
"Mau kemana lagi kita?" Tanya Tae Yang bersemangat saat sudah duduk di dalam mobil.
"Bukankah kau mau melihat-lihat rumah masa kecil mommymu?"
"Oiyaa! Asik!" Seru Tae Yang.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Ae Ri penasaran.
"Kau pernah mengatakan nama jalannya. Jadi ketika aku sudah pulang ke Korea aku mencarinya. Mudah di temukan."
"Kau tahu siapa pemiliknya sekarang?"
"Aku sedang mencari tahu. Tapi belum berhasil."
"Nah itu rumahnya, Tae Yang!"
Jae Hyun menunjuk sebuah rumah di seberang jalan tempat mereka berhenti.
Ae Ri menatap rumah itu. Dinding pagarnya yang dipenuhi tanaman rambat tampak menghijau. Pintu gerbangnya masih berwarna hitam seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Di atas pagar tampak terlihat sedikit bagian atas rumah.
"Sayangnya kita tidak bisa masuk." Bisik Jae Hyun.
"Tidak apa-apa. Ini sudah cukup. Ayo kita pulang. Supaya bisa istirahat." Jawab Ae Ri.
"Baik nyonya." Jae Hyun tersenyum lebar.
***
"Selamat datang!" Seru Ae Ri saat membuka pintu rumah mamanya yang sempat ia tinggali sebentar sebelum ia ke Amerika.
Rumah itu tidak berubah sama sekali. Rumah yang tidak terlalu besar namun terkesan sangat nyaman. Cat dan perabotannya yang bernuasa putih menimbulkan rasa hangat.
Rumah itu tetap terawat karena nyonya Park mempekerjakan seorang bibi untuk datang membersihkan rumah sekali seminggu.
"Dimana kamarku Mom?" Tanya Tae Yang.
"Itu yang disudut sana! Yang ini kamar mommy. Dan yang itu kamar granny."
"Asik! Semoga granny cepat datang ya!"
"Ayo Tae Yang. Ayah antar ke kamarmu." Jae Hyun menarik koper Tae Yang menuju ke kamarnya.
Ae Ri masuk ke kamar lamanya. Ia teringat bagaimana pertama kali mamanya menyelamatkan hidupnya. Matanya menghangat.
Toktoktok.
"Masuk!"
Jae Hyun membuka pintu.
"Tae Yang sudah dikamarnya. Sudah kusuruh mandi dan berganti pakaian. Apa ada yang kau perlukan lagi?"
"Tidak ada. Aku hanya butuh tidur. Kau pulanglah. Kau juga tampak lelah."
"Tidak bolehkah aku tidur disini?"
Mata Ae Ri melotot kesal.
"Bukankah masih ada satu kamar kosong lagi?!"
"Tidak! Tidak boleh!!" Ae Ri berdiri dan mendorong Jae Hyun keluar dari kamarnya.
"Kau pelit sekali!"
"Memang!! Sana pulang!"
"Ya.. Iya! Aku pulang! Ck!!"
***
YH Manajemen.
Seorang pria berdiri tegap menatap jauh keluar jendela kantornya. Sebuah gelas berisi kopi berada di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya berada di saku celana.
Matanya sangat jarang berkedip menandakan pemiliknya sedang tenggelam dalam lamunannya.
Pikirannya kembali ke beberapa waktu yang lalu.
Flashback on.
Drrt..drrt..
Kim Yo Han mengambil ponsel dan memasang handfree di telinganya. Kedua tangannya kembali sibuk mengetik di lap top.
"Halo."
"Selamat siang. Benarkah saya sedang berbicara dengan CEO Kim dari YH Manajemen?"
Seluruh tubuh Kim Yo Han mendadak tegang. Suara itu! Suara yang sangat akrab di telinganya.
"Ya benar. Anda siapa?"
Kim Yo Han berusaha menjaga irama suaranya agar tidak bergetar. Jantung pria itu kini seakan berhenti berdenyut.
"Saya Park Ae Ri. CEO Liberty Park. Saya ingin menyampaikan bahwa saya sudah mengirimkan undangan grand opening butik saya. Mungkin anda belum menerimanya. Oya, saya mendengar tentang anda dari CEO Ahn."
...
Selama beberapa detik Kim Yo Han tidak dapat membuka suaranya.
'Ya! Ini suara gadis itu!' Desahnya dalam hati.
"CEO Kim. Apakah anda mendengar suara saya?"
'Ya. Aku mendengar suaramu, Mi Cha!' Ingin sekali Kim Yo Han meneriakkan itu.
"Ya ini baru saja diserahkan padaku."
"Baiklah kalau begitu. Saya harap anda dapat hadir dan kita dapat bekerjasama dengan baik. Sampai bertemu di acara saya, CEO Kim."
Tut..tut...
Flashback off.
Kim Yo Han meletakkan gelas ditangannya lalu meraih ponsel. Ia mengamati nomor telpon yang tadi menghubunginya.
Jempolnya sangat ingin menekan tanda telepon di layar ponselnya itu. Namun cepat-cepat ia lemparkan ke meja kembali.
"Apa-apaan ini! Bukankah banyak orang yang memiliki suara yang sama. Tidak mungkin. Itu bukan dia!"
Kim Yo Han menekan tombol interkom.
Toktoktok.
Seorang pria muda berusia 25 tahun masuk ke ruangannya.
"Lee Chan. Aku ingin mencari tahu tentang seseorang."
"Ya tuan. Siapa?"
"Seorang gadis."
"Hooo.. Tampaknya anda sudah dewasa sekarang!" Lee Chan tersenyum nakal.
Yo Han meliriknya sadis. Lee Chan cepat-cepat menutup bibirnya.
"Liberty Park? Rasanya aku pernah dengar."
"Ya sudah cepat cari tahu dan segera laporkan!"
"Baik pak!"
Sepeninggal Lee Chan, Yo Han kembali menatap layar laptopnya. Alisnya kembali berkerut. Seraut wajah wanita anggun dan sangat cantik terpampang disana, hasil pencariannya di internet.
Yo Han menggunakan kedua tangannya untuk menutup rambut panjang wanita itu hingga yang terlihat rambutnya hanya sebatas leher.
"Mi Cha.. Inikah dirimu sekarang?" Bisiknya.
***
Mobil sport mewah berwarna silver berhenti di sebuah bangunan bernuansa merah dan hitam. Tampak beberapa mobil juga berhenti bersamaan.
Petugas parkir valet tampak sibuk bergantian memarkirkan mobil-mobil itu.
Kim Yo Han keluar dari mobilnya. Ia membenahi jasnya yang berwarna hitam. Tampilannya kini berbalut serba hitam. Dari setelan jas, kemeja semua berwarna hitam.
Ia berjalan penuh percaya diri layaknya model berjalan di catwalk.
Kim Yo Han berdebar saat ia memasuki ruangan yang dibuat temaram itu. Sebuah catwalk didisain menempel didinding mengelilingi ruangan besar itu. Sedangkan para tamu tampak dapat menikmati di area tengah sambil bercengkrama dengan sesama tamu.
Pria itu tersenyum, mengagumi idenya.
Beberapa saat kemudian lampu dinyalakan menyorot seorang host membuka acara. Dimulai dengan fashion show hasil karya disainer Park. Kali ini ia memamerkan karya musim seminya.
Kim Yo Han memperhatikan setiap detil pakaian yang dipamerkan. Tanpa sadar ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia teringat ucapan CEO Ahn yang memuji disainer Liberty Park.
Selama setengah jam para model baik pria maupun wanita berjalan mengelilingi catwalk. Sangat banyak pakaian yang dipamerkan.
Host kembali tampil untuk menutup fashion show. Ia pun memanggil sang tuan rumah sekaligus disainer dari Liberty Park.
Tepuk tangan bergemuruh saat beberapa model terbaik mengantarkan sesosok wanita cantik berambut panjang sepunggung keluar dari balik panggung.
Dress merah panjang dengan model shoulder terbuka membalut tubuh indahnya.
Wanita itu membungkuk memberi hormat pada tamu undangannya.
"Selamat datang dan terimakasih atas kedatangan anda semua. Saya Park Ae Ri, CEO dan disainer Liberty Park. Butik di kota Seoul ini adalah butik kami yang ke 7 dan 8 di Asia serta yang ke 20 dan 21 diseluruh dunia. Dan jika anda suka dengan yang anda lihat tadi, ayo kita berbisnis! Namun saat ini mari kita nikmati dulu apa yang ada." Sambutnya dengan suara tegas. Sebuah senyum ramah menutup sambutannya.
Kembali tepuk tangan dari para tamu menyambutnya. Banyak pengusaha-pengusaha terutama para pria langsung mencoba mendekat saat Ae Ri turun menyapa para tamunya.
Lampu-lampu kini menyala terang sehingga semakin terlihat jelas kecantikan dan keanggunan sang tuan rumah.
Dari suatu sudut sepasang mata tajam tak berhenti menatap wanita yang sibuk menyapa tamunya itu.
Park Ae Ri merasa sudah sangat membutuhkan udara segar. Sudah hampir satu jam ia dikerumuni banyak orang.
'Entah mengapa orang-orang ini selalu menempel padaku.' Batinnya.
"Baiklah tuan-tuan. Silahkan menikmati pestanya. Maaf saya harus menemui seseorang sebentar." Pamitnya sambil tersenyum ramah.
Sangat sulit baginya untuk sampai ke pinggir ruangan. Ia berniat pergi ke balkon dan menyendiri sebentar disana sampai ada cukup oksigen untuk otaknya.
Dengan lega akhirnya ia menghirup udara malam yang segar dari balkon yang sepi. Syukurlah pintu keluarnya tidak terlihat sehingga tamunya tidak mengetahui lokasinya berada.
Ae Ri membuka cluth berwarna hitam ditangannya. Kartu nama yang baru saja ia terima sepanjang perjalanannya menuju balkon sudah penuh di tangannya.
Saat ia tengah memasukkan kartu-kartu itu ia menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.
Sebuah aroma parfum maskulin yang sangat ia ingat tiba-tiba masuk ke indra penciumannya.
Seketika jantungnya berdebar sangat cepat. Ia menggenggam clutch nya dengan sangat erat untuk mengurangi rasa gugupnya.
Ae Ri terus menatap kearah depannya dimana pemandangan malam kota Seoul terbentang di bawah gedung. Ia berpura-pura tidak menyadari kehadiran pria di belakangnya itu.
"Nona Park Ae Ri."
"Ya." Ae Ri menoleh dan memasang wajah tenang. Di dalam hati ia mengagumi sosok tampan dan bertubuh indah dihadapannya itu. Pria itu terlihat semakin tampan dan matang.
"Saya CEO Kim dari YH Manajemen."
Seketika Ae Ri terbelalak.
"Oh. Maafkan saya tadi belum sempat menyapa anda. Selamat datang CEO Kim."
Ae Ri memaksakan diri untuk tersenyum dan membungkuk hormat. Yo Han balas membungkuk.
"Tampaknya saya sudah tidak perlu memberi anda kartu nama saya karena sudah begitu banyak yang memberikannya pada anda malam ini." Senyum Yo Han mengembang. Namun Ae Ri tampak tidak tertarik.
"Jadi kapan kita bisa bertemu untuk membahas bisnis kita nona Park?"
"Nanti saya akan mengaturnya dulu dengan CEO Ahn. Biar dia yang akan mengabari anda."
"Baiklah. Saya akan menunggu kabar dari anda berdua."
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu CEO Kim. Selamat menikmati pestanya."
Ae Ri mengangguk dan cepat-cepat masuk kembali ke ruang pesta. Kini langkah kakinya menuju ke arah toilet. Ia benar-benar butuh ruang privasi untuk menenangkan dirinya.
Ae Ri masuk dan duduk di atas toilet. Ia memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafas.
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang masuk sambil mengobrol.
"Bukankah tadi CEO Kim dari YH Manajemen? Wah dia tampan sekali!!"
"Dia kan model maka tidak heran jika ia memiliki wajah dan tubuh yang sempurna."
'Model?' batin Ae Ri heran.
"Manajemennya juga sekarang sangat terkenal. Jika kontrakku habis aku ingin pindah ke manajemennya."
"Tidak semua artis ia terima. Tampaknya CEO Kim sangat pemilih. Itu sebabnya tidak banyak artis dibawah manajemennya. Namun jika masuk kesana pasti kau akan menjadi sukses."
"Iya benar. Kudengar dia itu sadis dan sangat keras terhadap artis-artisnya. Apa karena ia pernah di penjara ya?"
"Apa? Dia pernah dipenjara?"
"Ya.. Aku dengar begitu. Sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu. Sebelum ia menjadi model."
"Benarkah?! Ih mengerikan. Kenapa pria setampan itu bisa di penjara?"
"Entahlah. Ada yang bilang masalah penipuan bisnis."
"Hah?! Hii.. Aku sedikit takut untuk mendekatinya."
"Aku tidak! Karena ia justru terlihat macho. Jika ia menculikku, aku dengan senang hati akan menerimanya! Hihihi.."
Terdengar suara cekikikan dua wanita itu menjauh dari toilet.
Perlahan Ae Ri keluar dan berdiri di depan cermin. Ia mencuci tangannya dan mengambil bedak dan lipstik dari clutch nya.
Setelah ia merasa penampilannya kembali rapi ia melangkah keluar.
Namun betapa terkejutnya ia saat keluar pintu di depannya tampak Yo Han sedang berdiri bersandar didinding.
Kedua pasang mata itu menatapnya tajam.
"O.. CEO Kim. Anda mau ke toilet? Toilet pria yang di sana Tuan." Ae Ri menunjuk sebuah pintu yang didekat pintu masuk ruangan.
"Tidak. Aku menunggumu Mi Cha."
***