Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tiga Puluh Enam



Ae Ri lega saat mobil Kim Yo Han mulai memasuki area parkir yang berada di sekitar pantai.


"Horee.. Kita sampai.." Seru Tae Yang kegirangan.


"Saat turun gandeng tangan nona Park, jangan jauh-jauh ya. Daddy akan menurunkan barang-barang kita." Kim Yo Han berpesan pada Tae Yang.


"Baik."


Tae Yang menuruti perkataan Kim Yo Han. Setelah turun ia menggandeng tangan Ae Ri.


"Kita makan siang dulu ya, baru setelah itu kita bermain di pantai." Ujar Yo Han sambil menyerahkan tas Ae Ri dan tas Tae Yang.


"Iya aku sudah lapar dad.."


"Baiklah.. Let's go!" Seru Yo Han sambil menggandeng tangan Tae Yang yang satunya lagi.


Ae Ri hanya bisa pasrah kemanapun mereka pergi.


Mereka menuju area pinggir pantai yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Disana banyak terdapat bangku-bangku untuk menikmati suasana dipinggir pantai. Mereka memesan berbagai makanan yang ada.


Setelah selesai makan siang mereka sudah berada di tepi pantai yang berpasir putih halus itu.


Tae Yang berlari-lari dengan bebasnya. Sedangkan Ae Ri memilih duduk sambil meluruskan kakinya menikmati pasir disela-sela kakinya.


Kim Yo Han berdiri tidak jauh di sampingnya, memandangi Tae Yang yang berlari-lari.


"Ayo dad.. Kita bermain air." Seru Tae Yang sambil menggeret tangan Kim Yo Han.


"Baiklah baiklah, tapi hanya boleh sebentar ya. Nanti kau kedinginan." Jawab pria itu mengikuti langkah kaki kecil Tae Yang.


Ae Ri memandang sekitarnya. Tampak tidak banyak orang disana. Sangat berbeda saat musim panas yang pasti pantai ini akan dipadati para pengunjung.


Perlahan matahari mulai meredup. Ae Ri memandangi Kim Yo Han dan Tae Yang yang sedang sibuk membuat istana pasir agak jauh di depannya.


Ae Ri penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Apakah tentangnya lagi seperti saat perjalanan di mobil tadi. Ia berdiri dan berniat untuk mendekati mereka.


Namun tiba-tiba hujan datang semakin deras. Tae Yang dan Kim Yo Han berlari kearahnya.


"Ayo cari tempat berteduh!" Seru Kim Yo Han sambil meraih tangan Ae Ri dan menggandengnya sambil berlari.


Satu tangan Kim Yo Han menggandeng Ae Ri dan satu tangannya lagi menggandeng Tae Yang.


Kim Yo Han berlari kearah sebuah bangunan yang cukup besar yang terdekat dari tempat mereka. Mereka cepat-cepat masuk ke halaman dan terasnya.


Ternyata bangunan itu adalah sebuah gueshouse modern dengan konsep tradisional. Tempatnya sangat hangat dan terlihat nyaman.


Kim Yo Han meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam.


Ae Ri dan Tae Yang hanya saling pandang.


Tak lama kudian Kim Yo Han keluar diikuti oleh seorang wanita usia 50an.


"Ayo, aku memesan sebuah ruangan, supaya kita tidak kedinginan. Nanti setelah hujan reda baru kita pulang." Ujar pria itu sambil mengikuti bibi itu.


Tae Yang langsung cepat mengikuti Kim Yo Han. Tinggallah Ae Ri yang bimbang. Namun mau tak mau ia mengikuti mereka dengan rasa enggan.


"Trimakasih bu." Kim Yo Han menunduk hormat pada wanita yang mengantar mereka ke kamarnya.


Begitu masuk kedalam kamar mereka langsung merasa hangat dan nyaman.


"Emm.. Disini hangat.." Seru Tae Yang sambil melepaskan tas punggung dan jaketnya.


"Gantilah pakaianmu dengan yang kering. Kau bisa sendiri atau perlu daddy bantu?"


"Aku bisa sendiri." Jawab Tae Yang sambil mengeluarkan pakaian gantinya dari dalam tasnya. Lalu masuk ke kamar mandi didalam ruangan itu.


Ae Ri duduk dilantai disamping jendela. Ruangan ini memiliki konsep tradisional, jadi tidak terdapat sofa maupun ranjang didalamnya. Semua aktifitas dilakukan dilantai kayu yang hangat.


"Kau membawa pakaian ganti kan? Itu pakaianmu sudah basah." Kim Yo Han mendudukkan diri didepan Ae Ri sambil melihat keluar jendela seperti yang dilakukan wanita itu.


Hujan diluar turun semakin deras.


Ae Ri sama sekali tidak memberikan jawaban pada pria itu.


Kim Yo Han berpaling dan menatap sendu pada wanita dihadapannya. Ia mendadak teringat perkataan Tae Yang saat diperjalanan tadi.


'Nona Park selalu marah pada daddy. Ia tidak pernah tersenyum.'


Kim Yo Han menegakkan kedua lututnya untuk menopang dagunya. Memang benar, bibir itu tidak pernah tersenyum atau tertawa padanya.


Ae Ri melirik pria dihadapannya. Ia sangat risih saat mengetahui pria itu sedang menatapnya.


"Aku tidak suka kau melihatku seperti itu." Ujarnya sedikit ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.


Kini giliran Kim Yo Han yang tidak menjawab. Bukannya ia tidak mau menjawab tetapi pikirannya sedang berada jauh ke masa lalu.


Ia teringat kebersamaannya dengan Mi Cha yang singkat namun tidak terlupakan olehnya. Ia teringat tawa manis gadis itu. Namun ia juga teringat bagaimana raut wajah gadis itu saat meninggalkan rumahnya. Itulah terakhir kali ia melihat gadis itu.


Saat itu ia harus berbohong dan mengatakan bahwa ia harus ke luar negri. Bahkan saat itu ia tidak sanggup menghadapi wanita itu. Ia tahu Mi Cha pasti sangat kecewa dan membencinya.


Ae Ri menatap tajam ke arah pria itu. Ia menyadari pikiran Kim Yo Han pasti entah menghilang kemana.


Dengan kesal Ae Ri bangkit berdiri dan berpindah tempat ke tengah ruangan lalu menghidupkan televisi.


Kim Yo Han tersadar dari lamunannya. Ia memiringkan kepalanya dan terus memandangi Ae Ri masih dengan posisi yang sama.


Tak lama kemudian Tae Yang keluar dari kamar mandi dan Ae Ri membantu membenahi pakaian Tae Yang yang sedikit berantakan.


Kemudian wanita itu masuk ke kamar mandi juga untuk berganti pakaian.


Tae Yang mendekat ke arah Yo Han.


"Apa nona Park memarahi daddy?" Tanya bocah itu dengan polos karena melihat Kim Yo Han yang duduk meringkuk.


Sebenarnya pria itu menahan tawa melihat ekspresi wajah Tae Yang.


Ia mengangguk pura-pura bersedih.


Tae Yang mendekatinya dan menepuk pundaknya dengan halus tanpa berkata-kata.


"Iya. Nanti sebentar lagi daddy ganti pakaian."


"Sayang sekali ya kita pergi ke pantai di saat yang salah. Seharusnya saat musim panas jadi tidak terjebak hujan seperti ini. Padahal kita baru bermain sebentar ya. Kau pasti kecewa." Ujar Kim Yo Han sambil menoleh ke arah jendela. Hujan masih saja turun dengan sangat deras.


"Tidak apa-apa dad. Nanti saat musim panas kita kesini lagi ya." Jawab Tae Yang.


Kim Yo Han menoleh dan menatap wajah bocah laki-laki itu. Ia berpikir lama dan tidak berani menjawab.


"Mengapa? Apa daddy tidak mau kesini lagi?" Tanyanya penasaran.


"Daddy mau. Tapi entahlah. Apakah daddy bisa pergi kesini lagi bersamamu saat musim panas nanti?" Suara Kim Yo Han terdengar seperti berbisik.


Tae Yang menatapnya bingung.


"Nah nona Park sudah selesai. Daddy ganti pakaian dulu ya." Ujar Kim Yo Han sambil mengusap lembut poni Tae Yang.


Setelah Itu Tae Yang berpindah duduk ke dekat Ae Ri di depan televisi di tengah ruangan.


"Mom.." Bisiknya. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada mommy nya. Tetapi ia terdiam dan bingung sendiri.


"Ada apa?" Tanya Ae Ri. Tae Yang menggeleng.


"Tidak apa-apa. Tidak jadi." Jawabnya.


Park Ae Ri hanya menatapnya dengan heran.


Kim Yo Han keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Ia terlihat segar dalam sweeter berwarna biru laut dan celana jeans hitamnya.


"Tak bisakah kita pulang sekarang?" Tanya Ae Ri tiba-tiba.


Kim Yo Han dan Tae Yang otomatis serentak menoleh ke arah jendela. Tampak diluar sana masih hujan deras.


"Hujannya masih sangat deras. Aku tidak berani mengambil resiko. Jalanan pasti berbahaya jika hujan seperti ini." Jawab Kim Yo Han.


"Kita menginap disini saja. Ini seperti camping. Aku suka. Besok pagi baru kita pulang. Pasti besok sudah tidak hujan lagi." Ujar Tae Yang bersemangat.


"Iya. Sebaiknya kita istirahat saja disini malam ini. Sangat berbahaya jika kita nekat pulang." Kim Yo Han mencoba memberi pengertian pada Ae Ri.


Ae Ri mendengus kesal.


"Nona Park jelek ya kalau cemberut seperti itu?" Tae Yang berbisik namun dengan suara yang masih jelas terdengar oleh Ae Ri.


Kim Yo Han mengangguk dan tertawa. Sedangkan Ae Ri melotot ke arah Tae Yang. Anak kecil itu semakin menempel pada Yo Han untuk mencari perlindungan.


"Kalian mau makan apa malam ini? Kita bisa pesan. Sebentar kita lihat menunya." Kim Yo Han mengambil selembar kertas yang ada di samping meja televisi.


"Lihatlah. Kau mau yang mana?" Tanya Yo Han sambil menyerahkan kertas itu pada Tae Yang.


"Aku mau ini. Daging!" Ujar Tae Yang.


"Bullgogi. Oke.. Berikan kertasnya pada nona Park."


"Aku apa saja terserah." Ae Ri cepat-cepat menjawab tanpa mau membaca menu itu.


Kim Yo Han memandanginya sebentar.


"Jjampong ya. Kau mau?" Tanya pria itu.


"Terserah." Jawab Ae Ri.


"Baiklah aku akan pesankan dulu." Kim Yo Han meraih telpon dan menghubungi bagian restoran guesshouse itu.


***


Hujan masih saja turun dengan derasnya saat mereka selesai menyantap makan malam mereka.


Tidak ada tanda-tanda akan segera reda. Bahkan menurut pelayan pengantar makanan tadi kemungkinan hujan masih akan turun sampai besok pagi.


Kim Yo Han menggelar kasur lipat untuk Tae Yang.


"Sini duduk disini biar hangat. Pakai selimutnya." Kim Yo Han menyelimuti Tae Yang yang sudah duduk diatas kasur.


Kim Yo Han mengambilkan lipatan kasur dan selimut untuk Ae Ri dan menyerahkannya pada wanita itu.


Karena Ae Ri diam saja dan tidak menerimanya jadi Kim Yo Han menata kasur Ae Ri disamping kanan Tae Yang. Lalu ia sendiri memasang kasur untuknya disamping kiri Tae Yang. Lalu duduk diatas kasurnya sendiri di sebelah Tae Yang.


"Kau kedinginan?" Tanya Kim Yo Han pada Tae Yang.


"Tidak. Ini hangat sekali."


"Daddy ulang tahunnya kapan?" Tanya Tae Yang tiba-tiba.


"Daddy tidak tahu. Dan daddy tidak pernah merayakannya." Jawab Yo Han sambil tertawa.


"Serius?!"


"Ya. Serius!"


"Tapi dady kan punya KTP. Disana kan ada ulang tahunnya. Mana? Tae Yang mau melihatnya."


"O.. Itu daddy dulu mengarang. Jadi asal saja menyebutkannya."


"Tidak apa-apa. Tanggal itu saja, yang ada di KTP daddy. Tanggal berapa?" Ujar Tae Yang memaksa.


Kim Yo Han mengerenyitkan dahinya. dahinya. Ia tertawa lalu meraih tas ranselnya dan mengeluarkan dompetnya.


"Nah lihatlah." Pria itu menyerahkan KTPnya pada Tae Yang.


"31 Desember." Tae Yang membacanya dengan kuat.


"Kenapa daddy dulu menyebutkan tanggal itu?" Tanya bocah itu.


Yo Han terdiam beberapa detik.


"Karena itu malam tahun baru. Malam yang paling daddy ingat. Saat kembang api menyala dimana-mana, saat itulah mama daddy meninggal dunia."


***