemu CEO Kim secara tidak sengaja dihalaman sekolah. Lalu sepertinya Tuan Kim kasihan padanya dan mau menjadi ayah bohongan agar Tae Yang bisa mengikuti lomba. Akhirnya seperti yang Anda tahu."


"Saya juga sangat terkejut kemarin. Tapi kemudian bu guru Kang menceritakannya pada saya.Tuan Kim tampak sangat menjiwai perannya." Tiba-tiba kepala sekolah tertawa.


Ae Ri semakin gelisah.


"Ibu kepala sekolah, saya mohon tetap rahasiakan hubungan kami ya. CEO Kim pasti akan menanyakannya pada anda. Aku yakin sekali..."


Toktoktok..


Belum selesai Ae Ri berkata, terdengar ketukan pintu. Sesaat kemudian pintu dibuka. Seraut wajah yang sangat tidak diharapkan Ae Ri muncul dari balik pintu.


"CEO Kim!" Kedua wanita itu berseru bersamaan dengan kaget.


Kim Yo Han masuk ke ruangan dan duduk di sebelah Ae Ri. Kepala sekolah berdiri dan membungkuk hormat lalu duduk kembali.


"Mengapa kalian tampak sangat terkejut. Apa kalian sedang membicarakan aku?" Tanya pria itu sambil tersenyum.


"Iya Tuan. Saya sedang membicarakan akting anda kemarin. Semua orang mengira anda berdua benar-benar orangtua Tae Yang." Jawab kepala sekolah.


Kim Yo Han ikut tertawa.


"Aku ingin mengetahui identitas Tae Yang. Siapa nama ibunya dan dimana alamat rumahnya."


"Maaf Tuan Kim. Keluarga Tae Yang sangat ingin merahasiakan keberadaan dan identitas Tae Yang. Saya sudah terlanjur menyanggupinya Tuan. Jadi saya tidak bisa membukanya untuk anda. Mungkin dia anak seorang simpanan pejabat atau apalah. Sebaiknya tetap menjadi rahasia saja demi kebaikan Tae Yang."


Kim Yo Han menghela nafas kemudian menolah pada Ae Ri.


"Tadi saat aku mendengar ada tamu bernama nona Park sedang menemui kepala sekolah aku teringat pembicaraan kita kemarin. Bagaimana? Sudah kau sampaikan pada kepala sekolah?


"E.. Belum sempat. Tadi kepala sekolah baru menanyakan hubungan kita dengan Tae Yang."


"Iya aku sangat penasaran." Kepala sekolah tertawa.


"Begini saja bu Yoon. Jika Tae Yang memerlukan peran ayah dan ibu lagi seperti kemarin kau kabari saja kami berdua. Soalnya kasihan sekali dia. Tampaknya anda benar ia adalah anak dari simpanan seseorang. Mamanya juga tampak kurang memperhatikannya. Bagaimana Nona Park, kau mau membantu anak kecil itu kan?"


Dengan berat hati Ae Ri menganggukkan kepala.


"Oke!" Seru Yo Han lega.


"Dan sekarang kembali ke urusan bisnis kita. Kau bisa menyampaikannya pada kami sekarang, Nona Park." Ujar Yo Han.


Ae Ri sedikit ragu karena kemarin ia hanya mengarang alasan kedatangannya ke sekolah ini. Tidak sungguh-sungguh untuk berbisnis.


"Baiklah. Begini bu kepala, saya sempat mendengar bahwa sekolah dan para orangtua merasa kurang puas dengan seragam sekolah yang dipakai siswa. Saya datang untuk menawari anda kerjasama. Saya yakin disain dan jahitan Liberty Park jauh lebih baik dari yang dipakai sekarang."


"Liberty Park? Bukankah itu terlalu mahal dan mewah?"


"Saya tertarik untuk masuk ke fashion anak-anak bu. Jadi saya ingin memulainya dari sekolah. Saya tahu banyak artis cilik dan anak pesohor yang sekolah disini."


Ae Ri berbicara sangat fasih meskipun tanpa persiapan. Sehingga membuat Bu Yoon dan Yo Han benar-benar percaya padanya.


"Bagaimana CEO Kim?" Tanya Bu Yoon.


"Kita akan merapatkannya terlebih dahulu. Jadi mungkin minggu depan baru akan diputuskan. Kami sedang akan ada perombakan direksi karena direktur sekolah yang kemarin sudah akan pensiun." Terang Kim Yo Han.


"Bisakah anda memberikan disain dan contohnya?"


"Baiklah akan segera saya buatkan. Kalau begitu saya pamit. Saya menunggu kabar baik dari sini."


Ae Ri berdiri dan membungkuk hormat pada Yo Han dan ibu Yoon.


Bu Yoon membalas nona Park. Sedangkan Kim Yo Han cepat-cepat berdiri.


"Aku juga pamit sekarang bu Yoon. Rapat direksi kita adakan hari Senin."


"Baik Tuan Kim."


***


Kim Yo Han menjajari langkah kaki Ae Ri di lorong sekolah.


"Ayo ke kelas Tae Yang dulu. Aku mau mengembalikan album fotonya."


"Aku buru-buru. Harus segera kembali ke kantor."


"Kau seperti pegawai magang saja."


"Aku justru profesional. Tidak sesuka hatiku meskipun aku CEO."


"Sepertinya kemampuan manajerialmu masih jelek. Mau aku ajari sehingga kau memiliki banyak waktu untuk dirimu sendiri?"


Ae Ri tidak memperdulikan pria disampingnya itu.


"Aku memiliki 8 cabang di seluruh Asia. Apakah kau tahu itu? Sedangkan kau hanya mengurusi 1 manajemen saja."


"Kau tahu berapa artis yang ada di manajemenku? Dan setiap artis bekerjasama dengan berapa perusahaan? Perlu kau ketahui artis ku tidak ada yang tidak laku."


Ae Ri hanya melirik Yo Han dengan tidak senang.


"Baiklah kita berpisah sekarang. Aku akan ke kelas Tae Yang. Sampai jumpa, Nona Park."


Tiba-tiba Ae Ri merasa cemas jika Yo Han menemui Tae Yang sendiri. Bagaimana jika bocah itu keceplosan.


Ae Ri berbelok mengikuti Kim Yo Han. Ia berjalan cepat dan menjajari langkah pria itu.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Yo Han bingung.


"Aku ingin menyapanya." Jawab Ae Ri pelan.


"Jangan-jangan kau masih ingin berlama-lama denganku." Yo Han tertawa. Namun Ae Ri sama sekali tidak bereaksi.


Toktoktok.. Kim Yo Han mengetuk sebuah pintu bertuliskan kelas 1c.


Bu guru Kang membuka pintu dan terkejut.


"CEO Kim dan Nona Park." Bisiknya.


"Bisa kami menemui Tae Yang sebentar?" Tanya Yo Han. Ibu Kang mengangguk lalu masuk kembali ke kelasnya.


"Paman daddy? Mommy ssi?" Bisik Tae Yang dengan semangat. Kedua matanya berbinar senang.


Kim Yo Han tersenyum lebar dan memeluknya.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah tubuhmu ada yang sakit akibat lomba kemarin?"


"Hanya pegal-pegal sedikit tapi tidak apa-apa." Jawab Tae Yang.


'Mengapa aku tidak menanyakan itu padanya tadi?' Batin Ae Ri menyesal.


"Paman daddy mau mengembalikan album fotomu. Ini!" Yo Han menyodorkan sebuah buku pada Tae Yang. Tae Yang segera menerimanya.


"Apakah kita bisa bertemu lagi?" Tanya Yo Han.


Tae Yang menggeleng.


"Mommyku tidak menyukai paman daddy. Aku tidak boleh dekat-dekat. Tidak boleh bertemu lagi dengan paman daddy."


"Mengapa begitu?" Dahi Yo Han berkerut.


"Nanti mommyku sedih." Tae Yang menundukkan kepalanya.


Kim Yo Han mengelus rambut Tae Yang.


"Kau anak yang sangat pintar dan sangat baik."


"Paman daddy tidak marah karena mommyku tidak menyukai paman daddy?"


Kim Yo Han menggeleng.


"Tidak apa-apa. Mungkin dia memiliki alasan khusus sehingga tidak menyukai paman daddy. Tapi paman daddy sangat sedih karena tidak bisa bertemu denganmu lagi."


Tae Yang cepat-cepat memeluk Yo Han.


"Aku juga. Aku sangat menyukai paman daddy. Maafkan mommyku ya paman."


Kim Yo Han tersenyum dan mengelus punggung pria kecil itu.


Melihat pemandangan itu membuat hati Ae Ri seperti teriris-iris. Sedikit perasaan bersalah karena membuat ayah dan anak itu putus hubungan. Namun ia meyakini ini yang terbaik untuk mereka.


***


"Bagaimana dengan hutangmu? Kapan kau akan membayarku?"


"Aku tidak pernah memakaimu mengapa kau minta dibayar."


"Kalau begitu pakai saja aku."


Ae Ri menoleh pada pria yang berjalan disampingnya.


"Aku mendengar kabar yang tidak baik tentangmu. Kabarnya kau tidak suka menjalin hubungan dengan satu orang saja. Ada banyak pria yang dekat denganmu."


Ae Ri mengerutkan dahinya.


'Banyak pria?' Batinnya heran.


"Lalu apa salahnya? Aku single. Tidak salah kan jika menjajagi banyak pria."


Kim Yo Han tertawa sinis.


"Apakah kau bukan gadis polos dan baik-baik."


"Bukan. Aku menyukai banyak pria yang tampan dan bertubuh bagus." Ae Ri menoleh dan tersenyum. Meski di dalam hatinya sangat kesal namun ia sangat ingin memanas-manasi Yo Han.


"Apakah aku termasuk?" Tanya Kim Yo Han.


"Entahlah. Aku belum mencobamu. Belum ada keinginan untuk itu."


"Mencoba?!" Yo Han tampak shock mendengarnya.


"Apakah kau pria yang polos, Tuan Kim? Tahun berapa ini? Apakah kita masih di jaman kerajaan Joseon?" Ae Ri tertawa terbahak.


Kim Yo Han tidak menjawab. Ia terdiam sampai saat mereka berpisah di parkiran mobil.


Dari dalam mobilnya ia terus mengamati Ae Ri yang belum masuk ke mobilnya karena sedang menerima telpon.


Kim Yo Han tidak menyukai gayanya yang terlihat manja saat berbicara dengan seseorang di telpon. Ia membuka kaca mobilnya supaya bisa menguping.


"Kapan kau datang? Aku sangat merindukanmu. Hotel? Baiklah aku akan menunggumu di hotel biasanya." Ae Ri menghentikan bicaranya saat melihat Yo Han sedang memperhatikannya. Cepat-cepat ia membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam dengan kesal.


"Apa maksud Anda, Nona Park? Aku tidak mengerti!" Asistennya sedang kebingungan di seberang sana.


Sesaat kemudian Yo Han dapat melihatnya tertawa manja lagi dengan seseorang di telpon. Secepat kilat Kim Yo Han keluar dari mobilnya dan berjalan menuju mobil Ae Ri.


Dengan tidak sabar ia membuka pintu dan merebut ponsel Ae Ri.


"Maaf dia sedang sibuk denganku!" Selesai berbicara ia membanting ponsel Ae Ri ke jok belakang.


Kim Yo Han menyeret Ae Ri keluar dari mobil, berjalan memutari mobil dan mendudukkan Ae Ri di tempat duduk di sebelah supir. Lalu ia kembali ke tempat tadi Ae Ri duduk sebelumnya dan segera membawa mobil itu keluar dari area sekolah.


Namun sampai di gerbang sekolah Yo Han menghentikan mobilnya dan melepas sabuk pengamannya. Ae Ri semakin kebingungan.


Tiba-tiba Kim Yo Han mendekatinya. Ae Ri sangat terkejut dan terbelalak. Wajah Yo Han hanya berada 1 centimeter dari wajahnya. Bahkan ia dapat merasakan hangatnya hembusan nafas pria itu.


***