
Kim Yo Han duduk di sofa dalam diam. Sesekali ia menoleh ke pantry dan melihat mereka bertiga disana. Ia menggingit gerahamnya menahan rasa cemburu sekaligus ketidakberdayaanya.
"Buka mulutmu, aaa.." Jae Hyun menyuapi Tae Yang.
"Mmm.. Enak!" Seru Tae Yang.
"Sekarang giliran mommy. Buka mulutmu, aaa.." Ujar Jae Hyun. Suaranya terdengar riang. Ae Ri sedikit lega mendengarnya. Sepertinya pria itu tidak marah padanya.
Ae Ri membuka mulutnya dan Jae Hyun menyuapinya.
"Enak?"
Ae Ri mengangguk.
"Apakah kau ingin aku tetap disini atau aku harus pulang sekarang?" Tiba-tiba Jae Hyun bertanya. Kim Yo Han yang ikut mendengar pertanyaan itu juga menunggu jawaban Ae Ri. Ia sangat berharap Ae Ri menyuruh pria itu pergi.
"Terserah. Mengapa kau tanyakan itu." Ae Ri tertawa sumbang. Sangat terlihat bahwa ia sedang gugup.
"Bukankah kau sedang ada tamu istimewa? Aku takut mengganggumu." Jawab Jae Hyun. Ia tampak memendam kemarahannya.
Ae Ri selama ini tidak pernah melihat Jae Hyun seperti itu. Dan saat ini ia juga merasa sangat bersalah pada Jae Hyun. Meskipun ia belum menerima Jae Hyun menjadi kekasihnya namun ia tidak ingin menyakiti pria yang selalu ada untuknya itu.
Ae Ri memandang ke arah Kim Yo Han. Ia berharap pria itu segera pergi.
Kim Yo Han menyadari arti pandangan Ae Ri kepadanya. Ingin sekali ia tetap berada disana. Namun ia tak berdaya. Perlahan ia berdiri dan dengan santai ia berjalan masuk ke kamar Ae Ri lalu keluar lagi sambil membawa jasnya. Ia tahu Jae Hyun akan sangat cemburu melihat itu. Dan Kim Yo Han sengaja melakukan itu.
Ae Ri membelalakkan kedua matanya kepada Kim Yo Han. Namun pria itu tampak tidak peduli.
"Tae Yang Daddy pulang dulu ya. Kapan-kapan daddy akan menginap lagi disini." Senyum Kim Yo Han mengembang. Kembali ia menekankan kata 'menginap' agar Jae Hyun semakin cemburu.
Tae Yang mendekat dan memeluk Kim Yo Han seakan tidak mau berpisah dengannya.
"Oke daddy. Sampai bertemu lagi ya." Ujar Tae Yang dengan lesu.
"Sampai ketemu lagi Tae Yangku." Ujar Kim Yo Han sambil mengacak pelan poni Tae Yang. Kemudian memeluknya dengan erat. Kim Yo Han berlalu dengan perasaan puas.
Jae Hyun menatap Ae Ri.
"Apa yang terjadi tadi malam. Kulihat ia masih memakai pakaian yang sama dengan yang dipakainya di pesta semalam. Benarkah dia menginap disini?" Cecar Jae Hyun.
Ae Ri semakin merasa tersudut.
"Maafkan aku. Sebenarnya kemarin aku sangat mabuk. Lalu tanpa kusadari dia mengantarku pulang." Bohong Ae Ri.
"Bukankah kau mengirim pesan padaku?"
"Hah? Aku.. Sepertinya tuan Kim yang
mengirim." Ae Ri berbohong lagi. Kepalanya mendadak pusing.
"Lalu apa yang dia lakukan di kamarmu? Mengapa jasnya ada di kamarmu?"
"Hah.. O.. Itu karena aku meninggalkan coat ku, jadi dia memakaikan jasnya padaku. Jadi ada dikamarku." Kali ini ia berkata benar.
'Sialan. Mengapa aku merasa seperti orang yang tertangkap basah sedang selingkuh!' Batinnya kesal.
Ahn Jae Hyun menyadari sikap Ae Ri yang aneh. Ia tidak bisa berbuat apa-apa meski merasa sangat kesal.
"Aku menunggu jawabanmu Ae Ri. Aku berharap kau menerimaku. Selain supaya aku tidak dijodohkan dengan orang lain, juga supaya aku bisa melindungimu dan tidak ada lagi orang yang bisa mengganggumu." Kini Jae Hyun sudah bisa mengendalikan emosinya lagi.
Ae Ri masih berdiam karena memikirkan banyak pertimbangan.
"Jika kau ingin menganggap ku teman atau sahabat, kau boleh menganggap ku tetap seperti itu. Aku tidak akan berubah. Beginilah aku. Kau tahu kan aku selalu mencintaimu dari dulu sampai sekarang dan akan sampai selamanya."
Ae Ri memberanikan diri menatap mata Jae Hyun. Mata itu penuh cinta untuknya. Namun ia tidak bisa membalasnya.
"Jae Hyun aku akan membantumu terbebas dari perjodohan. Itu saja yang bisa kulakukan untukmu. Jadi aku bersedia kita pura-pura pacaran didepan keluargamu. Tapi untuk menikah betulan, aku belum mau." Jawab Ae Ri lirih
Jae Hyun menghela nafas panjang.
"Kapan kau akan memgajakku menemui keluargamu?" Tanya Ae Ri lagi menekankan ia sungguh-sungguh mau membantu pria itu.
"Nanti kukabari lagi." Jawab Jae Hyun. Kini suaranya sudah kembali seperti biasa. Sudah tidak dipenuhi emosi lagi.
***
Tok tok tok..
"Masuk!" Seru Kim Yo Han.
Lee Chan masuk dengan sedikit terburu-buru. Ditangannya terdapat amplop coklat besar.
"Tuan Kim, ini dari laborat. Hasil tes DNA yang anda minta beberapa hari lalu." Ujarnya sambil menyerahkan amplop itu.
Kim Yo Han menerimanya dengan tidak sabar. Cepat-cepat ia membukanya. Dan membaca sederetan tulisah pada bagian bawah kertas yang merupakan kesimpulannya.
'Hasil analisa menunjukan bahwa tiga belas alel Loci marka STR terduga ayah cocok denga alel paternal dari anak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas terduga ayah sebagai ayah biologis dari anak adalah >99,99%. Oleh karena itu terduga ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis anak.'
Kim Yo Han membacanya sampai berulang-ulang seakan masih tetap tidak percaya.
Lee Chan yang mengetahui tentang hasil DNA itu juga merasa sangat terkejut.
"Apakah tuan Kim dan nona Amerika itu dulu pernah memiliki hubungan istimewa? Kan tidak mungkin baru beberapa bulan kenal tiba-tiba kalian memiliki anak yang sudah besar." Lee Chan mengoceh pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tampak kebingungan.
"Tapi saat kemarin kulihat wajah anak itu memang sangat mirip dengan tuan Kim." Lanjutnya lagi sambil memperhatikan wajah bosnya dengan serius.
"Besok adalah hari natal tuan." Ujar Lee Chan tiba-tiba.
"Lalu?!"
"Maafkan saya tuan Kim. Apakah saya bisa mengambil libur?" Tanyanya takut-takut.
"Lalu siapa yang bekerja kalau kau libur?"
Lee Chan terbelalak antara kesal dan heran dengan bosnya.
"Jadi aku tidak boleh libur?!" Suara Lee Chan kini meninggi.
Hanya dia satu-satunya pekerja Kim Yo Han yang berani seperti itu. Mungkin karena hubungan mereka lebih seperti adik kakak. Lee Chan adalah putra satu-satunya tuan Lee yang dulu bekerja dengan Kim Yo Han.
Sayang umur tuan Lee tidak panjang. Saat Kim Yo Han keluar dari penjara ia sempat ditampung oleh tuan Lee di rumahnya. Namun ternyata ia sedang sakit dan tak lama kemudian meninggal sehingga Lee Chan yang saat itu masih SMA diasuh Kim Yo Han seperti adiknya sendiri. Karena anak itu pun sudah tidak mempunyai ibu. Bahkan sampai Lee Chan lulus SMA dan kuliah karena hasil kerja keras Kim Yo Han.
"Pergilah sana jauh-jauh!" Usir Kim Yo Han.
"Aku dipecat?!" Tanya Lee Chan kaget.
"Katanya mau libur!" Kini suara Kim Yo Ha ikut meninggi.
Lee Chan langsung tersenyum manis. Ia membuat tanda hati dengan jari jempol dan telunjuknya.
"I love you my brother.. Aku libur satu minggu kan?"
"Terserah. Selamanya juga boleh. Cepat pergi!!" Usir Kim Yo Han.
"Lalu kau mau menghabiskan libur akhir tahunmu kemana? Jangan-jangan kau mau mengikutiku seperti tahun-tahun lalu."
Kim Yo Han meliriknya sadis.
"Aku juga punya acara sendiri. Kau pikir aku tidak punya rencana?!"
"Kau mau mengunjungi anakmu?"
Kim Yo Han menatapnya dan menghela nafas.
"Kalau kau tidak pergi sekarang maka kau kuanggap tidak jadi libur."
Secepat kilat Lee Chan kabur keluar ruangan itu.
Sekali lagi Kim Yo Han membaca hasil tes DNA itu. Berbagai macam pikiran dan perasaan bergejolak dihati dan pikirannya.
Sesaat kemudian ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya.
***
Kim Yo Han melangkah di koridor rumah sakit. Ia tampak sangat terburu-buru.
"Selamat siang tuan Kim. Bagaimana kabar anda? Tampaknya hari ini bukan jadwal kontrol anda.." Sapa dokter Han Seol dengan senyum ramahnya.
Kim Yo Han duduk di kursi dihadapan pria berusia sekitar 50an tahun itu.
"Dokter Han. Apakah jika aku di operasi masih ada harapan sembuh dan aku bisa hidup?" Kim Yo Han tidak memperdulikan basa-basi lagi.
Dokter Han tampak sedikit terkejut.
"Mengapa tiba-tiba kau ingin di operasi. Bukankah kemarin-kemarin kau bilang kau memilih tidak dioprasi dan biar saja tumor otak itu menggerogotimu."
Kim Yo Han menghela nafas.
"Ada seseorang yang ingin kulihat dan ku jaga selama mungkin dok." Ujarnya lirih.
"Seorang wanita?" Senyum dokter Han.
Kim Yo Han menggeleng.
"Putraku. Aku baru saja mengetahui ternyata aku memiliki seorang putra. Selama ini aku tidak tahu. Aku ingin sembuh dok. Aku ingin berada didekat anakku. Aku ingin ia tidak memiliki nasib yang sama denganku." Kini Kim Yo Han merasa suaranya tercekat di tenggorokan dan matanya semakin panas.
Dokter Han tampak terpaku. Sesaat kemudian ia memutar layar komputernya ke arah Kim Yo Han. Tampak disana beberapa foto tengkorak kepala milik Kim Yo Han.
"Ini hasil foto kemarin. Masih ada harapan jika kau oprasi dalam waktu dekat ini. Tetapi seperti yang kubilang waktu itu, bahwa ada resikonya. Kemungkinan berhasil sekitar 60%. Resiko lainnya adalah kelumpuhan. Karena tumor medulloblastoma ini berada di dekat otak kecil. Seperti kita tahu, otak kecil itu mengatur pergerakan motorik juga keseimbangan dan beberapa fungsi kompleks lainnya.
Sebagai dokter aku harus menyampaikan resiko ini. Namun jika kau memutuskan untuk di operasi. Aku dan tim akan berjuang sepenuh hati kami dan sekuat tenaga kami agar kau bisa membuang sampah itu dari kepalamu. Jadi kau bisa bermain sepuasnya dengan putramu itu."
Kim Yo Han merasa senang mendapat perawatan dokter Han ini. Ia tidak hanya menjanjikan hal-hal muluk. Tetapi dia sangat rasional. Bahkan segala resikonya disampaikan dengan jelas oleh dokter itu.
Kim Yo Han menghela nafas lagi. Dulu ia mengambil keputusan untuk tidak di operasi karena ia tidak mau resiko mengalami kelumpuhan. Ia merasa lebih baik mati daripada lumpuh. Baginya jika ia mati tidak akan ada orang yang kehilangan dirinya. Namun jika ia lumpuh, ia tidak akan sanggup karena siapa yang akan mau menemani orang lumpuh.
Namun kini setelah mengetahui keberadaan Tae Yang, ia tiba-tiba tidak ingin mati. Ia ingin mengasuh dan membesarkan putranya. Bahkan ia ingin melihat putranya itu bertumbuh dewasa.
Perlahan Kim Yo Han mengangguk.
"Tolong jadwalkan operasiku setelah tahun baru. Sebelumnya biar kuselesaikan dulu pekerjaanku. Aku akan bersiap jika seandainya terjadi kondisi yang buruk setelah aku operasi." Jawab Kim Yo Han mantap.
Dokter Han tersenyum. Ia tampak lega akhirnya pasiennya itu mau di operasi.
"Baiklah tuan Kim. Aku segera akan memilih tim terbaik ku. Kami pasti akan berjuang sekuat tenaga untuk operasi ini. Mohon jangan khawatir." Dokter Han menggenggam erat tangan Kim Yo Han.
***