
"Sekarang ceritakan padaku apa saja tugasmu. Apa saja yang kau lakukan sehari-hari." Ujarnya.
Ae Ri menurut dan mulai menceritakan secara detail apa saja tugasnya.
Kim Yo Han mencatat garis besarnya di kertas.
"Lihat ini! Tugasmu terlalu banyak. Coba perhatikan lagi." Yo Han menunjukkan catatannya pada Ae Ri.
"Dari semuanya ini, mana yang bisa diselesaikan oleh sekretarismu. Dan mana yang bisa diselesaikan oleh asistenmu. Beri tanda."
Yo Han menyodorkan kertas itu pada Ae Ri.
"Tulisanmu bagus." Spontan Ae Ri mengomentari tulisan Kim Yo Han yang tampak rapi meski ia menulis dengan cepat.
Kim Yo Han menatapnya dengan mulut menganga, heran dengan tanggapan wanita itu.
"Maaf." Bisik Ae Ri lalu cepat-cepat membaca tulisan di kertas itu.
Dengan susah payah Ae Ri menandai tugas yang bisa diselesaikan asisten dan sekretarisnya.
Ia menyerahkan kembali kertas itu pada Yo Han.
"Hanya itu? Tandai lagi." Yo Han tidak mau menerima kertas itu.
"Aku tidak yakin apakah mereka bisa memutuskan dengan benar nantinya."
"Menjadi perfeksionis itu sangat melelahkan. Percayalah padaku. Karena aku pernah mengalaminya sendiri."
"Bukan perfeksionis. Tapi ini menyangkut kepuasan konsumenku. Apalagi kami baru disini."
"Kau harus belajar percaya pada mereka. Kau memiliki tim disainer kan?"
Ae Ri mengangguk.
"Untuk apa kau mempekerjakan mereka kalau kau masih sibuk mendisain."
"Tapi aku disainer utamanya."
"Ya memang. Dengar baik-baik, dan perhatikan.."
Ae Ri memperhatikan baik-baik setiap ucapan pria itu. Beberapa ia terima. Namun ada saatnya juga ia ingin mempertahankan pendapatnya.
Tak terasa sampai jam setengah tujuh malam mereka masih asik berbincang.
"Sudah mengerti kan apa yang kumaksud?"
Ae Ri mengangguk.
"Buatlah deskripsi tugas untuk bawahanmu. Mulai dari sekretaris, asisten, dan karyawanmu yang lain. Secara garis besarnya saja dulu sesuai apa yang kita bicarakan tadi. Kutunggu."
Ae Ri mengangguk dan mengambil beberapa kertas lalu mulai sibuk menulis. Ia memilih untuk duduk dilantai yang dilapisi karpet bulu di bawah sofa.
Kim Yo Han menggunakan kesempatan itu untuk membaringkan diri di sofa. Dan sesaat kemudian ia sudah terlelap tanpa disadari Ae Ri.
Hampir satu jam Ae Ri berkutat dengan kertas dan bolpennya. Saat selesai ia terkejut mendapati Kim Yo Han yang sudah tertidur nyenyak di sofanya.
Nafas pria itu tampak teratur. Ae Ri tidak tega untuk membangunkannya. Ia menggunakan lengannya sebagai bantal di meja dan matanya terus menatap wajah Kim Yo Han di seberangnya.
Wajah tampan yang dulu memikat hatinya sekaligus yang dibencinya.
Beberapa saat kemudian Ae Ri sudah mulai bosan. Ia merobek sudut kertas dan membuat gumpalan kecil-kecil lalu satu persatu ia lemparkan ke wajah Yo Han.
Ae Ri tertawa saat melihat reaksi pria itu saat lemparannya mengenai wajahnya.
Kim Yo Han mengusap wajahnya karena terganggu. Ia membuka mata dan terkejut saat Ae Ri masih saja melemparinya dengan gumpalan kertas kecil-kecil.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanyanya sambil bangun dari sofa.
"Kalau mau tidur, pulang sana!" Seru Ae Ri.
"Kau memang sangat kejam."
"Aku sudah selesai. Lalu apa lagi?" Ujar Ae Ri sambil menyerahkan tulisannya.
Kim Yo Han menerimanya dan membaca sekilas.
"Oke.. Ini sudah cukup bagus. Mana strukturmu?"
Ae Ri berdiri dan berjalan ke mejanya mengambil sebuah map dari laci meja.
"Kurasa kau perlu merombak beberapa. Ada yg perlu ditambah dan ada yang tampaknya tidak perlu."
"Jika harus memecat seseorang aku tidak mau."
"Tidak perlu. Begini saja.."
Ae Ri kembali mendengarkan penjelasan Kim Yo Han. Dalam hatinya ia mengakui kecerdasan manajerial pria itu.
"Mengerti?"
Ae Ri mengangguk.
"Kerjakan."
"Oke!" Seru Ae Ri bersemangat.
Kim Yo Han berdiri dan berjalan ke arah jendela besar di belakang meja kerja Ae Ri. Ia memandang langit di luar yang sudah menghitam. Kaca gedung-gedung tampak bersinar terang oleh lampu.
Ae Ri hanya melihatnya sekilas lalu kembali sibuk dengan kertasnya.
Kim Yo Han perlahan duduk di kursi Ae Ri. Ia memandangi foto Ae Ri yang sedang memeluk Tae Yang.
"Tampaknya kau sangat dekat dengan Tae Yang." Ujar Pria itu mengagetkan Ae Ri.
Ae Ri menoleh dan segera ia menyadari arah pandangan Kim Yo Han yang sedang menatap fotonya dan Tae Yang di meja.
'Astaga! Bagaimana bisa aku lupa menyimpannya!! Dasar bodoh!' Ae Ri mengumpat dirinya sendiri.
"Beberapa hari yang lalu ia main kesini dan memberikannya padaku. Jadi langsung saja ku letakkan di sana." Ae Ri berusaha menjawab dengan santai. Ia puru-pura sibuk menulis padahal jantungnya berdegup kencang.
Kim Yo Han hanya diam. Kemudian ia meraih gelas Ae Ri dan memeriksa isinya. Ada air putih didalamnya tinggal setengah.
Ae Ri terbelalak saat menoleh dan mendapati Kim Yo Han sedang minum dari gelasnya.
"Mengapa kau minum itu?" Seru Ae Ri.
"Kenapa? Ada racunnya?"
"Tidak. Itu sudah dari tadi.."
"Tidak apa-apa.. Aku haus."
Ae Ri menoleh ke meja didepannya dan sadar bahwa ia memang tidak menyediakan minum untuk pria itu.
"Maaf aku lupa. Mengapa kau tidak meminta minum?"
"Aku tidak mau mengganggumu. Kau tampak sangat sibuk."
Kim Yo Han tertawa.
"Sudah tidak apa-apa. Lanjutkan saja lagi pekerjaanmu."
Ae Ri menatap Kim Yo Han. Ia baru menyadari pria itu terlihat sangat lelah.
"Kau sudah makan?" Tanya Ae Ri.
Kim Yo Han tidak langsung menjawab.
"Sudah. Tadi pagi di Tokyo." Jawabnya pelan.
Ae Ri membelalakkan kedua matanya.
"Kau baru saja kembali dari Jepang?"
"Iya, setelah pertemuan di Tokyo jam 10 aku langsung pulang. Sampai di Korea langsung kesini."
'Dan selama itu ia menahan haus dan lapar. Kau memang sangat kejam Ae Ri.' Batin Ae Ri sedikit merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa menahan lapar. Jika aku belum bilang 'aku lapar' berarti aku masih bisa menahannya."
Ae Ri berdiri dari duduknya.
"Kau mau kopi? Atau teh?"
"Apa saja boleh."
"Tunggu di sini sebentar, akan kubuatkan."
Ae Ri berjalan ke arah pintu. Cepat-cepat Kim Yo Han menyusulnya.
"Mau apa?" Tanya Ae Ri terkejut.
"Ikut. Aku tidak suka sendirian." Jawab pria itu.
Sampai di lantai satu butik masih buka dan para pramuniaga masih melayani beberapa orang pengunjung.
Ae Ri tersenyum pada karyawannya. Sebenarnya ia risih dengan tatapan mereka saat melihatnya keluar dengan pria yang disangka pegawainya kekasih itu.
Kim Yo Han mengekor dibelakang AeRi yang berjalan cepat menuju pantry yang sengaja dibuat seperti coffee shop untuk karyawannya itu.
Saat memasuki pantry ada dua orang wanita muda yang tampaknya sedang menghabiskan jam istirahatnya dengan minum disana.
Kedua gadis itu segera berdiri dan cepat-cepat ingin keluar ruangan saat melihat bos mereka datang.
"Jangan. Tetaplah disana. Aku hanya sebentar. Kalian sedang jam istirahat kan?"
"Iya CEO Park." Jawab mereka kompak.
Kim Yo Han tersenyum kepada mereka.
"Aku mau membuat kopi. Kau mau minum apa?" Tanya Ae Ri.
"Kopi juga." Jawab Kim Yo Han sambil celingukan mencari-cari sesuatu.
"Apa yang kau cari?"
"Air mineral."
"Disana." Ae Ri menunjuk kulkas.
Kim Yo Han mengambil sebotol air.
"Wah.. Lengkap sekali isinya. Enak sekali kerja disini. Apakah ada lowongan untukku disini?" Tanya pria itu.
Kedua gadis itu tertawa kecil mendengarnya.
"Ada! Menjadi pesuruhku." Jawab Ae Ri.
"Kalau itu, saat ini pun aku sudah menjadi pesuruhmu. Kau suruh aku pergi, aku pergi. Kau suruh aku datang, aku pun segera datang. Benarkan?" Tanya Kim Yo Han.
Ae Ri hanya meliriknya kesal. Cepat-cepat ia memberikan cangkir kopi kepada pria itu dan segera keluar dari ruangan itu.
"Hei... Tunggu aku sayang!"
Kim Yo Han cepat-cepat mengejar Ae Ri yang berjalan ke arah lift.
Ae Ri menatap Kim Yo Han dengan kesal di dalam lift.
"Kenapa?" Tanya Kim Yo Han polos.
"Jangan pernah lagi kau ulangi memanggilku seperti itu di depan orang-orang! Aku sangat membencinya." Ujar Ae Ri dengan kesal.
"Jadi jika hanya kita berdua aku boleh memanggilmu 'sayang'?" Tanya Yo Han masih dengan tampang polosnya.
Ae Ri meliriknya. Ia semakin kesal. Saat pintu lift terbuka ia cepat-cepat meninggalkan pria itu dan masuk ke ruangannya. Pintu di belakangnya di tutup dengan keras sehingga mengagetkan Kim Yo Han yang membuntuti di belakangnya.
Kim Yo Han tertawa. Lalu dengan sikunya ia membuka pintu, karena kedua tangannya membawa botol air mineral dan kopi.
Ae Ri sudah duduk kembali di posisinya semula. Dan kembali berkutat dengan kertas dan bolpen.
Kim Yo Han meletakkan minumannya dan membuka sepatu serta jasnya. Kini ia hanya mengenakan kaos oblong hitam yang sedikit ketat.
Ae Ri meliriknya.
"Mengapa kau membuka baju?!" Serunya risih.
"Aku hanya melepas jasku. Seharian memakainya terasa sangat gerah." Jawab Kim Yo Han.
"Apakah saat ini kau sedang berpikir mesum?" Tanya Yo Han mencoba menggoda Ae Ri.
Ae Ri tidak menjawab. Ia memilih diam karena tidak ingin banyak berinteraksi dengan pria itu.
Kim Yo Han kini duduk bersila di samping Ae Ri. Sambil menikmati kopinya ia memperhatikan tulisan Ae Ri.
"Ini bisa kau gabungkan di sini. Jadi tidak perlu terlalu banyak orang."
Ae Ri diam dan berpikir sebentar.
"Oke.." Jawabnya lalu mencoret apa yang sudah ia tulis.
"Begini?"
"Ya. Itu akan lebih efektif."
Ae Ri kembali sibuk menulis dan mencoret-coret.
Toktoktok..
"Masuk!!" Perintah Ae Ri. Kim Yo Han terkejut. Ia sudah ingin protes karena ada yang mengganggu mereka.
Terlihat seorang karyawan Ae Ri datang dengan membawa kantong berisi beberapa boks.
"Pesanan anda sudah datang, Nona."
"Baik. Bawa sini."
"Terimakasih.."
"Sama-sama, Nona. Saya permisi."
"Oya, katakan pada semua, nanti jika saat jam tutup butik dan kami belum selesai, tutup saja dan kalian pulanglah. Kunci saja. Aku punya cadangannya."
"Baik, Nona." Gadis itu mengangguk dan segera keluar ruangan.
"Nah makanlah dulu. Aku tidak tahu kau suka apa tidak. Yang penting aku suka." Ujar Ae Ri sambil menyingkirkan kertas-kertas dari meja.
Kim Yo Han menoleh.
"Apakah kau ingin tahu makanan kesukaanku?" Tanyanya.
"Tidak!" Jawab Ae Ri cepat. Ia sudah sibuk membuka semua boks makanan itu.
"Kau pilih, mau makan yang mana."
Jajangmyeon, tteokbokki, telur gulung dan bibimbap terhidang di atas meja.
"Ini semua kesukaanmu?" Tanya Kim Yo Han sambil menatap Ae Ri dengan heran.
"Ya! Kenapa? Kau tidak suka? Jika tidak suka aku akan memakan semuanya." Jawab Ae Ri dengan santai.
Kim Yo Han mengambil jajangmyeon dan mulai mencampur mi dengan bumbunya yang berwarna hitam.
"Selama di Amerika aku sangat merindukan makanan-makanan ini." Ujar Ae Ri tiba-tiba sambil mengaduk bibimbab atau nasi campur.
Kim Yo Han mengangguk-angguk, mulai paham.
"Enak?" Tanya Yo Han saat Ae Ri menyuap nasinya.
Ae Ri mengangguk. Kim Yo Han mengambil sendok Ae Ri dan ikut mencicip nasi campur itu. Lalu mengangguk.
"Ini juga enak, cobalah." Kim Yo Han menyuapkan mi nya pada Ae Ri.
Ae Ri enggan menerimanya. Namun pria itu memaksa hingga akhirnya ia terpaksa membuka mukutnya.
"Enak kan?"
Ae Ri mengangguk.
Selama beberapa saat mereka asik menikmati makanan mereka dengan saling diam.
"Kenyang.. Terimakasih, CEO Park." Ujar Kim Yo Han sambil memberesi sampah makanan mereka.
"Buang dimana ini?"
"Di tempat sampah di sebelah lift saja." Ae Ri menunjuk pintu keluar. Kim Yo Han menurut.
"Lihat. Benarkan aku sudah menjadi pesuruhmu?" Kata Kim Yo Han saat kembali dari membuang sampah.
"Tidak ada yang menyuruhmu." Jawab Ae Ri dingin.
Kim Yo Han kembali duduk di samping Ae Ri.
Ia mengambil botol air mineral dan membuka botolnya.
"Minumlah." Ia memberikannya pada Ae Ri.
Ae Ri menoleh dan dengan sedikit ragu ia menerima dan meminumnya. Ia kelupaan tadi tidak mengambil untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai ia kembalikan pada Yo Han. Pria itu langsung meminumnya juga hingga hampir habis.
Entah mengapa jantung Ae Ri kini tiba-tiba berdebar. Pikirannya dipenuhi ingatan tentang hangatnya bibir pria itu. Sebagian dari dirinya sangat mendambakan hal itu.
***