Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tiga Puluh Tujuh



Tae Yang tampak terbelalak keheranan.


"Daddy sudah tidak ingat hari ulang tahun daddy yang sebenarnya?"


"Ya."


"Tapi mengapa mengubah hari kematian mama daddy menjadi hari ulang tahun daddy? Bukankah itu menjadi hari yang paling menyedihkan. Sedangkan hari ulang tahun seharusnya adalah hari yang paling membahagiakan." Bocah kecil itu dengan kepolosannya mencoba protes.


Kim Yo Han tertawa dan mengacak poni Tae Yang dengan gemas.


"Apakah daddy sungguh-sungguh tidak pernah merayakan ulang tahun?"


"Ya."


"Dari kecil sampai sekarang ini?!" Suara Tae Yang meninggi seakan tidak percaya.


Kim Yo Han mengangguk.


"Jadi.. Jika sekarang Tae Yang bisa merayakan ulang tahun setiap tahun bersama mommy, Tae Yang harus bersyukur." Ujar Kim Yo Han.


"Ya. Aku bersyukur masih memiliki mommy. Kasian daddy, tidak memiliki mama dan papa." Tae Yang memeluk Kim Yo Han.


"Terimakasih sudah menghibur daddy." Kim Yo Han tersenyum dan membelai rambut Tae Yang.


Ae Ri berusaha tidak terpengaruh pada perbincangan mereka berdua. Matanya terus saja ia fokuskan ke televisi.


Namun tetap saja perasaannya kini tercampur aduk. Segala rasa ada di kepala dan hatinya.


Ia membayangkan seorang anak kecil harus hidup sendirian. Bahkan sampai dewasa ini pun pria itu selalu sendiri.


"Nanti saat malam tahun baru kita menginap bersama lagi ya. Aku akan memberi hadiah ulang tahun untuk daddy. Aku akan menabung dari sekarang." Seru Tae Yang.


"Saat malam tahun baru sebaiknya Tae Yang menghabiskan waktu bersama keluarga. Bersama mommy. Jika Tae Yang pergi, mommy akan sedih." Jawab Kim Yo Han.


"Tapi berarti daddy akan sendirian?"


"Daddy sudah biasa sendirian. Dan nanti pasti daddy sudah lupa lagi bahwa itu hari ulang tahun daddy. Jangan khawatir." Ujar Yo Han sambil tertawa.


"Apakah daddy pernah menangis?" Tanya Tae Yang lagi-lagi tidak disangka-sangka.


"Tentu saja. Tapi dulu waktu daddy masih kecil."


"Sekarang?" Tanya bocah itu lagi.


Kim Yo Han tertawa.


"Pernah. Saat daddy merasa sangat bersalah pada seseorang dan orang itu tidak mau memaafkan daddy."


Tae Yang baru saja akan membuka mulutnya, Ae Ri sudah memotongnya.


"Sudah mengobrolnya Tae Yang. Tidurlah. Ini sudah malam."


Tae Yang meringis pada Kim Yo Han.


"Iya, ini sudah malam ayo kita tidur." Kim Yo Han membaringkan Tae Yang dan menyelimutinya. Lalu ia sendiri berbaring disamping anak itu.


"Daddy punya dongeng?" Tanya Tae Yang.


Kim Yo Han terdiam beberapa detik.


"Ya ada."


"Ceritakan padaku." Ujar Tae Yang penuh harap.


Kim Yo Han merenung lagi beberapa waktu.


"Cepatlah dad.." Tae Yang sudah tidak sabar.


"Mmm.. Oke. Ceritanya tentang Monster Jahat dan Putri Cantik."


"Beauty and the beast?"


"Bukan.."


"Baiklah, bagaimana ceritanya?"


"Ada Monster yang tinggal di sebuah kastil. Ia sangat menyukai seorang putri yang sangat cantik dari kerajaan lain. Lalu ia menculik putri itu dan dibawa ke kastilnya. Monster itu sangat jahat. Ia suka memaksa putri itu untuk menemaninya, padahal putri itu sangat membencinya karena monster itu juga merampas istana putri itu.


Suatu ketika si Monster ditangkap dan dimasukkan ke penjara karena kejahatannya. Ia sangat sedih karena harus berpisah dari putri yang cantik itu. Tapi di sisi lain putri itu senang karena bisa terbebas dari Monster jahat itu dan bisa keluar dari kastilnya.


Sang putri pergi jauh. Ia tidak kembali ke istananya karena istananya sudah bukan miliknya lagi.


Setelah si monster bisa keluar dari penjara, ia mencari putri cantik itu untuk meminta maaf. Namun ia tidak dapat menemukannya.


Hingga pada suatu hari, setelah beberapa tahun kemudian, monster jahat melihat sang putri. Namun putri itu sudah bukan putri lagi. Ia sudah menjelma menjadi seorang ratu yang sangat cantik.


Si monster sangat senang sekali. Ia mencoba mendekati ratu itu. Tetapi ratu itu tidak mau mengenalnya. Ia masih sangat membenci monster itu. Si monster berusaha untuk menjadi baik. Tetapi tidak ada seorang pun yang mempercayainya. Termasuk ratu yang sangat ia cintai itu.


Suatu hari orang-orang yang tidak menyukainya menembak si monster tepat di kepalanya. Ia jatuh dan mati dengan kepala yang terluka parah.


Namun sebelum ia mati, monster itu sempat melihat sang ratu tersenyum. Monster pun ikut tersenyum. Baru kali ini ia melihat putri cantik atau ratu itu tersenyum ke arahnya.


Akhirnya sang ratu bisa berbahagia karena sekarang ia terbebas dari monster yang sangat dibencinya itu. Ia pun bisa mendapatkan istananya lagi. Tamat.."


Kim Yo Han menyelesaikan dongeng ciptaannya itu.


Selama beberapa lama Tae Yang terdiam. Sampai Kim Yo Han mengira ia tertidur.


"Cerita apa itu. Jelek sekali. Aku tidak suka." Ujar Tae Yang tiba-tiba.


"Kenapa tidak suka."


"Ratu nya sangat jahat. Lagi pula seharusnya si monster berubah menjadi pangeran tampan dan mereka bahagia selamanya."


"Tidak semua cerita berakhir bahagia. Si monster jahat itu memang harus mendapat hukuman atas kejahatannya. Ia tidak pantas berbahagia."


"Tidak. Aku tidak suka cerita itu. Jangan lagi menceritakan cerita itu padaku." Tae Yang berbalik memunggungi Kim Yo Han.


Pria itu tertawa kecil sambil membenahi selimut Tae Yang.


Kim Yo Han merebahkan diri dan kedua matanya menatap langit-langit kamar itu.


'Ya. Aku sedang bersiap menerima hukumanku selanjutnya. Tidak terlalu lama lagi.' Bisiknya dalam hati.


***


Tengah malam Kim Yo Han terbangun. Kepalanya terasa sangat sakit. Entah sudah yang keberpa kalinya dalam minggu ini.


Ia sedikit terkejut saat melihat Ae Ri ternyata tidur di sampingnya, sedangkan Tae Yang sudah berpindah tempat di kasur Ae Ri semula.


Ia mendudukkan diri di kloset dan cepat-cepat ia meminum pil dari dalam sebuah botol kecil. Selama beberapa menit ia berjuang menahan rasa sakit di kepalanya. Ia juga berusaha menutup erat mulutnya agar tidak bersuara.


Keringat dingin membasahi tubuhnya. Namun ia lega karena sakit itu akhirnya hilang juga dari kepalanya.


Perlahan ia bangun dan menuju ke wastafel untuk mencuci wajahnya yang terlihat pucat. Bajunya sudah basah oleh keringat.


Kim Yo Han kembali membaringkan diri di kasurnya. Ia memiringkan tubuhnya agar dapat leluasa memandangi wajah cantik yang selalu dirindukannya itu. Tangannya bergerak sedikit mendekati wajah Ae Ri. Ia sangat ingin membelainya. Namun ia berhenti karena takut wanita itu terganggu tidurnya.


Ia memejamkan matanya sejenak karena kelelahan berperang melawan rasa sakit tadi.


'Jika boleh. Aku ingin membuatnya tertawa bahagia sebelum aku pergi nanti.' Ujar Kim Yo Han dalam hati.


Perlahan ia membuka kedua matanya. Jantungnya berdebar keras saat mendapati kedua bola mata indah itu sedang menatapnya.


Selama beberapa saat mereka saling bertatapan namun pikiran mereka tenggelam dalam alamnya masing-masing.


Kim Yo Han mengulurkan tangannya dan dengan lembut ia menyibakkan rambut Ae Ri yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Ae Ri sadar ia terlalu dekat dengan pria itu. Namun sebagian dari dirinya merasakan kenyamanan saat pria itu membelai rambutnya. Ia tahu pria itu pasti akan bertindak lebih jauh jika ia tidak cepat-cepat menjauh. Namun ia enggan bergerak.


Kim Yo Han memyadari bahwa wanita itu tidak bersikap seperti biasanya. Ada rasa lega di dalam hatinya. Perlahan dengan jempolnya ia membelai bibir wanita itu.


'Sial. Mengapa aku mengharapkan ia menciumku!' Ae Ri mengomel dalam hati. Tak dapat dipungkiri ia menikmati kecupan lembut pria itu saat terakhir kali.


Seolah menyadari keinginan Ae Ri, Kim Yo Han mendekat dan mencium bibir wanita itu. Ia memeluk erat tubuh Ae Ri seakan tidak mau berpisah lagi.


Ae Ri menikmati sentuhan lembut bibir Kim Yo Han. Ia sangat sadar tidak ada niat jahat dari pria itu. Tidak ada emosi yang tak terkontrol seperti dulu yang pernah ia alami. Pria itu kini sudah berubah.


Kim Yo Han melepaskan ciumannya yang cukup lama. Ia kemudian memeluk Ae Ri dengan hangat.


"Aku mencintaimu." Bisiknya lembut.


Kim Yo Han sangat tahu jika wanita itu tidak akan menjawabnya. Namun ia harus mengatakannya. Ia takut jika tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengatakan kalimat yang terlalu lama dipendamnya itu.


Lalu Kim Yo Han menyandarkan kepala wanita itu ke dadanya dan membelai rambut panjang Ae Ri dengan lembut.


Perlahan Ae Ri mendorong tubuh Kim Yo Han. Ia tidak ingin terlalu lama tenggelam dalam hayalan semu bersama pria itu.


Dengan enggan Kim Yo Han melepaskan pelukannya.


Ae Ri bangun dan menggeret kasurnya ke sebelah Tae Yang. Lalu berbaring disana dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia pura-pura tidur kembali, meski pikirannya melayang-layang kembali mengutuki dirinya sendiri.


Kim Yo Han hanya bisa menatapnya sendu. Rasa bahagia sesaat itu telah membuatnya terbang tinggi. Ia bahkan berharap wanita itu telah membuka hati untuknya. Namun ternyata ia keliru lagi. Masih tidak ada kesempatan untuknya.


***


Mobil silver Kim Yo Han perlahan meninggalkan kota Gangneung. Langit berwarna abu-abu dan matahari bersinar malu-malu pagi itu, meski hujan telah berhenti.


Di dalam mobil Tae Yang menyanyi sebuah lagu taman kanak-kanak dengan riang.


You are my sunshine, my only sunshine


(Kaulah sinar mentariku, satu-satunya)


You make me happy when skies are gray


(Kau membahagiakanku di saat langit kelabu)


You'll never know dear how much I love you


(Kau takkan pernah tahu, sayang, betapa  besar cintaku padamu)


Please don't take my sunshine away


(Kumohon jangan ambil sinar mentariku)


"Lagu yang sangat bagus. Kau mau mengajari daddy lagu itu?" Ujar Kim Yo Han.


"Oke, ikuti aku dad.."


Tae Yang mengulang-ulang lagunya terkadang Kim Yo Han ikut bernyanyi bersamanya. Jika Kim Yo Han lupa lagunya mereka tertawa bersama.


Kim Yo Han sesekali melirik Ae Ri yang duduk diam di belakang tanpa ekspresi apapun. Wanita itu sudah mengenakan kacamata hitamnya kembali.


Dalam hati Ae Ri tidak rela pria itu bersenang-senang dengan anaknya. Tak akan lagi ia memberi kesempatan untuknya.


'Aku mencintaimu.' Tiba-tiba Ae Ri teringat ucapan pria itu tadi malam.


'Cinta? Tidak ada cinta untukmu!' Ae Ri tersenyum sinis sambil melirik ke arah Yo Han.


Kim Yo Han yang sedang tertawa menangkap senyum sinis di bibir Ae Ri.


Seketika itu merubah perasaannya. Ia terdiam.


Perlahan mobil Yo Han memasuki Seoul.


"Bagaimana jika kita makan siang dulu baru kuantar kalian?" Tanya Kim Yo Han.


Tae Yang baru saja ingin meniyakan namun Ae Ri sudah terlebih dahulu menjawab.


"Tidak usah. Turunkan saja kami, kami akan pulang sendiri."


"Baiklah. Kuantar ke rumahmu ya."


Mobil Kim Yo Han memasuki area rumah Ae Ri. Ia menghentikan mobilnya di depan rumah berpagar hijau muda itu.


Mereka keluar dari mobil termasuk Kim Yo Han.


"Terimakasih paman daddy. Aku senang sekali. Semoga kita bisa pergi menginap lagi kapan-kapan ya." Tae Yang membungkukkan badannya.


"Tae Yang mommy mu bilang ini yang terakhir kali. Tidak ada lain kali." Potong Ae Ri.


Kim Yo Han berlutut di depan Tae Yang supaya ia sejajar dengan bocah itu.


"Terimakasih juga karena Tae Yang sudah menghibur paman daddy. Tae Yang selalu menurut sama mommy ya. Jangan pernah membuatnya menangis. Oke?" Kim Yo Han membelai kepala Tae Yang. Ia memeluk tubuh kecil itu dengan hangat.


"Sampai jumpa paman daddy!" Seru Tae Yang sambil melambaikan tangannya.


Kim Yo Han membalas lambaiannya sambil tersenyum sampai bocah itu dan Ae Ri masuk ke dalam pintu gerbang rumah.


Meski mereka berdua telah masuk Kim Yo Han masih memandangi gerbang rumah itu. Kembali ia merasakan sebuah lobang besar yang kosong didalam hatinya.


Hampa. Itu yang ia rasakan saat ini.


Perlahan ia melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.


***