Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua Puluh Tiga



"Apa-apaan kau!" Seru Ae Ri. Lalu ia mendorong pria itu dan mencari-cari Tae Yang.


"Tae Yang pindah ke kamar depan. Tampaknya ia terganggu dengan dengkuranmu." Kim Yo Han sengaja mengerjai Ae Ri.


"Aku tidak mendengkur!" Bantah Ae Ri.


"Awas! Aku mau pindah ke kamar depan."


"Tidak boleh!" Kim Yo Han mengeratkan pelukannya.


"Aku akan berteriak!"


"Teriaklah! Kamar ini kedap suara."


"Lepaskan aku Tuan Kim!" Ae Ri mulai kesal.


"Siapa suruh kau ke sini! Aku menganggapmu sedang menginginkanku."


"Tidak! Aku hanya diminta mommynya Tae Yang untuk menjemputnya."


"Lalu mengapa kau malah tidur disini? Pakai peluk-peluk aku juga."


"Siapa yang seperti itu?!"


"Kau!"


"Sudah. Lepaskan aku. Aku masih mengantuk. Aku masih bisa tidur 3 jam lagi." Ujar Ae Ri sambil melirik jam baru pukul 3 dini hari.


"Oke, tidurlah disini dengan tenang. Jangan banyak bergerak. Kau membuatku bangun." Bisik Kim Yo Han.


Seketika Ae Ri berhenti meronta. Wajahnya memerah karena risih.


"Aku sangat merindukanmu." Bisik Yo Han sambil membelai rambut Ae Ri dengan lembut. Perlahan tangan kekar itu menyibakkan rambut Ae Ri yang menutupi sebagian pipinya.


Tangan itu terus membelai dan perlahan ia mencium bibir Ae Ri. Ciuman yang semula sangat perlahan semakin lama semakin panas. Ae Ri memilih untuk diam dan tidak meresponi cumbuan pria itu.


Namun itu tidak mempengaruhi Kim Yo Han. Meski ia menyadari Ae Ri yang tidak meresponnya.


"Kenapa? Kau marah padaku?" Bisik Yo Han sambil terus menciumi Ae Ri. Perlahan tangannya sudah mengangkat kaos yang di pakai Ae Ri.


Ae Ri cepat-cepat menariknya lagi ke bawah. Kim Yo Han tertawa tanpa suara. Kemudian ia berpindah posisi ke atas Ae Ri.


Ae Ri terus memilih untuk tak bereaksi. Meski jantungnya sudah berdetak hebat saat merasakan senjata andalan pria itu menyentuh bagian bawah perutnya.


"Kau tidak mau ini? Sungguh?" Bisik Yo Han. Ae Ri sangat kesal di buatnya.


Sebenarnya Ae Ri kesal dengan dirinya sendiri. Ia menyesali mengapa ia harus ke apartemen laki-laki buaya ini. Seperti seekor ayam masuk ke sarang buaya.


"Minggirlah. Aku ingin tidur sekarang. Tolong jangan menggangguku. Aku sedang tidak ingin." Ujar Ae Ri dengan nada serius.


Kim Yo Han tertawa. Ia turun dari tubuh Ae Ri dan berbaring di samping wanita itu.


Ae Ri membelakangi Kim Yo Han dan mencoba untuk tidur kembali dengan tenang. Namun sangat sulit baginya. Sebagian tubuhnya terlanjur menginginkan pria itu.


Setelah beberapa saat Ae Ri membuka matanya. Kim Yo Han yang berada di belakangnya tampak sangat tenang.


'Apakah ia sudah tidur? Bagaimana mungkin ia bisa tidur dalam keadaan yang panas seperti ini?!' Batin Ae Ri kesal.


Untuk mengurangi rasa penasarannya Ae Ri membalikkan tubuhnya dengan pelan sehingga menghadap ke Yo Han.


Namun betapa terkejutnya Ae Ri saat melihat pria itu menatapnya dengan lembut. Matanya segera menghipnotis Ae Ri.


Ae Ri bingung. Ia cepat-cepat memejamkan kembali kedua matanya. Ia menunggu reaksi Kim Yo Han. Namun pria itu hanya terdiam membuat Ae Ri semakin salah tingkah.


Perlahan dibukanya kembali kedua matanya.


"Kau menginginkannya sekarang?" Bisik Yo Han.


Dan.. Ae Ri mengangguk.


Kim Yo Han tersenyum. Ia duduk dan menarik tubuh Ae Ri agar ikut duduk juga. Di bukanya kaos yang ia kenakan, kemudian dibukanya juga kaos Ae Ri. Di tariknya Ae Ri agar duduk di pangkuannya.


"Kau sangat memabukkan Ae Ri. Aku tidak tahan setiap kali melihatmu." Desah Kim Yo Han.


Kim Yo Han membaringkan tubuh Ae Ri, ditariknya penutup bawahnya dan secepat kilat ia menyerbu masuk ke dalam wanita itu.


Ae Ri mengerang saat benda keras itu masuk ke dalamnya. Sedikit sakit namun ada rasa geli yang aneh ia rasakan.


"Sakit?" Kim Yo Han berbisik. Ia menghentikan sejenak gerakannya. Ae Ri menggeleng.


Yo Han tersenyum. Ia membuat wanita itu merasakan nikmat berkali-kali. Namun saat ia akan mencapai kenikmatannya tiba-tiba Ae Ri mendorongnya dengan keras.


Kim Yo Han terbelalak seakan tidak percaya.


"Hentikan. Kau tidak memakai kond*m." Ujar Ae Ri dengan tenang lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Kim Yo Han yang seperti layang-layang putus.


***


Kim Yo Han memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Keadaan ini membuatnya sangat tidak nyaman.


'Kau kejam sekali, Ae Ri!' Batinnya dengan kesal.


Dengan lemas ia memakai pakaiannya dan keluar kamar menuju kamar yang di tempati Tae Yang untuk memakai kamar mandinya.


Di kamar mandi, Ae Ri tersenyum puas.


'Nikmatilah ketidaknyamananmu itu, Tuan Kim.' Ia tersenyum jahat.


Setelah beberapa saat Kim Yo Han keluar dari kamar mandi. Ia merebahkan diri di samping Tae Yang. Ia memilih untuk tidur sebentar sebelum membangunkan Tae Yang.


"Paman.. Paman Daddy.. Sudah siang ayo bangun." Tae Yang menggonyang-goyang Yo Han.


Dengan malas Kim Yo Han membuka matanya.


"Mengapa paman tidur disini? Mana nona Park?"


"Nona Park mendengkur. Paman tidak mau tidur dengannya."


Tae Yang tertawa terkekeh.


"Ayo kita bikin sarapan, lalu bangunkan dia."


"Oke.. Let's go!!" Seru Tae Yang bersemangat.


Sesaat kemudian dua orang itu sudah sibuk menyiapkan makanan hasil masakan mereka.


"Oke sekarang kita bangunkan putri tidur kita!" Seru Kim Yo Han.


Kim Yo Han mengangkat tubuh Tae Yang dan di bawanya berlari menaiki tangga. Tae Yang yang setengah ketakutan tertawa-tawa cemas.


Tampak di kamar Ae Ri masih meringkuk di bawah selimut tebal, bermotif kotak-kotak hitam milik Yo Han.


"Nona Park. Ayo bangun! Sudah siang." Seru Tae Yang.


Ae Ri bergerak sedikit. Matanya terbuka sebentar lalu dipejamkan lagi karena silau.


Kim Yo Han membelai pucuk kepala Ae Ri.


"Masih capek?" Bisiknya lembut.


Tiba-tiba Ae Ri merasa sedikit bersalah dengan kejadian tadi. Ia tidak ingin membuka matanya. Ia tak sanggup menatap mata elang pria itu.


Ae Ri mengangguk.


"Tae Yang kau berangkat sekolah dengan Daddy saja ya. Mommy masih capek."


Kim Yo Han tertawa.


"Kau belum sepenuhnya bangun? Kau mengigau?"


Seketika Ae Ri menyadari ia telah keceplosan bicara. Ia semakin tidak ingin membuka matanya dan memilih untuk pura-pura tidur.


"Ayo, Tae Yang kita sarapan dulu. Kau harus cepat-cepat bersiap agar tidak terlambat."


"Baik Daddy!!" Seru Tae Yang sengaja dengan keras agar mommynya mendengar.


Kim Yo Han tak dapat menahan tawanya.


"Sudah, ayo jangan mengganggu putri tidur. Nanti dia mengamuk!" Ujarnya terkekeh sambil menggendong Tae Yang kebawah.


Ae Ri memukul kepalanya sendiri.


"Bodoh! Bagaimana bisa aku sangat ceroboh!"


Ae Ri mengambil ponselnya dan selama beberapa waktu ia memeriksa beberapa pesan dan email.


Tiba-tiba pintu terbuka.


"Mommy.." Tae Yang berseru ceria.


"Kau tampan sekali, Sayang. Sudah siap berangkat? Ayo nona Park antar." Ujar Ae Ri menekankan kata 'nona Park' agar Tae Yang kembali bersandiwara.


"Paman Daddy yang menyisir rambutku." Katanya bangga.


"Kau istirahatlah dulu. Biar aku yang mengantarnya." Ujar Kim Yo Han.


"Iya, aku sama paman daddy saja." Kata Tae Yang.


Ae Ri mengangguk. Ia ingin cepat-cepat melarikan diri dsejauh mungkin dari pria itu.


"Aku berangkat dulu ya, nona Park." Tae Yang mencium pipi Ae Ri. Ae Ri membalas mencium kening bocah itu.


"Oke. Hati-hati ya. Belajar dengan rajin!" Seru Ae Ri dengan senyum yang sangat manis. Kim Yo Han yang memperhatikannya ikut tersenyum.


"Ayo Tae Yang. Nanti terlambat." Yo Han meminta Tae Yang menggandeng tangannya. Mereka berdua meninggalkan Ae Ri di kamar.


Ae Ri memegang dadanya. Lega. Ia sudah akan bersiap untuk turun dari tempat tidur supaya bisa segera pulang dan ke butiknya, saat tiba-tiba pintu kamar terbuka.


Kim Yo Han berjalan cepat ke arah ranjang dan menabrak tubuh Ae Ri hingga wanita itu terbaring di atas kasur.


Dengan panas Kim Yo Han menciumi bibir dan leher Ae Ri. Bahkan tangan kekarnya sudah menari-nari di dalam kaos Ae Ri memainkan sesuatu yang kenyal milik wanita itu.


"Kau masih berhutang padaku. Sewaktu-waktu kau harus siap membayarnya." Bisik Kim Yo Han lalu meninggalkan Ae Ri yang terbelalak.


***


Ae Ri bergidik membayangkan tingkah laki-laki itu tadi. Bayangan pria itu muncul dalam benaknya selama perjalanan ke butiknya.


"Selamat datang, CEO Park." Sapaan dari para karyawan di butiknya menyambut kedatangan Ae Ri.


Ae Ri menggangguk dan tersenyum ramah sambil terus berjalan masuk ke lift diikuti oleh asistennya, nona Kang Hye Rin.


"Apakah ada sesuatu hal yang berjalan tidak semestinya selama aku pergi?"


"Tidak ada Nona. Hanya tuan Han terus menanyakan kapan anda kembali. Ia ingin anda sendiri yang membuatkan gaun pengantin untuk calon istrinya. Begitu pula dengan nona Kang yang artis itu. Ia juga ingin dibuatkan gaun untuk acara malam penghargaan bulan depan. Dia terus menelpon, Nona."


Ae Ri menoleh pada asistennya. Ia menghela nafas.


"Jika semua orang ingin aku yang merancangkan pakaiannya akan sangat menyulitkan aku."


"Segera atur jadwal pertemuan dengan mereka. Besok sepertinya aku bisa. Masing-masing cukup 30 menit saja."


"Baik, Nona."


"Lalu untuk hari Jumat, setelah jam makan siang tolong kosongkan semua jadwalku."


"Baik, Nona. Apakah anda akan keluar kota atau keluar negeri?"


"Tidak. Aku akan di sini. Namun akan ada pertemuan penting yang tampaknya membutuhkan banyak waktu untuk membahasnya."


"Baik, Nona."


"Permisi, Nona. Ibu Yoon menelpon, dari SD Byeol katanya."


Seketika Ae Ri terkejut.


"Halo bu Yoon."


"Nona Park. Kami sudah menyampaikan mengenai proposal kerja sama pengadaan seragam untuk para siswa. Dan dari direksi meminta Anda membawa contoh serta mempresentasikannya besok."


Ae Ri merasa lega karena sebelumnya ia mengira terjadi sesuatu pada putranya.


"Baiklah besok saya akan kesana, bu Yoon."


"Tampaknya direksi akan meminta anda juga mengerjakan seragam untuk SMP kami."


"O.. Begitukah?"


"Ya, Nona."


"Senang sekali mendengarnya, bu Yoon. Besok setelah jam makan siang aku akan datang."


"Baik, Nona Park. Sampai bertemu besok."


"Baik, Bu Yoon. Sampai bertemu.


Ae Ri tersenyum. Sesuatu yang tadinya hanya dipakai untuk alasan agar tidak dicurigai Kim Yo Han malah benar-benar terjadi dan menguntungkan baginya.


***


Ae Ri melangkah masuk menuju SD Byeol diikuti Hye Rin asistennya yang membawakan beberapa contoh seragam rancangannya.


"Selamat datang nona Park. Anda sudah ditunggu diruang pertemuan. Mari saya antarkan." Sapa petugas keamanan.


"Baik, Pak. Terima kasih."


Toktoktok..


Petugas keamanan mengetuk pintu ruang pertemuan. Lalu membuka pintunya mempersilahkan Ae Ri masuk.


"Selamat datang, Nona Park." Bu Yoon menyapanya dengan ramah.


Ae Ri masuk dan membungkuk memberi hormat pada beberapa orang yang berada di ruangan itu.


Sekilas tampak ada sekitar 6 sampai 7 orang di sana. Dan salah satunya Ae Ri melihat Kim Yo Han disana.


"Silahkan duduk, Nona Park." Suara pria itu terdengar dingin dan tidak ramah.


"Terima kasih." Ae Ri duduk di sebuah kursi. Ia belum bisa menatap mata pria itu. Masih ada perasaan takut dan bersalah sekaligus.


Kursi-kursi di ruangan itu ditata membentuk huruf u. Kim Yo Han duduk di kepala meja. Sedangkan para direksi dan kepala sekolah duduk di sisi sebelah kanannya. Ae Ri dan asistennya duduk di sisi kiri Yo Han dihadapan para direksi.


"Silahkan, Nona Park. Waktuku tidak terlalu banyak." Seru Kim Yo Han mempersilahkan Ae Ri untuk mempresentasikan proposal nya.


Dalam hati Ae Ri menggerutu. Pria itu ternyata bisa bersikap sangat dingin dan seperti tidak mengenalnya. Itu membuatnya sangat kesal.


***