
Ae Ri mendorong dada pria itu dengan pelan. Perlahan Kim Yo Han membuka matanya. Ia kembali menatap wajah Ae Ri yang sangat dekat didepannya.
Ae Ri cepat-cepat menunduk. Pandangannya kearah tangan kanan Kim Yo Han yang masih menggenggam hangat kedua tangannya.
Selama beberapa saat mereka berdua menatap ke luar jendela dengan pikiran masing-masing beterbangan entah kemana.
'Apakah ia teringat pada mendiang mamanya? Bukankah mamanya meninggal saat malam tahun baru seperti ini.' Ae Ri melirik menatap wajah sendu Kim Yo Han yang duduk di sampingnya.
'Seandainya aku bisa selamanya hidup bersamanya seperti ini. Bisa menggenggam tangannya seperti ini.' Desah Kim Yo Han dalam hati. Ia menunduk melihat jemari Ae Ri dalam genggamannya.
Ae Ri cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah jendela lagi. Ia takut pria itu tahu ia menatapnya.
"Apa impianmu di tahun yang baru besok?" Tanya Kim Yo Han. Ae Ri terkejut lagi mendengar suara berat pria itu.
"Aku? E.." Ae Ri berdiam dan berpikir sejenak karena tiba-tiba ia kehilangan akal. Ia melirik sebentar ke arah Kim Yo Han yang memandanginya.
"Tentu saja aku ingin lebih sukses dari tahun kemarin. Aku ingin Tae Yang merasa lebih bahagia. Dan.. Tentu saja aku ingin segera menikah." Jawabnya. Ae Ri berusaha merubah suaranya agar terlihat ceria.
Kim Yo Han diam. Tidak berkata apapun. Kini ia kembali menatap jauh ke luar jendela. Diam-diam Ae Ri melirik menunggu pria itu berkomentar. Sejujurnya ia ingin mendengar kembali pria itu mengatakan menginginkan dia dan menyuruhnya meninggalkan Jae Hyun seperti yang pernah Kim Yo Han katakan dulu. Tapi nampaknya pria itu hanya terdiam.
"Kapan kau akan pergi?" Kini Ae Ri yang bertanya. Ia tidak menyadari bahwa suaranya terdengar sedih.
Kim Yo Han masih terus diam. Tampaknya ia tidak mendengar pertanyaan Ae Ri karena pikirannya sedang melayang membayangkan wanita yang sangat ia cintai berdiri cantik dengan gaun pengantin disamping pria lain. Tanpa ia sadari, Kim Yo Han menggenggam tangan Ae Ri dengan lebih erat seakan ia enggan melepaskan wanitanya untuk pria lain.
Namun disisi lain ia tidak dapat mencegah wanita itu untuk menikah dengan Jae Hyun. Karena ia tidak bisa menjanjikan bahwa dirinya akan selalu ada untuk Ae Ri. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya besok. Hatinya sangat sakit memikirkan itu.
'Dulu aku kehilangan mamaku saat malam tahun baru seperti ini. Kinipun aku harus melepaskan wanita yang sangat kucintai dimalam seperti ini.' Batinnya perih.
Beberapa saat kemudian kembang api mulai bermunculan di langit malam di kota Seoul. Percikan-percikan indah berwarna-warni menghiasi angkasa.
Ae Ri melepaskan rangannya dari genggaman Kim Yo Han. Ia melihat jam di ponselnya.
"Jam 12." Bisik Ae Ri.
Ae Ri berdiri lebih mendekat ke jendela. Matanya berbinar melihat keindahan langit malam itu.
Kim Yo Han menyusul berdiri disamping Ae Ri.
"Cantik kan?!" Tanya Ae Ri.
Kim Yo Han mengangguk sambil menatap wanita disampingnya.
"Ya. Cantik sekali." Bisiknya.
Ae Ri tidak menyadari bahwa yang dipuji oleh pria itu adalah kecantikannya bukan pesta kembang api itu.
Ae Ri menoleh pada pria disampingnya. Dan ia terkejut saat mendapati pria itu sedang menatapnya dengan intens.
"Selamat tahun baru." Ucap pria disampingnya itu.
"Ya. Selamat tahun baru." Jawab Ae Ri sedikit terbata karena gugup melihat senyum merekah dibibir pria itu.
Selama beberapa detik mereka berhadapan dan saling pandang. Perlahan Kim Yo Han menyingkapkan rambut yang menutupi sebagian wajah Ae Ri ke belakang telinganya. Kemudian tangannya berhenti memegang tengkuk wanita itu.
Kim Yo Han membungkuk dan mencium bibir Ae Ri. Awalnya ia hanya sedikit mengecupnya. Namun kemudian ia membuka bibirnya dan merengkuh bibir wanita itu seakan tidak akan ia lepaskan lagi.
Ae Ri yang tadinya terbelalak karena terkejut perlahan memejamkan kedua matanya dan menikmati permainan hangat bibir Kim Yo Han. Ia bahkan membalas ciuman pria itu.
Mereka sudah tidak lagi memperdulikan suara-suara dentuman dan percikan-percikan indah kembang api di luar sana. Bagi kedua manusia itu suara dentuman jantung mereka lebih hebat dan percikan-percikan gairah mereka lebih cantik daripada kembang api itu.
Kim Yo Han terus mendorong tubuh Ae Ri dan membawanya menuju ke kamar Ae Ri di lantai bawah. Mereka berjalan tanpa melepaskan ciuman mereka seakan tidak rela untuk berpisah.
Dengan susah payah akhirnya mereka sampai di lantai bawah. Kim Yo Han cepat-cepat menggendong tubuh Ae Ri dan membawanya masuk ke dalam kamar Ae Ri.
Perlahan ia membaringkan tubuh wanita itu di atas ranjang. Ae Ri menatapnya. Memandangi pria yang saat ini berada diatas tubuhnya.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Bisik Kim Yo Han.
Ae Ri membuka bibirnya untuk menjawab. Namun Kim Yo Han kembali menerkam bibirnya dan melum*tnya dengan penuh gairah.
Ae Ri menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir pria itu pada tubuhnya. Bibirnya tidak dapat mengontrol erangan-erangan saat merasakan rasa geli yang enak hasil perbuatan Kim Yo Han pada dadanya.
Kim Yo Han perlahan membuka seluruh pakaiannya dan juga pakaian Ae Ri.
Ae Ri memeluk erat tubuh pria di atasnya itu dan menggigit dadanya saat sebuah sensasi nikmat yang tidak terkira ia rasakan bersamaan dengan erangan Kim Yo Han yang juga mencapai kepuasannya.
Kim Yo Han dan Ae Ri berbaring berdampingan dengan keringat dan nafas yang terengah-engah.
Sesaat kemudian Kim Yo Han mengambil selimut dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Ia membawa tuhun Ae Ri agar lebih mendekat padanya dan memeluk Ae Ri dengan erat.
Perlahan ia membelai rambut wanita itu dari kepala hingga punggungnya. Sebuah senyuman terukir di bibir Ae Ri. Ia merasa sangat nyaman di dalam dekapan pria itu. Rasanya ia sangat ingin mengatakan pada pria itu agar selalu berada di sisinya dan memeluknya seperti ini.
Ae Ri memejamkan kedua matanya dan perlahan ia masuk ke alam mimpi yang indah. Ia melihat Kim Yo Han berpakaian putih dan sedang berada di sebuah padang rumput hijau yang sangat luas. Pria itu tersenyum sangat tampan di mimpinya sambil melambaikan tangan kearahnya.
Ingin sekali ia mendekati dan memeluk Kim Yo Han namun belum sampai ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba wanita itu terbangun dari tidurnya.
Ae Ri melirik ke arah jendela kamarnya. Cahaya matahari sudah terang masuk ke kamarnya.
Ae Ri bangun dari tidurnya dan duduk sambil melihat di sisi kosong tempat tidurnya. Lalu pandangannya ke arah pintu.
Cepat-cepat ia bangun dan keluar dari kamarnya.
Saat ia berjalan melewati kamar Tae Yang, Ae Ri mendengar suara tangisan putranya itu. Ia cepat-cepat masuk kedalam kamar Tae Yang.
Tampak Tae Yang duduk di tepi tempat tidur dan menangis tersedu-sedu. Ae Ri memeluk erat putranya.
"Ada apa Tae Yang. Mengapa kau menangis? Apakah ada yang sakit?" Tanya Ae Ri cemas.
Tae Yang menggeleng. Lalu bocah itu menyerahkan selembar kertas pada mommynya.
Dengan ragu Ae Ri menerima kertas itu.
"Apa ini?" Tanyanya sambil mulai membaca tulisan di kertas itu.
'Tae Yang putraku, kesayangan dan kebanggaanku. Maafkan daddy karena harus pergi meninggalkanmu lagi. Tapi percayalah, walaupun kau tak bisa melihat daddy, namun daddy selalu menjaga dan menyayangimu. Hiduplah dengan baik dan bahagia. Selamat tinggal.'
Ae Ri mengerutkan dahinya. Ia membaca ulang tulisan itu. Sementara Tae Yang menangis semakin keras.
Ae Ri hanya diam terpaku. Tatapannya kosong.
"Mommy.. Ayo kita cari daddy. Pasti dia belum pergi jauh. Ayo kita cari mom.." Tae Yang terus merengek sambil menggoyang-goyang lengan Ae Ri.
"Tae Yang!! Mommy tidak suka kau bersikap seperti itu! Dengar mommy! Lupakan orang itu. Dan jangan lagi kau menyebut-nyebut dia di depan mommy. Bukankah dulu mommy pernah bilang kalau dia itu adalah orang jahat. Sekarang kau mengerti maksud mommy kan?!!" Tanpa sadar Ae Ri membentak anaknya dengan emosi. Kemarahannya meluap karena merasa tertipu lagi oleh laki-laki itu.
Beberapa hari ini ia memiliki harapan yang besar pada pria itu. Ia berharap dapat mewujudkan keinginan putranya untuk memiliki keluarga yang utuh bersamanya. Namun disaat harapan itu telah membesar, justru pria itu meninggalkannya lagi.
'Laki-laki egois! Tidak dipikirkannyakah perasaan Tae Yang? Perasaanku?' Batinnya. Kini air mata Ae Ri telah membanjiri pipinya. Ia memeluk tubuh putranya dengan sangat erat.
***