
Toktoktok..
Suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" Jawab Ae Ri dan Kim Yo Han bersamaan.
Sesaat kemudian tampak kepala pak Ko mengintip dari balik pintu.
"Maaf tuan, nona.. Dokter Han dan dokter Moon sudah tiba." Ujar pria setengah baya itu.
"Baik pak Ko. Suruh mereka langsung kesini." Jawab Ae Ri.
Pak Ko mengangguk dan segera menghilang dibalik pintu.
"Pakai blazermu!" Kata Kim Yo Han pada Ae Ri. Ia tidak ingin tubuh Ae Ri terlalu terbuka dihadapan orang lain.
Ae Ri menuruti perintah pria itu. Tepat setelah ia memakai blazernya dokter Han dan dokter Moon datang.
Jika dokter Han adalah seorang pria berusia lima puluhan, berbeda dengan dokter Moon. Ia adalah seorang pria muda seusia dengan Kim Yo Han yang tampak energik sekaligus ramah. Selain mereka berdua ada juga seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh limaan yang merupakan asisten dokter Moon.
"Selamat datang dokter-dokter. Saya sudah menyiapkan ruang untuk terapi disebelah kamar ini. Kita bisa kesana sekarang." Ujar Ae Ri tanpa mau berbasa-basi.
Kim Yo Han terperangah memikirkan kapan wanita itu menyiapkan ruang terapi untuknya. Meskipun sebenarnya ia enggan untuk mengikuti terapi itu namun terpaksa ia menurut pada para dokter dan Ae Ri.
Kim Yo Han memandang sekeliling ruang disamping kamarnya yang kini sudah berubah fungsi sebagai tempat terapi. Beberapa peralatan terapi terdapat di dalam ruangan itu. Hingga hampir menyerupai ruang fisioterapi yang biasanya ada di rumah sakit.
"Tuan Kim, saya akan memeriksa kondisi anda terlebih dahulu sebelum terapi." Ujar dokter Moon dengan ramah. Ia lalu melakukan pemeriksaan pada pasiennya itu.
"Baiklah kita mulai sekarang karena kondisi anda sangat baik. Kita mulai pelan-pelan saja tuan. Anda rileks saja. Jangan memaksakan diri."
Dokter Moon memulai proses terapinya dibantu oleh dokter cantik itu. Sedangkan dokter Han dan Ae Ri hanya mengawasi mereka.
Kim Yo Han masih terlihat enggan untuk mengikuti instruksi dari dokter Moon. Hingga membuat Ae Ri berkali-kali melotot kearahnya. Wajah Kim Yo Han tampak sangat kesal melihatnya. Namun begitu Kim Yo Han tetap saja melirik ke arah Ae Ri.
"Dokter Moon. Jika pasien rutin terapi apakah dalam waktu dekat ini ia akan segera bisa pulih kembali? Maksudku ia bisa berjalan kembali seperti dulu?" Tanya Ae Ri.
Kim Yo Han memandangi dokter Moon karena dia sendiri penasaran dengan jawaban sang dokter.
"Tentu saja bisa. Tuan Kim masih sangat muda jadi pasti akan segera cepat pulih kembali. Jangan khawatir nyonya." Jawab dokter Moon dengan senyumnya.
"Baiklah kalau begitu silahkan anda atur waktu terapinya dok." Ujar Ae Ri.
"Saya akan mengirim asisten saya, dokter Park yang akan melanjutkan terapi. Sesekali saya akan datang juga kesini." Jawab dokter Moon sambil menunjuk dokter wanita yang tengah memapah lengan Kim Yo Han.
"Mohon maaf dokter Moon, saya tidak suka dengan asisten anda." Kata Ae Ri tiba-tiba dan mengejutkan seluruh isi ruangan itu.
"Dia terlalu cantik. Saya ingin dokter laki-laki saja yang menerapinya. Bisa kan?" Lanjut Ae Ri lagi dengan polos.
Dokter Han dan dokter Moon tertawa mendengar jawaban Ae Ri. Sedangkan dokter Park memandanginya dengan tatapan kebingungan.
Kim Yo Han mengerutkan dahinya.
"Aku senang dengan dokter Park. Biarkan dia yang menerapiku dokter." Ujarnya pada dokter Moon.
Ae Ri meliriknya dengan tatapan sadis.
"Baiklah! Terserah apa maunya dokter. Yang penting dalam waktu dekat ini dia bisa berjalan kembali." Ujar Ae Ri dengan menahan emosinya. Lalu setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan itu dengan kesal.
"Nyonya Park tampaknya cemburu, tuan Kim." Senyum dokter Han ingin menggoda Kim Yo Han.
Namun Kim Yo Han masih terfokus pada kata-kata Ae Ri bahwa ia hanya menginginkan Kim Yo Han segera sembuh
'Itu hanya agar ia bisa pergi bulan madu dengan tenang. Sama sekali ia tidak pernah mengkhawatirkan aku.' Batin Kim Yo Han dalam hati.
Membayangkan wanita yang ia cintai menikmati bulan madunya dengan pria lain membuat Kim Yo Han lemas dan hilang semangat.
"Kurasa cukup untuk hari ini terapinya dokter. Tubuhku sudah lelah." Ujar Kim Yo Han lirih.
"Tapi kita baru saja memulainya tuan Kim. Bukankah anda segera ingin bertemu dengan putra anda? Dokter Han menceritakan bahwa anda mempunyai putra yang sangat tampan." Dokter Moon mencoba membujuk pasiennya.
Kim Yo Han teringat pada Tae Yang. Sorot mata putranya yang polos dan bening serta deretan gigi susunya yang putih saat tertawa sungguh membuatnya sangat merindukan anak itu.
Perlahan Kim Yo Han mengangguk.
"Baiklah dokter, saya bisa beberapa sesi lagi." Ujarnya seakan mendapatkan suntikan kekuatan baru.
***
Sudah hampir satu bulan Kim Yo Han mulai rutin kembali menjalankan terapi. Namun pria itu tampak kurang bersemangat dalam setiap pertemuannya.
Baik dokter Moon maupun dokter Park terus memberikan motivasi. Pak Ko dan Lee Chan pun juga hanya bisa menghela nafas jika melihat Kim Yo Han yang tampak malas menjalankan setiap sesi latihan fisiknya.
Lee Chan melototkan kedua bola matanya pada pria setengah baya itu. Namun pak Ko tampak tak perduli padanya.
"Aku dan Lee Chan juga sudah mendapatkan undangannya. Kami berdua juga akan menghadiri pernikahan nyonya Park bulan depan. Apakah anda juga sudah mendapat undangannya? Wah nyonya Park sangat cantik di foto itu. Anda sudah melihatnya?" Sambung pak Ko. Ia seakan tidak menyadari sorot mata penuh emosi dari Kim Yo Han yang tertuju padanya. Ia tampak sibuk mengatur pot bunga di meja di seberang tempat tidur Kim Yo Han.
"Tuan Ko. Bisa tolong kau siapkan makanan? Tuan Kim tampak sudah lapar ini sudah jam makan siang." Ujar Lee Chan mencoba memotong pembicaraan tuan Ko.
Tuan Ko menoleh.
"O baiklah tuan Lee. Saya segera menyiapkan nya." Dengan sedikit tergopoh-gopoh pria tua itu keluar dari ruangan itu.
"Jangan kau hiraukan ocehan pak tua itu tuan. Ayo bersemangat lah supaya kau segera bisa berjalan lagi. Bukankan kau pasti merasa sangat jenuh berada di kamar ini terus. Sudah hampir 5 bulan kau tidak keluar rumah ini." Ujar Lee Chan berusaha memberi semangat bosnya yang sudah seperti kakaknya itu.
Pria tampan yang diajak bicara hanya diam. Larut dalam perenungannya. Dia mbayangkan senyum bahagia Ae Ri namun bukan bersamanya melainkan dengan pria lain.
"Baiklah jika dia memang bahagia bersama pria itu, aku akan merelakan nya." Bisiknya lirih.
"Ya tuan? Aku tidak mendengar ucapanmu." Tanya Lee bingung.
Kim Yo Han menggeleng.
"Tidak. Bukan apa-apa. Kapan jadwal terapiku lagi?"
"Besok tuan. Ku harap kau bisa segera pulih. Dan ayo kita jalan-jalan bertiga dengan Tae Yang. Aku sangat merindukan bocah lucu itu." Ujar Lee Chan dengan semangat. Ia sangat ingin Kim Yo Jan bersemangat lagi. Selama ini pria itu tampak lesu dan tidak bergairah. Seperti orang yanh sudah kehilangan semangat hidup.
"Baiklah." Jawab Kim Yo Han lirih. Dia sendiri ragu dengan tubuhnya. Apalah sanggup pulih seperti sedia kala.
***
Hari Pernikahan Ae Ri tiba.
Lee Chan masuk ke kamar Kim Yo Han dengan wajah ragu.
"Kau benar-benar ingin menghadiri pernikahan nona Park?" Tanyanya dengan wajah kebingungan.
"Ya. Memangnya tidak boleh?" Jawab Kim Yo Han yang sudah duduk dengan rapi do kursi rodanya.
Lee Chan mandangi bosnya itu dengan tatapan aneh.
"Tapi.."
"Sudah jangan tapi-tapi. Cepat bantu aku memakai jas terbaikku. Dan kau sendiri cepatlah berkemas." Perintah Kim Yo Han.
Lee Chan menuruti perintah Kim Yo Han sambil sesekali menatap bosnya dengan bingung. Karena beberapa waktu lalu Kim Yp Han berkeras tidak mau datang karena kakinya masih belum pulih.
"Jam berapa acaranya?" Tanya Kim Yo Han pada Lee Chan.
"Masih 1 jam lagi tuan. Jika kita berangkat sekarang tampaknya pas waktunya." Jawab pria muda itu.
Kim Yo Han mengangguk.
Tak lama kemudian mobil Lee Chan sudah membawa mereka menyusuri jalanan kota Seoul yang tidak pernah sepi itu. Kim Yo Han memandangi suasana sore hari di musim semi itu. Ia merasa sudah sangat lama tidak melihat keramaian.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Lee Chan.
"Ya.." Jawab Kim Yo Han pendek.
"Kau tidak menyesal karena melepaskan nona Park?"
"Tidak. Asal dia bahagia."
"Apakah kau sendiri tidak ingin bahagia?"
"Aku dulu sangat jahat. Kurasa hukumanku sekarang adalah tidak bisa hidup bahagia. Tidak apa-apa. Akan ku nikmati saja. Mungkin ini cara untuk menebus dosa-dosaku dimasa lalu."
Lee Chan hanya bisa menghela nafas.
"Bukankah ini jalan menuju rumah nona Park?"Tanya Kim Yo Han bingung.
"Iya tuan. Pernikahannya berlangsung sederhana dirumahnya. Hanya keluarga dan teman dekatnya saja yang diundang."
"Bukankah Ahn Jae Hyun pria sukses dan berasal dari keluarga kaya raya? Mengapa pernikahan mereka dibuat sederhana?"
"Itu permintaan nona Park. Baiklah tuan. Kita sudah sampai. Ayo ku bantu turun." Ujar Lee Chan sambil memarkirkan mobilnya di depan rumah Park Ae Ri.
Dengan pelan Lee Chan mendorong kursi roda Kim Yo Han menuju pintu gerbang rumah Ae Ri.
Kim Yo Han merasakan debaran di jantung nya sudah tidak beraturan sama sekali. Ada rasa takut pada dirinya. Ia takut tidak sanggup melihat wanita yang sangat dicintainya menikahi pria lain. Apakah ia benar-benar akan merelakannya?